Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
33. Ketika sang Putri Tumbang


__ADS_3

Halo, maaf baru update... Minggu kemarin aku kehabisan kuota. So, aku ganti hari ini. Jadi hari ini aku double up...


Selamat menikmati, semoga sukaa🥳🥳


.


.


.


“O-om Di-Dion ....”


Secara refleks, tangannya mulai bergetar. Ia terpaku beberapa saat, melihat wajah bengis yang dibencinya muncul dihadapannya. Ia mencoba mengendalikan diri, peristiwa beberapa tahun silam mulai terlihat. Seperti film yang ditonton berulang-ulang, potongan adegan tersebut membuatnya semakin bergetar. Entah mengapa, hatinya mulai menciut.


Tidak, ia tidak boleh membiarkan ini terjadi pada dirinya. Ia harus bisa membunuh pria itu, pria yang telah menewaskan mami dan papanya. Ia terus meyakinkan diri, mereka tidak boleh melihat jika ia ketakutan di balik topengnya.


“Jadi ini Queen Of The Devil, kelihatannya cantik. Cocok juga kalau jadi ibu sambung kalian,” kata pria paruh baya. Pria itu menatap Zahra dengan tatapan mesum.


“Ga bisa gitu dong, Pah. Harusnya dia jadi istri Gery.”


Pria yang dipanggil 'Pah' itu memandang Zahra dengan tatapan remehnya, tak lupa ia tersenyum miring yang membuatnya sedikit aneh.


“Gue dong, gue abang lo!”


Zahra mengerutkan dahinya, selama ini ia tidak pernah mendengarkan kabar mengenai pria tersebut. Seseorang yang telah lama menghilang kini berada di hadapannya dan apa kata Gery tadi? Pah? Dia muncul dengan kedua anaknya setelah lama tidak dikaruniai seorang anak. Apa-apaan itu … ibu sambung? Lalu, ke manakah istrinya? Ibu sambung tersebut harusnya membuatnya tersinggung, tapi ia ingat jika pria tersebut memiliki istri yang sangat dicintainya.


Mereka bertiga menyerang Zahra bersamaan. Gadis itu terus menghindar karena tak punya waktu untuk balas menyerang. Mereka benar-benar pengecut, menyerang seorang gadis bersamaan.


Posisi mereka tidak imbang sejak awal pertarungan, 2:1, pasukan Zahra hampir saja kewalahan menghadapi dua gerombolan itu. Zahra hanya membawa beberapa orang ke sini, tidak semua anggota BD kemari.


Gadis itu juga mulai kewalahan menghindari serangan tiga pria tersebut. Pasukan lain tiba-tiba datang, membantu BD yang akan tumbang.


Leader Red Devil membantu Zahra. Mengambil alih pertarungan Zahra dan Dion, sedangkan Zahra bertarung dengan leader Black Diamond dan Black Fire.


Gadis itu kehilangan fokus sesaat dalam pertarungannya, untung saja dia menangkap kode dari leader Red Devil. Seseorang mengarahkan laras panjang padanya, dengan cepat ia menghindar—peluru itu mengenai selangka Atha, leader Black Diamond.


Mereka kembali fokus pada pertarungan masing-masing.


Wahyu, leader Red Devil melawan Dion dengan mudahnya. Pria itu tidak terima, ia merogoh sakunya diam-diam. Mengambil botol kecil berbentuk spray. Wahyu yang ingin menusuknya, menjatuhkan pisau—tangannya tergerak menutupi matanya yang terasa perih.


Dion mengambil pisau itu, menusukkannya pada perut Wahyu. Pria berambut putih tersebut telah selesai dengan matanya, ia membalas apa yang dilakukan Dion. Tapi ia tak menyangka sesuatu akan terjadi padanya. Dion mengisyaratkan anggotanya untuk memukul kepala Wahyu dengan tongkat baseball.


Zahra mendengar suara pekikan tertahan, matanya menangkap leader Red Devil yang akan tumbang, kemudian disusul dua tembakan mengenai dada dan bahu pria tersebut.


Zahra membelalak. Atha dan Gery menghentikan serangannya pada Zahra, tidak juga—Gery menembak kakinya. Membuat gadis linglung tersebut jatuh, ia berlari dengan tertatih ke arah leader Red Devil. Ia biarkan harga dirinya sedikit turun kali ini, tapi kakeknya lebih penting.


Setelahnya, gadis itu memandang kosong pada satu titik. Di hadapannya, leader dari Red Devil terbaring.

__ADS_1


“Kakek ....” Zahra mendekat, berjongkok di samping pria yang ia panggil kakek. Tanpa bisa menghentikan, air matanya terus turun membasahi topengnya.


Zahra memangku kepala kakeknya. “Kakek jangan nutup mata, please ....” Ia merasakan cairan merembes dari kepala kakeknya, disertai bau anyir—ia yakin itu darah.


Zahra mengecek nadinya, untungnya masih ada. Gadis itu juga mengecek bagian belakang kakeknya, tangannya bergetar. Mereka memukul kakeknya dua kali, di kepala dan tengkuk.


Gadis itu mendekatkan wajah pada kakeknya, membuka topeng bagian bawahnya perlahan. Mendekatkan bibirnya pada dahi leader Red Devil.


Tangan pria, ah kakek itu—menyentuh wajah Zahra yang masih terbalut topeng. Zahra lalu menggenggam tangan kakeknya dengan erat.


"Aku bisa merasakannya ... kamu cucuku, Zahra. Kamu penerus ku!" Napasnya tersengal-sengal. Zahra menggeleng kuat.


"Kek-kek, please. Don't close your eyes!" Zahra menangis sejadi-jadinya, sampai tidak sadar kalau air mata itu juga ikut membasahi wajah kakeknya.


Tuhan, tolong jangan ambil aku dulu, aku masih ingin bersama anak dan cucuku. Aku belum ingin pergi saat sebagian keluargaku tidak di sisiku.


Kakek itu menggeleng sambil tersenyum. "Ka–kek, u–dah ga ku–at. See you la–ter, Ba–by Girl. Love you," ucapnya terbata. Perlahan sayup-sayup itu tertutup sempurna.


“Kakekkkkkk ....” Zahra menggoyangkan badan kakeknya. Gadis itu mengangkat kepala, pandangannya menatap lurus. Tepatnya, menatap benci pada tiga orang pria yang menatapnya licik.


"Mulai saat ini, Black Diamond dan Black Fire resmi menjadi musuh Black Devil dan Red Devil," ucapnya lantang.


Setelahnya, pandangan Zahra kembali terjatuh pada Wahyu. "Open your eyes, please!" Zahra mendekap erat kakeknya. Ia bahkan tidak peduli kalau pakaiannya sudah basah karena darah.


Pertarungan yang tadi sangat liar langsung terhenti karena teriakan lantang Zahra. Anggota mereka melihat tak percaya, leader legendaris ditumbangkan oleh ayah dua orang pengecut, Dion


Pasukan Atha dan Gery langsung kabur begitu melihat tatapan permusuhan yang menyala dari anggota Zahra dan Wahyu. Anggota menembak setiap pasukan yang berupaya kabur, banyak dari mereka yang akhirnya tumbang, sementara pemimpin mereka telah kabur terlebih dahulu. Setelah ditumbangkan semua, mereka menatap iba ke arah Zahra, leader mereka terlihat rapuh.


Sadar dirinya diabaikan, Elvin ikut berjongkok di samping Zahra. Ia menepuk bahu gadis itu pelan. Tetap tidak ada respon.


Elvin melepaskan topeng yang masih melekat di wajah ayu Zahra, menatap gadis dengan mata sayu, hidung yang memerah—itu iba. "Raaa ...."


Zahra memeluk Elvin kuat, ia butuh orang lain untuk menguatkan dirinya saat ini. Firasat kakaknya betul, tapi ia tidak menyangka jika yang terluka bukan dirinya, melainkan kakeknya.


Setelah tangis Zahra mereda, Elvin memapah Zahra mengikuti rombongan yang telah pergi lebih dulu. Sebagian anggota masih ditempat, menunggu Elvin membawa Zahra pergi. Zahra masuk mobil Elvin, tetap bersandar pada laki-laki itu. Sedangkan yang menyetir salah satu anggota.


Motor sport Zahra juga ditinggal, ia yakin motor itu akan dikendarai salah satu anggotanya. Gadis itu sudah menyerahkan kunci motor pada Elvin sebelum masuk mobil.


...****...


Elvin menenangkan Zahra yang masih sesenggukan di pelukannya, dia mengusap kepala Zahra pelan. “Semua akan baik-baik aja,” lirih Elvin.


“Ga ada yang baik-baik aja saat kayak ginii, Ell. Gue ga bisa lihat kakek kayak gini, i–ini semua karena gue. Karena gue kan, Ell?”


“Ustt, ini udah takdir. Dokter lagi berusaha yang terbaik buat Tuan Wahyu. Berdoa aja!” Elvin mengeratkan pelukannya. “Jangan nangis, Bang Van bentar lagi sampai. Bisa jadi samsak gue kalau ngelihat lo nangis di pelukan gue.” Elvin mengusap air mata Zahra.


“Ish, apaan sih, El?" Akhirnya Zahra sedikit tersenyum, meski masih terisak.

__ADS_1


Tak lama kemudian Revan datang, laki-laki seumuran Rio tersebut mengambil alih Zahra. Elvin berdiri. “Udah, jangan nangis lagi. Gue ke kantor.” Elvin mengusap kepalanya sekali lagi. “Bang Van, Xav, Tuan Samuel … saya duluan.” Mereka mengangguk.


“Bang … kakek bang ....”


Revan menghapus air mata Zahra menggunakan ibu jarinya. “Usttt, udah ...."


Zahra menggeleng, menatap Revan dengan mata sayunya. “Gimana kalau kakek ...?” Ia tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada kakeknya, ia akan merasa bersalah karena hal itu.


Revan mendekap Zahra. “Berdoa aja, jangan mikir yang macam-macam!” Zahra mengangguk dalam diam.


Dokter keluar dari UGD, Samuel langsung menghampiri  dokter tersebut. “Bagaimana, Dok?”


Dokter tersebut menggeleng. “Maaf Tuan Samuel, Tuan Wahyu kehilangan banyak darah akibat pendarahan yang terjadi pada kepala belakangnya dan bagian perut, serta dua luka tembak di tubuhnya. Untungnya stok darah A masih tersedia di rumah sakit ini, sehingga Tuan Wahyu dapat segera tertolong. Kami belum bisa mendeteksi keadaan selanjutnya, beliau masih kritis saat ini. Jika beliau sadar nanti, mungkin ia akan menderita gegar otak. Kemungkinan Tuan Wahyu sadar dalam keadaan dekat sangat kecil, mengingat pukulan yang diterima terlalu keras. Jika dalam tiga hari ke depan Tuan Wahyu belum sadarkan diri, dengan berat hati kami nyatakan tuan koma."


Samuel mengangguk lemas. “Terimakasih, Dok."


Zahra menunduk, rasanya ia seperti kehilangan separuh jiwanya. Ia tiba-tiba berdiri lalu mencengkeram jas dokter tersebut. “Kalau lo ga bisa bikin kakek bangun, lo yang gue buat tidur biar nemenin kakek!"


Revan langsung mendekap Zahra yang kehilangan kontrol diri. “Zahra udah, maaf, Dok.”


Dokter itu mengangguk lalu mengucapkan permisi.


Mereka tahu kalau Zahra sangat terpukul, hubungan Zahra dan Wahyu bukan hanya sekedar partner, tapi sudah seperti kakek dan cucu sebenarnya. Zahra yang terlebih tak pernah merasakan kasih sayang seorang kakek, ia nyaman-nyaman saja di dekat Wahyu. Terlebih hubungan ini terjalin sudah satu tahun lebih, bermula saat Zahra membantu Wahyu dalam penaklukan gangster asia. Saat itu BD hanyalah gangster kecil yang belum memiliki kekuasaan sebesar sekarang.


Samuel memerhatikan Zahra mulai dari ujung kaki hingga kepala. Pria itu menyerah dengan sifat Zahra yang keras kepala. "Van, segera antar Zahra menemui dokter, kakinya bisa infeksi kalau ga segera mendapat penanganan." Sebenarnya ia sudah berkali-kali menasehati Zahra, namun gadis itu tetap kukuh dengan keinginannya, ingin mendengar sendiri bagaimana kondisi Wahyu. Ia tidak mau mendengarnya dari orang lain.


Zahra lagi-lagi menggeleng, Samuel mengembuskan napas lelah. "Gue pengen ke tempat Kak Rio. Anterin gue ke sana!" pintanya dengan wajah memelas.


"Tapi kaki lo harus diobati, Ra. Biar gue telpon Rio, biar ke sini. Rizki sekalian ga nih?"


Zahra diam tak menjawab, pandangannya kembali kosong. Akhirnya Revan menelepon keduanya, meski ia tidak enak karena mengganggu waktu kerja mereka. Tatapan Zahra yang hampa membuatnya takut sekaligus khawatir.


Tiba-tiba senyumnya merekah, seperti mendapatkan barang berharga yang baru saja ia miliki. Gadis itu memekik riang, sembari berlari ke arah siluet seseorang.


"Papi ...!"


Revan melihat ke mana Zahra berlari, ia tidak melihat siapa pun di sana. Lagi pula, ayahnya itu sudah meninggal bukan? Tapi Zahra, gadis itu tetap berlari dengan riang, beberapa orang yang melihat menatapnya iba, Samuel sendiri menatap miris.


Selesai memandang Zahra yang terluka, ia memilih mengabari keluarga Wahyu. Tentunya ia menceritakan kebohongan, tidak mungkin juga ia membongkar sosok asli bosnya di depan keluarganya. Setelah ini, ia akan mengurus dokter dan perawat yang tadi menangani Wahyu.


Zahra sendiri sudah dipaksa oleh Revan menemui salah satu dokter, gadis itu terus meracau jika ia baru saja melihat ayahnya.


****


Guys,,, gimana kalau kalian yg berada di posisi Zahra?


Ceritain di bawah!

__ADS_1


Jangan lupa like sama komen yaaa


Thanks ❤️


__ADS_2