Akankah Setia

Akankah Setia
episode 42


__ADS_3

"Yank kita bicara sebentar saja.. kumohon!"


Ilyas mencoba membujuk sang kekasih yang sudah terlihat begitu kecewa..


Ida membalikkan badannya dan menatap wajah cowok di depannya yang terlihat sendu.. ada rasa tidak tega melihat kekasihnya yang biasanya dingin dan tegas dihadapannya terlihat begitu sendu.


"Buat apa lagi kita bicara Yas.. toh kamu juga tetap akan pergi.." kata Ida begitu datar dengan menahan air mata yang hampir meluncur.


Ilyas menggenggam kedua tangan Ida erat.. ditatapnya manik mata gadis itu yang terlihat sudah ber air..


"Ini adalah tugas pertamaku setelah wisuda.. kuharap kamu bisa mengerti yank.. ini juga demi masa depan kita!"


"Yas kamu tahu.. aku baru merasakan bahagia berharap untuk kali ini kita bisa bersatu.. hampir 7 tahun kita berpisah, apalagi saat kamu tadi datang kerumah minta restu pada orang tuaku.. tapi sekarang kamu sudah mau meninggalkan aku lagi.. "


Sudah jebol bendungan di mata Ida.. kini air mata sudah meluncur di pipinya yang putih.. bibirnya bergetar menahan agar tangisnya tidak bersuara.. Ilyas tak bisa berbuat apa-apa melihat kekasihnya menangis.. diraihnya tubuh Ida dalam pelukannya.. di belai lembut punggungnya untuk menenangkannya.. dipapahnya Ida menuju bangku taman yang tidak jauh dari motornya terparkir.. dan didudukkan gadis itu.. Ilyas jongkok didepan Ida sambil menatap wajah gadisnya yang basah oleh air mata..


"Yank.. dengarkan aku.. aku pergi bertugas bukan meninggalkan dirimu.. aku pasti akan selalu kembali padamu.. kesetiaanku tak mungkin akan luntur.. aku sudah menjaganya selama 7 tahun dan sekarang hanya 2 tahun.. itu waktu yang sangat singkat.. apa kamu meragukan aku?"


"Kalau kamu mau pergi kenapa harus melamar aku segala?" tanya Ida dengan suara bergetar..


"Aku hanya ingin mengikat dirimu." jawab Ilyas singkat.


"Aku nggak mau terikat denganmu Yas sebelum kamu benar-benar ada di sampingku!" jawab Ida tegas membuat Ilyas heran.. dan menatap tidak percaya.


"Kamu menolak lamaranku Yank?" Ilyas benar-benar heran.


"Iya! aku tidak mau mengikatmu.. jika kamu mau pergi hubungan kita harus tetap seperti ini.. karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.. dan bila salah satu di antara kita ada yang berpindah hati kita harus siap menerima saling mengerti dan tidak boleh sakit hati!"

__ADS_1


Ilyas makin tidak mengerti jalan pikiran ida.


"Maksudnya gimana Yank.. kamu ingin berpindah hati.. apa karena dokter muda itu?" Ilyas berkata pelan dengan rasa curiga.


"Bukan karena siapapun Yas.. aku dan dokter Ervan tidak ada perasaan apapun!! dari dulu bukankah itu komitmen kita?" tanya Ida dengan nada datar tanpa expresi.. hanya menahan rasa kecewa di hatinya.


"Ya itu memang komitmen kita dulu.. tapi sekarang aku ingin benar-benar serius dengan mu Yank"


Ilyas masih mencoba membujuk gadisnya yang masih terlihat kecewa di sinar matanya yang memandang lurus ke depan dengan kadang masih ada air mata yang menetes di sudut matanya.


"Kamu tahu Yas.. aku ingin sekali bersatu denganmu tanpa jarak yang memisahkan kita.. tapi kamu sekarang akan pergi dan kita berpisah lagi.. jika kita ada ikatan dan suatu hari diantara kita ada yang selingkuh.. rasa sakit itu akan begitu dalam dan mungkin akan bermusuhan... tapi jika kita tetap seperti ini mungkin jika nanti kita tidak bisa bersatu kita masih bisa berteman seperti dulu.." kata Ida masih dengan nada datar tanpa melihat kekasihnya.


Ilyas meskipun berat akan keputusan Ida.. tapi dia bisa memahami maksud Ida dan jika dipikir-pikir itu juga ada benarnya..


'Ok.. aku tahu maksudmu.. aku tidak akan memaksamu lagi.. kita jalani semua ini seperti air mengalir.. aku hanya berharap kita akan bisa bersatu suatu hari nanti.. aku tetap mencintaimu sampai kapanpun.. aku akan jaga hati dan kesetiaan ku seperti dulu!"


"Ok.. tetap akan selalu seperti ini.. berusaha menjaga hati dan kesetiaan kita.. tapi yakinlah meskipun aku jauh darimu aku akan setia selalu padamu Yank.. karena dihatiku dari dulu hanya ada dirimu.. kuharap kamu juga akan sama sepertiku.. "


Ilyas mengusap lembut pipi Ida yang masih basah lalu digenggam erat tangan gadis itu..


"Relakan aku pergi Yank!"


Tatapan Ilyas seakan memohon kepada Ida.. dan gadis itu merasa iba melihat kekasihnya seperti itu.. dia teringat perjuangan Ilyas untuk mencapai semua itu hanya demi dirinya.. rela mengorbankan semua cita-cita demi dirinya.. ada rasa bersalah dalam hatinya berbuat egois menahan kepergian Ilyas.. meskipun berat akhirnya Ida mengangguk juga.. ada senyum mengembang dibibir cowok itu..


"Beneran yank? tapi kamu tidak marahkan?" Ilyas masih tidak percaya ditatapnya mata Ida lekat.


"Begitu egois jika aku menahanmu pergi Yas.. semua kamu lakukan demi aku.. demi masa depan.. aku rela kamu pergi dan tolong.. meskipun aku tidak mau terikat jagalah hatimu!" kata Ida pelan..

__ADS_1


Ilyas tersenyum dan membelai pelan kepala kekasihnya itu.. lalu mengecup keningnya..


"Makasih yank, insyaallah kan ku jaga selalu hatiki hanya untukmu.. "


Ida tak bisa berkata apa-apa lagi.. dia menjatuhkan kepalanya di bahu kekar Ilyas dan air mata mengalir di sudut matanya.. ada rasa tidak rela harus berpisah lagi dengan Ilyas.. Ilyas pun semakin mengeratkan pelukannya seakan enggan melepaskan lagi.. tak peduli dengan orang-orang di sekitar mereka.


"Dah malam Yas.. kita pulang"


Ida melihat jam tangannya menunjukkan pukul 20.30.. Ilyas melihat jam Ida yang melingkar ditangannya.. seperti pernah melihat.. dia teringat itu adalah jam yang dulu dia berikan pertama kalinya 7 tahun yang lalu.. diraihnya tangan Ida dan melihat jam itu.


"Jam ini masih ada yank?" tanya Ilyas heran.


"Yas.. aku dulu bilang selama jam ini ditangani berarti aku dan kamu masih sehati.. tapi saat hati kita berpindah aku akan melepasnya.. entah itu diriku maupun dirimu!" jelas Ida..


Ilyas merasa lega berarti hati Ida selalu hanya untuk dirinya..


"Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu yank" bisik Ilyas


"Yas.. itu tidak mungkin.. tidak baik kita berduaan terus.. bisa-bisa nanti kita digrebek lalu di nikahkan.. kamu mau perjuanganmu sia-sia dan di pecat?" Ida mengingatkan karena dia paham seorang taruna setelah lulus harus ditugaskan dan dilarang menikah dulu sampai waktu yang ditentukan.


"Iya yank.. sebaiknya kita pulang dari pada aku khilaf.. bahaya!!" kata Ilyas dengan tatapan menggoda.


Ida hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu.. meskipun berat dia merelakan Ilyas pergi bertugas dan harus selalu mendukungnya..


Mereka berjalan menuju motornya.. Ilyas memapah pelan Ida takut kakinya sakit lagi. Dengan perlahan di lajunya motor itu membelah jalanan kota.. Ida memeluk erat pinggang Ilyas dari belakang.. ingin menikmati kebersamaan mereka saat ini..


Perjalanan yang seharusnya cuma 20 menit dari kota sampai rumah Ida jadi 1 jam karena Ilyas melajukan begitu pelan.. tapi mereka hanya menikmati saja..

__ADS_1


Dengan berat Ilyas akhirnya menghentikan motornya didepan rumah Ida.. mereka turun dan pintu rumah sudah terbuka terlihat bapak dan ibu Ida sudah menunggu mereka karena tadi Ida memberi kabar kalau dia jatuh dan terkilir.. dengan sigap Ilyas membopongnya masuk ke dalam..


__ADS_2