
Bunyi sepatu bergema, bunyinya semakin cepat kala mendekati ruangan yang dihuni dua gadis itu. Bunyi kunci yang diputar membuat Zahra membatu.
Gery masuk ke ruangan dengan menggunakan kaus oblong dan boxer-nya. Tangan Zahra bergetar, takut jika Ina akan menjadi sasaran kemarahan Gery. Ina tak peduli akan kehadiran pria itu, tangannya terus berkutat pada tali di depannya.
Netra itu menyipit, menatap gadis dengan surai tosca yang tak mengindahkan kehadirannya. "Lu siapa? Berani banget masuk sini!"
Tanpa disangka Zahra, Ina berdiri—menatap nyalang laki-laki yang bertanggung jawab atas semua luka sahabatnya.
Gery terkekeh pelan, sudut bibirnya terangkat miring. "Lu ternyata, berani juga masuk kandang macan." Gery mendekati Ina, gadis itu sudah siap dengan pisau yang ia todongkan pada Gery. Bagi pria bermata auburn itu, pisau yang ditodongkan padanya seperti mainan anak kecil yang biasanya ia mainkan. Laki-laki itu semakin maju, tangannya terulur—memasukkan gadis itu ke dekapannya.
"Lepasin!" Ina memberontak, Gery memeluknya dengan erat.
Laki-laki itu meniup daun telinga Ina, kembali tersenyum miring. "KAN GUA UDAH BILANG, JANGAN COBA-COBA NYELAMATIN TEMEN LU KALAU GA MAU KEMATIANNYA GUA PERCEPAT DAN LU NGELANGGAR ITU. MAKA DENGAN SENANG HATI, GUA BUNUH KALIAN BERDUA, SEKALIGUS!" Laki-laki itu melepas dekapannya dengan mendorong Ina hingga gadis itu terhempas menabrak dinding.
"Lu!" Zahra menunjuk Gery, matanya melotot tajam, memberi peringatan pada pria itu. Bagaimana tidak khawatir, dengan tidak berperasaan, Gery mendorong Ina tanpa mau tau keadaan sahabatnya itu.
Gery berbalik, langkahnya membawa pada Zahra yang masih memelototinya. Mengeluarkan pisau yang tersembunyi di balik kaus polosnya. "LIHAT! GUA BAKALAN BUNUH GADIS INI DI DEPAN LU, MARINA!"
Zahra yang tangannya telah bebas, merebut pisau Gery dan membuangnya ke luar. Entah mengenai siapa pisau itu, ia tak peduli. Ia juga mendorong Gery sekuat tenaga, karena ia lemas, laki-laki itu hanya terdorong satu langkah di depannya.
Gery terkekeh. "Ga masalah, gue bisa cekik lu sampai mati. Atau kita bisa main-main dulu di depan Marina, mumpung gue lagi pake boxer."
"Mati aja lo, Anj*ng!" Zahra berucap tegas.
Gery menaikkan sudut bibirnya, laki-laki itu bergerak ke belakang Zahra. Berdiri dibelakangnya, sedikit mencondongkan badan—tangannya bergerak menahan tangan Zahra yang terus bergerak.
"Gery, lepasin!"
Meskipun dengan satu tangan, tapi tenaga Gery tidak bisa diremehkan. Sebelah tangannya yang bebas bergerak menyingkirkan rambut Zahra yang menutupi telinga. Wajahnya mendekat, mengigit kecil daun telinga itu lalu mengul*mnya. "Marina aja ketagihan sama gua, ntar lu juga pasti ngerasain."
Zahra menggelengkan kepala, membuat laki-laki itu mendengkus kesal. Pria itu berpindah ke depan Zahra, kembali mengeluarkan pisau. Entah dari mana ia mendapatkan benda itu. Gery menyayat leher Zahra, membuat gadis itu meringis dan mencoba memukul Gery.
Bugh! Bugh!
Zahra terus memukuli wajah Gery hingga laki-laki itu kehilangan konsentrasinya saat mengukir leher Zahra.
"Sial!"
Gery menampar Zahra kuat hingga pipinya langsung memerah. Sudut bibirnya kembali meneteskan cairan merah gelap. Gery menatapnya dengan seringai, ia kembali mengambil pisaunya—bersiap menusuk Zahra.
Ina yang melihat itu langsung berdiri, sesungguhnya punggungnya masih sakit akibat ulah Gery tadi. Tapi ia harus menyelamatkan sahabatnya.
"Jangan!" Ina berlari ke hadapan Gery, mencegah laki-laki itu untuk menyentuh Zahra. Berdiri menantang di depan sang iblis.
"Lu ngapain, bahaya!" Zahra berusaha menggeser Ina, tapi gadis itu tetap kukuh dengan posisinya.
"Minggir lu!" Gery kembali mendorongnya, kali ini lebih keras. Kepala dan punggungnya kembali menghantam dinding hingga menimbulkan bunyi.
"Ina ...."
Gadis itu sedikit terpental, membuatnya terjerembab dengan posisi tangan yang mencegah tubuhnya ikut menyentuh lantai.
Zahra meringis melihatnya, itu pasti sangat sakit. Gadis itu membenarkan posisi duduknya, memegangi punggungnya yang terasa nyeri, tangan mungil itu bergerak ke depan. Menyentuh perut datarnya dengan sedikit remasan. "Akh, sakit ...."
Zahra menatapnya khawatir. "Beg* lo, manusia ga punya hati," desis Zahra pada manusia di depannya.
Sejujurnya Gery juga khawatir melihat Ina seperti menahan sakit. Tapi ego yang dimilikinya jauh lebih besar, menguasai sisi kemanusiaan miliknya. Laki-laki itu memilih melanjutkan kegiatannya, menatap tajam Zahra yang merusaha mengutak-atik tali yang melilit kakinya. Meskipun sulit, dijangkau pun susah, karena punggungnya yang masih terlilit.
Mendengar pekikan yang begitu keras, berhasil menggetarkan ulu hatinya—pisau bergerigi tajam yang hampir ia tekan pada gadis di depannya terhempas begitu saja. "Marina!" Ia beringsut dari hadapan Zahra, mendekati gadis yang terduduk tak jauh darinya.
"Ina!" Zahra juga memekik khawatir.
__ADS_1
"Lu kenapa?" tanya Gery, laki-laki itu memandang dengan dahi berkerut, menunjukkan rasa cemasnya. Sementara tangannya merangkul tubuh Ina, membuatnya menjadi sandaran.
Gadis hoodie itu menggeleng, tangannya sibuk mengurut perutnya yang terasa nyeri. "Sakit ...."
Cairan merah dengan warna yang sedikit pekat merembes dari celana yang Ina pakai, hal itu membuat Gery menatapnya dengan tanya. "Na, lu kenapa? Kenapa bisa ada darah, gu-gua ga ngelukain lu, kan? Lu-lu kenapa?"
"Sakit ...." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Ina. Sementara gadis yang masih terduduk di kursi mengamati keduanya dalam diam. Ia masih berpikir, darah apa kira-kira yang merembes itu? Jika dipikir, Gery tak melukainya, hanya membenturkan tubuh Ina saja. Gery mengacak rambutnya frustasi, laki-laki itu terlihat kacau.
"Ger, akhhh." Ina kembali memekik, mencengkeram lengan Gery, kukunya yang belum sempat dipotong kini menancap di lengan pria itu.
"Anj*r, ga mungkin, kan!" pekik Zahra terkejut dan melihat keduanya tidak percaya.
Gery melihat ke arah Zahra. "Kenapa?" tanyanya tanpa suara.
"Jangan bilang kalau lo pendarahan, Na? Gak, kan?"
Kening Gery mengerut. "Pendarahan?" Pandangannya tetap tertuju pada Zahra, masih menunggu jawaban dari targetnya tersebut.
Zahra diam, ia bingung harus memberi tahu atau tidak. Tapi, kalau ngomong, memang iblis itu akan peduli? Tapi dirinya juga berharap jika iblis itu mau membawa temannya ke rumah sakit, akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu.
Ina bergantian mencengkeram kaus yang Gery pakai. "Please, gua ga kuat," rintihnya pelan, membuat Gery semakin cemas dan bingung bersamaan. Laki-laki itu kembali menatap Zahra, yang masih memerhatikan mereka.
"Ina, dia lagi hamil. Mungkin akibat dorongan lu di——"
"Apa? Lu hamil? Tolong jawab jujur, i-ni bukan?" tanya Gery gelisah, ia takut jika yang dilakukannya berakibat fatal. Ina hanya sanggup mengangguk dan itu membuat Gery bertambah kacau.
Laki-laki itu menyelipkan tangannya di bahu dan lipatan lutut Ina, mengangkatnya bridal style. Sekarang Zahra tahu kenapa Gery mengkhawatirkan keadaan Ina.
Melihat Gery yang keluar ruangan, membuat Zahra berteriak. Entah mengapa sejak melihat Gery bersikap kasar pada Ina, hawa disekitarnya semakin panas. Membuat jiwa yang tersekap ini semakin membara. "Gery, lu ga ada niatan lepasin gue, gitu?"
Gery kembali tanpa membawa Ina, entahlah gadis itu diletakkan di mana. Dengan cekatan, laki-laki itu melepaskan lilitan yang berada di tubuh Zahra tanpa terlihat kesusahan. Dirinyalah yang hanya memahami pola lilitan ini, ayah dan kakaknya juga sama tak tahu dengan pola yang ia pakai.
"Lu temenin Ina di belakang, gue bakal bawa mobilnya ke rumah sakit." Zahra hanya mengangguk dengan permintaan Gery, tidak ada alasan untuk menolak, bukan? Lagi pula ia juga bisa meloloskan diri setelahnya.
...****...
"Sus, tolongin istri saya," Gery berteriak pada suster yang sedang berjalan.
Suster tersebut menoleh, mendapati keadaan pasien yang mengkhawatirkan. Pasien yang dibawa laki-laki yang meneriakinya itu tampak tak sadarkan diri. "Ikuti saya, Pak. kita bawa pasien ke ICU."
Gery mengangguk laki-laki itu, mempercepat langkah. Sedangkan Zahra mengikuti mereka dengan santai, kakinya terasa lebih baik sekarang, kontras dengan wajah dan penampilannya yang seperti keluar dari tempat penyiksaan.
Mereka menyuruh Gery keluar setelah membaringkan Ina di ranjang, mereka akan menangani pasien lebih lanjut. Zahra berjalan ke arah Gery yang berdiri di samping pintu, berdoa semoga gadis dan janin yang di dalam sana baik-baik saja. Tapi setelah menyadari perbuatan yang ia lakukan, akankah keduanya baik-baik saja?
Bugh!
Bugh!
Zahra memukul Gery beringas, membuat laki-laki itu tersungkur. Gery diam saja, menerima dan tidak menghindar setiap pukulan yang dilayangkan padanya.
"Lu kan orangnya? Lu yang bikin masa depan sahabat gua hancur, mau ngelak apalagi lu?" Gadis itu menatap tajam laki-laki di depannya.
Gery berdiri sambil memegangi rahangnya yang habis ditonjok Zahra, lumayan sakit juga. Laki-laki itu tersenyum tipis. "Lu?" tunjuk Gery dengan alis terangkat.
"Apa? Ga mau ngakuin? Gak gentle lu!" Suara keras Zahra berhasil membuat gaduh dan menyita perhatian warga rumah sakit.
Gery menggeleng memberi peringatan. "Jangan ribut di sini, rumah sakit. Oh ya, luka-luka lu tuh, obatin!"
"Kenapa? Habis itu lu mau nyiksa gua lagi? Iya?"
Zahra akan berlalu jika Gery tak menahan lengannya. Gadis itu meronta, tapi laki-laki di depannya seakan tak mau melepaskannya. Sementara Gery, laki-laki itu merogoh sesuatu di saku celananya. Mengambil benda itu lalu meletakkannya di telapak Zahra. Laki-laki itu berucap dengan senyum tipisnya yang kembali mengembang, "Buat sarapan, gih!"
__ADS_1
Zahra pergi begitu saja setelah Gery melepaskan tangannya. Laki-laki itu hanya menggeleng pelan, ia menyadari kesalahannya. Pasti gadis itu masih marah.
Gery terduduk, menunggu dokter yang masih menangani Ina di dalam sana.
...****...
Seorang gadis terbaring di brangkar rumah sakit dengan seorang laki-laki yang setia menggenggam tangannya.
"Na ... bangun, Sayang." Laki-laki itu mengusap pipi gadisnya. "Gua minta maaf," ucapnya lirih. Beralih memegang tangan yang kosong itu.
Ina telah dipindahkan ke ruang rawat. Karena benturan itu, mengakibatkan lapisan plasenta dalam rahimnya rusak dan terjadinya pendarahan yang membuat gadis itu sempat kekurangan darah. Janin itu tak selamat, ia meninggal saat masih di perjalanan. Sepertinya saat yang sama ketika Ina mulai tak sadarkan diri.
Untuk pemakaman calon bayi mereka, Gery sudah menyerahkan segala persiapan pada pihak rumah sakit. Tentunya akan dimakamkan di TPU yang dekat dengan kompleks perumahan gadisnya. Setidaknya keadaan Ina baik-baik saja, perbuatannya membuat punggung Ina lebam. Ia bersyukur tulang punggung itu tidak retak, mengingat dirinya yang terlampau keterlaluan.
Laki-laki itu mendengar suara ribut di luar, awalnya ia mengabaikannya tapi lama-kelamaan suara itu semakin mengganggu.
Gery keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ia terkejut begitu maniknya menangkap seorang paruh baya, saudaranya dan Zahra yang sedang terlibat perdebatan.
"Papa, Atha," gumam Gery sambil melihat orang itu satu per satu. Ia berdiri di belakang Zahra.
"Tangkap cewek itu!" perintah Dion lantang.
Gery segera meraih tangan Zahra yang menjuntai bebas, lalu menariknya ke belakang. Ia memegang tangan itu erat.
"Lepas!" Zahra berontak, berupaya melepaskan diri dari cekalan Gery.
"Lu ga bisa kemana-mana lagi cewek tengil," ucap Atha dengan smirk-nya.
Tanpa mereka ketauhi, Gery menyelipkan sebuah benda pada tangan Zahra yang digenggamnya. "Lari!" bisik Gery pelan, hingga hanya Zahra yang dapat mendengarnya. Gadis itu tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, ia berlari setelah Gery membebaskan tangannya.
"Apa-apaan kamu!" kata Dion marah. "Kamu kejar cewek itu, biar papa yang urus anak tidak tau diri ini!" perintahnya pada Atha. Pria yang berdiri di samping Dion itu segera berlari, yang langsung diikuti anak buahnya.
"Dasar! Anak tidak tau diuntung!"
Gery hanya menatap pria paruh baya di depannya dengan datar.
"Pasti anak di dalam itu kan, yang merubah kamu. Biar papa habisi anak itu!"
Gery mencegah Dion yang ingin memasuki ruang rawat ina. "Aku ga akan membiarkan papa menyentuhnya, apalagi menghabisinya!"
Bugh!
Bugh!
Dion memukul Gery. Mereka saling pukul untuk memenangkan niatan masing-masing.
"Aku tau papa ga pernah menganggapku," ucap Gery, sebelum akhirnya ia kembali memukul Dion.
Tidak ada pihak yang berani mengentikan mereka, bahkan anak buah yang tersisa hanya memandang. Tidak berani ikut campur dalam pergulatan tuan mereka.
Adu pukul itu dimenangkan oleh Gery. Laki-laki itu tampak tersenyum puas, mendapati wajah babak belur Dion akibat pukulannya.
"Mulai sekarang jangan panggil saya papa, saya bukan papa kamu. Dasar anak tidak tahu diri, sudah dibesarkan tidak tahu berterimakasih!"
Dion meninggalkan Gery yang masih berdiri di depan pintu. Laki-laki itu mengembus napasnya kasar, lalu masuk lagi untuk menemani Ina. Ia tidak peduli dengan Dion, lagi pula Dion hanya memanfaatkannya saja, ia baru sadar akan hal itu.
Di sisi lain, Zahra tengah berlari dari kejaran Atha dan anak buahnya. Beruntung Gery memberi perhatian lebih untuknya, akhirnya ia dapat mengisi perut yang sejak semalam kosong.
****
Hy Gaess, jika kalian berminat silahkan mampir ke audiobook baru ku yg berjudul "ISTRI SIMPANAN PRESDIR" untuk feedback komen yaa.... Akan di feedback setelah kalian like, Terimakasih
__ADS_1