Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
92. Antara Zahra dan Vero


__ADS_3

Mereka semua duduk melingkar di karpet bulu dengan motif ombak. Ruang kosong di samping kursi, di ruang keluarga itu menjadi ramai. Semuanya berada di situ, tak terkecuali Zahra yang tengah menyandar pada Rizki.


Gery dan Ina berpamitan setelah Zahra dinyatakan baik-baik saja dan pria itu juga sedikit mendapatkan petuah manis dari Wahyu sesaat sebelum menaiki mobilnya.


Zahra memegangi benda yang menggantung di lehernya, harinya kembali tenang, damai, sejahtera. Benda itu kembali dalam rengkuhannya. Dipasang sendiri oleh kakeknya. Bagaimana Zahra tak tersenyum sepanjang masa?


Mereka makan malam bersama, yang dimasak oleh Azkia, Tria, Zahra dan Bi Heni. Ya .... Wanita itu dan Tria juga ikut bergabung. Bi Heni sudah sehat kembali. Sementara Ardelia tampak merumpi dengan Revan. Sepertinya mereka belum kehabisan topik pembicaraan.


Seperti biasa, Kakek Wahyu membuka percakapan sebelum makan malam dimulai. Pria itu berdehem singkat. Membuat semua orang memfokuskan pandangan pada tetua mereka.


"Kakek sangat senang, akhirnya keluarga kita juga bisa berkumpul dalam lingkar persaudaraan ini. Kakek harap, anak cucu kakek akan selalu rukun, sehat selalu dan pastinya panjang umur. Bertahun-tahun kakek menanti, meski pada akhirnya masih ada yang kurang, tapi kakek senang akhirnya bisa dipertemukan oleh kalian. Ikatan lama yang sudah terjalin akan semakin kuat dengan tali persaudaraan kita. Kakek sebagai orang tua mengucapakan selamat datang di keluarga. Esok nanti ... kalian akan diperkenalkan pada keluarga besar. Semoga kita masih diberi Tuhan kesempatan lebih untuk berkumpul seperti sekarang ini."


Wahyu menghentikan ucapannya, tersenyum tipis. Tak dipungkiri, keinginannya dikabulkan oleh Tuhan—yang masih memberinya kesempatan untuk berkumpul seperti sekarang ini.


Semoga suasana ini tak lekang oleh waktu, bukan hanya sekali. Namun selamanya.

__ADS_1


"Selamat makan."


Mereka mulai mengambil piring dan mengambil sendiri apa yang mereka inginkan. Makan malam kali ini tampak begitu mewah karena kehangatan, malam yang tak akan mereka lupakan.


Terlebih, Rizki dan Raisha yang bukan keturunan Zaskia—ikut mereka terima sebagai cucu keluarga Wahyu Hartarajasa. Keluarga Bi Heni juga menjadi kerabat. Ternyata Azkia dan Heni sering bertemu ketika berbelanja, tak disangka—hubungan ini akan lebih dari sekedar teman belanja. Ini memang agak aneh, karena selama ini Heni tak begitu menyadari jika paras Zaskia dan Azkia tampak mirip.


Semua orang menikmati makan malam dengan hikmah, satu dua candaan lolos mengisi kehangatan malam. Meskipun menunya tampak sederhana. Nasi putih, sayur sup, sambal bawang, oseng kangkung jamur, serta kerupuk dan pindang. Tapi itulah, yang membuat suasana semakin membuat nyaman.


...****...


"Kamu yang sekarang lebih berisi, ya?"


Pria di depannya tersenyum lebar. Mengeratkan jaket yang dipakainya, udara agak dingin malam ini. Ia sebenarnya ingin berbaring, mendekap istrinya di bawah selimut. Tapi sayang, langkah kaki menuntunnya untuk sedikit berbincang dengan keponakannya ini.


"Om ga pernah lupa sama gadis luntang-lantung yang hampir terserempet. Wajahmu itu lho, dulu sebenarnya mau Om ketawain. Wajahmu melas banget, Om jadi ga tega." Vero sekarang terkekeh keras.

__ADS_1


Zahra sedikit memalingkan wajah, mengingat dirinya yang dulu sangat bertolak belakang. Orang yang di temuinya tiga setengah tahun lalu, sekarang menjadi keluarganya. Gadis itu mengembuskan napas, masih tidak menyangka dengan kelakuan bodohnya yang ingin bunuh diri. Zahra sedikit meringis. "Om bisa melupakan pertemuan pertama kita?"


Vero tampak mengangguk, sesaat kemudian menggeleng. Ia sudah jatuh hati pada paras Zahra yang kucel saat itu, tubuh kurusnya serta pandangan putus asa yang tak pernah ia lupakan. Ia dulu berharap untuk bisa bertemu dengan Zahra dilain hari dan Tuhan mengabulkan keinginannya dengan berlebih. Gadis itu ternyata menjadi keponakannya.


Beban di pundaknya bertambah, meskipun tidak ada yang memintanya. Tapi, anak-anak dari saudara istrinya tetaplah keponakannya. Tanpa diminta, ia akan turut serta untuk menjaga mereka. Meski ia tahu, ayah mertuanya pasti sudah bertindak lebih dulu. Tapi, ia menyayangi mereka semua. Menganggap mereka sama dengan Ardelia, putri kecilnya.


"Om akan sangat senang jika kamu tidak pernah mengucapkan kalimat yang barusan. Buatlah Om seperti tempat bersandarmu ketika kamu lelah, jangan seperti orang asing. Anggap aku sebagai ayahmu. Lia tidak akan marah ketika melihat saudaranya tersenyum."


Vero kembali mengusak rambut itu. Pandangan teduhnya membuat hati Zahra menghangat. Sudah lama sekali ia tidak mendapat perhatian seperti ini. Meskipun dia masih ada, tapi mereka takkan sedekat ini. "Kamu tidak perlu sungkan, Om selalu terbuka—pada remaja labil dengan otak dangkal yang ingin mengakhiri hidupnya, bahkan sekarang kamu adalah keluarga Om. Om dan Tantemu akan memperlakukan mu sama dengan Lia."


Semburat merah itu muncul di pipi Zahra, bagaimana ia bisa berpikiran sepintar itu dulu? "Aku senang Tuhan mentakdirkan kita bertemu kembali." Hatinya membuncah, ingin mengungkapnya tapi tak tau harus bagaimana. Rasanya ia sangat senang, terharu, bercampur padu. Ia ingin memeluk pria di depannya, tapi canggung menguasai dirinya. "Terimakasih sudah peduli pada remaja bodoh ini." Akhirnya Zahra mengeluarkan setetes air telaganya, rasanya begitu bahagia, saat kembali menemukan tumpuan, meski semua masalah ini belum menemukan titik terang. Tapi setidaknya, ibunya pasti senang di atas sana, melihat anak-anaknya berkumpul dengan orang yang menyayanginya.


Akhirnya, Mi .... Kami bertemu dengan keluarga mami .... Mereka menemukan kami. Suara itu hanya berdengung di otak Zahra. Tubuhnya bergetar. Kami menemukan tempat berlindung kembali, apalagi Kakek Wahyu ternyata kakekku. Nek, terimakasih telah melahirkan mami. Aku senang, setidaknya untuk saat ini anggota rumah ini masih bisa mengulas senyum. Tapi, kami harus tetap waspada, hari esok tidak ada yang tahu ada apa. Tapi, kami sungguh bahagia. Ketiga saudara menemukan orang tua mereka kembali, bibi juga sangat senang tadi. Menerima kabar bahwa mereka adalah keluarga mami. Keluarga yang akan membantu menjaga kami. Terimakasih Bi, telah menjaganya kami, bibi adalah sosok orang tua yang akan selalu kamu kenang jasanya.


Tubuhnya masih bergetar, Vero memeluknya dari belakang. Rambutnya masih bergelombang, rambut indah yang tak terawat begitu mereka berjumpa dulu. Cara memandangnya bahkan masih sama. Dia memendam semuanya sendiri.

__ADS_1


"Om yakin, saudaramu pasti tidak akan membiarkan kamu menghadapi masalah sendirian. Belajar terbukalah pada mereka, mereka pasti akan senang dan semakin memahamimu. Kamu adalah separuh napas mereka, jangan pernah mengecewakan mereka." Vero membisikkan beberapa kalimat yang membuat Zahra terhenyak, tapi gadis itu tetap tidak berhenti menangis. Tapi kenapa juga harus berhenti, toh dirinya sedang bahagia.


Untuk malam ini, biarlah aku mengulas senyum—setidaknya untuk waktu yang tak lama. Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan, tapi aku juga akan berusaha. Entah apa yang terjadi setelah kebahagiaan ini. Tapi beribu terimakasih kupersembahkan untukmu Tuhan, terimakasih telah mengirimkan malaikat untuk orang hina sepertiku, pikiran Zahra kembali bersuara.


__ADS_2