
ILYAS
Setelah berpisah dengan Ida.. Ilyas mendaftar di SMA taruna di kota tersebut.. dengan tes yang ketat akhirnya dia bisa lolos juga. Dia berusaha untuk mencapai cita-cita agar kelak mampu menjadi pendamping untuk gadis yang dia sayangi.. ya karena Ilyas pernah mendengar Ida pernah bicara kalau dia ingin punya kekasih seorang TNI.. itu salah satu pendorongnya bertekad jadi seorang TNI..
Memang agak berat sekolah di SMA taruna karena pelajaran ala militer yang begitu ketat dan disiplin.. tapi karena tekat yang bulat Ilyas mampu menjalani semua dengan mudah.
Setiap malam menjelang tidur dia selalu melihat foto gadis yang disayanginya.. karena hanya waktu itulah dia bisa pegang hp..
"Sayang.. apakah kamu merindukan aku juga" gumamnya sambil terus menatap wajah Ida dilayar ponselnya.
"ciye.. yang lagi kangen.. ditelpon aja brooo!!" ledek Zaki teman sekamarnya..
"Tidak.. kami berjanji untuk tidak saling berhubungan lagi.." ucap Ilyas datar.
"Jadi kalian sudah putus too??" lanjut Zaki lagi.
"Gimana mau putus.. wong kita nggak pacaran kok" kata Ilyas pelan yang mampu membuat Zaki mengernyitkan dahinya heran.
"Nggak pacaran kok panggilnya sayang.. aneh" ujar Zaki heran dengan sahabat barunya itu.. "ya udahlah terserah.. aku mau tidur.. sebentar lagi petugas akan patroli.. kalau belum tidur bisa dihukum kita.. dah cepat tidur.. dan sembunyikan tu hp.. bahaya"
Ya memang peraturan di asrama taruna begitu ketat.. semua di atur dari bangun tidur , jam makan, sampai waktu tidurpun di atur dengan ketat.. kalau ada yang tidak menurut hukumnya berat... bahkan sebenarnya tidak boleh pegang hp.. tapi za karena ngeyel ada aja anak yang nyembunyikan tapi jangan sampai ketauan petugas.. bisa di scors.
****
Malam terus berlalu.. suara adzan subuh menggema di telinga membangunkan insan untuk beranjak menghadap Sang Pencipta..
Setelah sholat subuh kegiatan rutin di SMA Taruna adalah berkumpul di lapangan dan mulai aktivitas berlari mengelilingi lapangan..
semua murid baik pria maupun wanita semua berlari... semua sudah terlatih untuk disiplin diawasi oleh petugas militer yang tegas.
Setelah habis waktu olah fisik di pagi hari.. mereka di beri waktu untuk bersih-bersih lalu sarapan di aula yang sudah di siapkan.
****
__ADS_1
Dalam kamar.. Ilyas menunggu antri buat mandi menyempatkan melihat wajah Wida sebentar di layar ponselnya.. yang membuat semangat kembali lagi..
" Pagi sayangku.. selamat beraktivitas..
semangat!!" gumamnya menyemangati diri sendiri dengan senyum mengembang di bibirnya...
"Ya elah... pagi-pagi dah mulai ngomong sendiri.. lama-lama jadi gila.." sahut Zaki yang baru masuk ke kamar.
"Heh.. siapa yang gila Zak??" tanya Ilyas dengan bodoh..
"Aku yang gila... karena tiap saat harus lihat bucin nggak jelas" jawab Zaki kesal yang membuat Ilyas tertawa.
"Hhhaaahhha... bagus deh kalau kamu yang gila" kata Ilyas enteng seraya keluar kamar sambil nenteng handuk mau mandi.
****
"Yas.. apa kamu ndak tertarik dengan gadis di sini.. lihat itu si Melda yang cantik, si Ayu, si Tara.. mereka kan cantik.. daripada cewek kamu itu kan mending mereka nyata bukan cuma foto" ujar Zaki pelan saat sarapan.. sambil melempar pandangan pada segerombol cewek yang sarapan di meja sebelah..
"Apa kamu yakin broo?"
"Aku mau fokus sekolah dulu.. aku belum mau pacaran..!" jawab Ilyas ketus sambil beranjak dari duduknya.
"Terserah kamu deh.." sahut Zaki sambil geleng-geleng melihat sahabatnya itu yang begitu cuek menghadapi cewek lain.
"Pagi Ilyas.." sapa salah satu cewek saat Ilyas melewati mejanya sambil tersenyum.
"Pagi juga.. " sahut Ilyas datar tanpa expresi sambil terus berjalan.
Zaki yang melihatnya terus berjalan menjajari langkah sahabatnya itu terus menepuk bahunya.
"Bro.. sepertinya Bella suka sama kamu"
"Biarin aja Zak.. aku ndak tertarik" ucap Ilyas dingin "kalau ketauan pacaran bisa di DO"
__ADS_1
"Iya juga sih.." sahut Zaki membetulkan sahabatnya.
" Ya udah.. ayo ke kelas sekarang!"
****
Tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat.. tak terasa sudah hampir satu tahun mereka berpisah.. tak ada sedikitpun hubungan yang terjalin diantara mereka berdua.. karena ketatnya aturan yang ada di asrama yang tidak memperbolehkan ada hp selama mengikuti pendidikan..
Hanya seminggu sekali di ijinkan telfon itupun hanya dengan keluarga saja ( diih.. kayak di pesantren aja zza).. tapi semua demi kedisiplinan yang sudah diterapkan.
****
Kenaikan kelas yang selalu dinanti Ida datang juga.. dia selalu berharap supaya dapat kelas yang berbeda dengan Edo.. sudah males berantem terus sama tuh cowok..
"Semoga aja taun ini nggak sekelas sama Edo.. bisa makin tua nih umur" doa Ida saat mau berangkat ke kelas..
"Da.. kalau umur ya jelas makin tua lah" ujar Alisa yang masih merapikan jilbabnya..
"Itu juga tau Lis.. cuman kalau sama Edo bikin emosi terus.. bisa cepet tua tau"
"Kalau sering berantem bisa jadi jodoh lhoo.." seloroh Alisa
"Amit\-amit deh Lis.. mending buat kamu aja" sahut Ida bergidik.
" Emangnya kamu nggak naksir sama Edo.. dia kan ganteng?" tanya Alisa sambil tersenyum genit membayangkan wajah Edo.
"Ganteng dari Hongkong.. aku nggak mau pacaran dulu Lis.. aku mau sukses dulu!!"kata Ida pasti.
"Iya deh.. calon dokter" sahut Alisa menyerah..
"Udah ayo berangkat.. bisa di hukum kalau terlambat" ajak Ida sambil mengobrol jam tangan yang diberi Ilyas dan memakainya.
Mereka berjalan menyusuri koridor asrama menuju ke kelas yang lumayan jaraknya.
"Da.. kok jam itu ndak pernah jauh dari kamu sih.. sepertinya itu benda kesayanganmu zza?" tanya Alisa heran karena dia tau sahabatnya itu tak pernah melepaskan jam itu selain mandi dan cuci tangan.
"Ya gitu deh.." sahut Ida enteng.. " Kamu Ndak tau Lis.. ini barang paling berharga bagiku.. dengan jam ini aku bisa menguji seberapa setia diriku" lanjutnya dalam hati
__ADS_1
"Hadiah dari seseorang zza?" Alisa kepo..
"Alisa kepo deh.. ini itu aku beli dengan tabungan ku" jawab Ida bohong.. dia tidak mau ada orang lain tau cerita dari jam itu.. cukup jadi rahasia dalam hatinya..