
"Lho mas.. ini kok keluar kota..? kita mau kemana?"
"Nanti kamu juga tahu.."
Dengan perasaan yang masih penasaran dan heran Ida akhirnya diam dan nurut saja.. tapi jalan ini menuju ke kota asalnya..
"apa mau nganterin aku pulang.. ah masa sih.. kan baru kemarin Minggu aku pulang.." hati Ida bertanya sendiri tanpa tahu jawabannya..
Tapi.. ini bukan jalan menuju rumahnya.. ini arah ke tengah kota.. arah menuju area perumahan Akabri.. dan terus masuk ke area kampus Akabri.. akhirnya mobil berhenti di depan gedung seperti klinik tentara di kampus itu..
Angga turun dari mobil.. mau tidak mau Ida mengikutinya.. dengan muka heran Ida mengikuti langkah Angga masuk ke dalam klinik itu.. dan berhenti didepan sebuah ruangan..
"tok.. tok.." Angga mengetuk pintu itu
"masuk..!" suara merdu wanita dari dalam ruangan menyambut kami..
Angga membuka pintu dan masuk.. dan didalam ada seorang dokter cantik yang terlihat kaget melihat Angga datang..
"Sayang.. itu bener kamu kan?" dokter wanita itu berdiri dari duduknya lalu menghambur memeluk Angga..
"Hahh.. sayang.. apa dia pacarnya mas Angga" batin Ida heran dan bengong melihat keduanya saling berpelukan.. tapi tidak ada rasa marah maupun kesal di hatinya.. hanya rasa penasaran saja.
Angga membalas pelukan dokter cantik itu dan mengecup keningnya.. tanpa rasa malu dan segan Meskipun tahu keberadaan Ida di belakangnya..
"Aku kangen sayang.." ucap Angga pelan tapi Ida bisa mendengarnya..
"Ehmm.. jadi ini tujuan mas Angga ngajak aku kesini buat liat adegan mesra kalian..." Ida berkata sambil melipat tangannya di dada.
Keduanya melepaskan pelukan dan melihat kearah Ida.. tapi Angga heran kok wajah Ida datar dan biasa saja.. tidak marah dan kesal..
"Dia siapa sayang..?" tanya dokter cantik itu pada Angga.. belum sempat Angga menjawab..
"Oh ya.. saya Ida dok.. calon istrinya mas Angga!" Ida mengulurkan tangannya..
"Apa..!" dokter cantik itu terkejut membuat Angga salah tingkah..
"Ida apa-apaan kamu!!" sentak Angga sambil menatap Ida dengan tajam.. tapi Ida santai aja dan berjalan menuju sofa dan duduk dengan santai..
"lho.. kan emang benar aku calon istri mas.. kitakan sudah dijodohkan.." Ida masih menjawab dengan tenang..
"Kamu tega mempermainkan aku Ngga.. kamu janji hanya akan menikah dengan aku.. tapi sekarang.. kamu jahat!" pecah amarah dan tangis dokter cantik itu..
"Bukan begitu sayang.. aku tidak akan menikah dengan dia.. aku hanya mencintai kamu saja.. aku tidak mau perjodohan ini.. tolong jangan menangis!" Angga berusaha menenangkan dan menjelaskan pada kekasihnya itu.. tapi dokter cantik itu tetap marah dan terus menangis..
__ADS_1
Sedangkan Ida yang melihatnya hanya tertawa didalam hati.. sengaja dia mau ngerjain Angga.. salah sendiri selama ini dia selalu galak dan dingin sama dirinya.. sekarang dia bales habis-habisan.. biar tau rasa..
"Ida jelasin pada Elena.. kalau kita tidak menerima perjodohan itu!!" teriak Angga pada Ida..
"Siapa yang bilang sih mas kalau aku menolak perjodohan itu.. ?" jawaban Ida membuat dokter cantik itu makin menjadi dan makin marah pada Angga..
Ida semakin puas bisa ngerjain Angga yang semakin kesal dan kalang kabut menenangkan kekasihnya yang sudah begitu marah..
Tiba-tiba Angga menarik tangan Ida dengan kasar yang masih duduk dengan santai hingga berdiri membuat gadis itu kaget..
"Dengar.. aku tidak akan menerima perjodohan kita.. aku hanya mencintai Elena.. aku hanya menganggap kamu sebagai adik.. jadi dengar baik-baik.. aku tidak akan menikah dengan kamu!!" jelas Angga sambil menatap tajam pada Ida "jadi kamu jangan pernah berharap!!"
Angga menghepaskan tangan Ida dengan kasar lalu ber balik ke arah dokter cantik itu..
dan tiba-tiba..
"haaahhh... hahahaha!" Ida tertawa dengan kencang sambil memegang perutnya.. membuat dokter cantik itu berhenti dari nangisnya dan mereka berdua menatap Ida dengan heran..
"Heh kamu gila ya!' teriak Angga makin kesal..
"Kalian lucu.." jawab Ida masih tertawa.. lalu mendekati keduanya.. dan merangkul dokter cantik itu.. yang membuat mereka makin heran..
"Tenang aja dok.. aku hanya ngerjain mas Angga.. aku juga tidak mungkin mau menikah dengan orang yang tidak mencintai dan kucintai.." jelas Ida santai..
"Mas aku juga tidak bisa menikah dengan mas Angga.. meskipun aku belum menolak perjodohan ini.. tapi sudah ada seseorang yang memiliki hati ini.." Ida menjelaskan dengan senyum bahagia..
"Beneran Dan?" Angga masih aja tidak percaya.. Ida hanya mengangguk pasti..
"Tapi tadi kamu bilang calon istrinya Angga" kata dokter cantik itu dengan suara masih bergetar karena abis nangis..
" Maaf dok.. sengaja mau ngerjain mas Angga.. abisnya selama ini dia selalu galak dan dingin sama aku sih.. jadi aku bales aja" Ida tersenyum nakal kearah Angga yang mau tak mau ikut tersenyum juga..
"Kamu tu ya.. mau jadi gadis nakal..!" ujar Angga sambil menjewer telinga Ida yang terbungkus jilbab..
"Aduh mas.. sakit.. lepasin!!" teriak gadis itu memohon..
"Salah sendiri berani ngerjain aku!" Angga melepaskan tangannya dari telinga Ida..
"Ida kenalkan ini Elena.. dia pacarku.. dia wanita yang aku cintai selama ini.."
"Aku dah tahu.." jawab Ida singkat..
"Tahu dari mana..?"
__ADS_1
"Dari adegan seru tadi.. " Ida tersenyum menggoda pada sepasang kekasih itu.."Tenang aja mas.. aku akan bantu bilang pada ibu dan bapak nanti tentang pembatalan perjodohan kita.."
"Terimakasih Da.. kamu bisa jadi adikku yang baik.." Angga tersenyum.. baru kali ini Ida melihat Angga tersenyum tulus padanya..
Ida membalas senyuman Angga
"Sama-sama mas.. kita saling bantu kali ini"
Tiba tiba ada ketukan pintu dan langsung membukanya.. membuat mereka menoleh bersama
"Dokter Elena!! tolong keruang pemeriksaan ada yang kecelakaan.. " suara taruna itu terdengar khawatir..
"Baik saya segera kesana..!" Dokter cantik itu mengusap wajahnya sisa dari menangis tadi..
"Aku bantu..!" Angga mengikuti langkah Elena keluar ruangan..
Ida juga ikut mereka dari pada sendiri.. di depan ruang pemeriksaan ada beberapa orang berpakaian Akabri.. Elena dan Angga masuk keruang pemeriksaan itu.. sedang Ida menunggu didepan bersama beberapa orang itu sambil memainkan ponselnya dengan cuek tanpa menghiraukan para taruna itu..
Tiba-tiba seorang taruna itu mendekatinya berdiri didepannya sambil memperhatikan..
merasa diperhatikan Ida menatap taruna itu..
Sepertinya dia pernah melihatnya..
"Maaf.. sepertinya...?" belum sempat menyelesaikan pertanyaannya.. taruna itu berseru
"Ida.. kamu Ida kan? pacarnya Ilyas?" tanyanya membuat yang lain menoleh.. "aku Zaki sahabatnya Ilyas.. masih ingat?"
"Oh.. iya ya.. aku ingat kita ketemu dulu waktu study banding.. apa kabar kalian? Ilyas dimana?" Ida akhirnya ingat dengan Zaki dan bertanya dengan semangat mengingat Ilyas.
"Itu.. Ilyas.." Zaki terlihat gugup menjawab pertanyaan Ida
"Iya.. Ilyas sekarang dimana? kamu masih sering kontak dia kan?" Ida masih aja tenang padahal terlihat jelas wajah Zaki yang tegang dan khawatir..
"iya.. kami selalu bersama.. tapi sekarang.. Ilyas itu.." Zaki menunjuk kearah pintu.. Ida pun menoleh ke pintu ruang perawatan dan baru sadar omongan Zaki yang khawatir..
"Jangan bilang yang kecelakaan itu Ilyas" Ida menatap ke arah Zaki yang terdiam..
Dengan diamnya Zaki Ida sudah tahu jawabannya.. lalu dia mundur dan terduduk dengan lemes.. wajah gadis itu berubah jadi satu dan khawatir.. tapi hanya mampu diam..
"Ilyas.." hanya suara itu yang mampu dia keluarkan.. tak terasa sebutir bening meluncur di pipinya..
"Tadi saat kami latihan panjat tebing di lapangan Ilyas tergelincir dan terjatuh.. kepalanya terbentur papan dan mengeluarkan banyak darah.. dan pingsan..?" jelas Zaki sambil jongkok didepan Ida..
__ADS_1
Gadis itu hanya menutup wajahnya menahan agar tidak menangis keras...