Akankah Setia

Akankah Setia
episode 43


__ADS_3

" Malu Yas turunin" bisik Ida sambil melihat kedua orang tuanya yang tersenyum.


Tapi seakan Ilyas tidak mendengar dan terus berjalan masuk kedalam lalu mendudukkan Ida di sofa ruang tamu.. sebelumnya sudah memberi salam kepada calon mertuanya..


"Gimana dengan kakimu sayang?" tanya sang ibu.


"Nggak apa-apa bu.. cuma terkilir kok." jawab Ida sambil tersenyum meyakinkan orang tuanya.


"Sudah malam.. pak Bu.. saya permisi dulu besuk pagi harus sudah kembali ke batalion dan siang saya harus berangkat." Ilyas pamit pada orang tua Ida.


"Baiklah nak.. terimakasih sudah mengantar Ida pulang.. hati-hati ya?" ujar pak Ilham.


"Makasih pak.. saya nitip Ida selama saya bertugas.. tolong jaga dia untuk saya pak!" kata Ilyas sambil menatap Ida lekat


"Tentu nak.. semoga semua lancar."


Ilyas menyalami orang tua Ida.. lalu berpindah di samping Ida.. dan menggenggam tangannya.


"Aku pergi Yank.. tolong jaga hatimu hanya untukku.. maukah kamu menunggu ku?" ucap Ilyas pelan sambil menatap mata Ida.


Orang tua Ida meninggalkan mereka berdua agar leluasa untuk berbicara dan berpisah.


Ida hanya mengangguk dan sebutir bening meluncur di pipinya.. bibirnya bergetar menahan tangis.


"Jangan menangis yank.. aku ingin senyummu untuk mengantarku pergi bertugas.. karena itu yang memberiku semangat.. ayo senyum dong!" ujar Ilyas mengusap pipi Ida yang basah.


"Aku akan menunggumu Yas!" ucap Ida pelan.


Ilyas mengecup mesra kening Ida.. gadis itu memejamkan matanya menikmati momen mengharukan itu.. sesaat Ilyas membiarkan bibirnya menempel di kening kekasih hatinya.


sebenarnya sedih dia harus berpisah lagi dengan gadis yang begitu dia cintai.. tapi demi masa depan mereka berdua dia harus kuat. Dilepaskan kecupannya..


"Aku pergi Yank.. tapi aku ingin melihat senyuman mu!"


Dengan terpaksa Ida harus tersenyum yang paling manis meskipun dalam tangisnya harus berpisah dengan Ilyas untuk kesekian kalinya .


"Hati-hati Yas.. jaga diri, jaga juga mata dan hatimu disana!" ucap Ida dengan suara parau.

__ADS_1


"Iya sayang.. aku pulang dulu..!"


Ilyas mengecup kening Rissa kembali sebelum melangkah pergi.


****


Pagi ini Ilyas kembali ke batalion dengan diantar keluarga untuk pelepasan karena akan berangkat siang nanti ke daerah timur. Meskipun merasa hampa tanpa kehadiran Ida saat pelepasan ini tapi hatinya bahagia sudah pamit dengan kekasih hatinya.


upacara pelepasan pun di mulai ditengah lapangan.. prajurit berbaris rapi dan mendengar wejangan dan arahan dari komandannya. Para keluarga yang mengantarkan berkumpul di pinggir lapangan menyaksikan upacara itu.


Setelah upacara selesai.. para prajurit menemui keluarga masing-masing untuk berpamitan.


"Yah.. ibu.. Ilyas pergi dulu!" Kata Ilyas sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


"Jaga diri baik-baik nak!" kata ayah lalu memeluk Ilyas.


"Jangan lupa sholat nak.. makan teratur dan jaga kesehatan..!" ujar ibunya.


Ilyas memeluk ibunya dan mencium pipi wanita yang sudah melahirkannya.


"Iya buk.. kalian juga jaga kesehatan!"


"aku pergi sayang.. tunggu aku pulang untuk meminang mu" batin Ilyas sambil menyebut nama Ida.


****


Ida yang kakinya cidera tidak bisa mengantarkan Ilyas untuk berangkat hari ini..


"Maaf Yas.. aku nggak bisa nganter kamu.. jaga dirimu disana baik-baik.. aku akan menantimu.. semoga kelak kita berjodoh untuk selamanya." batin Ida.


Ida menatap kearah luar dari jendela kamarnya.. meskipun sudah sering berpisah dengan Ilyas tapi entah kenapa hatinya saat ini begitu merasa kehilangan, apa mungkin karena jarak yang begitu jauh? atau karena Ilyas sudah meminta doa restu pada orang tua Ida?, tapi apakah untuk kali ini hati mereka akan masih seperti dulu yang saling berkomitmen untuk setia satu sama lainnya?.


****


Suara adzan subuh mengalun dengan merdunya.. membangunkan setiap insan beriman untuk segera menghadap sang pencipta.


Perlahan Ida membuka matanya, meskipun dinginnya pagi membuat orang lebih asyik menyembunyikan diri dalam selimut.. tapi bagi gadis yang sudah terbiasa mengerjakan kewajiban 5 waktu itu segera bangun dan berjalan menuju kamar mandi mengambil air wudhu dan bergegas menjalankan sholat subuh.

__ADS_1


Kicauan burung di pagi hari menyambut hadirnya sang mentari yang masih malu-malu menampakkan diri untuk menerangi muka bumi. Manusia pun mulai beraktivitas seperti biasanya. Begitu juga dengan gadis manis yang bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit terkemuka di kota M.


Diawali dengan membantu sang bunda menyiapkan sarapan untuk keluarganya lalu bersiap untuk pergi bekerja karena hari ini dia dapat giliran jaga pagi.


Setelah sarapan gadis itupun berangkat bersama sang adik yang sekolahnya sejalan dengan tempatnya bekerja.


Gadis itu berhenti didepan gerbang sekolah tingkat pertama di mana adiknya menuntut ilmu saat ini. Dia tersenyum sendiri menatap gedung sekolah yang dulu dia juga bersekolah di tempat itu dan jadi kenangan awal dia bersama Ilyas.


"Sedang apa kamu Yas? sudah lama kita tidak bertemu.." batin Ida lalu segera melajukan motornya tidak mau berlama-lama memikirkan Ilyas karena akan menambah rasa kangen dihati.


Ya.. waktu begitu cepat berlalu tak terasa sudah hampir dua tahun mereka tidak bertemu lagi. Dan juga tidak pernah saling berkomunikasi seperti dulu. Memang di sengaja oleh keduanya karena jika berhubungan akan membuat rasa rindu semakin menjadi dan mungkin akan membuat Ilyas tidak kerasan di sana. Mereka menjalani seperti air yang mengalir dengan kehidupan masing-masing.


Tidak dipungkiri disekitar mereka ada yang tertarik dengan pesona gadis dan pemuda gagah itu. Tapi akankah mereka tetap pada komitmen untuk hanya setia dengan satu hati?.


Begitu sampai di rumah sakit Ida langsung bergegas di bangsal Anggrek di mana dia selalu bertugas. Di sana ada beberapa rekan kerjanya yang menunggu untuk berganti sif.


"Assalamualaikum.. selamat pagi semua.." sapa Ida ramah.


"Waallaikum salam.." balas mereka serempak.


"Kebetulan cantik kamu dah datang, kamar C pasien no 3 itu belum mau diperiksa. katanya nunggu dirimu!" ujar salah satu temannya.


"Baiklah mbak Dewi, serahkan padaku." sahut Ida sambil tersenyum.


"Ok.. kalau gitu aku pulang dulu ya semuanya." pamit suster bernama Dewi itu seraya keluar dari bangsal Anggrek.


Ida segera mengambil perlengkapan dan menuju ke kamar yang di maksud Dewi tadi. Didekati pasien no 3, seorang pemuda yang sakit karena kecelakaan dan harus di operasi kaki kanannya karena patah tulang. Pasien yang keras kepala, susah diatur, hanya Ida yang bisa membuat pemuda itu menurut.


Seminggu yang lalu ada pasien masuk ke bangsal Anggrek dengan kasus tabrakan motor. Seorang pemuda bernama Bayu berumur 23 tahun. Mahasiswa semester 6 di fakultas ternama di kota itu. Tapi dia sering bolos dan bandel dan tidak lulus- lulus sampai kedua orang tuanya sudah menyerah dengan kelakuannya. Dan kecelakaan itu terjadi saat malam sehabis nongkrong dengan teman-temannya dan minum minuman keras dia mengendarai motor dalam keadaan setengah mabuk dan menabrak tukang becak yang juga dirawat di tempat itu.Orang tuanya memang termasuk orang berada makanya kelakuannya manja dan seenaknya sendiri.


Malam itu saat pemuda itu masuk ruang UGD dalam keadaan tidak sadar. Karena kakinya patah dan agak parah dokter menyarankan untuk segera di Operasi. Setelah di operasi pemuda itu di pindahkan ke bangsal Anggrek.


Begitu sadar pemuda itu melihat kakinya langsung berteriak-teriak histeris dan mengamuk. Orang tuanya dan beberapa perawat kewalahan menenangkan termasuk Ida.


"Aku lebih baik mati daripada hidup cacat seperti ini!!" teriaknya sambil melempar apapun didekatnya.


"Tenang sayang kamu pasti sembuh..!" suara lembut ibunya tidak mampu menenangkan Bayu.

__ADS_1


""Sembuh dari mana ma! sekarang aku cacat, semua pasti menertawakan aku.. menghinaku.. ninggalin aku.. aku nggak mau hidup seperti ini.. aku mau mati saja!!" seru Bayu masih berteriak sambil melepas kasar jarum infus di lengannya. darah sudah mengucur dari bekas jarum itu.


"Bayu apa yang kamu lakukan nak.. suster tolong!" teriak mamanya panik sambil menangis..


__ADS_2