
Saat masuk ke kelas.. ada perasaan lega dari diri Ida karena dikelas itu tak ada mahluk yang bernama Edo.. senyum penuh arti mengembang di bibirnya.
"Da kenapa senyum-senyum sendiri.. gila kamu ya?" tanya Alisa heran..
" Yeee.. siapa yang gila.. aku lagi senang dan bersyukur karena tidak sekelas sama Edo lagi" jawab Ida dengan nada senang.. tapi...
"Selamat pagi gaes... apa kabar??" suara seru dari arah pintu membuat gadis itu terkejut dan langsung menoleh..
"Edo!!!" sentaknya pelan yang membuat wajahnya jadi berubah masam
Alisa yang melihat sahabatnya itu tersenyum geli..
"Itu namanya jodoh beb..." ledeknya sambil mencolek pipi Ida yang masih menekuk wajahnya..
"Amit-amit.. buat kamu aja Lis" sahut Ida kesal.
Edo berjalan masuk dan duduk pas di depan Ida sambil meliriknya. Gadis yang dilirik cuma cuek kesel banget.
"Eh.. ada cewek gila di sini" selorohnya sengaja yang membuat darah Ida mendidih.
" heh cowok stres.. mau cari masalah kamu!!!"sentak Ida sambil menggebrak meja. yang membuat semua mata dikelas itu menengong ke mereka.
"Heh siapa juga yang mau bermasalah sama cewek gila kayak kamu" Ledek Edo lagi santai.. tapi gadis itu sudah tidak bisa menahan sabar lagi dan langsung berdiri dari kursinya.
Dengan cepat Alisa menahan lengan Ida karena guru sudah mulai masuk ke kelas.. Ida pun terpaksa duduk kembali dengan kesal..
" Heran deh aku.. tiap ketemu pasti berantem.. aduh.." gumam Alisa sambil menepuk jidatnya.
****
Ya begitulah hubungan Ida dan Edo yang seperti kucing dan tikus.. setiap bertemu pasti berantem mulu.. selalu membuat suasana kelas heboh karena keributan yang selalu mereka berdua lakukan.
Sampai tidak di sadari ada perasaan aneh dalam hati Edo kalau sehari saja tidak menggangu Ida dan membuat gadis itu marah... tapi dia sendiri tidak tau itu perasaan apa.. yang jelas dia suka liat wajah Ida dalam keadaan marah..
Edo merasa harinya kurang asyik tanpa melihat wajah Ida yang merasa kesal.. ada rasa bahagia tersendiri setiap saat bisa mengerjai Ida.. merasa puas karena menang.. ahh.. bukan... apa itu suka.. ?? aaahh.. mana mungkin.. mereka kan musuhan..
__ADS_1
****
Di asrama putri
Ida baru saja selesai mandi.. ia lupa kalau jam tangan kesayangannya itu tertinggal di dalam kamar mandi.. tanpa di sadari Alisa menjatuhkan jam itu saat mau ngambil handuk dan jatuh ke ember yang ada airnya..
Di kamar Ida bingung nyari jam itu mau di pakai.. tapi tidak ketemu.. Alisa yang tidak menyadari kesalahannya heran melihat sahabatnya bingung mencari sesuatu.. sampai semua di buka-buka...
" Nyari apa sih Da?" tanya Alisa sambil ngeringin rambutnya dengan handuk.
"Jam tanganku Lis.. kok nggak ada zza?"
" coba cari yang bener.. biasanya tu Banda kan nggak pernah jauh darimu" ujar Alisa datar..
Ida berpikir sejenak.. lalu dia ingat jam itu tertinggal di gantungan baju dalam kamar mandi.. dia bergegas mencarinya dan menemukan jam itu di dalam ember yang ada airnya... dan jam itu mati..
Dia keluar kamar mandi dengan lemas melihat jam itu mati.. tak terasa air matanya mengalir di pipinya.. sambil mencoba mengeringkan jam itu dari air..
Alisa yang melihatnya jadi sadar kalau yang jatuh itu jamnya Ida.. dia merasa bersalah melihat sahabatnya itu sedih..
sesal alisa karena tidak menelitinya.
Ida masih diam sambil terus mengeringkan jam itu supaya hidup lagi tapi gagal.. air matanya makin deras saja..
Alisa jadi bingung apa yang harus dilakukan...
"Da.. maaf.. aku janji aku akan menggantinya"
"Mau ganti gimana Lis.. tidak ada yang bisa menggantikan jam ini.. bahkan seribu jam pun... karena di jam ini ada hatiku.. hu..hu..hu.." pecah sudah tangis Ida.
Alisa makin merasa bersalah tapi juga heran hanya karena jam tangan mati dia pertama kali melihat sahabatnya menangis dan semarah itu.. padahal setiap hari biarpun di kerjain Edo seperti apapun dia tidak semarah itu.. bahkan sampai nangis.. tapi hanya karena jam tangan dia bisa seperti itu...
"Da aku benar-benar minta maaf.." kata Alisa dengan suara bergetar mau nangis juga karena rasa bersalahnya membuat sahabatnya menangis dan marah.. sambil jongkok disamping gadis itu..
Ida yang masih marah menghapus air matanya dan segera pergi keluar kamar.. membuat Alisa makin bersalah.. dan menangis.
__ADS_1
****
Tak tentu arah Ida berjalan sambil menggenggam jam tangan itu erat-erat..
Sampai di taman dia duduk di bangku dengan sedihnya...
"Yas.. maafkan aku.." ratapnya dalam hati.. "apakah ini waktunya aku melepaskan jam ini Yas.. ???"
meleleh lagi butiran bening di pipinya...
"Tidak.. aku tidak akan menyerah pasti ini bisa di hidupkan lagi.. aku yakin.." ujarnya bersemangat lalu menghapus air matanya dan berlari masuk ke kamarnya.
Di lihatnya sahabatnya Alisa duduk di lantai sambil memeluk lututnya.. dia baru sadar kalau tadi sudah marah-marah.. lalu di dekati sahabatnya itu.. dan duduk di sampingnya..
"Lis.. maafkan aku tadi aku emosi" sesalnya..
Alisa mengangkat wajahnya yang penuh air mata melihat Ida yang sudah ada di sampingnya.. dengan masih diam membuat Ida jadi makin bersalah..
"Maaf ya Lis.. tidak seharusnya aku bentak kamu tadi.. " ucap Ida sambil menghapus pipi Alisa yang basah.. sambil tersenyum.
"Aku juga minta maaf Da.. " sahutnya pelan sambil memeluk Ida..
Memang Alisa hatinya lembut.. mudah menangis.. berbeda dengan Ida yang ceria dan tegar.
Mereka saling berpelukan dan saling memaafkan.. dan tersenyum lagi seakan tidak terjadi apa-apa lagi..
"Jam tanganmu Da.. gimana?" tanya Alisa sambil melepaskan pelukannya..
"Kalau nanti tidak hidup biar besuk aku bawa ke servis" jawab Ida datar... "Sudahlah.. ayo cari makan malam.. aku lapar" lanjutnya.
"He.. em.." sambut Alisa sambil berdiri..
Mereka berdua pergi ke warung di sekitar asrama seperti biasa..
Begitulah persahabatan mereka yang saling mengisi.. tapi jarang banget mereka berantem.. baru kali ini yang membuat mereka berantem sampai menangis..
__ADS_1