
Bugh!
Bugh!
Stevan memukuli pemuda, yang sejak tadi duduk di samping putrinya yang terbaring. Ia benar-benar kecewa setelah mendengar penjelasan dari pemuda berkemeja denim itu.
Laki-laki itu menerima setiap pukulan yang dilayangkan padanya, ia tidak peduli dengan keadaannya. Ia salah dan mengakui hal itu. Sebagai laki-laki sejati, ia tidak akan lari. Tetap bertahan meskipun menyakitkan.
Sementara itu, seorang gadis yang tertidur di ranjang rumah sakit masih setia memejamkan matanya. Ia tidak peduli dengan kerusuhan sejak tadi. Gadis itu lebih nyaman dengan mata tertutup, dari pada harus melihat ayahnya yang dengan brutal memukuli seseorang.
Stevan dan istrinya langsung datang ke rumah sakit Chandra Kirana setelah mendapat kabar bahwa putrinya sedang dirawat di sana. Sebelumnya ia sudah menelusuri alamat yang didapatnya semalam, ternyata seseorang telah mengatasi perkara di tempat tersebut. Saat ini, istrinya tengah menangis di samping brangkar putrinya. Menunggu gadis berwajah pucat itu siuman.
"Berani sekali kamu menyentuh anak saya, sampai dia mengandung anakmu!" Stevan menggampar keras laki-laki di depannya.
Laki-laki itu menatap Steven bersalah. "Ma-maaf, Om. Saya memang bersalah, tapi izinkan saya bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan. Saya benar-benar mencintai anak om, tolong restui hubungan kami." Ia kembali memohon, sudah sejak tadi ia lakukan. Tapi pria di depannya seakan belum puas menghajarnya.
Steven memukul Gery sekali lagi, sepertinya pemuda itu tidak sanggup lagi menerima pukulan yang Stevan layangkan. Tubuh Gery menabrak dinding setelah Steven memukulnya. Mengingatkannya pada ulahnya tadi pagi, ketika ia menghancurkan darah dagingnya sendiri. "Ma-maaf, Om."
Steven mendatangi Gery yang masih terduduk di ubin, ayah itu jongkok di depan calon menantunya, mungkin. Menepuk bahunya beberapa kali, wajah garangnya surut—tergantikan dengan senyum berwibawa khas seorang ayah.
"Saya berikan kamu kesempatan untuk bertanggungjawab atas anak saya. Tapi apabila kamu menyakitinya, apalagi melakukannya seperti yang saya lihat, maka say good bye dengan nyawamu!"
Gery menunduk, kemudian menundukkan diri pada Stevan, pria itu terkejut. "Terimakasih, Om. Saya tidak akan berjanji, saya akan buktikan, bahwa saya pantas berdampingan dengan Marina."
"Bangunlah!" Stevan menyentuh bahu pemuda yang menunduk padanya, tersenyum penuh arti. "Saya lebih suka anak bertanggungjawab dari pada yang melarikan diri setelah melakukan kesalahan. Jangan ulangi lagi perbuatanmu!"
"Baik, Om. Saya akan berusaha."
"Temani dia, dia tidak benar-benar belum sadar!" Stevan menjauh, berjalan ke arah sofa yang memang tersedia di ruang VIP tersebut. Hani berdiri, berjalan ke arah suaminya—mencubit pinggang itu kesal. Stevan terkekeh, senang sekali bisa menjahili istrinya. Keduanya duduk di sofa, memperlihatkan kemesraan. Tangan Stevan merangkul pinggang istrinya posesif. Stevan memberikan isyarat pada Gery agar segera bangkit, memperlihatkan bagaimana cara membujuk putri tunggalnya.
Laki-laki itu mengangguk, berjalan menuju tempat yang tadi diduduki Hani. Gery mencium kening Ina lalu membisikkan sesuatu, "Bangunlah sayang, maafin gue. Gue bener-bener minta maaf, buka matamu!" Setelahnya Gery mengusap-usap pipi Ina, membuat gadis yang asik menutup mata itu menjadi risih. Perlahan pelupuk itu terbuka, sea green itu menyambut auburn yang berbinar cerah.
"Syukurlah, lo udah sadar!" ucap Gery tersenyum.
Ina hanya memutar bola mata malas. "Zahra mana?" tanyanya sinis.
"Dia udah gue suruh pergi. Tadi papa sama Atha ke sini, mereka nyariin Zahra." Pria itu menjelaskan apa yang terjadi setelah gadisnya pingsan.
"Syukur deh, dia ga lo serahin ke bokap lo. Manusia macam apa kalau lo masih nyerahin dia ke Om Dion, padahal dia udah nolongin lo. Terus kata dokter, gue kenapa? Gue sama bayi gue ga papa, kan?"
Gery yang mendengar perkataan Ina tersenyum kecut. Pertanyaan terakhir Ina seperti bumerang, ini yang ia tak siap sejak tadi. Bagaimana kalau Ina menanyakan kandungannya?
Sementara kedua pasutri yang ada di ruangan itu menatap sepasang muda-mudi tersebut, karena dasarnya mereka telah tahu fakta ini dari dokter yang mengurus Ina saat pendarahan. Sedih? Tentu saja. Apalagi itu cucu pertama mereka. Mereka tidak tahu bagaimana cara memberitahu Ina, oleh sebab itu mereka diam. Mereka tahu kalau putrinya sangat menyayangi janin itu, dengan mengetauhi kabar ini pasti membuatnya bersedih. Sepertinya Gery yang berhak memberi tahu.
"Sayang, ayo keluar. Biarkan mereka berdua dulu," ucap Stevan pada istrinya.
"Baiklah," ucap Hani sembari tersenyum. Setelah berpamitan pada Ina dan Gery, mereka segera pergi.
Gery terdiam, ia tidak tahu bagaimana caranya memberitahu tambatan hatinya ini.
"Ger, jangan diem aja. Gue gimana?" Sentakan dari Ina berhasil membuyarkan lamunan Gery. Laki-laki itu kembali menatap manik di depannya.
"Lo ga papa kok, punggung lo cuma lebam. Ga sampai pada tahap kerusakan tulang punggung." Gery menggenggam tangan Ina, menguatkan dirinya sendiri agar bisa menjawab gadisnya dengan tegar. Ia menyesalinya, sangat. Tidak seharusnya ia memperlakukan Ina demikian.
"Terus kandungan gue, ga papa?"
Gery menatap kosong gadis di hadapannya. Gadis itu menarik tangannya dari genggaman Gery, lalu mengisbas-ngibaskan di depan wajahnya. "Hello, Ger!"
Gery tersadar, kemudian mendekatkan dirinya pada Ina. Laki-laki itu mengusap pucuk kepala Ina yang masih berbaring dan tangan satunya kembali menggenggam jemari gadisnya. Seperti biasa, Ina tak dapat mengelak ketika Gery menyentuhnya. Entahlah, kenapa itu terjadi. Yang jelas ia tak tahu, hanya nyaman yang ia rasakan. Seberapa buruk laki-laki di depannya, tapi nyaman ini tidak bisa menghianatinya.
Laki-laki itu mencium kening, mata, pipi, lalu bibir gadisnya, Ina tidak merespon, gadis itu tetap menatap Gery yang masih menikmati bibirnya. Bukan memberitahunya. Seperti menghindar.
"Ger?" tanya Ina saat Gery mencium bibirnya, maka dengan senang hati laki-laki itu malah mel*mat bibir Ina yang terbuka. Setelah selesai dengan sesi ciuman, Gery tak dapat menahannya. Benda cair dengan bulir bening itu jatuh pada pipi Ina, gadis itu tentu bertanya-tanya. "Ger kenapa? Janin gue ga papa, kan?"
Laki-laki itu mendekatkan bibirnya pada telinga Ina, memeluk erat gadisnya dengan sayang. "Maaf sayang, kita kehilangan calon bayi kita," ucapnya lirih.
"Eee ... apa?" responnya lirih, berlanjut terkejut. Ia membulatkan matanya. Seketika ia mengenyahkan pikiran itu dan berpikir bahwa Gery hanya membohonginya. Biar saja, ia tidak akan percaya. "Ga mungkin lah, gue aja masih mengandung. Nih, kalau ga percaya pegang aja, nendang dia biasanya." Gadis itu menuntun tangan Gery menuju perutnya. Ucapan Ina bagaikan belati yang mengiris hatinya perlahan-lahan. Bagaimana ini? Sepertinya gadis ini benar-benar menyayangi anaknya.
Gery berlutut di samping brangkar Ina, lalu menggenggam tangan itu erat, menciumnya berkali-kali. "Maaf, karena keegoisan gue. Kita harus kehilangan dia."
"Stop Ger, jangan bicara yang enggak-enggak. Bayi itu masih ada di perut gue, emang lo ga ngerasain tadi dia nendang?"
Gery menggeleng pelan. Merasa gagal menjadi calon ayah dan suami yang baik. Ina, gadis itu mencoba duduk meski perutnya terasa agak sakit. Gery berdiri, membantu gadisnya.
__ADS_1
"Masih sakit?"
Ina hanya mengangguk. Sea green itu kembali menatap Gery, wajah pucatnya tak bisa membohongi laki-laki yang bersamanya. "Lo ga percaya kalau di diri gue sekarang masih ada kehidupan?" tanya Ina kemudian.
Gery segera memeluk gadis di depannya ini, tumpahlah semua air matanya. Laki-laki itu membenamkan wajahnya pada ceruk leher Ina. "Maaf sayang, maaf," ucapnya berkali-kali.
"Maksudnya apa? Lo kenapa?"
"Kamu keguguran, maafin aku," Gery berucap pelan. Untuk pertama kalinya ia menangis, untuk anak yang telah pergi dan gadisnya. Wanitanya.
"Lo bohong, kan?" Matanya menyipit meski suaranya tercekat. Hatinya semakin gelisah. Cemas melanda.
"Gue berusaha jujur, meskipun itu menyakitkan," ucap Gery lirih, tak kuasa menahan tangis, tangisnya semakin deras. Cairan bening itu membasahi leher gadisnya.
"Ger ...."
"Hm, maafin gue, ya? Gue ga sengaja. Seandainya gue bisa jaga emosi dan ego, gue ga akan kasar sama lo. Sorry, had made the same mistake that night."
"Gue Benci lo, Gery!" Ina berusaha melepas pelukan dari tubuhnya, tapi laki-laki itu malah semakin mengeratkan pelukannya. Ina menangis di dekapan Gery. Perlahan, gadis dengan rambut acak-acakan itu mulai menggenggam tangan kokoh yang mendekapnya. Membawanya ke depan perut, memeluknya.
...****...
Seorang pria masuk dengan kedua tangan yang ia masukkan ke kantung hoodienya. Pria itu lalu duduk di sigle sofa.
"Gimana, Do?" tanya seseorang yang berpakaian serba hitam, ia duduk di depan laki-laki yang baru datang tersebut. Pria itu menghela napas berat, lalu menggeleng.
"Maksudnya? Lo berhasil nangkap mereka, kan?" tanyanya, masih memandangi putri bungsunya yang terbaring lemah.
"Kalau anak buahnya semua ketangkap, tapi mereka lari. Gue udah cari, udah nyebar orang kemana-mana, tapi ga ada yang berhasil nemuin mereka. Gue takut kalau mereka ngelakuin lebih dari pada ini," ucapnya menerawang, pandangannya juga beralih pada gadis dua puluh tahun itu.
"Gimana pun kita harus bisa nangkap mereka. Masalahnya, mangsa mereka itu anak-anak gue, apalagi dia. Princess gue, dia mangsa utama mereka. Sekalipun mereka nemuin ahli waris yang sah, sasarannya tetep dia."
"Lo yang sabar aja, kita pasti bisa lewatin ini. Jangan kecewain mantan bini lo, dia udah—"
"Ustt, ada anak gue!"
Pria itu menaikkan alis. "Anak lo kan, tidur."
"Dia hanya memejamkan mata, tubuhnya lelah."
Pria yang berseberangan duduk itu mengangguk. "Bahkan kita sempat ngobrol tadi. Sejak awal dia udah tau, jadi, gue rasa nutupin dari dia ga ada gunanya juga." Ia membenarkan posisi duduknya, menatap serius pria berhoodie itu. "Lo pokoknya harus kirim orang ke seluruh penjuru Indonesia. Kalau perlu ke luar negeri, kita pokoknya harus bisa nemuin mereka. Akan ada badai besar jika kita gagal," ucapnya mantab.
"Lo tenang aja, gue udah kirim orang buat nyebar. Kita tinggal pantau aja."
"Maaf tuan, tuan muda sudah tiba." Richo membungkuk pada kedua majikannya, memberitahu pada beberapa orang di ruang utama.
Pria yang dipanggil Do itu segera pergi. Melangkah duluan.
"Ayo sayang, mereka sudah datang." Pria serba hitam itu menghampiri istrinya. Areta mengecup kecing gadis yang terbaring di sofa, diikuti suaminya. "Baik-baik nak, semoga lekas sembuh. Kami selalu mendoakanmu."
...****...
Bibi menyuguhkan kopi dan teh pada duo R. Wanita itu kemudian duduk di depan mereka berdua.
"Bagaimana? Kalian sudah dapat kabar?" Ya, wanita beranak satu tersebut sudah tahu perihal Zahra yang hilang, ia syok berat dan sempat pingsan.
"Maaf bi, kami belum mendapatkan kabar apa-apa. Ini terjadi akibat kesalahan kami," ucap Rio bersalah. Menyalahkan diri sendiri karena tak bisa berbuat banyak, karena ia tak sanggup menjaga Zahra.
"Kami telah gugur dan lalai dalam menjaganya. Maafkan kami, Bi." Mereka berlutut di depan bibi, menggenggam tangan orang yang mengasuh mereka.
Tadi, setelah bibi bangun dari pingsannya, wanita itu memarahi Rio dan Rizki. Tapi ia juga sadar, bahwa ini bukanlah salah mereka, melainkan takdir yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta.
"Udah-udah, kalian jangan nangis. Malu nanti kalau ada bodyguard masuk, terus meliat kalian ingusan. Mau ditaruh mana muka kalian? Maafin bibi ya, udah marah-marah sama kalian. Ga seharusnya bibi seperti itu." Wanita itu mengusap kepala duo R dengan sayang. Mereka tetap terisak, membenamkan wajahnya di pangkuan Bi Heni. Ya, mereka rapuh. Saat salah satu cahaya di antara mereka menghilang, mereka seakan kehilangan kekuatan mereka.
Bibi menghapus air mata keduanya. "Cukup nangisnya sayang, apa jadi kalau Zahra pulang, terus meliat mata sembab kalian? Diketawain kalian! Bangun! Ayo makan, bibi tadi udah masak makanan kesukaan kalian." Keduanya berdiri mematung. Bi Heni berdiri, lalu menarik keduanya ke meja makan.
Setelah sampai, keduanya duduk di kursi masing-masing. Sedangkan bibi, wanita itu mengambilkan makan untuk keduanya.
Tria datang dengan suara toanya. "Pagi semua. Loh, mata kalian kenapa? Abis nangis, ya?" Gadis itu malah tertawa lebar. Duo R yang diledek pun segera tersadar dan menghapus sisa air matanya.
"Paan, si? Siapa juga yang nangis," sanggah Rizki. Kalau Rio sudah stay cool, pria itu berdehem singkat. Bibi hanya terkekeh melihat mereka.
Setelah makan, mereka kembali ke aktivitas masing-masing, termasuk Rio dan Rizki. Keduanya memasuki kamar masing-masing dan mengerjakan tugas yang telah dikirim via email oleh sekretaris mereka.
__ADS_1
Tiga jam berlalu.
Ternyata tugas itu selesai jauh lebih cepat dari pada yang mereka kira. Mereka termenung sebentar, lalu keluar kamar, menuju ruang keluarga dan menyalakan televisi.
Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Tak lama kemudian, handphone Rizki bergetar. Pemuda itu segera mengangkat panggilan yang masuk. Tertera nama Robby di sana.
"Speaker!" ucap Rio mutlak. Rizki segera menekan ikon speaker sebelum memulai percakapan.
"Halo?"
"Gue barusan kirim data orang yang bawa Zahra, ke email lo. Pelakunya kabur, kita masih nyari mereka ada di mana. Bodyguard lo yang mereka sandra udah dibebasin, sebentar lagi pasti mereka nyampe."
"Zahra gimana?"
"Kita ga tau, ada seseorang yang bawa dia. Langkahnya cepet banget, dia make cadar sama jubah, kita ga bisa ngenalin. Tapi kita bakal cari tau siapa sosok itu, dia juga ngintai Zahra waktu adik lo masih disekap. Gue yakin Zahra baik-baik aja, lo tenang aja."
"Oke, thanks infonya."
Laki-laki itu segera membuka email setelah panggilan selesai. Memperlihatkan isi email itu pada Rio. Email itu memperlihatkan sebuah dokumen word. Rizki segera mendownload-nya.
Ada tiga pelaku. Dua pelaku aktif dan satu pelaku pasif, pelaku pasif itu membantu Zahra untuk kabur. Saat ini pelaku pasif dikabarkan tengah berada di RS Chandra Kirana.
Dioniel Alfareza, pria paruh baya berusia 39 tahun. Adik angkat dari Alm. Johan Frendo Aditama. Pernah membunuh 3 orang wanita, 1 orang pria, menganiaya 2 anak-anak. Juga beberapa korban lain yang kasusnya belum tuntas hingga saat ini.
Membunuh Tiffany Aurashadi, Johan Frendo Aditama, Zaskia Anggun Moreta, Agya Hanafia.
Menganiaya Raisha Rifandi dan Ulyana Zahra Fitrianingsih.
Mempunyai istri yang sudah meninggal, Agya Hanafia yang dibunuhnya sendiri.
Jabatan : CEO di Jo Company.
Bisnis : Ramuan aneh penakluk manusia. Pemilik toko obat-obatan terlarang di black market.
Grenatha Pratama, pria berusia 25 tahun. Anak angkat dari Dioniel Alfareza.
Jabatan : Ketua Black Diamond.
Mempunyai bisnis gelap: Arms sales, sales of organs, saleswoman of the night, obat-obatan terlarang, perjudian dan merampok kapal barang yang mendekati dermaga.
Geiry Aprajaya, pemuda berusia 23 tahun. Anak angkat dari Dioniel Alfareza.
Jabatan : Ketua Black Fire.
Mempunyai bisnis tunggal, pemilik dari Club Estate.
Pria berkaus v-neck itu mematikan layar handphone. Rio kini tau, siapa orang yang ada dibalik ketakutan Zahra. Orang yang sama, orang yang membuat ibunya meregang nyawa. Tapi Rio tidak tahu apa yang telah dilakukan Dion pada mendiang ibunya, sehingga meninggalkan trauma mendalam bagi adiknya.
Bagaimana pria yang bernama Dion itu menyembunyikan diri selama 11 tahun, pintar sekali dia sehingga begitu banyak mengelabui orang. Dan bagaimana Zahra memendam luka yang menggerogoti fisik dan psikisnya perlahan-lahan?
Setelah ini, Rio tidak mau kejadian yang menimpa Zahra 5 bulan lalu terulang kembali.
Rio geram sendiri setelah membaca file itu, giginya bergemeletuk, tangannya terkepal erat.
"Dia yang udah bunuh mama sama papanya Zahra? Bunuh nyokap gue? Jadi ini yang Zahra sembunyikan selama bertahun-tahun, nyembunyiin kebenaran ini. Orang ini juga yang udah nyulik Zahra. Keterlaluan!" Rio melempar vas yang ada didepannya, vas itu pecah, menghantam dinding biru nan kokoh itu.
"Sabar, Bang. Nanti setelah semua selesai, kita kasih kasus ini ke hukum. Sekarang lebih baik kita cari Zahra aja, pasti lokasinya ga jauh dari lokasi Zahra waktu kabur. Robby udah kirim maps ke gue."
"Ya udah, ayo!"
Sebelum Rio sempat melangkah untuk mengambil kunci mobil, ponsel Rizki kembali berbunyi.
"Ada apa?"
"...."
"Apa? Sekarang dia di mana?"
"...."
"Oke, tunggu saya. Kamu telepon dokter!"
Rizki mematikan sambungan teleponnya, maniknya memandang Rio yang menaikkan alis. "Ayo, Bang! Gue udah tau lokasinya."
__ADS_1
Rio mengangguk dan segera mengambil kunci mobil.