Akankah Setia

Akankah Setia
episode 4


__ADS_3

Dengan wajah yang penuh kebahagiaan mereka menerima amplop itu satu persatu di panggil oleh pak guru. Setelah semua selesai pak guru memperbolehkan anak anak didiknya untuk pulang dan mempersiapkan untuk mendaftar ke sekolah yang mereka inginkan.


"Sebelum kalian pulang.. saya harap kalian tetap melanjutkan sekolah.. dan mulai besuk kalian boleh tidak masuk sekolah kecuali bila ada yang diperlukan.. o ya buat Ida ada surat buat kamu bisa di ambil di ruang TU.. ok anak anak.. silahkan pulang dan semoga sukses"


"Terimakasih pak....!!!"seru mereka pada pak guru yg melangkah keluar kelas.


" Yah kita besuk jadi jarang ketemu gaes..." kata Ida sedih pada kedua sobatnya.


"he emm" April dan Fida memasang tampang sedih juga...


"awwwwhhhh" mereka bertiga berpelukan kayak Teletubbies.


"Pulang yuk" ajak April


"Ayuuukkk"


Mereka bertiga melangkah keluar kelas dan mulai keluar menuju gerbang sekolah.


"Bentar ya.. aku mau ambil surat ke TU dulu" kata Ida sambil lari menuju ruang TU meninggalkan kedua sobatnya yg menunggu di depan gerbang.


" tok.. tokk"


" masuk.." sahut suara dari dalam ruang TU.


" Permisi buk.. kata pak Slamet tadi saya dapet surat" ujar Ida pada guru di ruang TU.


Guru itu menyerahkan amplop putih bertuliskan SMK Perawat.


"Selamat ya nak.. kamu mendapatkan beasiswa dari sekolah perawat di kota Y.. semoga saja kamu mau menerima beasiswa itu meskipun jauh dari sini" kata guru TU


"Terimakasih buk.. saya permisi" Ida berpamitan sambil menyalami gurunya.

__ADS_1


Ada rasa bangga gadis itu bisa mendapatkan beasiswa di sekolah perawat tapi .. ada rasa sedihnya juga. Sekolah itu jauh diluar kota.. dia harus tinggal di asrama, berpisah dengan orang tua, dengan sahabatnya, dengan saudaranya, dan tentunya dengan Ilyas juga..


"Apa aku harus menerima atau menolak Beasiswa ini" tanyanya dalam hati.. ya resah hati dan pikirannya.


"Surat dari siapa Da??" tanya Fida dan April hampir barengan.


" Ini dari sekolah perawat di kota Y" Ida memperlihatkan surat yg baru diambilnya dari TU.


"Waaah hebat... kamu dapet beasiswa.. selamat ya..." seru April sambil memeluk sobatnya itu gembira begitu juga dengan Fida.


"Lho kok kamu kayaknya nggak seneng sih.. bukannya cita citamu mau sekolah dengan beasiswa??? " ujar Fida heran melihat wajah Ida yg terlihat murung.


"Harusnya kamu seneng dan bangga dong sayangku.." tambah April menyemangati.


"Gaes aku seneng.. tapi juga sedih.." Ida terlihat murung "Sekolah ini diluar kota.. aku harus tinggal di asrama.. berpisah dengan ibu bapakku, dengan adikku dan dengan kalian.. belum tentu sebulan sekali aku bisa pulang.. gimana aku ndak sedih....hu.. hu.." lanjut Ida sambil menangis memeluk kedua sobatnya itu..


Mereka saling berpelukan tak memperdulikan berpasang mata yg melihat aneh dan juga salut dengan kedekatan ketiga insan anak manusia itu.


"Iiiihhhh.. ogah" sentak mereka serentak.. melihat Sigit yang sudah merentangkan kedua tangannya.


"Yah kecewa aku" sahut Sigit memasang tampang sedih...


Ilyas yang ada disampingnya cuma nyengir kuda.


"Gimana.. kalian lulus nggak?" tanya Ilyas datar.


"Ya jelas lah.. Yas.. !!" jawab April gembira..


"Kalian sendiri gimana?" Fida balik bertanya.


"Alhamdulillah kita juga lulus.. Da kenapa kamu kok nangis?" Ilyas memperhatikan wajah Ida yang masih basah karena air mata.

__ADS_1


"Ooh.. ini cuma sedih aja karena berpisah dengan mereka ini.. kita kan mau pisah sekolah" sahut Ida gugup sambil mengusap pipinya.. "juga karena tidak akan lagi bertemu kamu Yas" tambah batin Ida sedih.


"Kita pulang bareng yuk.." ajak Fida


"Gimana mau pulang bareng.. la rumah aku dan Ida itu berlawanan arah dengan rumah kalian" sambil noyor jidat Fida..


" aduhhh.. sakit pril" gerutu Fida.. " Ya bareng sampai gerbang gitu" tambahnya sambil manyun.. yang mengundang tawa mereka..


Mereka berjalan beriringan menuju gerbang sekolah dimana sudah ada angkutan yg menunggu para penumpang.


Dengan tiba tiba Ilyas memegang dan menahan tangan Ida sebelum keluar gerbang..


Ida yang kaget menoleh pada orang yg menahannya itu heran tapi juga grogi setelah tahu siapa orang itu.


Deeegg... ada rasa gugup saat tatapan mereka bertemu.


"A.. ada apa Yas?" tanya Ida gugup.. grogi.. dan terasa panas bergetar tubuhnya saat tangan Ilyas memegang tangannya.


"Aku ingin ngomong sama kamu Da" jawab Ilyas datar sambil terus memandangi wajah gadis didepannya.


Ida yang sudah gugup tambah grogi dan rasanya mau terbang ke angkasa tubuhnya.. diperhatikan cowok yg ditaksirnya itu..


"Mau ngomong apa?" Ida berusaha bersikap sewajar mungkin agar tidak terlihat gugup.. "Ya Alloh.. kuatkan aku dengan tatapan itu.. jangan sampai aku terlena" ucap Ida dalam hati.


"Tidak sekarang.. tapi besuk bisa kita ketemu?" tanya Ilyas yang di jawab dengan anggukan oleh Ida.


" Besuk aku tunggu di candi jam 10.00.. aku harap kamu benar-benar datang sendiri Da" lanjut Ilyas penuh harap..


" insyaallah.. besuk aku datang.. sekarang aku pulang dulu itu sudah ditunggu April" jawab Ida sambil melihat sobatnya yang sudah menunggu di dekat angkot.


Ilyas melepaskan genggaman tangannya dengan berat melihat gadis yg disukai berjalan meninggalkannya dan masuk dalam angkot.. dilihatnya Ida yang menoleh sambil melempar senyum yang membuat hatinya bergetar aneh.

__ADS_1


__ADS_2