Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
91. Ketika Wahyu dan Gery Bersua


__ADS_3

Gery dan dokter Adrian sampai di mansion Ario bersamaan. Gery dengan Ina, kekasihnya dan dokter dengan asistennya. Mereka segera masuk karena bodyguard sudah mengenal mereka, keluar masuk seperti mansion sendiri jika tidak ada yg menyambut.


Empat orang itu terus berjalan, hingga menemukan kerumunan di depan salah satu kamar tamu. Mereka menuju ke sana. Tidak ada dari mereka yang tidak meneteskan air mata. Rio, di dalam sana, tengah menceritakan sepenggal kisah perjalanan Zahra.


Ia tidak mengenal beberapa di antara mereka. Rizki tengah mendekap Raisha erat, juga Revan yang memeluk Ardelia layaknya seorang kakak. Sepasang suami istri yang tidak ia ketahui identitasnya dan seorang paruh baya—pandangan Gery membelalak pada seseorang yang mirip dengan Revan. Benar-benar jiplakan. Atau tunggu? Pria itu lebih tua, mungkinkah Revan yang menjiplak wajahnya?


Ia menarik tangan Ina menerobos kerumunan itu, tidak ada yang marah. Dokter dan asistennya juga mengikutinya di belakang. Ina tampak tersenyum tipis pada Ardelia yang terisak.


Berdiri di barisan terdepan, ikut mendengarkan apa yang dikisahkan Rio. Beberapa dari bagian kisah itu, Gery dan Ina tentu sudah mengetahuinya terlebih dulu.


Gery juga melihat orang yang dulu dipukul oleh ayah angkatnya. Seorang pria beruban itu terlihat menahan air matanya mendengar kisah yang dibawakan Rio. Tunggu? Untuk apa mereka kemari?


Di tengah cerita, Zahra menggeliat gelisah. Sayup-sayup itu terbuka dengan dada yang naik untuk mengambil napas. Semuanya begitu larut dalam cerita, Gery yakin, hanya durinya yang menyadari jika gadis itu telah membuka mata.


Baru saat selesai menutup ceritanya, Rio baru menyadari jika Zahra tersadar, itu pun karena Zahra menarik ujung bajunya.


Setelah beberapa saat, gadis itu menatapnya sayu, dilihatnya dia memberikan kode yang minim untuk ia pahami. Setelah beberapa saat, ia baru menyadari sesuatu. Ia bergegas melangkah, mendekati gadis terbaring di sana, membuat dua orang yang ada di sana menyingkir.


"Yang itu buang saja, Yo. Sepertinya efek penetralnya udah habis," ucap Gery, memberikan inhaler baru untuk Rio.


Pria itu segera mendekatkan ujung inhaler, membiarkan asiknya menghirup banyak. Setelah beberapa saat, mereka melihat gadis itu bernapas dengan teratur.

__ADS_1


Dokter Adrian dan asistennya tersenyum senang. "Syukurlah, nona tidak jadi memakai oksigen." Keduanya segera memeriksa keadaan gadis itu. Setelah tidak ditemukan masalah, dokter itu kembali bicara, "Detak jantungnya normal, tekanan darahnya juga sudah normal, nadinya juga sudah berdetak keras, wajahnya memang masih agak pucat, tapi itu akan berangsur membaik. Suhu tubuhnya juga sudah kembali normal." Ia kembali menatap Zahra, gadis itu masih sibuk dengan inhaler-nya. "Apa yang membuatnya seperti ini?"


"I–ini semuanya salahku ...," ucap wanita paruh baya yang sedang dalam pelukan suaminya, sedangkan laki-laki itu mengusap punggungnya pelan.


"Tidak, Zahra memang masih sensitif dengan beberapa hal. Jadi, Anda tidak bisa disalahkan, maaf atas ucapan saya tadi," ucap Rizki, memang yang paling mengerti keadaan Zahra saat seperti ini ialah kedua kakaknya. Tapi di sana tadi, hanya ada Rizki.


Wanita itu tampak menggeleng. "Ji–jika aku tidak memaksa putriku mengantar menemui Zahra, dia tidak akan seperti ini. Aku terlalu memaksanya ...," Ia menggantung ucapannya, "kami sempat bertemu beberapa kali, reaksi awalnya sama, dia tampak terkejut dan ketakutan ketika menatapku. Tapi aku tidak menyangka jika ia akan menunjukkan reaksi seperti sekarang. Maafkan aku."


Vero segera mendekap istrinya kembali.


"Tidak a–apa Tante, memang tubuh dan otak saya mempunyai reaksi berlebihan terhadap Anda. Mengingat wajah Anda sepertinya mirip dengan mendingan Ibu saya. Ingatan lama saya kembali terpancing dengan hal itu, sa–saya takut ketika mengingat kejadian itu kembali." Zahra tersenyum tipis, menatap Ibu Ardelia yang masih menampilkan ekspresi bersalah.


Zahra memang sudah ditawari terapi beberapa waktu lalu, tapi gadis itu selalu menemukan alasan agar tidak diterapi.


Rio melakukan kontak mata sesaat dengan Rizki. Pria itu mengangguk. "Lakukanlah Dok, berikan yang terbaik untuk adik saya."


Dokter Adrian tampak merapikan alatnya dibantu dengan asistennya. "Baiklah, saya akan membicarakan ini terlebih dulu dengan psikiater yang menangani nona Zahra. Jika kami sudah menemukan jadwal yang sesuai, kami akan mengabari kalian." Dokter itu membolakan matanya. "Di mana Bu Heni? Biasanya dia akan mengundang makan malam."


Rio terkekeh pelan. "Sepertinya tidak ada undangan untuk kali ini. Bibi sedang tidak enak badan, sebaiknya kami tidak menambah beban pikirannya. Anda bisa ke belakang setelah ini dan jangan memberitahunya tentang ini. Bilang jika, saya memang memanggil dokter khusus untuk memeriksanya."


"Baiklah. Kalau begitu, wanita itu akan segera sembuh setelah saya periksa." Ia mengambil note dan bolpoin di sakunya. "Oh ya, resepnya masih sama, hanya saja ada satu obat tambahan." Ia memberikan resep itu pada asistennya. "Nanti kamu antarkan obatnya ya, May."

__ADS_1


Asisten dokter itu pun mengangguk. "Baik, Dokter."


Dokter Adrian dan asistennya berpamitan pada semua orang, lalu pergi dari rumah gedong itu. Kembali menangani orang sakit di berbagai titik.


Gery mengusap rambut Zahra pelan, Tubuh ringkih di hadapannya ini selalu ingin dia dekap, menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Matanya yang masih sayu agak kehilangan redup. Rambutnya tampak awut-awutan meski sebagian terlihat rapi.


"Apa yang lo rasain?"


Zahra sedikit mengangkat tangan kanannya yang memegang inhaler, tersenyum merekah meski bibirnya masih pucat. "Ah iya, thanks ya ... dada gue ga sesakit tadi."


Kulitnya yang tadi memutih mulai menguning kembali. Gadis itu kembali memejamkan mata setelah menghirup inhaler selama 30 menit. Setelah meminum obat tentunya. Mereka memberikan waktu gadis itu untuk beristirahat.


Gery agak salah tingkah ketika Wahyu tampak memelototinya dengan pandangannya yang tegas. Kakek-kakek itu pasti mengerti, jika sosok yang berada satu ruangan dengannya ini ialah pimpinan gangster Black Fire, yang tentunya sudah pensiun.


Sementara pasukannya ia kirim untuk mengabdi pada Black Devil, tentu dengan persetujuan Zahra juga Revan. Beberapa petinggi Black Devil juga ikut diskusi mengenai penggabungan ini. Sebagian ia kirim ke luar, mengabdi pada Black Devil yang berbasis di luar negeri.


Untuk menekan rasa bersalahnya pada Zahra, kelompoknya akan turut membantu melindungi Zahra dan memburu orang itu. Ia ingin gangster yang dibawahi Zahra tersebut menjadi gangster besar yang memiliki pertahanan kuat dan layak untuk membantu benteng pertahanan negara.


Juga Black Devil menyediakan privilege lebih bagi anggotanya, jikalau suatu saat nanti gangster itu membubarkan diri atau mereka keluar—di luar sama mereka akan mudah untuk menjalani kehidupan dan mengembangkan bisnis. Jika ada yang berminat menikah tapi tak mempunyai kekasih, Zahra punya banyak relasi yang bisa dipertemukan olehnya.


Gery menghela napas berat, sepertinya kakek itu akan membuat perhitungan dengan dirinya. Dia pasti salah paham.

__ADS_1


__ADS_2