
Hening.. tak ada suara yang terdengar diantara kedua anak manusia itu. Mereka berjalan dengan membisu.. tak ada kata apapun yang keluar dari mulut mereka.
Tapi didalam hati dan pikiran mereka ada banyak pertanyaan dan kata kata yang ingin mereka keluarkan.. tapi tidak mampu.. begitu canggung suasana diantara mereka berdua.. sejak pertengkaran dimalam itu membuat hati dan pikiran mereka tak karuan..
Mendingan dulu sewaktu semua itu belum terjadi.. mereka bebas saling mengolok dan mengejek.. lebih terasa bebas saat bermusuhan.. dari pada sekarang hanya perang dingin antara mereka membuat batin Edo terasa lebih tersiksa.. dia kangen dengan Ida yang dulu.. yang ceria, yang cerewet, yang mudah marah kalau dia kerjain.. dia kangen melihat tawa Ida yang merasa menang bila ngerjain dia balik...
Sekarang tidak ada lagi wajah itu.. yang ada hanya wajah dingin Ida yang beberapa minggu ini dia lihat.. dia merutuki dirinya dalam hati..
Tak terasa sudah sampai di gerbang asrama putri.. tanpa menoleh Ida melangkah masuk ke asrama..
"makasih.." ucapnya pelan tanpa expresi.
"i.. iya" sahut Edo hanya mampu menatap punggung ida yang melangkah pergi meninggalkan dia yang masih terpaku..
Dia pun melangkah pergi menuju asrama pria setelah Ida tidak terlihat lagi.
****
Ida membuka pintu kamarnya dan menghidupkan lampu.. tak ada Alisa di sana karena dia PKL di kampung halamannya.
Dia segera bergegas membersihkan diri..
Gadis itu membaringkan tubuhnya yang terasa letih di atas kasur Alisa karena males manjat ke kasurnya.
diraihnya jam tangan dari Ilyas lalu diletakkan di samping bantalnya..
"kamu sedang apa Yas..? kenapa sekalipun kamu tidak pernah menghubungi aku.. ? aku kangen Yas.. akankah suatu saat kita bisa bertemu lagi..?? ataukah kita akan berpisah dengan pasangan masing-masing.. Yas aku bingung sekarang dengan hatiku.. ada cowok yang suka padaku.. apa yang harus aku lakukan.. apakah aku harus mengkhianati kesetiaanku.. dan mencoba jalan sama dia.. atau menjauhinya.. Yas aku bingung.."
pikirannya melayang layang tak karuan sampai tak terasa dia tertidur dalam angan-angannya.
****
Ilyas
Malam sudah mulai larut.. sudah terasa sepi keadaan di asrama putra di SMA TN.. semua siswa sudah masuk kamar dan dilarang bersuara keras yang akan mengganggu waktu istirahat penghuni asrama yang lain.
Seperti biasa setelah berpatroli menertibkan penghuni asrama Ilyas merebahkan tubuhnya yang begitu letih setelah seharian melakukan kegiatan rutinnya sebagai siswa dan anggota peleton..
__ADS_1
Diambilnya ponselnya di bawah kasur.. ponsel itu hidup sendiri tanpa harus di servis.. ditatapnya wajah gadis dilayar ponselnya itu tanpa berkedip..
"Ahh.. dasar bucin akut kamu!!" goda Zaki yang juga membaringkan tubuhnya.
"sssttt.. jangan berisik!! ganggu yang lain!!" sahut Ilyas datar.
Dia tak peduli dengan tawa dan ejekan sahabatnya itu.. sambil memejamkan mata dipeluk ponsel itu di dadanya.
"malam sayangku.. apa kabarmu hari ini?? aku kangen sama kamu.. apa kamu juga kangen aku?? tunggu sampai waktunya tiba aku akan menemuinya dan membawamu padaku.."
hanya angan-angan itu yang selalu ada dalam pikiran Ilyas sampai malam menyelimutinya dalam tidur.
****
Suara adzan bergema ditelinga.. yang membangunkan insan untuk segera menghadap pada Yang Kuasa..
Ida terbangun dengan masih malas dia pergi ke kamar mandi buat ambil air wudhu.. terasa sepi dikamar itu tanpa ada Alisa.. tapi dia harus mulai terbiasa karena mereka akan berpisah selama 3 bulanan..
Hari beranjak siang.. sudah saatnya berangkat ke klinik dokter Ridwan. Ida berjalan dengan pasti keluar asrama.. senyuman menghiasi bibirnya setiap berpapasan dengan teman-temannya.. tapi langkahnya terhenti di depan gerbang asrama.
Dia melihat sesosok cowok berdiri di samping pagar asrama.. ya Edo, dia sudah menunggu Ida keluar dari asramanya.. setelah melihat Ida dia tersenyum pada gadis itu.. tapi gadis itu cuma melihatnya cuek..
"Ngapain kamu di sini?" tanya Ida datar mencoba menguasai hatinya..
"Nungguin kamu.. kita berangkat bareng dan pulang bareng.. itu amanah dokter Ridwan" jawab Edo eneng.. karena dia tau Ida nggak mungkin menolak perintah dokter Ridwan.
"terserah.." ujar Ida males sambil berjalan yang diiringkan Edo di sampingnya.
Tak ada suara yang keluar dari bibir mereka selam berjalan.. sampai tiba di klinik. Ida bergegas keruangannya membereskan dan mempersiapkan semua keperluan.. dan membuat data sebagai laporan PKL yang nantinya diserahkan pada guru pembimbing.
Sudah saatnya klinik buka.. kesibukan mulai terasa.. pasien mulai berdatangan satu persatu.. sebelum memanggil pasien masuk.
sambil menunggu Dokter Ridwan datang Ida membantu di bagian pendaftaran yang terlihat sangat sibuk sekali..
Banyak banget orang sakit ternyata hari ini.. sampai kewalahan perawat di bagian pendaftaran.. memang musim pancaroba seperti ini kalau tubuh kurang memiliki daya tahan mudah terserang sakit.. dari yang ringan sampai berat..
****
__ADS_1
Kesibukan terus berlanjut sampai pasien habis seperti biasanya.. seperti itu setiap hari yang dilakukan di klinik dokter Ridwan. Dan begitu juga setiap pergi dan pulang Ida selalu diiringi oleh cowok bagaikan bodyguard..
Tapi juga tetap tak ada obrolan yang akrab diantara mereka. Ida memang sengaja membatasi diri dari Edo. Gadis itu tidak mau memberi harapan pada Edo. Sampai malam itu Edo yang merasa dicuekin Ida selama ini tidak tahan lagi sampai di tengah perjalanan Edo menarik tangan Ida paksa yang berjalan di depannya.. sontak Ida terkejut dan menoleh kearah cowok itu.
"Apa-apaan sih!!" sentak Ida kaget..
Edo menatap Ida tajam dan kesal.. Ida yang merasa Edo menatapnya jadi gusar..
"Mau apa kamu Do?" tanya Ida sudah sedikit bergetar dan takut Edo akan melakukan hal seperti dulu lagi.
"Aku cuma mau bicara sama kamu.. aku sudah nggak tahan dengan sikap dinginmu" ucap Edo tegas dan menarik Ida untuk duduk di pinggir jalan..
"Duduk!!" sentak cowok itu.. Ida tidak bisa menolak.. dengan sedikit terpaksa dia pun duduk.. lalu Edo ikut duduk di sampingnya.
"Sekarang katakan apa maumu Do??" tanya Ida setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Da.. aku ingin menyelesaikan problem diantara kita.." Edo berbicara dengan tenang.. dia tidak mau membuat gadis itu tambah dingin padanya.
"Aku minta maaf atas semua kesalahanku padamu.. masalah itu sudah lama berlalu.. aku juga sudah minta maaf dengan tulus.. apa kamu tidak mau memaafkan aku dengan ikhlas Da.. aku tersiksa dengan sikap dinginmu.." lanjut Edo melas banget..
Ida masih terdiam mendengar Edo berbicara..
"mungkin aku juga terlalu menutup diriku padanya.. tidak seharusnya aku seperti ini.. tapi aku tidak bisa membalas perasaannya" Ida bergelut dengan pikirannya sendiri.. lalu dia menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan.
"Do aku sudah memaafkan kamu.. tapi.." Ida berhenti dan memandang Edo yang makin penasaran dengan mengernyitkan dahi..
"Tapi kenapa?"
"Do.. aku tidak mau memberi harapan padamu.." ucap Ida pelan..
"Kamu tidak suka padaku Da? apa karena aku suka jahil padamu?.. apa karena aku begitu nyebelin buat kamu..?.."
"Bukan karena itu Do!!" potong Ida
"Aku tidak mau berpacaran dulu sebelum bisa membahagiakan orang tua.. aku ingin fokus sekolah.. aku ingin sukses dulu.. " jelas Ida panjang lebar.
"Bukan karena ada cowok lain dihatimu?" tanya Edo menyelidik..
__ADS_1
"Do.. kamu tuluskan minta maaf padaku?" tanya Ida sambil menatap Edo mencari kejujuran di matanya..
Edo membalas tatapan Ida..