
"Semua juga karena mas Angga" kata Ida yang juga didengar yang lain.
"Sorry Da.. aku cuma bales dendam" ujar Angga enteng..
"Tapi ada juga yang akan aku bicarakan pada kalian agar nantinya tidak ada salah paham diantara kita.."
Ida mengajak Ilyas kembali ke ranjang pasien dan memasang jarum infusnya kembali..
"Ilyas.. Elena.. sebenarnya aku dan Ida dijodohkan oleh orang tua kami, tapi kami berdua sepakat untuk menolak perjodohan ini.. karena aku hanya menganggap Ida sebagai rekan kerja dan kalau dirumah aku menganggap dia sebagai adik.. kami memang tinggal serumah.. karena orang tuaku sangat menyayangi Ida.. tadinya aku ke sini hanya ingin mempertemukan Ida dan Elena tapi sangat kebetulan sekali bisa bertemu denganmu juga Yas.. " jelas Angga panjang lebar.
"Jadi benar dia calon suamimu Yank?" Ilyas menatap Ida menuntut jawaban.
"Iya Yas.. tapi itu cuma keinginan orang tua.. bukan keinginan kami.. mas Angga sangat mencintai mbak Elena.." Ida masih menjelaskan sambil tersenyum pada Ilyas.
"Bagaimana denganmu?" Ilyas masih terus mencari kejujuran di mata Ida.
"Apa arti pertanyaan mu Yas? kamu masih meragukanku" bibir Ida mengerucut kecewa mendengar pertanyaan Ilyas..
Ilyas dengan gemas mencubit pipi kekasih hatinya itu sambil tersenyum..
"Bibirnya jangan manyun seperti itu.. mau aku cium di depan mereka?" goda Ilyas sambil menoleh kearah Angga dan Elena yang duduk di sofa.
Sontak pipi Ida memerah malu ditertawakan Angga dan Elena..
"Ilyas.. apaan sih.. nggak boleh kalau ini!" Ida menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
Setelah merasa persoalan selesai Angga mengajak Ida pulang..
"Kita pulang dulu Dan!"
"Mas bentar lagi ya?" kata Ida merajuk dengan masih memegang tangan Ilyas.
"Sayang.. sudah sore.. pulanglah sama mas Angga.. aku sudah mendingan!" Ilyas mencoba meyakinkan kekasih hatinya itu.
"Tapi Yas.. aku.."
"Aku tahu kamu masih mau nemani aku disini.. aku juga pengen banget saat aku sakit kamu ada di sampingku dan merawatku.. tapi saat ini kita harus kuat untuk berpisah lagi dan kelak kita juga pasti berjumpa lagi dan saat itu kita tidak akan pernah lagi terpisah.. percaya sama aku.." tatapan Ilyas mampu menenangkan dan meyakinkan gadis itu..
"Baiklah aku pulang dengan mas Angga.. tapi kamu jaga kesehatan.. aku nggak mau melihat kamu seperti ini lagi..!" kata Ida merajuk manja membuat Ilyas jadi gemas.. dan mencubit kecil hidungnya..
__ADS_1
"Kamu juga jaga diri dan jaga hatimu hanya untukku!"
Ida mengangguk dengan senyum termanisnya..
"Ok sudah belum pamitannya.. kalau sudah ayo pulang!" suara Angga merusak momen romantis Ida dan Ilyas..
Ida dan Angga akhirnya meninggal tempat itu.. meninggalkan hati mereka disana pada kekasihnya masing-masing.
****
Sampai dirumah sekitar jam 7 malam. Mereka disambut senyum oleh Bu Yulia..
"assalamualaikum.." sapa Ida
"Waallaikum salam.. kalian dah pulang.. dari mana ini?" tanya Bu Yulia sambil menggoda yang membuat keduanya jadi serba salah..
"Dari jalan-jalan ma" Angga menjawab dengan enteng.. "papa di klinik ma?"
"Iya sayang.. kamu nggak pulang-pulang.." jawab mamanya masih dengan senyum menggoda..
"Biar sekarang Angga ke sana ma" Angga melangkah ke klinik.
"Ida juga ikut mas.." Ida mengekor Angga yang berjalan ke arah klinik..
****
Waktu terus berjalan.. sudah hampir sebulan semenjak Ida dan Angga memberi tahu satu sama lain tentang orang yang dicintai masing-masing.. tapi sampai saat ini mereka belum juga memberi tahu kepada orangtuanya.. sampai pagi itu saat sarapan..
"Angga, Ida.. kalian kan sudah lama mencoba untuk bersama.. dan mama liat kalian makin akrab.. gimana keputusan kalian sekarang?"
Bu Yulia mencoba meminta jawaban.
Angga dan Ida saling pandang bingung mau jawab apa.. mata mereka saling memberi isyarat.. akhirnya Angga bicara
"Begini ma.. pa.. sebelumnya Angga minta mama bisa bijak mengambil keputusan setelah kami berdua bicara jujur.." Angga menatap kedua orangtuanya yang masih menunggu jawaban dari mereka berdua.
"Ma.. pa.. sebenarnya Angga memang sayang sama Ida, kami memang semakin dekat tapi hubungan kami bukan sebagai kekasih tapi sebagai saudara.." jawab Angga pelan
Bu Yulia menatap Angga kecewa
__ADS_1
"Angga.. jadi kamu menolak perjodohan ini?"
Angga meraih tangan mamanya lembut.. Angga tahu kalau mamanya benar-benar kecewa..
"Ma.. sayang Angga sama Ida itu sayang seorang kakak pada adiknya.. selama ini Angga ingin punya seorang adik dan itu aku temukan pada diri Ida.. dan Angga tidak mungkin akan menikahi adik sendiri.. ma.. maafin Angga"
Bu Yulia meneteskan air matanya.. Ida yang melihatnya ikut juga bersalah karena sudah mengecewakan orang yang selama ini dianggap sebagai orang tua sendiri..
"Bu.. maafkan kami berdua sudah mengecewakan ibu dan bapak.. hubungan saya dan mas Angga tidak bisa lebih dari saudara.. karena saya juga menganggap mas Angga sebagai kakak.. jadi masalah jodoh itu biar saja Alloh yang ngatur Bu.. mungkin jodoh saya dan mas Angga itu hanya sebagai saudara bukan sebagai pasangan suami istri.."
Ida berkata begitu lembut agar rasa kecewa Bu Yulia bisa sedikit mereda..
"Tapi.. Ida juga menganggap ibu dan bapak itu sebagai orang tua Ida sendiri.. Ida tetap sayang sama ibu dan bapak..?" lanjut Ida lagi.
"Apa kalian sudah punya pacar?" tanya Bu Yulia datar.
"Terus terang ma.. kami memang sudah punya kekasih.. aku mencintai Elena dan Ida juga sudah mencintai pria lain sejak SMP.. Angga tidak mungkin tega menghancurkan cinta diantara mereka.." Angga mencoba menjelaskan dengan pelan agar Bu yulia bisa menerima dengan lapang.
Bu Yulia menatap Ida seperti menuntut jawaban..
"Maaf Bu.. yang di katakan mas Angga benar.. selama ini mungkin saja saya terlihat tidak pernah pacaran.. saya memang tidak pacaran dengan Ilyas bahkan tanpa sedikitpun berhubungan satu sama lain tapi kami hanya berkomitmen untuk menjaga hati agar bisa setia dan kami bertemu dengan cara yang tak terduga.. saya sangat mencintai Ilyas Bu dari dulu sampai sekarang.. saya tidak bisa menghancurkan hati Ilyas yang sudah berkorban demi saya dia rela mengubur cita-citanya.. maaf Bu saya tidak bermaksud menolak perjodohan ini tapi saya tidak bisa menerimanya.. maaf Bu.."
Tak terasa air mata Ida mengalir begitu saja.. dia merasa bersalah pada Bu Yulia.. tapi jika menerima dia bersalah pada dua cinta.. berat sekali keputusan yang diambil keduanya serba salah..
Bu Yulia menarik nafas panjang..
"Sudahlah ma.. tidak perlu di paksa, mungkin mereka cuma cocok sebagai kakak beradik.. mama jugakan menganggap Ida sebagai anak sendiri.. biarlah masalah jodoh biar Tuhan yang menentukan.." dokter Ridwan yang dari tadi diam sebagai pendengar akhirnya angkat bicara jadi penengah..
"Mungkin mereka memang tidak berjodoh.. meskipun mama kecewa.. tapi kebahagiaan anak itu lebih utama.. mama mekipun berat akan merestui kalian dengan kekasih kalian asalkan kalian bahagia.."
"Terimakasih ma.." Angga beranjak dan memeluk mamanya.
Ida tersenyum lega mendengar keputusan ibu Yulia.. sekarang tak ada lagi beban dihatinya..
"Yas.. hati dan raga ini hanya untuk dirimu sayang.." batin Ida dengan penuh bahagia..
Semua merasa bahagia karena persoalan perjodohan ini bisa terselesaikan dengan cara yang damai..
"Angga.. kamu kenalkan pacarmu pada kami.. kamu juga Ida.. mama mau melihat cinta kalian itu!" perintah Bu Yulia dengan senyuman..
__ADS_1
"Siap ma.. pasti Angga bakal ngenalin Elena pada kalian.." seru Angga bersemangat..
"Maaf Bu..pak.. saya tidak bisa mengenalkan Ilyas karena dia tidak bisa keluar seenaknya tanpa ijin dari komandannya" Ida berkata lirih..