
Ilyas menggenggam tangan Ida seakan mengerti dan paham atas penjelasan Ida. Hilang sudah rasa kecewa dan amarah yang tadi sempat ada di hati dan pikiran cowok itu. Dia mengangkat pelan wajah Ida dan menatap mata gadis itu.. tak ada kebohongan didalamnya. Dihapus kembali air mata gadis itu dengan lembut.. lalu tersungging senyumnya yang selalu bisa menenangkan tapi juga menggoyahkan iman Ida setiap melihatnya.
"Sudahlah Da.. aku ngerti.. aku paham.. aku akan selalu mendukungmu" katanya datar menenangkan hati Ida.
Ida menatap cowok itu masih dengan perasaan bersalah..
"Aku ingin jujur juga padamu Yas" lanjut gadis itu menatap Ilyas sendu.
Ilyas menatap balik Ida dengan perasaan tak mengerti penuh tanya.
"Maksudmu apa Da?"
Ida menarik nafas dalam mengatur perasaannya dan berusaha mengendalikan perasaan yang berkecamuk.
"Yas.. sebenarnya aku juga punya perasaan yang sama denganmu.. tapi aku harus menekan egoku.. aku belum mau pacaran.. aku ingin sekolah dan membahagiakan orangtuaku.. aku mengambil beasiswa itu karena ingin jauh darimu.. aku tidak mau terobsesi padamu.. aku tidak mau jika sampai nanti aku sakit hati bila melihat dirimu mendekati cewek lain.. aku ingin tenang di saat mengejar cita-cita.. aku tak mau mengikatmu dan terikat padamu.. " jelas Ida panjang lebar.
Ada rasa bahagia yang menjalari hati Ilyas.
karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.. hilang sudah rasa kecewa dan amarah didalam otaknya.. hanya ada perasaan lega dan bahagia. Ada senyum tipis yang tersungging dari bibirnya.
"Aku sekarang lega dan paham akan keputusanmu Da.. aku bahagia mendengar cintaku tidak bertepuk sebelah tangan... meskipun kita sekarang tidak bisa bersama.. tapi aku akan berusaha untuk setia sama kamu.. karena aku benar\- benar sayang sama kamu.. aku akan menunggumu sampai kamu siap kelak" ujar Ilyas datar tapi pasti
Ida menatap wajah cowok di depannya.. terlihat sendu.. tak pernah dia melihat Ilyas seserius ini. Bahkan hampir tak percaya cowok yang biasa terlihat cool dan tegas itu bisa melankolis seperti ini di hadapannya..
ingin dia luluh dan melawan keputusannya sendiri tapi dia tidak bisa.. dia harus menekan egonya kuat.. demi cita-citanya.
__ADS_1
" Maafkan aku Yas..." katanya pelan "Tapi Yas.. aku tidak mau mengikatmu.. aku juga nggak mau terikat.. aku ingin mengejar cita-cita dengan tenang.. aku ingin fokus"
"Aku hanya ingin bersamamu Da.. aku tidak akan menghalangi cita\-citamu.. aku akan mendukungmu" kata Ilyas masih datar.
"Terimakasih Yas atas pengertianmu.. tapi maaf aku tetap tidak bisa.. aku ingin kita tetap seperti biasa.. diantara kita tidak ada ikatan apapun.. biarlah takdir Alloh yang menentukan nasib kita.. jika kita berjodoh pasti kita nanti akan bersatu tapi jika tidak.. aku ikhlas jika kamu nanti bertemu dengan cewek yang kamu sukai.. perjuangkan dia dan aku juga akan siap menerima dengan takdirku jika suatu hari nanti Alloh memberikan jodoh padaku.. aku tidak mau jika kita terikat akan ada rasa sakit hati dan kecewa jika kelak kita tidak berjodoh.. mungkin nantinya kita bisa bermusuhan.. aku ingin kita tetap seperti ini.. selalu berteman.." Ida berhenti menarik nafas dalam\-dalam diliriknya cowok disampingnya yang masih diam setia mendengarkan penjelasannya..
"Yas.. kita sekarang masih muda.. masih labil dalam perasaan.. kita masih harus belajar lebih dari kehidupan ini... lebih baik kita jalani hidup ini seperti air yang mengalir biarlah takdir kita jadi rahasia Alloh.. kamu mau kan tetep jadi temen aku apapun yang terjadi saat ini diantara kita..?" Ida menatap cowok disampingnya sambil mengulurkan jari kelingkingnya.. "Kamu mau janji nggak marah dan nggak merubah sikapmu padaku kan..?" lanjutnya.
Ilyas membalas tatapan Ida... dimatanya ada ketulusan yang membuat hatinya luluh.. dibalasnya uluran tangan Ida dan mengaitkan jari kelingkingnya.
"Aku tidak marah sama kamu Da.. aku tetap akan jadi temanmu sampai kapanpun.. sampai kita dewasa nanti.. dan aku akan berusaha setia menjaga hatiku untukmu..
SAYANG.." kata Ilyas pelan dan berbisik disamping wajah Ida saat memanggilnya 'sayang'...yang mampu membuat wajah Ida memerah malu sambil melotot..
Ilyas tersenyum menang mampu membuat Ida salah tingkah.. membuat dia makin gemes melihat wajah Ida yang malu malu..
"Tapi Da.. aku ingin minta satu hal sama kamu sebelum kita berpisah.. temani aku satu hari ini saja.. biarkan aku merasakan kalau kita pacaran walau sehari saja.. setelah ini kita akan berpisah dan belum tau kapan lagi kita bertemu.. biarkan aku merasa bahagia di dekatmu meskipun sehari ini saja.. kamu mau kan?" terlihat wajah memohon Ilyas yang kali ini benar-benar meluluhkan hati Ida.. dia juga ingin merasakan hal yang sama sebelum dia pindah ke kota lain..
Dengan sedikit malu malu gadis itu mengangguk pelan lalu menunduk sambil memainkan ujung jilbabnya.
Ilyas yang melihatnya tersenyum bahagia Lalu meraih tangan Ida dan menggenggamnya lembut.
__ADS_1
"Terimakasih Da.. aku tidak akan melupakan hari ini seumur hidupku.. "
Gadis itu menatap wajah Ilyas yang penuh dengan kebahagiaan.. dia tersenyum lega.
"Tapi tidak boleh macam-macam lho Yas.. kita masih kecil... bukan muhrim.. " kata Ida mengingatkan.
"Iya sayang.. aku tahu.. aku janji akan menjaga agar tidak ada setan diantara kita" kata Ilyas antusias.. " tapi pegang tangan boleh kan?"
"Sebenarnya nggak boleh juga.. tapi dah terlanjur.. dari tadi kamu dah pegang tanganku terus.. bahkan dah nyentuh pipiku juga tadi" ujar Ida sambil memanyunkan bibirnya yang buat Ilyas gemes.. dan membuatnya tertawa.
"Hahhha... tapi bibirnya jangan manyun.. nanti aku tak bisa nahan kalau tiba\-tiba ada setan datang.. bisa\-bisa aku menciummu" ujar Ilyas datar.. yang membuat Ida melotot dan terus memukul lengan Ilyas refleks.
"aduh sakit sayang.." Ilyas mengasuh dan masih tertawa.. tapi pukulan Ida masih aja terus berlanjut..
"Jangan panggil sayang Ilyas... maluu"
" Iya.. tapi untuk seharian ini aku akan terus memanggilmu 'SAYANG'.. "
__ADS_1
"Terserah kamu.. " ujar Ida kesal menyerah..
"Gitu dong.. ya udah ayo kita jalan.. menghabiskan waktu yang sangat berharga ini.. " ajak Ilyas berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan pada gadis itu.