
Para perawat yang mendengar teriakkan seorang wanita sambil menangis segera bergegas masuk ke dalam kamar C di mana pemuda itu mengamuk dan jadi perhatian orang yang menunggu pasien di kamar lainnya.
Terlihat pemuda itu berteriak-teriak, membuang apapun di dekatnya dan sang ibu yang menangis sambil berusaha menenangkan anaknya.
"Pergi kalian semua.. jangan dekati aku.. aku mau mati saja !!" teriaknya begitu melihat perawat berdatangan.
Para perawat itu mendekat berusaha menenangkan tapi kewalahan karena tenaga pemuda yang sedang histeris itu begitu kuat. Ibunya masih saja menangis. Tak ada yang bisa menenangkannya. Darah terus saja keluar dari bekas jarum suntik. Tapi pemuda itu tak peduli dan terus mengamuk dan berteriak.
Saat beberapa perawat pria datang untuk menanganinya.. pemuda itu mengancam dengan pisau buah yang ada di nangkas sebelah ranjang pasien.
"Pergi kalian jangan mendekat.. !!" ancam pemuda itu dengan menghunuskan pisau buah itu di nadinya.
Sontak suasana menjadi tegang, tak ada pergerakan dari para perawat. Wanita setengah baya yang jadi ibunya hanya bisa menangis melihat kelakuan anaknya. Ida yang tak tega memeluk wanita itu. Tak ada sanak saudaranya saat itu.
"Jangan lakukan itu nak.. apa kamu tidak sayang mama.. Bayu?" ratap wanita setengah baya itu menatap anaknya.
"Tak ada yang peduli lagi dengan aku.. sekarang aku cacat.. aku malu.. mending aku mati saja!!" teriaknya lagi.
Hampir satu jam pemuda itu mengamuk dan teriak histeris meratapi nasibnya saat ini. Sang ibu hanya bisa menangis dan para perawat belum bisa menangani karena ancaman pasien.
"Kalau kamu mau mati ya mati saja.. ngapain hanya ngamuk dan teriak tidak jelas.. kalau mau nusuk ya di tusuk aja beraninya cuma ngancam.. dasar pengecut!" suara keras itu mengejutkan semua orang yang ada di sana yang langsung membuat semua pandangan berpindah ke arah suara itu, termasuk pemuda itu yang langsung diam dan menatapnya.
"Suster apa yang anda bicarakan?" kata wanita setengah baya yang ada di dekapannya itu.
"Ibu.. buat apa ibu menangis hanya untuk manusia tidak berguna seperti dia.. air mata ibu terlalu berharga untuk menangisi sampah seperti dia.. seorang pecundang, seorang pengecut!" ternyata itu adalah Ida yang sudah merasa muak dengan tingkah pemuda itu.
"Aku bukan pecundang.. aku bukan pengecut!" teriak pemuda itu sambil menatap Ida tajam.
"Oh.. kamu nggak ngerasa jadi pecundang dengan berteriak-teriak, mengamuk seperti orang gila, yang mengancam mau bunuh diri tapi kenapa takut menusukkan pisaunya.. dasar PENGECUT!!" kata Ida penuh dengan penekanan menatap jijik pemuda itu.
"Aku bukan pengecut!!"
"Kalau bukan PENGECUT!! ayo tusuk perut atau leher kamu supaya cepat mati.. atau iris nadi kamu itu biar mati seketika.. apa perlu aku bantu nguris nadimu.. sini aku bantu!!"
__ADS_1
Ida mendekati pemuda itu dan merebut pisaunya dan adegan berebut itu hanya jadi tontonan tanpa ada yang bergerak.
"Lepas apa-apaan kamu.. nanti kamu terluka!" teriak pemuda itu tapi Ida tak memperdulikan dan berusaha tetap merebut pisau itu.
"Berhenti!!" kembali pemuda itu berteriak dan kali ini dia melempar pisau buah itu ke lantai.
Khawatir akan melukai gadis yang sedang berebut dengannya.
"Kenapa di lempar? kamu mau mati kan.. aku cuma mau bantu kamu ngiris nadimu dengan benar supaya cepat mati!!" tanya Ida sinis.
"Aku cuma nggak mau melukai kamu!" kata Bayu tegas.
"Tapi kamu sudah melukai perasaan mamamu! apa kamu nggak sadar hah?? kamu khawatir melukai aku yang hanya orang lain tapi kamu tidak memikirkan mama kamu yang hatinya terluka karena kelakuan gila kamu.. anak macam apa kamu yang tega membuat mamamu menangis.. lihat dia yang tak berhenti menangisi anak tak berguna seperti kamu!" ucap Ida dengan tegas membuat pemuda itu menatap ibunya yang masih menangis di samping pintu.
"Maafin Bayu ma.. Bayu khilaf." kata pemuda itu menatap ibunya dengan sendu penuh penyesalan.
Sang ibu segera mendekat dan memeluk putranya, dan mereka berpelukan sambil menangis. Semua jadi terlihat lega melihatnya.
"Jangan lakukan itu lagi nak.. mama tetap sayang kamu bagaimana pun keadaan Bayu.. karena Bayu anak mama." kata ibu itu di sela tangisnya.
"Jangan pergi dulu suster.." pinta pemuda itu.
"Baiklah.. aku benerin infus kamu dulu, lihat wajahmu sudah pucat!" kata Ida datar sambil tersenyum membuat pemuda itu terpana melihatnya.
"Silahkan suster.." kata sang ibu memberi ruang untuk Ida bertugas.
Dengan cekatan Ida membetulkan infus yang tadi di tarik paksa oleh pemuda itu lalu mengecek nadi dan suhu tubuhnya.
"Kalau tenang gini kan enak dilihat.. lebih ganteng nggak nakutin orang." kelakar Ida sambil tersenyum yang membuat wajah pemuda itu merona.
"Baiklah semua sudah beres.. segera makan dan minum obatnya agar bekas operasinya tidak begitu perih.. banyak minum air putih ya?" pesan Ida sebagai seorang perawat.
"Iya sus.. terimakasih ya?" jawab ibunya.
__ADS_1
"Sama-sama Bu.. sudah jadi tugas saya. kalau begitu saya pamit dulu." Ida membereskan peralatan dan melangkah.. tapi lagi-lagi tangannya ditahan oleh pemuda itu.
"Namaku Bayu.. terimakasih soal tadi."
"Lupakan saja.. lain kali kalau mau berbuat sesuatu pikirkan dengan matang jangan menuruti hawa nafsu.. karena setan selalu ada didekat orang-orang yang pikirannya labil! Dan mati bukanlah jalan keluar dari sebuah masalah! dekatkan diri pada Tuhan akan menenangkan hati dan pikiran."kata Ida ketus sambil tersenyum.
Ida keluar ruangan itu dengan senyum kemenangan. Sedangkan Bayu menatap punggung gadis itu penuh dengan rasa kagum melihat gadis yang lain dari kebanyakan gadis yang pernah di temuinya.
"Gadis yang luar biasa!" gumamnya tanpa sadar yang didengar oleh ibunya.
"Kamu suka gadis itu nak?" tanya ibunya sambil tersenyum menggoda.
"Ah mama.. nggak.. Bayu cuma kagum aja kok!" kata Bayu salah tingkah.
"Kalau suka ya deketin aja." kata sang ibu santai.
"Mana mau ma dia sama cowok cacat seperti aku.." Bayu berkata lirih tepatnya seperti mengeluh. Sang ibu mengelus pundak anaknya seakan memberi kekuatan.
****
Ida masuk ke kamar rawat C mendekati pasien setianya yang hanya mau di periksa oleh dirinya.. haduuuuhh lebay amat ya.
"Assalamualaikum mas Bayu, selamat pagi.. di periksa dulu ya nadinya?"sapa Ida seramah mungkin dengan senyum mengembang di bibirnya meskipun dihatinya kesal dengan sikap lebay ni cowok.. tapi mau gimana lagi karena ternyata nih cowok keponakan dari dokter senior di tempat itu.
"Waallaikum salam suster Ida.. silahkan." jawab cowok itu dengan senyum senang melihat suster favoritnya sudah datang.
Dengan segera Ida memeriksa Bayu dengan cepat. Sedangkan Bayu terus saja memperhatikan wajah cantik Ida yang terlihat begitu cuek meskipun senyum selalu mengembang di bibirnya. Ingin sekali Ida menjauh dari ni cowok.. tapi bagaimana lagi dengan pribadi om ni cowok yang menjadi dokter di tempat itu memintanya khusus untuk menangani Bayu. Dari pada di pecat mending menahan sebel dan kesel sebentar. Apa lagi sebentar lagi ni cowok lebay juga bakal keluar dari rumah sakit ini dan hanya berobat jalan.
'Baiklah sudah selesai.. semua baik tinggal menunggu bekas operasinya kering setelah itu bisa pulang kerumah seijin dokter.. terapi agar bisa berjalan seperti dulu lagi ya? kalau begitu saya permisi dulu!" pamit Ida.
"Tunggu dulu suster Ida bisa minta tolong." Bayu menahan tangan Ida, gadis itu menoleh menatapnya.
"Aku gerah.. bisa minta tolong di kompres badanku soalnya mama belum ke sini.." pinta Bayu dengan tatapan sendu tapi mampu membuat Ida terkejut.
__ADS_1
"Haa.. kompres.. aduh gimana ya, saya panggil mas Eko saja ya.. kan sama sama cowok." Ida menolak dengan halus, soalnya bagaimana juga mereka bukan muhrim nggak boleh dong melihat tubuhnya.
"Nggak mau.. aku mau suster Ida saja!" jawab Bayu ketus.