Akankah Setia

Akankah Setia
episode 36


__ADS_3

"Kenapa belum sadar juga Yas.." Ida berkata dengan lirih..


Tiba-tiba dirasakan ada pergerakan di genggaman tangannya.. lda tersenyum lalu menatap wajah Ilyas yang mulai membuka matanya..


"Yas.." senyum Ida mengembang melihat Ilyas sudah menatapnya dengan tatapan sayu..


Ilyas menarik kepala Ida dalam dekapannya.. Ida jadi terharu dan tak terasa air matanya mengalir lagi..


"Jangan pernah khianati cintaku... aku tak sanggup.." hanya itu yang keluar dari mulut Ilyas dengan lirih.. sambil mengeratkan pelukannya..


Ida tak mengerti maksud Ilyas.. gadis itu lalu menengadah menatap wajah pucat cowok itu.. dan melepaskan pelukannya..


"Yas.. apa maksud kamu? aku tidak pernah mengkhianati cintamu.." makin deras air mata Ida dituduh seperti itu.. sakit hatinya..


Selama ini dia selalu berusaha menjaga hati dari berbagai godaan hanya demi Ilyas seorang.. tapi saat ini tak disangka kata itu keluar dari mulut Ilyas sendiri yang mulai meragukan kesetiaannya..


Ilyas jadi serba salah melihat Ida menangis dengan bibir bergetar.. matanya sudah merah dan bengkak.. dia bangun dan segera menghapus air mata di pipi Ida dengan lembut dan rasa bersalah..


"Maaf sayang.. tolong jangan menangis.. aku paling tidak suka melihat air matamu.."


Bukannya diam malah tangis Ida semakin menjadi sambil memeluk pinggang Ilyas yang masih duduk di ranjang pasien.. Ilyas membalas memeluk bahu gadis kesayangannya itu lalu mengecup puncak kepalanya yang terbungkus jilbab warna biru muda..


Ada rasa bahagia dan terobati sudah rasa rindunya selama hampir 2 tahun tidak bertemu maupun berhubungan.. meskipun rasa dihati mereka tidak pernah berubah..


"Maafin aku Yas.." ucap Ida lirih masih dalam pelukan Ilyas..


"Untuk apa sayang?.. kamu tidak beneran mengkhianati aku kan?" tanya Ilyas khawatir sambil mengangkat kepala Ida hingga tatapan mereka beradu..


Ida hanya menggeleng.. ada senyum di bibir Ilyas melihat jawaban itu.. diusap lembut pipi gadis itu yang masih basah..


"Lalu buat apa?"


"Maafin aku.. karena keinginanku kamu mengorbankan cita-citamu sendiri.. dan kamu harus menjalani semua ini.. pasti sangat berat bagimu.." bibir Ida masih bergetar dengan suara lirih..


Ilyas tersenyum memandang gadisnya itu..


"Siapa yang bilang kalau aku berat melalui semua ini.. aku sangat bahagia dan senang melakukan semua ini demi orang yang aku cintai.. demi masa depan kita nanti.. jadi jangan pernah kamu berpikir seperti itu lagi..


asalkan kamu tidak mengkhianati cinta kita aku akan terus berjuang.. sayang"


"Tapi aku tidak pernah mengkhianati cintamu Yas.. maksud kamu apa?" tanya Ida masih tidak mengerti arah pembicaraan Ilyas..


"Kamu tahu Yank.. rasa sakit di kepalaku ini tidak ada artinya dibandingkan sakit saat melihat kamu berdua dengan cowok lain..!"


"Berdua dengan cowok lain? kapan kamu melihat?" Ida merasa cemas Ilyas akan salah paham..

__ADS_1


"Tadi pagi.. saat aku akan pergi kelapangan untuk latihan.. aku yakin saat melihat kamu turun dari mobil dengan seorang cowok.. aku yakin itu kamu meskipun hanya melihat sepintas.. itu yang membuat aku sakit hati dan tidak konsentrasi.. dan aku terpeleset.."


Ilyas menjelaskan kejadian itu pada Ida yang sedikit terkejut..


"Aku tidak tahu kalau kamu di sini Yas.. aku kesini juga karena mas Angga yang mengajak"


"Siapa mas Angga itu?" Ilyas sendikit menekan pertanyaannya.. ada rasa cemburu dihatinya..


"Dia.." belum sempat Ida menyelesaikan ucapannya.. pintu ruangan itu terbuka dan terlihat Angga dan Elena melangkah masuk dengan menenteng plastik ditangannya..


"Kenalkan.. aku Angga.. calon suami Ida!"


Bagaikan ada petir yang menyambar Ilyas mendengar kata-kata itu dari seorang pria lain.. Ilyas terdiam tak percaya.. tangannya mengepal keras menahan rasa amarah dalam hatinya.. matanya merah.. bibirnya bergetar gerahamnya bergemerutuk.. Ida yang melihatnya langsung cemas.. di pegang lengan Ilyas.. tapi tidak disangka Ilyas mengibaskan kasar tangan Ida.. lalu mencabut jarum selang ditangannya dengan keras sehingga darahnya ber cucuran..


"Yas.. " Ida menahan Ilyas yang turun dari ranjang.. tapi sia-sia tenaga Ilyas lebih kuat.. dan membuat Ida jatuh terduduk di kursi..


"Kamu tega Da!" sentak Ilyas.. sambil melangkah pergi meskipun tubuhnya masih lemah..


Ida segera bangkit berlari dan memeluk Ilyas dari belakang sambil menangis.. Ilyas pun ikut menangis merasakan begitu sakit hatinya..


"Lepaskan" sentak Ilyas.. mencoba membuka tangan Ida di perutnya..


Tapi Ida malah semakin mengeratkan pelukannya.. sambil menggelengkan kepalanya..


"Tak ada yang perlu dijelaskan! kamu sudah mengkhianati cintaku!" Ilyas masih mencoba melepaskan tangan Ida.. sampai tangan mulus itu memerah..


Angga hanya duduk menikmati adegan itu dengan tersenyum penuh kemenangan.. sedang Elena sudah tidak tega lagi melihat keduanya menangis akibat ulah kekasihnya itu..


"Sayang.. kasian mereka" bisik Elena di telinga Angga..


"Biarin aja.. salah sendiri tadi ngerjain kita.. aku balas aja.." ucap Angga enteng..


"Sudah dong.. lihat mereka sampai nangis kalau kamu kan tadi nggak nangis sama sekali.." bujuk Elena lagi..


"Aku mau lihat kesungguhan cinta mereka.. sebentar lagi ya sayangku.. " Angga masih menonton adegan Ilyas dan Ida sambil menikmati cemilan yang dibelinya tadi..


Sedangkan Ilyas terus berusaha melepaskan genggaman tangan Ida dari dirinya..


"lepaskan Da.. jangan sampai aku hilang kendali!" Ilyas makin tegas..


"Nggak mau.. semua tidak seperti yang kamu pikirkan Yas.. dengerin aku dulu ku mohon.. hiks..hiks.. hiks..!" Ida masih berusaha menenangkan Ilyas yang sudah kalang kabut terbawa emosi.. rasa sakit di pergelangan tangannya tidak ada rasanya sama sekali..


"Mas Angga kumohon.. jelaskan pada Ilyas yang sebenarnya.."teriak Ida minta pada Angga.. dengan masih memeluk erat tubuh Ilyas..


Akhirnya Angga juga tidak tega melihat Ida benar-benar kewalahan menghadapi Ilyas yang penuh emosi.. dia berdiri dan melangkah mendekati dua anak muda yang masih berpelukan dengan penuh emosi dan kemarahan itu..

__ADS_1


"Sudah lepaskan cowok kamu dek!" perintah Angga.. Ilyas menatap Angga yang memanggil Ida dengan sebutan 'dek'


"Nggak mau mas.. nanti Ilyas pergi sebelum masalah ini selesai!" Ida masih memeluk erat tubuh Ilyas.. sedang Ilyas sudah tidak mencoba melepaskan genggaman tangan Ida lagi.. tapi masih diam saja.


"Dia tidak akan pergi kemana-mana.. dia masih perlu dirawat.." Elena mendekati Angga dan memeluk mesra lengan kokoh itu..


Ilyas makin tidak mengerti melihat tingkah kedua orang di depannya yang terlihat begitu mesra..


"Sudah lepaskan saja..!" perintah Angga lagi..


Akhirnya Ida melepaskan Ilyas dari pelukannya dan beneran Ilyas hanya terdiam saja.. dia mulai paham kalau di kerjain.. hatinya mulai tenang..


"Kalian ngerjain aku!" ujar Ilyas dingin menatap Angga tajam..


Angga hanya mengangkat bahu sambil tersenyum.. lalu melangkah kembali duduk di sofa.. "Tanya saja pada pacarmu itu..!" ucapnya lagi..


Ilyas menatap Ida yang masih berlinang air mata.. Ida membalas tatapan Ilyas masih dengan cemas..


"mas Angga balas ngerjain aku Yas.." suara Ida bergetar menahan tangis..


Tiba-tiba Ilyas menarik tubuh Ida dalam pelukannya.. dan pecah lagi tangis Ida semakin menjadi..


"Maaf.. tadi aku marah-marah.. aku nggak tahan kalau kamu dengan cowok lain" ujar Ilyas sambil mengusap punggung Ida lembut..


Ida masih menenggelamkan wajahnya yang basah di dada kekar Ilyas dan serasa nggak mau melepaskan lagi..


"Sudah jangan nangis lagi.. kamu jelek kalau nangis!" Ilyas melepaskan pelukannya lalu mengecup kening Ida penuh sayang..


"Kamu yang bikin aku nangis" rajuk Ida membuat Ilyas jadi gemes.. diusapnya pipi Ida yang basah dengan tangan kekarnya..


"Maaf sayang.. aku cemburu"


"Ehemmm.. hemm.." suara itu menyadarkan mereka kalau di ruangan itu ada orang lain juga.. mereka menoleh ke arah suara itu yang keluar dari mulut Angga yang memasang muka serem..


"Kalian pikir kami ini apa?" sentak Angga pura-pura marah.." sudah dramanya hah..?"


Elena memukul lengan kekasihnya itu .


'"Angga apaan sih.. ngganggu aja?"


"Bukan begitu sayang.. mereka pikir disini tidak ada kita.. bermesraan begitu.." gerutu Angga.."Aku kan juga pengen.." senyum Angga menggoda Elena yang tersipu.. dan memukul


lengannya lembut..


"Semua juga karena mas Angga!" gumam Ida yang juga didengar yang lain..

__ADS_1


__ADS_2