
"Aku belum boleh menikah kalau belum 2 tahun jadi tentara Git, lagian lusa aku berangkat tugas ke daerah timur" jawab Ilyas datar..
"Jadi kamu mau pamitan ini ceritanya?" Sigit mengerutkan keningnya menatap sahabatnya yang hanya tersenyum.
"Anggap saja begitu, sekalian aku mau minta bantuanmu!"
"Apa sih yang bisa aku bantu? kamu dah punya segalanya" Sigit tersenyum menatap Ilyas dengan penasaran.
"Kamu tahu alamatnya Ida nggak? kan Fida mantanmu itu sahabatnya Ida.. mungkin kalian dulu pernah kesana?"
Seketika pecah tawa Sigit..
"Kamu itu lucu deh Yas.. masa dah pacaran hampir 7 tahun nggak tahu rumah Ida.. ngaco kamu ha.. ha.. ha.."
"Aku memang nggak tahu rumahnya.. aku dan dia pacaran jarak jauh.. nggak pernah komunikasi dan bertemu juga cuma kebetulan.. dalam 7 tahun cuma bertemu dua kali..!" jelas Ilyas membuat tawa Sigit berhenti.. dan manggut-manggut..
"Dulu pernah sih aku kerumahnya.. sekali, rumahnya di desa B, didekatnya ada pabrik kerupuk rumahan milik orang tuanya, nama bapaknya kalau tak salah pak Ilham dan ibunya Bu Nuraini.. pasti ketemu deh" Sigit memberikan petunjuk sambil mengingat-ingat.
"Baiklah broo.. makasih.. kalau begitu aku pamit dulu kan kucoba cari!" Ilyas beranjak dari duduknya dengan semangat.
"Ciyeeee... semangat amat sih brooo!" goda Sigit dengan tawanya.. Ilyas cuma tersenyum.
"Salam buat istrimu.. moga lancar lahirannya"
Ilyas menepuk pundak sahabatnya dan mulai menyetater motornya.
"Amin.. hati-hati.. selamat berjuang!" Sigit menatap Ilyas yang perlahan mulai menjauh dari tempatnya.
Dengan pasti Ilyas melajukan motornya menuju alamat yang di berikan Sigit. Kadang dia berhenti untuk bertanya pada orang maklum daerah itu agak jauh dari rumahnya tapi sepertinya dia tidak asing dengan daerah itu.. ya daerah ini kan yang selalu dia lewati saat lari memutari kota saat latihan.. lalu Ilyas masuk ke jalan desa setelah melihat nama desa di gapura masuk.. dia mengurangi laju motornya.. dan mencari pabrik kerupuk yang di bilang Sigit..
Karena bingung dia berhenti saat melihat ada seorang wanita setengah baya sedang menyiram bunga di depan rumahnya.. dengan sopan Ilyas menyapanya.
"assalamualaikum ibu.. mau numpang nanya!"
"Waallaikum salam.. iya..?" jawab wanita itu.
"Boleh tahu rumahnya Ida.. anaknya pak Ilham dan ibu Nuraini?"
"Maaf boleh tahu anak ini siapanya Ida?" tanya ibu itu penasaran.
"Saya temannya Bu" jawab Ilyas dengan senyum.
"Temen dari mana?" ibu itu seolah menginterogasi Ilyas.
__ADS_1
"Saya Ilyas temannya sejak SMP dulu" Ilyas tetap menjawab dengan tenang..
"O begitu.. berarti kenal juga dengan April?" Wanita itu masih bertanya tak henti rasa penasarannya.
"April ya Bu? iya saya kenal baik" Ilyas mencoba tenang meskipun hatinya kurang suka di interogasi..
"Saya ibunya April dan budenya Ida" wanita itu akhirnya mengenalkan diri sambil tersenyum.. membuat Ilyas sedikit lega.. lalu menyalami wanita itu.
"Pril..ada temanmu!" wanita itu berteriak.. dan tidak berapa lama dari dalam rumah keluar seorang wanita muda sambil menggendong anak kecil.. dan mendekati mereka.
Wanita muda itu yang tak lain yaitu April meneliti Ilyas dari atas sampai bawah..
"Seperti kenal.. siapa ya?" April mengingat-ingat lalu matanya berbinar.." kamu Ilyas kan?"
Ilyas tersenyum sambil mengangguk.. April tersenyum lebar..
"Mau cari Ida ya?" lanjut April.
"Iya pril.. tapi nggak tahu rumahnya" jawab Ilyas pasti..
"Ida lagi tugas.. dia nggak dirumah.. belum lama dia mampir sini lalu berangkat.. mungkin pulang nanti jam 8 malam" jelas April.
Ilyas terlihat begitu kecewa.. harapan ingin mengajak Ida pergi hancur sudah. Padahal dipikir setelah dia pergi entah kapan akan kembali.. apa Ida masih akan jadi miliknya.. atau akan ada yang lain mengisi hatinya. Kekhawatiran yang selalu di rasakan Ilyas setiap saat.
"Ayo aku antar..!" tawar April yang di sambut anggukan Ilyas.
Setelah berpamitan pada ibu April, Ilyas diantar April ke rumah Ida yang memang tidak terlalu jauh dari tempat itu.
"Assalamualaikum.." sapa Ilyas dan April hampir bersamaan..
"Waallaikum salam.." sahut dari dalam.. beberapa saat kemudian pintu terbuka dan terlihat ibunya Ida keluar dari ambang pintu.
"Oh.. April.. ada apa nduk.. itu siapa?"
"Iya Bulik.. April anter teman.. ini Ilyas dia nyari Ida" jelas April..
"Masuk dulu..!" Bu Nuraini mempersilahkan mereka masuk dan duduk.
"Saya Ilyas Bu.. temannya Ida dan April sejak SMP" Ilyas memperkenalkan diri.
"Tapi Ida masuk kerja nak.. tidak dirumah.."
"Saya tahu.. April tadi sudah bilang, saya kesini mau ketemu ibu dan bapak ada ?" Ilyas mencoba mencari aman dengan meminta restu orang tua Ida.
__ADS_1
"Sebentar biar ibu panggil dulu.."
Bu Nuraini keluar menuju samping rumah dimana pabrik kerupuknya berada.. tak lama kemudian dia kembali bersama seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan ganteng..
"ini pasti bapaknya Ida.. masih ganteng.. panter aja anaknya cantik dan buat aku tak bisa berpaling darinya"kata Ilyas dalam hati
"Saya Ilyas pak" Ilyas berdiri dan menyalami pak Ilham.
Dengan ramah pak Ilham menyambut tamu yang datang.. Bu Nuraini dan April ke dapur membuat minuman.. Ilyas sedikit gugup menghadapi bapaknya Ida.. tapi dia seorang perwira harus berani menghadapi apapun.
"Maaf nak ada perlu apa ya ke sini?" tanya pak Ilham ramah.. senyum tak lepas dari bibirnya.
"Begini pak.. kedatangan saya kemari pertama untuk bersilahturahmi.. yang kedua terus terang pak.. saya menyukai anak bapak Ida dan kami sudah bersama sejak SMP dulu.. jadi saya kesini bermaksud untuk meminta doa restu dari bapak dan ibu" Ilyas tanpa basa-basi langsung pada pokok persoalannya.
Pak Ilham menanggapi dengan tenang dan tetap senyum.
"Nak.. maaf sebelumnya, untuk restu kami sebagai orang tua pasti akan memberikan asal anak bahagia tetapi saat ini Ida tidak ada.. bapak dan ibu meskipun sebagai orang tuanya tidak berhak untuk memutuskan.. biar Ida sendiri yang memutuskan"
"Saya mengerti pak.. yang penting sekarang saya hanya ingin bertemu dengan bapak dan ibu untuk meminta Ida buat saya sebelum saya berangkat tugas ke daerah timur.. kelak jika kami memang berjodoh setelah dua tahun bertugas insyaallah saya akan mengajak orang tua saya kesini.. saya ingin ketahap yang lebih serius.. bukan hanya sebatas pacaran.." Ilyas dengan tenang mengutarakan alasannya.
Pak Ilham dalam hati begitu kagum dengan ketenangan dan kesopanan Ilyas.. meskipun karakternya terlihat begitu dingin...
"Nak bapak senang sebagai orang tua Ida ada seorang pria yang meminangnya.. apa lagi nek Ilyas begitu serius dengan hubungan ini.. tapi lebih baik kita tunggu Ida saja.. biar di hubungi ibunya.. buk coba Ida di telfon!"
"iya pak.."
Bu Nuraini mengambil ponselnya lalu mencari no Ida..
"Tut.. Tut... tut.. "
"Hallo Assalamualaikum.. ada apa buk?" balasan dari sebrang..
"Waallaikum salam.. Da sibuk nggak?"
"Nggak buk . tapi sebentar lagi ngecek pasien jam 4.. emang ada apa buk" terdengar suara Ida di seberang dengan penasaran.
"Ida bisa minta ijin pulang sekarang nggak..? ada hal yang sangat mendesak ini!"
"Ada apa sih Bu sampai Ida harus ijin pulang.. nggak ada yang sakit kan Bu?" suara Ida begitu panik si sana..
"Nggak.. kita sehat semua.. cuma ada temanmu datang kesini..nak Ilyas"
"Apa Bu..? Ilyas kerumah?" Ida begitu terkejut campur bahagia.. tapi sayang dia masih di rumah sakit.
__ADS_1
"Iya nduk.. nak Ilyas meminta doa restu pada bapak dan ibu untuk bersamamu.."