
Ida berlari kedepan motor Ilyas yang melaju pelan dan merentangkan kedua tangannya. Ilyas menghentikan laju motornya dan memandang gadis didepannya dengan tatapan kecewa dan Ida paham benar dengan sinar mata itu.
"Yas.. kenapa kamu kesini?" tanya Ida begitu Ilyas berhenti.
"Untuk melihat semuanya" jawab Ilyas begitu dingin.
"Tapi semua tidak seperti yang kamu bayangkan.. kamu salah paham" Ida mendekati Ilyas dan memegang tangannya.
Ilyas hanya diam saja tanpa expresi.. seharusnya pertemuan ini jadi momen yang membahagiakan tapi malah membuat dia kesal dan kecewa.. apalagi saat melihat gadisnya pergi dengan cowok lain. Ilyas mau melakukan motornya lagi tapi Ida menahannya..
"Yas.. kumohon dengarkan aku dulu"
"Tak ada yang perlu dijelaskan aku sudah melihat sendiri!" Ilyas masih berkata dengan dinginnya.
"Bersikaplah dewasa Yas..!" sentak Ida mulai kesal..
Ilyas menoleh dan menatap tajam Ida dengan tatapan penuh dengan kekecewaan.. apalagi mendengar Ida meninggikan suaranya.
"Aku memang tidak dewasa.. kamu puas!" Ilyas menepis tangan Ida yang dari tadi memegangi tangannya.
Ida tersentak.. Ilyas langsung melajukan motornya.."Yas..!!" teriak Ida.
Tapi Ilyas tak peduli dia terus melajukan motornya.. hatinya penuh amarah dan rasa kecewa.. Ida berlari mengejarnya dan terus berteriak memanggil nama kekasihnya bahkan sampai menangis.
Karena tidak memperhatikan jalan Ida terjatuh.. Ilyas yang sudah jauh didepan melihat dari kaca spion Ida terjatuh.. dia menghentikan motornya.. ada rasa sedikit khawatir juga dihatinya.. segera dia mematikan mesin dan berlari mendekati Ida.
Saat Ilyas hampir dekat dimana Ida jatuh, dokter Ervan sudah ada disampingnya..
"Suster Ida.. ada yang terluka?" tanya Ervan dengan nada khawatir.
"Kakiku dok.. sepertinya terkilir" ujar Ida meringis menahan sakit.
Ervan memeriksa pergelangan kaki kiri Ida.. Ilyas hanya diam terpaku melihat. Ada rasa bersalah tapi juga rasa kesal melihat perlakuan Ervan yang begitu perhatian pada Ida..
"Biar aku bantu berdiri kita ke dalam saja biar aku obati" ujar Ervan hendak mengangkat Ida.
Dengan sigap Ilyas maju dan segera mengangkat tubuh Ida di gendongnya..
"Biar saya saja" seru Ilyas dingin.
Ilyas tidak rela gadisnya di sentuh orang lain.. Ida mengaitkan tangannya di leher Ilyas.. ditatapnya wajah Ilyas yang begitu dingin.. tapi ada rasa bahagia dihati Ida ternyata meskipun marah Ilyas masih mengkhawatirkan dirinya..
Ervan dan Novi berjalan di belakang mereka. Ada rasa tidak suka di hati Ervan melihat gadis yang di sukai ternyata sudah punya kekasih. Sedikit kecewa tapi dia tidak mau memperlihatkannya.
__ADS_1
Ilyas membaringkan Ida di tempat pemeriksaan begitu sampai di UGD.. segera Ervan memeriksa dan mengobati kaki Ida lalu di balut agar tidak banyak bergerak.
"Untuk sementara waktu kamu tidak boleh banyak bergerak dulu dan sebaiknya kamu ijin cuti sakit 1 Minggu" Ervan memberikan saran.
"Nggak perlu cuti dok.. saya masih bisa jalan pelan-pelan.. Ndak parah juga kok" jawab Ida ramah.
Ilyas masih aja diam tak mengeluarkan suara. dia cuma berdiri sambil melipat tangannya di dada. Ida menoleh pada Ilyas yang terlihat begitu dingin tanpa ekspresi.. membuat hati Ida begitu khawatir akan kemarahan kekasih hatinya itu.
"Baiklah suster Ida terserah kamu.. tapi kali ini saya akan mengantarmu pulang" tawar Ervan lagi.
"Tidak perlu, dia pacarku jadi aku yang akan mengantar dia pulang!" sahut ilyas dingin dan datar.
Ilyas mengambil tas Ida lalu membopongnya keluar dari ruang UGD.. Ida hanya diam saja, begitu juga Ervan dan Novi yang hanya memandangi punggung Ilyas yang menjauh.
"Yas.. kamu masih marah?" tanya Ida pelan menatap wajah kekasihnya yang diam saja dan terus berjalan ke tempat parkir.
Merasa tidak ditanggapi Ida tahu Ilyas masih kesal.. dia tidak mau menambah rasa marah di hati Ilyas.. dengan manja gadis itu merebahkan kepalanya di bahu Ilyas dan memasang muka sedihnya..
"Maaf yank.. aku memang sudah keterlaluan membuat kamu kecewa" ucapnya pelan dan hampir menangis.. dieratkan kaitan tangannya di leher Ilyas.
Ilyas jadi tidak tega jika harus diam terus..
"Sudahlah.. jangan menangis lagi"
Mereka sudah sampai di dekat motor.. Ilyas mendudukkan Ida di jok belakang dengan perlahan. Ida menahan pinggang Ilyas yang masih didepannya.. ditatapnya wajah pria yang selalu dihatinya itu dengan tatapan sendu.. Ilyas tahu kalau tatapan itu seakan mengucapkan minta maaf.
Ida memeluk pinggang Ilyas erat.. lalu menengadah dan tersenyum paling manis buat sang kekasih.
"Makasih Yas.. aku selalu setia sama kamu, tak pernah sekalipun ada niat untuk membuka hati ini untuk yang lain"
"Aku percaya padamu.. kita pulang sekarang" tanya Ilyas pada Ida yang di jawab dengan anggukan dan senyum.
"Kalau mau pulang lepaskan pelukannya dulu dong yank.. meluknya nanti lagi kalau dah naik motor" goda Ilyas sambil mengedipkan matanya nakal..
Ida memukul lengan Ilyas manja dengan senyum tak lepas dari bibir mungilnya.. bikin Ilyas gemes dan mencubit hidungnya.
Ilyas menyetater motornya lalu melajukan pelan.. tangan Ida mulai memeluk pinggang Ilyas dari belakang. Ada rasa bahagia merasuk di relung hati kedua pasang sejoli itu. Rasa yang selama ini tertahan karena terpisahkan jarak yang jauh. dan belum tentu setahun sekali mereka bertemu.
Saat sampai di taman kota Ilyas menepikan motornya dekat penjual mi Jawa.
"Kita makan dulu yank aku laper" ajak Ilyas.
"Kamu belum makan Yas?" tanya Ida heran.
__ADS_1
" Gimana aku bisa makan kalau rencana yang semula kupikir akan sukses dan bahagia malah bikin aku kecewa" suara Ilyas terdengar begitu kecewa.
Ida sadar semua karena salahnya tadi..
"Baiklah.. kita memang belum pernah makan bersama.. ini yang pertama kalinya"
"Kita makan bakso saja.. itu kesukaanmu.
biar aku gendong sampai dalam."
" Nggak usah Yas.. papah aku saja.. malu " Ida mencoba menolak dengan halus.
Tapi Ilyas nggak peduli.. diangkatnya tubuh Ida masuk kedalam kedai bakso di pinggir taman kota.. beberapa pasang mata melihat dengan iri kemesraan keduanya.. Ida merasa risih tapi tidak dengan Ilyas.. hanya rasa bahagia yang sekarang sedang dia rasakan.. bisa berdua dengan kekasih hati yang selama ini terpisah oleh jarak.
Ilyas mendudukkan Ida di salah satu kursi, dan segera dia memesan bakso dan minuman.. sambil menunggu pesanan mereka berbincang melepas rindu dengan saling bercerita tentang keadaan masing-masing selama ini.
Pesanan akhirnya datang.. mereka berdua menikmati makanan kesukaan dengan lahap.
"Besuk aku akan pergi ke daerah timur" kaya Ilyas di sela-sela makan.
Ida menghentikan aksi makannya diletakkan sendok dan garpunya lalu menatap Ilyas.. terasa hatinya seperti tak rela..
"Berapa lama?"
Suara Ida sedikit parau menahan gejolak dihatinya.. baru saja dia merasa bahagia akan bersatu dengan Ilyas sekarang harus rela berpisah kembali.. ada rasa kecewa di hatinya.
"Dua tahun" jawab Ilyas datar.
"Aku dah kenyang.. aku mau pulang!"
Ida berdiri dengan berpegangan meja.. Ilyas segera mencegah agar gadis itu tidak berjalan.
"Pelan-pelan.. nanti kakimu sakit!" cegah Ilyas memegang tangan Ida.
Dia tahu Ida kecewa dengan perkataannya.. dia maklum dengan tingkah Ida yang sedikit marah.. tapi mau bagaimana lagi itu adalah tugasnya yang pertama sebagai anggota TNI..
Dia tidak bisa menolak.. semua juga dia lakukan untuk masa depan mereka.
"Kita bicara dulu Yank" bujuk Ilyas.
"Antar aku pulang sekarang atau aku pulang sendiri!" Ida berkata dengan ketus.
Ilyas tak bisa berkata apa-apa lagi selain menuruti kekasihnya itu.. setelah meletakkan selembar uang kertas Ilyas mau mebopong Ida tapi gadis itu menolak.
__ADS_1
"Aku bisa jalan sendiri!"
Dengan tertatih Ida berjalan perlahan.. Ilyas hanya menuntunnya dengan diam. Mereka berjalan menuju di mana motor terparkir