
Seakan waktu berhenti... dengan rasa terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Gadis itu tak percaya Ilyas yang cool yang jarang ngomong bisa bicara mengungkapkan perasaannya. Ida masih menatap Ilyas seakan meminta penjelasan.. Ilyas tahu apa arti dari tatapan gadis didepannya itu.
"Da.. aku sayang sama kamu.. sebelum kita nanti berbeda sekolah aku ingin kamu tahu perasaanku" lanjutnya meyakinkan gadis pujaannya itu..
Diraih tangan gadis itu dan di genggamnya lembut penuh arti.
"Maukah kamu jadi pacarku Ida Puspita??" tanya Ilyas penuh harap gadis didepannya itu mempunyai perasaan yang sama..
"Aku mau Yas.. mau banget!!" teriak Ida tapi hanya didalam hatinya.. bibirnya tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.. dia hanya terdiam dalam pikirannya.. apalagi mengingat dia berjanji tidak akan pernah pacaran sebelum bekerja dan juga saat ini dia sedang mempersiapkan pendaftaran kesekolah perawat yang jauh di luar kota.
"Da kenapa kamu cuma diam saja..?? kamu menolak aku?" tanya Ilyas merasa heran dengan sikap diam Ida.
Ida jadi serba salah dengan pertanyaan dari Ilyas.. pikirannya berkecamuk tak karuan.. hatinya berperang dengan hebatnya... apa yang harus dijawabnya.. dia bingung sendiri.. hingga tak terasa sebutir bening terjun di pipinya tanpa sadar.
"Kamu kenapa nangis Da? apa kata kataku salah?" tanya Ilyas lagi makin heran dan merasa bersalah membuat gadis yang dia suka menangis.
__ADS_1
Dengan cepat Ida menarik tangannya dari genggaman ilyas dan menghapus air mata di pipinya.. bibirnya bergetar menahan deru deram di dadanya.. dia masih bingung.. apa yang harus dia jawab agar tidak menyakiti hati cowok yang selama ini diam diam dia sukai.. dia menunduk menghindari tatapan sendu dari Ilyas yang penuh harap.
"Da..!" sentak Ilyas pelan mulai merasa kesal di diamkan dari tadi.. dia merasa agak frustasi didiamkan oleh gadis didepannya.
"Yas.. maaf... aku tidak mau...." kata Ida bergetar menggigit bibirnya menahan air yg ingin segera meluncur di matanya.. melawan kata hati yang begitu senang mendengar kata-kata Ilyas yang harus dia pupus demi prinsipnya yang belum mau pacaran.. sakit
hatinya dengan keputusan yang keluar dari bibirnya sendiri.
Bagaikan ada suara guntur dan kilat yg bergelegar dalam otaknya... bagaikan tertusuk beribu jarum di hati cowok cool itu.. tapi dengan segenap kekuatan dia mencoba meredam emosi yg mulai bergejolak di pikiran dan hatinya.
"Kenapa..?? apa kamu sudah menyukai cowok lain? apa aku bukan tipe cowok yang kamu suka?" tanya Ilyas pelan menahan segala macam rasa kekecewaan yg melanda hati dan pikirannya.
Ada rasa bersalah dan kasihan di hati Ida melihat cowok yang biasanya cool dan tegas itu tertunduk lemah hanya karena jawabannya yang begitu mengecewakan bagi Ilyas maupun dirinya sendiri...
"Yas.. maaf.. aku menyakitimu.. maafkan aku!!" Ida beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan cowok yg masih menantikan alasan yang pasti.. terjatuh lagi butiran bening itu yang sudah tak mampu di tahannya.
Ilyas yang sadar Ida pergi.. segera bangkit dan berlari mengejarnya... ditariknya tangan gadis dengan sedikit kesal setelah mampu menusulnya hingga mereka berhadapan.. hilang sudah kesabaran Ilyas yg sedari tadi ditahannya.. dicekalnya kedua lengan Ida erat sampai gadis itu meringis..
"Sakit... Yas.. lepasin.." mohon Ida dengan masih meneteskan butiran bening dari matanya.. sambil menatap mata Ilyas yang merah menahan kekecewaan..
__ADS_1
"Jelaskan dulu apa alasan kamu menolak aku Ida Puspita.. aku tidak suka dengan jawaban yang tidak jelas seperti ini..!" kata Ilyas ketus..
"Iya.. tapi lepaskan dulu.. sakit Yas" Gadis itu memohon sampai tidak sadar dia sekarang benar\-benar menangis...
Ilyas melepaskan cekalan di lengan Ida yang menyadari gadis didepannya itu menangis.. ada rasa bersalah dihatinya menyakiti gadis yang disayanginya.. jarinya menghapus air mata di pipi gadis itu.
"Maaf.. tolong jangan nangis" kata Ilyas luluh kemarahannya melihat air mata Ida "Aku tidak akan memaksamu untuk menjelaskan.. mungkin aku memang tidak pantas untukmu.." lanjutnya pelan pasrah..
"Kita pulang saja.. " ajaknya pada gadis itu yg masih diam dengan mata yang sembab.. lalu melangkah hendak pergi.. tapi langkah itu terhenti saat tangannya ditahan. Ditolehnya Ida yg menahan tangannya dengan tatapan tak karuan...
"Maaf Yas.. " dengan susah payah dan suara bergetar Ida membuka bicara "maaf Yas bukan maksudku menyakitimu.. hu.. hu.. " pecah lagi tangis Ida.. kakinya terasa lemas lalu terduduk di rerumputan.. sudah tak peduli lagi dengan orang yg melintas dan melihatnya aneh penuh dengan penasaran.
Ilyas yang melihatnya malah jadi bingung dan makin bersalah.. lalu dia duduk didepan gadis itu dan mencoba menenangkannya.. dihapusnya air mata gadis itu dengan rasa sayang..
" Yas.. aku tidak mau memberi harapan padamu.. aku tidak mau ada ikatan diantara kita yang akan mengikatmu..." jelas gadis itu pelan di sela tangisnya.
"Sudahlah Da.. tidak usah di jelaskan asal kamu tidak nangis lagi" sahutnya masih khawatir.
"Yas.. aku akan pergi jauh.. aku sudah mengambil beasiswa di kota Y.. aku tidak pasti kapan kembali.. aku tidak mau mengikatmu dan terikat perasaan.. aku ingin belajar dulu.." jelas Ida pelan dan makin menunduk menenangkan hatinya yang masih meronta\-ronta menahan kekecewaan pada dirinya sendiri.
__ADS_1