
"Woe, jangan lari lo!" Atha berteriak sambil terus mengejar Zahra.
Gadis itu bingung harus sembunyi di mana, ia tidak tahu menahu soal daerah sini. Ia terus berlari demi menghindari kejaran Atha, hingga ia tersadar jika dirinya sudah tersesat.
"Bego banget gue, tadi kan kuncinya Gery masih nempel di mobil. Kalau naik mobil kan ga harus capek-capek gini," gumam Zahra kesal.
Atha masih terus mengejar Zahra. Sementara gadis dengan tampilan compang-camping itu berhenti sejenak, harus kemana lagi dirinya? Ia benar-benar tidak tahu ini di mana.
Zahra berpikir. "Ini kan, jalan raya. Iya, gue bisa nebeng orang di sini!" Zahra terus berlari untuk menghindari Atha dan anak buahnya, sambil sesekali melambaikan tangan. Berharap ada yang bisa memberikannya tumpangan.
Seorang pengendara motor berhenti di samping Zahra. "Neng, ojek nih?"
Zahra memandangnya berbinar, gadis itu berhenti sejenak lalu mengatur napas. "Iya, Bang!" Zahra segera menaiki jok belakang motor tersebut.
"Ini kemana, Neng?" tanya Kang Ojek. Laki-laki yang sepertinya masih seumuran dengan Rio itu menyerahkan helm pada gadis di belakangnya.
Zahra memasangkan helm hingga terdengar bunyi click. "Kemana aja bang, pokoknya jalan!"
"Kalau ke KUA sama saya mau ga?"
"Duh bang, jangan gombalin saya. Saya lagi dikejar-kejar orang jahat, nih. Ayo bang, jalan cepetan!" Zahra semakin panik karena jarak motor dengan Atha tinggal 5m saja. Ternyata pria itu cepat sekali menemukan dirinya. "Ayo bang, gas!"
"Iya, Neng." Abang ojek itu segera melajukan motornya dengan kecepatan maksimal.
Atha juga tidak mau kalah, pria itu menaiki mobil anak buahnya untuk mengejar Zahra.
"Bang, cepetan!" Mereka semakin dekat, Zahra panik karena Atha hampir mencapainya. Gadis itu menepuk-nepuk bahu abang ojek, bermaksud agar kang ojek menaikkan kembali gasnya.
Kang ojek semakin mempercepat laju motornya. Zahra terdiam, ia berada di jarak aman setelah kejar-kejaran dengan Atha, pria itu tertinggal di lampu merah.
Zahra mengeluarkan benda yang diberikan Gery padanya. Benda itu kecil panjang seperti tabung. Inhealer? Zahra membatin bingung. Untuk apa Gery memberinya inhealer?
Gadis itu menghirup inhealer tersebut, aroma herbalnya langsung memenuhi indra penciuman Zahra. Aroma terapinya menenangkan, sepertinya Zahra tahu apa manfaat benda ini.
Gery menyimpannya agar ia tidak termakan ramuan jahat yang bisa menumbangkan orang. Ini, ini penawarnya. Pantas mereka dapat mengalahkan bodyguard gue dengan mudah, rupanya mereka makai cara licik, batin Zahra. Ia tidak menyangka ramuan seperti ini ada. Ini sebuah pengajaran baru untuknya. Zahra memutar tutupnya, kembali menghirup aroma menenangkan itu.
Motor mulai memasuki daerah pemukiman warga, tapi pemukiman ini agak sepi penduduk. Masih banyak sawah dan perkebunan, ini sebenarnya di mana?
Tiba-tiba motor yang ditumpangi Zahra berhenti, gadis itu turun dengan alis bertaut.
"Wah, kayaknya bengsinnya habis, Neng," ucap Mang Ojek, laki-laki itu menatap Zahra bersalah, tidak enak dengan penumpang yang ia kecewakan. Harusnya, ia memeriksa bahan bakar dulu sebelum menarik penumpang.
"Waduh, gimana dong, Bang? Saya ga tau juga ini di mana?"
"Gimana kalau nengnya ikut saya cari bengsin? Sepertinya di ujung jalan sana ada yang jual, saya sepertinya juga pernah ke sana."
"Iya bang, ke sana aja deh." Zahra akhirnya berjalan ke ujung jalan bersama Kang Ojek. Memang warung yang menjual bensin itu sudah terlihat di mata keduanya. Itu tandanya, sudah tak jauh lagi.
Sambil mendorong motornya, Kang Ojek itu mengajak Zahra mengobrol. Zahra santai saja, kadang mereka juga terlibat perdebatan kecil. Dari pada jalan tidak jelas, mending bercerita, bukan? Keduanya tak sadar jika Atha telah berhasil menemukan keberadaan Zahra.
"Woee!" Sebuah suara berhasil membuyarkan pembicaraan Kang Ojek dan penumpangnya. "Sial, gue harus lari lagi!" Zahra kembali mengumpat, gadis itu merogoh sakunya. Masih ada sisa uang pemberian Gery tadi. Bagaimana tidak bersisa jika laki-laki itu memberinya dua lembar uang berwarna pink dan selembar uang dengan warna biru?
"Bang, ini uangnya!" Setelah berkata demikian, Zahra langsung lari.
"Hati-hati, Neng!" pesan Kang Ojek, laki-laki itu juga mendengar teriakan Zahra meskipun samar. Ia banyak mendengar cerita dari penumpangnya tadi, gadis itu ternyata sedang kabur dari orang yang menyekapnya. Sejak awal ia memang sudah curiga saat Zahra melambai-lambai ke arah jalanan, kebetulan sekali saat itu ia sedang istirahat.
Zahra berlari entah ke mana, ke mana pun boleh asal lolos dari Atha dan pasukannya.
"Tangkap dia! Jangan sampai kehilangan jejaknya!" perintah Atha pada anak buahnya.
Zahra berlari menerjang persawahan, perkebunan, sampai-sampai jemuran warga juga diterjangnya. Gadis itu terus berlari hingga terjatuh karena banyaknya bebatuan yang lumayan menonjol di jalan yang ia lewati. Ya, dia tersandung. Jari mungil kelingkingnya mengeluarkan darah akibat menabrak batu lancip.
Di depan sana terlihat Dion menghadang. Rupanya, urusannya dengan Gery telah usai.
"Sial!" Zahra membatalkan niatnya untuk mengumpat, berharap saja Tuhan juga mengabulkan permintaannya. Semoga nasib baik memihaknya.
Zahra putar balik, ia menyamping untuk menghindari Atha dan Dion beserta anak buah mereka. Aroma yang sama seperti saat ia berhasil dibawa paksa oleh Atha kembali merasuki hidungnya. Zahra yang tersadar segera menghirup inhealer yang digenggamnya, seraya terus berlari.
Dor!
Dor!
__ADS_1
Dor!
Sebuah peluru berhasil mengenai kaki kirinya, lebih tepatnya di pangkal paha yang berdekatan dengan lutut. gadis itu terjatuh. "Awshh," ringisnya pelan.
Zahra langsung berdiri ketika menyadari orang-orang itu semakin mendekatinya. Ia mencoba berdiri dengan menahan sakit. Di Raja Ampat saja ia bisa melakukan ini, kenapa sekarang tidak? Ia berlari dengan kaki tertembak, darah terus keluar dari sela-selanya. Akibatnya, itu menyulitkan langkahnya. Ia tidak dapat berlari cepat jika seperti ini.
"Awshh." Untuk kedua kalinya gadis itu terjatuh. Sebuah pisau tampak menggores dalam betisnya. Zahra berusaha berdiri, langkahnya kali ini terasa berat. Pasti ada sesuatu di mata pisaunya. Gadis yang rambutnya masih terurai itu berlari pelan dengan kaki timpang—berusaha menahan sakit yang kian bertambah.
"Ha–ha–ha, lo ga bakal bisa lari lagi!" Tawa iblis seseorang terdengar, Zahra tahu itu suara Atha. Tak jauh darinya Dion menodongkan sebuah pistol. Gadis itu bangkit, ia kembali berlari dan sialnya ia harus terjatuh.
Atha dan Dion berhasil mendekati zahra, tetapi masih ada jarak 3 meter diantara mereka. Saat Atha dan Gery akan menangkap Zahra yang masih terduduk, seseorang membawa Zahra pergi dengan cepat dari hadapna Atha dan Dion.
Seseorang bersembunyi di balik pohon pisang, menyaksikan obrolan yang Atha dan Dion bicarakan. Dia baru saja dari pemakaman orangtuanya yang tak jauh dari dari tempat itu.
"Sial, siapa tadi yang membawa mangsa kita?"
"Papa juga tidak tau. Lihat saja kalau bertemu, kita habisi dia juga. Berani sekali ikut campur urusan kita," ucap Dion berang.
"Iya, Pa. Hey, kalian jangan diam saja, cari cewek itu sampai ketemu!" perintah Atha pada anak buahnya.
Apa? Siapa yang akan mereka tangkap? Tunggu, dari belakang kok kayaknya gue kenal sama bentukannya. Kek Zahra? Ternyata pria munafik itu masih hidup, ku kira dia sudah mati, batin orang itu. Waktu orang itu akan pergi, kakinya tak sengaja menginjak botol air mineral sehingga menimbulkan suara.
"Siapa di situ?" teriak Dion sambil menodongkan pistol ke arah yang dia dengar.
Orang itu langsung membalikkan badan. "Calm down Rai, mereka ga liat lo!" Tenangnya pada diri sendiri.
"Udahlah pah, ga penting. Kita cari cewek itu sebelum dia pergi jauh."
Orang itu bernapas lega setelah Dion dan Atha pergi, dirinya juga segera menjauh sebelum kehadirannya diketahui mereka.
Seseorang menarik Zahra paksa dan membekap mulutnya, gadis compang camping itu memberontak, berusaha meloloskan diri. Banyak sekali sepertinya orang yang ingin menyekapnya. Orang itu membawa Zahra ke balik sebuah tembok.
"Diem! Nanti ketahuan!"
Zahra menatap manik yang menyerupai dirinya, hanya saja lebih gelap—manik itu terlihat tegas sambil terus mengamati keadaan di sekitar mereka. Suara itu ... ia ingat, sangat ingat. Bahkan tidak pernah melupakannya, sekian lama mereka bersua, namun hanya siluet yang dapat ia rasakan. Kini, ia kembali mendengarnya setelah sekian lama.
Zahra menatapnya dengan mengerjab polos, sementara orang misterius itu celingukan menatap kedua sisinya.
Zahra mengangguk, dia kembali berlari dengan kaki timpangnya sembari menahan sakit. Melihat sosoknya yang kembali muncul, membuat sebagian jiwanya kembali bereaksi. Ia menghirup inhealer itu, pasalnya indra membauinya kembali menghirup aroma itu. Jika ia tidak menghirup inhealer yang dimilikinya, bisa saja ia tumbang sebelum waktunya.
"Woi-woi, itu ceweknya," teriak salah satu anak buah Atha. Mereka mengejar Zahra, gadis itu semakin mempercepat larinya sambil sesekali melihat ke belakang.
Dari kejauhan, memang terlihat, tapi kompleks ini sepi sekali. Ia terus berlari. Tinggal beberapa meter ia sampai di kompleks yang terlihat tak berpenghuni.
Mereka semakin dekat, itu karena lari mereka normal—tidak seperti Zahra yang juga harus menahan sakit demi meloloskan diri.
Zahra sampai di area kompleks, bagaimana ia meminta bantuan di sini? Sedangkan di kompleks ini saja seperti kompleks mati. Ia terus berlari sambil sesekali melihat kanan kiri, siapa tahu ia menemukan seseorang yang dapat menolongnya. Ayahnya itu tidak salah tujuan kan, saat menunjukkan arah tadi?
Ia berlari hingga ujung kompleks, alisnya tertaut bingung. Mungkinkah ini? Di depannya ada mansion megah yang tak jauh berbeda dari mansionnya, gerbangnya menjulang tinggi kira-kira 4 meter. Ia mengenali rumah ini, mungkinkah yang dimaksud pria tadi rumah ini?
Zahra mencoba masuk tapi tidak bisa, gerbangnya dikunci dengan gembok besar. Ia coba mengguncangkan gerbang itu, bising. Sesekali ia juga berteriak.
"Pak ... bukain!" Kemana satpam yang biasanya berjaga? Kenapa laki-laki itu tidak ada?
Mereka sudah semakin dekat, ditambah dengan Dion dan Atha yang juga telah menemukan Zahra.
"Tolong-tolong," Zahra berteriak dengan sisa tenaga yang dimilikinya, jika penghuni mansion ini tidak keluar, maka ia bisa tertangkap kembali oleh mereka. Larinya akan sia-sia. Ia bernapas lega, beruntung salah satu penghuni rumah ada yang lewat.
"Pak, tolongin saya." Posisinya sudah terduduk di sisi lain gerbang, kakinya sudah tak sanggup berdiri.
"Non Zahra, kan?"
"Iya, Pak. Tolongin saya, bukain gerbangnya."
Pria yang terlihat berusia tiga puluhan itu segera mengambil kunci yang berada di pos satpam. Setelah gerbang terbuka, pria itu segera mendorong gerbangnya ke kiri. Membantu Zahra berdiri, memapahnya karena gadis di depannya sudah tak sanggup berjalan.
"Pak, dikunci dulu gerbangnya." Zahra mengingatkan, bisa sia-sia kalau mereka masuk dan kembali membawanya. Pria itu mendudukkan Zahra di pos satpam, berjalan mengunci gerbang.
Setelah gerbang terkunci, pria itu kembali memapah Zahra ke rumah.
Orang-orang itu sampai, mereka menggoyang-goyangkan gerbang itu—membuat berisik. "Woy, buka! Mau lo kemanain cewek itu?" Atha berteriak, sebelah kakinya menendang-nendang pagar menjulang tersebut. Jika saja pagar itu tak tinggi dan ujungnya tak lancip, sudah ia panjat gerbangnya tanpa mengemis pada penghuni rumah. Ck! Memalukan!
__ADS_1
"Tembak mereka!" Atha memberikan aba-aba.
Beberapa tembakan yang telah lolos hampir mengenai Zahra, tapi pria itu segera membawa Zahra menjauh.
Setelahnya muncul beberapa orang dari samping mansion, orang itu balas menembaki Atha dan gerombolannya. Tempat itu sekarang bisa dikatakan mirip perang dunia, suara tembakan dan senjata yang dipompa terdengar nyaring.
Zahra dengan sekuat tenaga berusaha menahan dirinya agar tidak jatuh, pria tadi mengantarnya sampai ruang utama. "Udah pak, sampai sini aja," kata Zahra setelah sampai.
Zahra berdiri, berpegangan pada sisi sofa. Karena tak kuat menahan beban tubuhnya, gadis itu terhuyung, terjatuh ke sofa dengan tidak elit. Sementara kedua kakinya masih berada di bawah, matanya terpejam. Posisinya tengkurap, membuat pria yang tadi masih mengamati Zahra menjadi khawatir. Bisa-bisa nonanya nanti kesulitan bernapas. Jika ia membetulkan posisinya, takutnya nonanya salah paham.
Akhirnya ia memilih jalan tengah dengan pergi ke dapur, asisten dan nyonya di rumah ini sedang memasak
Dua orang wanita keluar dengan apron putih yang masih mengikat di tubuh keduanya.
"Astaga, Nona."
"Za-Zahra ...." Wanita yang satunya terlihat mendekati gadis yang tengkurap itu. "Ayo, Bi. Bantu saya."
"Baik, Nyonya."
Kedua wanita itu merubah posisi Zahra menjadi telentang. Pria dan asisten itu masih berdiri di sana, sama-sama ingin melihat interaksi keduanya dan mengetahui keadaan nonanya.
Wanita dengan dress vintage motif polkadot itu mendekati Zahra, mengusap pipi gadis itu perlahan. Ia meneteskan air mata tatkala melihat keadaan putrinya.
Bekas sayatan di pipi, leher, tangan, kaki, tak luput dari pandangannya. Luka di kaki akibat tembakan dan pisau yang mengiris, masih merembes, mengeluarkan carian merah kental dengan warna yang sedikit gelap.
Wanita itu melihat luka yang berada di betis putrinya. "Dalam sekali," ucapnya lirih.
Cairan bening itu tak dapat lagi ditahannya, membasahi pipi gadis yang memejamkan mata di bawahnya. Ia berdiri, menaikan kaki Zahra dan memposisikan putrinya agar nyaman. Ia duduk dan memangku kepala gadis itu. Wanita itu kembali mengusap-usap pipi Zahra yang telah basah.
"Kenapa kamu jadi kayak gini, Sayang." Ibu mana yang tak sedih saat putrinya seperti ini. Wanita itu melihat pakaian yang dikenakan Zahra, meskipun hanya kaus—baju lengan pendek polos biru itu telah berhiaskan noda merah. Tanpa diberitahu, ia sudah tahu itu noda apa.
Suara adu tembakan di luar baru berhenti setelah pria lain masuk dengan angkuhnya. Pakaiannya masih sama seperti tadi, serba hitam, hanya saja penutup wajahnya sudah hilang entah kemana.
"Anak buahku telah mengejar mereka, akan kupastikan mereka tertangkap," ucapnya tegas. Ia berjongkok di sofa depan istrinya, menghapus air mata wanitanya. "Dia baik-baik saja," ujarnya pelan, menatap teduh wanita di depannya.
Wanita itu menggeleng. "Luka di kakinya sangat dalam."
Pria itu terkejut saat benar-benar melihat keadaan Zahra dari dekat, putrinya sungguh ... memprihatinkan. Pria itu memeriksa keadaan kakinya, benar, lukanya sangat dalam.
"Bertahanlah nak, kamu kuat," ucapnya sambil mengusap dahi Zahra.
"Mas, apa dia baik-baik saja? Kenapa matanya tertutup erat sekali?"
"Memangnya kamu mau kalau dia bangun dan melihat kita? Dia baik-baik saja, dia hanya kelelahan," ujarnya menenangkan istrinya. Tapi hatinya seolah menolak ucapannya, tentu saja gadisnya jauh dari kata baik.
Sayup-sayup itu terbuka, netranya memandang sayu kedua paruh baya itu dengan senyum. Tentu saja orangtuanya itu terkejut, ia terkekeh pelan. "Ma, Pi ...."
Dapat ia lihat keduanya meringis, wanita yang memangkunya itu mencium dahinya beberapa kali. Wanita itu kembali terisak. Dipeluknya tubuh yang kini memandangnya dengan senyum merekah.
Paruh baya yang masih terlihat muda itu mendekat, memeluk tubuh ringkih di depannya. Menatapnya bersalah.
"Terimakasih sudah kembali dan menjaga kami dari jauh. We love you." Tangan mungilnya bergerak menggenggam tangan besar paruh baya yang memeluknya. Tangan ini masih sama ketika ia menggenggamnya terakhir kali.
Rambut sehitam eboni yang helainya jatuh itu diselipkan oleh gadisnya. Ia tersenyum tipis. "Aku merindukan kalian, bersyukur dengan keadaanku yang sekarang. Keadaan ini membuatku bertemu dengan kalian, kupikir kalian hanya ilusi. Hingga laki-laki yang berperan sebagai kekasihku memperjelas eksistensi kalian. Akhirnya kita bertemu, Pi, Ma."
"Zahra, mama merindukanmu, Sayang. Sekian tahun mama tidak bisa mendengar suaramu, kini mama bisa mendengar ocehanmu, bahkan memelukmu." Ia menghela napas, mengusap keringat yang mengalir di dahi putrinya. "Sebagai orang yang melahirkan kakakmu, mama minta maaf atas yang dilakukannya padamu. Mama tak bisa mencegahnya hari itu."
Zahra mengangguk. "Sudahlah, Ma. Aku sudah melupakan hal itu." Maniknya menatap orang yang menyandarkan kepala di perutnya. Ia menunggu, berharap pria yang kini ditatapnya mengucapkan sesuatu.
"Princess, sorry. Papi tidak bisa mencegah mereka membawamu. Papi bodoh karena terlalu meremehkan pergerakan mereka. Papi kurang mengawasimu."
Zahra menggeleng, matanya masih memandang sayu. Ia mengerjab beberapa saat. Tubuhnya sangat lelah, matanya mulai berat. Kakinya serasa mati rasa. Apakah obat itu mulai bekerja?
"Udahlah. Aku tau papi menyuruh beberapa orang untuk membantuku. Mereke licik, Pi. Mereka menumbangkan hampir semua orangku. Aku mau istirahat, mengembalikan energiku."
Mereka mengangguk, tentu paham keadaan putri kecilnya. Wanita itu menawari putrinya air, ia mau-mau saja. Toh tenggorokannya rasakan seperti tercekik.
Ia mengembalikan gelas bening yang telah kosong itu. Senyumnya lagi-lagi mengembang. "Sampai jumpa dan terimakasih." Pelupuk itu kembali tertutup. Wanita itu masih mengusap rambutnya, selagi ia bisa berdekatan dengan putrinya.
Pria itu berdiri, menoleh pada wanita paruh baya yang berdiri di belakang sang istri. "Bi, tolong telepon dokter dan putra saya. Mereka harus tau kalau adik mereka di sini." Lalu manik itu beralih pada pria yang sedikit lebih muda darinya. "Richo, kembali ke pekerjaanmu dan suruh beberapa orang membersihkan kekacauan di depan. Juga beritahu Putra untuk menemuiku jam lima nanti."
__ADS_1
"Baik, Tuan," ucap Richo dan Bi Lasmi bersamaan.