Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
70. Akhirnya


__ADS_3

Pencarian kemarin, ke Bandung, rupanya belum membuahkan hasil. Seorang pedagang buah yang mereka temui di terminal Cicaheum, menyatakan pernah mengantar Raisha ke Jakarta.


Akhirnya Zahra menyuruh Xavier untuk mencari Raisha di Jakarta. Menyisir seluruh wilayah Jakarta dan sekitar untuk menemukan Raisha.


Zahra juga telah membuka dokumen-dokumen yang ia temukan di lemari milik Tiffany dan Zaskia. Gadis itu juga membaca dokumen-dokumen tersebut, ia tersenyum miris. Rupanya seperti itu.


Pagi ini, Zahra sudah boleh menggunakan kakinya kembali, gadis itu menyambutnya antusias. Memang masih agak nyeri, tapi ia sangat senang karena akhirnya bisa berjalan kembali. Ia bangun pagi sekali dan membantu bibi menyiapkan sarapan.


Saat Zahra sedang menaruh nasi di meja makan, seseorang mencium pipinya.


"Rajinnya," puji Rio, setelahnya mengacak rambut Zahra yang basah. "Hmm, harum banget, Dek."


Zahra terkekeh geli. "Kak Rizki mana?"


"Ke Tanggerang dia. Akhirnya dia menemukan pemakaman neneknya. Kalau kakeknya dia udah tau sejak lama, orang yang ternyata sering nemuin Rizki dan ngasih perusahaan ke dia itu rupanya kakeknya sendiri."


"Loh, gue kira itu perusahaan dia sendiri yang mendirikan. Ternyata dikasih kakeknya."


"Perusahaannya terancam bangkrut waktu itu, terus kakek itu minta tolong Rizki buat membantunya menyelamatkan perusahaan. Setelah lima bulan, perusahaan itu kembali berkembang, Rizki awalnya jadi tangan kanannya kakek. Sebelum kakeknya meninggal, kakek itu memberikan kepercayaan pada Rizki. Soalnya kakeknya ngaku kalau udah ga punya siapa-siapa. Lo ingat pigura yang dikasih bibi?"


Zahra mengangguk saja, menunggu Rio mengucapkan kata selanjutnya.


"Nah, setelah Rizki lihat pigura itu. Ternyata orang yang selama ini baik ke dia itu kakeknya sendiri. Aslinya dia ga percaya, tapi dia coba cari tau di arsip perusahaan—ketemulah biodatanya. Di situ ngak si kakek aja yang ada biodatanya, neneknya, mama, papi, tentu Rizki juga ada di sana. Jadi, selama ini—meskipun mama kabur dan akhirnya nikah sama papi, kakeknya itu selalu ngawasin mama."


"Berarti kakeknya Kak Rizki itu bukan orang sembarangan, dia selalu memantau kehidupan mama. Padahal Kak Rizki ga go public macam kakak, tapi kakek itu tau kalau mama sama papi punya anak, yaitu Kak Rizki. Eh tapi, kenapa Kak Rizki ga pamitan sama gue, ya?


"Lo-nya udah tidur semalem, jadi dia males ngasih tau lo. Kan lo kalau tidur ngebo."


Zahra cemberut kemudian kembali ke samping bibi. Setelah semuanya siap, mereka makan bersama.


...****...


Zahra berangkat dengan mobilnya, sedangkan Tria menumpang di mobil Zahra. Hari ini Zahra mengenakan dress hitam di atas lulut yang dipadukan jaket jeans dan sepatu kets.


Sedangkan Tria menggunakan crop top hitam yang dipadukan dengan kardigan kuning dan celana kulot hitam.


Jam satu siang, Zahra telah menyelesaikan tiga mata kuliahnya. Ia hari ini akan ke Dufan bersama Revan, tapi sebelum itu ia akan mengantar Ardelia ke rumah sakit. Kalau Tria, gadis itu pulang bersama Diki.


Zahra merogoh kunci mobil di saku jaketnya, lalu memasukkan kunci itu pada lubang kunci. Ardelia dan Zahra masuk mobil bersamaan.


"Mau ke rumah sakit mana?" Zahra melihat Ardelia yang sedang memasang safety belt.


"Regendra Hospital."


Zahra mengangguk. Ia pernah dirawat di sana, bersamaan dengan kakeknya, yang masuk rumah sakit karena ulah om sialan itu.


Gadis itu segera melajukan mobilnya ke rumah sakit yang dituju. Selama perjalanan mereka banyak berbicara seputar kampus dan apa saja yang terjadi di kampus.


Dua puluh menit perjalanan, mereka telah sampai di rumah sakit yang di maksud. Mereka segera keluar dan menuju ruang rawat keluarganya Ardelia. Zahra mengantarkan Ardelia sampai pintu masuk ruang rawat.


"Beneran ga mau masuk dulu? Ada mama gue di dalem, lo kan belum pernah ketemu mama gue."


Zahra tersenyum. "Kapan-kapan aja. Gue udah ada janji sama Bang Revan. Dia tadi juga udah minta jemput."


"Ya udah deh. Kalau gitu gue masuk dulu ya, thanks tumpangannya."

__ADS_1


Zahra menepuk bahu Ardelia. "Kayak sama siapa aja lo. Ya udah, gue cabut. Cepet sembuh buat kakek lo."


"Iya, Aamiin. Hati-hati."


Zahra berjalan menelusuri lorong rumah sakit, kakinya mulai menuruni tangga karena ia saat ini berada di lantai tiga. Saat sudah di lantai dasar, seseorang yang sepertinya buru-buru, tidak sengaja menabraknya.


Alhasil, Zahra terjatuh. Pria dengan setelah casual itu mengulurkan tangan untuk Zahra. Gadis itu menyambut uluran tersebut, kemudian berdiri.


"Loh, Bang Revan? Abang nyusulin gue ke sini?"


Orang yang ada di depan Zahra tak paham, ia mengerutkan kening seraya menggeleng. "Revan, siapa? Saya bukan Revan."


"Heh, jangan bercanda deh. Udah ayo, keburu sore." Zahra menarik tangan Revan agar segera berangkat, tapi nyatanya mereka tak bergerak. Tetap di posisi yang sama.


Orang tersebut melepaskan tangannya yang digenggam Zahra. "Saya Rivan, bukan Revan. Kamu salah orang."


Zahra memandang pria di depannya aneh, jelas-jelas Revan, kenapa  mengaku orang lain? Jelas-jelas wajah mereka sama, suaranya pun sama. Ini maksudnya Revan mau menjahili Zahra, tapi sudah ketahuan duluan, apa gimana?


"Well, jelas-jelas lo itu Revan. Lo tuh, ga pande nyamar, jadi jangan ngaku-ngaku jadi orang lain!"


"Saya Rivan, just Rivan. Apa muka saya sangat mirip dengan Revan?


Zahra menjadi kesal sendiri dibuatnya. Ini Revan beneran bukan, sih? "Ya iyalah, mirip. Kalian kan, satu orang," ucapnya bersungut-sungut.


Orang di depan Zahra mengeluarkan sesuatu dari sakunya, ia mengambil tangan Zahra lalu meletakkannya di atas telapak gadis itu. "Ini kartu nama saya, baca kalau kamu tidak percaya!"


"Hah?" Zahra mengerjab polos, apa benar pria di depannya ini bukan Revan?


"Baca!"


Raveno Rivan Wahyudi.


Kebun bunga Indah Rajasa.


Jl. Anggrek No. 213, Pegangsaan Dua. Jakarta Utara.


Zahra membaca kartu nama tersebut dengan tidak percaya, ia genggam kartu nama dengan background hijau itu kemudian menatap Rivan. Pandangan mereka sama, wajahnya pun hampir sama. Nyaris benar-benar jiplakan Revan.


"Apa, beneran?"


"Ya, saya Rivan. Just Rivan!" ucapnya menegaskan.


Zahra mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Ah, maafkan saya. Saya kira abang saya, muka Anda benar-benar hampir sama." Pipinya bersemu malu, ternyata pria di depannya ini memanglah bukan Revan.


Rivan tersenyum. "Tidak apa. Hal seperti ini sering terjadi."


Zahra menurunkan kedua tangannya lalu mengembalikan kartu nama yang dipegangnya.


"Kamu simpan saja, siapa tau kamu ingin berkunjung ke kebun bunga milik saya," tolaknya halus.


"Baiklah. Maafkan saya, kalau begitu saya permisi."


"Silahkan."


Saat Rivan ingin melanjutkan langkahnya, kakinya merasa menginjak sesuatu. Ia berjongkok, mengambil sesuatu tersebut. Dipandangnya benda itu lekat-lekat.

__ADS_1


"Ini, kan?" Ia mengenyahkan pikiran buruk yang masuk ke otaknya. "Mungkin saja milik Azkia yang terjatuh," gumamnya, lalu melangkahkan kaki menuju ruang rawat ayahnya.


...****...


Zahra langsung masuk setelah sampai di Uly's Group, ia langsung melangkah begitu menginjak tanah. Begitu bersemangat, ia harus memberitahu Revan soal ini!


"Siang, Nona."


Zahra hanya mengangguk dan tersenyum kecil saat karyawannya menyapa. Ia ke lift khusus dan menuju langai 8 untuk menemui Elvin terlebih dulu. Zahra meminta pekerjaannya untuk di bawa pulang.


Setelah mengambil pekerjaan, ia langsung ke bawah. Revan telah menunggu di lobby.


"Lama banget lo?" cibir Revan.


"Ya, sorry. Tau ga? Gue tadi ketemu sama orang yang mirip banget sama lo, bedannya dia agak isi dikit. Terus udah bapak-bapak gitu kayaknya."


Revan mengikuti langkah Zahra keluar kantor, mereka masuk mobil dengan warna biru gelap itu. Kali ini Revan yang mengemudikan mobil milik Zahra.


"Yang bener? Semirip apa sama gue?" Revan menghidupkan mesin mobil, kemudian mobil mulai melesat di jalan raya, menembus arah menuju Dufan. Sebenarnya mereka ke Dufan bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk menyelidiki kasus client mereka.


"Iya, jadi dia dari mukanya sampai postur tubuhnya mirip banget sama abang. Mata kalian juga sama," ucap Zahra sambil menatap Revan dari samping.


Revan tersenyum sinis lalu menambah laju mobil. Apa orang yang mirip dengannya itu ayahnya? Dulu mendiang ibunya pernah bilang jika rupa Revan sangat mirip dengan ayahnya. Tapi miris, ayah Revan tidak pernah mengakui Revan sebagai anaknya.


"Udah lah, Ra. Ga penting!"


"Namanya Raveno Rivan Wahyudi, pemilik kebun bunga dia daerah Pegangsaan Dua. Kalau lo penasaran, lo bisa ke sana."


"Gue ga tertarik!"


"Dia benar-benar mirip sama lo, siapa tau dia orang yang lo cari."


Revan terkekeh. "Kalaupun benar dia orangnya, gue ga bakal sudi balik ke dia."


Ternyata Revan masih keras kepala jika sudah menyangkut ayahnya. Zahra menghela napas, memandang Revan jenuh. "Kalau dia emang ayah lo, suatu saat kalian pasti ketemu. Dan, lo ga bisa ngelak!"


"Terserah."


Zahra memutuskan untuk diam, gadis itu akhirnya larut dalam chatting bersama gebetannya.


Sementara itu, seseorang yang telah lama terbaring koma akhirnya membuka mata perlahan-lahan. Keluarganya menyambut dengan gembira dan mengucap syukur.


Setelah kemarin dokter memberi kabar bahwa Wahyu telah melewati masa kritisnya, anak dan menantu serta cucunya tak berhenti mengucap syukur. Hari ini mereka menyaksikan ayah dan kakek mereka membuka kelopak matanya kembali.


"Syukurlah, Tuan Wahyu telah siuman. Detak nadinya pun sudah normal. Dia sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Hanya saja selama dua hari ke depan, Tuan Wahyu masih harus menjalani rawat inap untuk proses pemulihan."


"Terimakasih, Dok." Vero menjabat tangan dokter Dean.


"Memang sudah tugas saya, kalau begitu saya permisi."


Sepeninggal dokter Dean, putri bungsunya berjalan ke arah Wahyu. "Ayah ...." Azkia yang telah menunggu ayahnya kembali, langsung menghambur ke pelukan pria berambut putih itu. Wahyu tersenyum sambil berusaha mengusap bahu Askia yang bergetar.


"Ayah ...." Di samping kiri brangkar, telah berdiri—Rivan dengan mata berkaca-kaca. Pria itu juga menghambur memeluk Wahyu. "Akhirnya ayah kembali."


Wahyu berterimakasih pada Tuhan yang Maha Esa, karena telah diberi kesempatan untuk menjelajahi dunia lebih lama. Masih diberi kesempatan untuk kembali berkumpul bersama keluarganya. Ia bisa melanjutkan percariannya untuk mencari anak beserta cucunya yang belum ditemukan. Meskipun pernah bertemu, tapi ia belum tahu di mana mereka saat ini tinggal.

__ADS_1


__ADS_2