
"Komandan.. dia tentara?" tanya dokter Ridwan
"Belum pak.. dia masih taruna di Akabri" jawab Ida.
"Baiklah.. kita tunggu sampai dia libur.. Angga kamu bawa Elena kesini!" dokter Ridwan menatap Angga.
"Siap pa!" Angga tersenyum lega..
****
Waktu terus berlalu dan hari terus berganti.. Angga sudah mengenalkan Elena pada kedua orangtuanya dan merekapun sebentar lagi akan bertunangan.. sedang Ida sudah tenang kembali tanpa rasa canggung dan sungkan pada dokter Ridwan dan Bu Yulia..
Hubungan Ida dan Angga juga makin akrab sebagai saudara.. Ida masih tinggal dan bekerja dengan dokter Ridwan yang sudah pensiun sekarang hanya fokus di kliniknya..
Ditempat lain Ilyas semakin bersemangat lagi setelah mendapat kabar dari dokter Elena kalau dia dan Angga akan bertunangan.. dan selalu mendapatkan titipan salam dari Ida. Meskipun mereka tidak berhubungan secara langsung..
****
Waktu terus saja berjalan.. hari demi hari berlalu dan tak terasa tahunpun berganti. Ida terus menjalani hari-hari dengan penuh semangat dan kegigihan mewujudkan cita-cita.. begitu juga dengan Ilyas di tempat lain begitu semangat agar lulus dengan nilai terbaik..
Angga sudah menikah dengan Elena.. hidup bahagia tinggal bersama dengan orang tuanya dan juga Ida yang masih di sana. Beberapa bulan lagi dia akan wisuda dan rencana mencari kerja di kampung halamannya agar dekat dengan orang-orang yang disayanginya..
****
Hari yang dinanti tiba Ida dan Ilyas telah lulus.
Ida berpamitan kepada keluarga dokter Ridwan mau pulang dan mencari pekerjaan yang dekat dengan orang tuanya.. karena sudah sekian lama dia pergi jauh dari orangtuanya.. kini saatnya dia kembali pulang sebelum nantinya akan di bawa oleh suaminya kelak.
Dengan berat hati keluarga dokter Ridwan melepasnya.. terutama Bu Yulia yang begitu menyayangi Ida..
"Kamu tega ninggalin ibu Da?" Bu Yulia masih memeluk erat Ida.
"Ibu tenang saja.. Ida pasti sering kesini kok.. nengokin ibu dan bapak.. juga nunggu calon ponakan Ida" kata Ida sambil tersenyum
"Ma.. besuk kalau mama kangen Ida kita antar kerumahnya.. iya kan mas?" Elena ikut menenangkan ibu mertuanya.
"Iya ma.. besuk Angga dan Elena anter kalau mama kangen Ida.." Angga menyambung ucapan sang istri.
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.. bapaknya ida, pak Ilham sudah datang menjemput anaknya..
"Assalamualaikum.." sapa pak Ilham.
"Waallaikum salam.."Jawab mereka hampir serempak.
Mereka berbincang sebentar dan akhirnya pak Ilham dan Ida berpamitan mohon diri. Dalam perjalanan pulang Ida bercerita banyak pada bapaknya dan juga keinginan untuk bekerja di rumah sakit tentara.. bapaknya hanya bisa mendukung keinginan anaknya..
__ADS_1
Dihati Ida tujuan kerja di rumah sakit tentara agar bisa dekat dengan Ilyas.. dalam hati dia berdoa agar bisa selalu bersama dengan orang yang dia cintai..
****
Demikian juga Ilyas yang sekarang sudah lulus dan pangkatnya sekarang Serda tapi mau tidak mau dia harus ditugaskan untuk pertama kalinya di daerah terpencil bagian timur.. yang begitu jauh dari tempat asalnya dan sekali lagi harus berpisah jauh dari kekasih hatinya dan entah akan berapa lama lagi mereka bisa dipertemukan kembali.
Tapi untuk saat ini keraguan akan kesetiaan Ida kembali memenuhi hati dan pikirannya. Karena jarak yang begitu jauh dan tanpa ada sedikitpun berhubungan.. akan berapa tahun dia ditugaskan disana? Ilyas sendiri tidak tahu..
Dua hari lagi dia akan pergi jauh.. satu hari diberikan waktu untuk pulang dan berpamitan dengan keluarga besuk siang sudah harus kembali untuk persiapan..
Hari ini Ilyas pulang kerumahnya bertemu dengan keluarga dan berpamitan.. disana ada ibu, ayah, kakak laki-lakinya yang sudah berkeluarga juga adik perempuannya yang sudah menjadi gadis cantik..
Saat sarapan pagi mereka berkumpul di meja makan..
"Yah.. buk.. Ilyas minta doa restunya.. lusa Ilyas pertama kali akan bertugas di daerah P dan tidak tahu akan berapa lama di sana.."
"Nak.. ayah dan ibu selalu mendoakan dan mendukungmu.. disana berjuanglah dan hati-hati.. daerah sana rawan akan sengketa.." ujar ayahnya.
"ilyas pasti ingat pesen ayah.. " jawab Ilyas singkat.
Ibunya hanya diam.. sebenarnya dalam hati berat melepaskan putranya ke daerah pedalaman yang rawan itu.. tapi demi tugas dan untuk negara dia tetap harus merelakan.
Siang harinya Ilyas berencana pergi kerumah Sigit sahabatnya di SMP yang rumahnya tidak begitu jauh.. dia mau tanya alamat Ida.. mungkin Sigit tahu dari Fida.
"Waallaikum salam.."sahut suara dari dalam rumah.. itu suara ibunya Sigit yang terlihat begitu membuka pintu..
"Bu.." Ilyas menyalami ibu sahabatnya yang dulu begitu akrab dengannya..
"Ilyas.. apa kabarmu nak? sekarang sudah jadi TNI ya?" sambut wanita setengah baya itu dengan senyum ramah..
"Alhamdulillah Bu.. Sigit ada Bu?"
"Sigit kerja nak.. dia buka toko di didepan pasar dengan Wulan, istrinya.." sahut ibunya..
"Jadi Sigit sudah nikah Bu?" Ilyas terlihat kaget.. kok bukan Fida.. apa mereka dulu putus..
"Iya nak.. dah setahunan dan sekarang dah mau punya anak.."kata ibunya Sigit terlihat bahagia..
"Alhamdulillah.. kalau begitu saya pamit mau cari Sigit dulu ya Bu?"
Ilyas berpamitan dan segera melaju motor kesayangannya menuju ke pasar dan mencari deretan kios yang di maksud ibunya Sigit..
Ilyas mencari satu persatu.. sampai di toko bahan kue dia berhenti.. dilihatnya seorang wanita yang terlihat sedang mengandung melayani pembeli..
"Mungkin itu istrinya Sigit.." gumamnya pelan..
__ADS_1
Ilyas mendekat masuk dalam kios.. wanita itu menatapnya dan tersenyum ramah..
"Mau cari apa mas?"
"Mau cari Sigit ada mbak?" jawab Ilyas singkat.
"Ada apa cari suami saya mas?" wanita itu mulai khawatir melihat perawakan Ilyas yang tinggi besar seperti kita debt colector..
"Saya.."
Belum sempat Ilyas menjawab dia rasakan ada pukulan di bahunya.. sontak dia menoleh kebelakang dan di dapatinya sosok Sigit yang tersenyum lebar..
"Ilyas..!"
Kedua sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu berpelukan menghilangkan rasa rindunya.. lalu mereka duduk di angkringan depan kios..
"Wah pak tentara.. apa kabarnya?" Sigit menyapa sahabatnya dengan tertawa kecil..
"Aku baik Git.. kamu nikah nggak ngundang aku..!" Ilyas menonjok lengan Sigit.
"Kamu kan di asrama.. mana bisa Dateng ke nikahanku.." seloroh Sigit.
"Kamu putus dengan Fida ya?" tanya Ilyas datar.
"Itu sudah lama banget.. sejak masih di SMA.. karena kurang komunikasi jadi kita jalan masing-masing. Kamu sendiri gimana dah punya pacar belum.. masa jomblo terus" goda Sigit..
"Git.. sebenarnya sejak lulus SMP dulu aku dah punya pacar sampai sekarang.."
"Oo ya..? siapa? aku kenal nggak?" Sigit terkejut gembira..
"Ida" jawab Ilyas singkat yang sukses membuat Sigit membulatkan matanya tak percaya..
"Apa!!? nggak salah ?!" Sigit makin penasaran.. "Gimana bisa kalian jalan bareng.. kalian sejak lulus SMP hidup di asrama masing-masing.. berjauhan lagi,gimana kalian bertemu? kapan kalian jadian?" rasa penasaran Sigit menjadi.
"Panjang ceritanya.. dan kami bertemu secara kebetulan dan sampai sekarang kami tidak pernah ada konteks.. tapi komitmen yang mampu membuat kami bertahan.."
"Wah hebat juga cerita kalian.. meskipun berjauhan bahkan tak ada komunikasi tetap bisa bertahan.. salut bener.. perlu aku acungi jempol" Sigit mengangkat kedua jempol tangannya.
Ilyas cuma tersenyum tipis melihat tingkah sahabatnya yang masih aja kocak.. meskipun sudah mau menjadi seorang ayah.
"Aku yang harusnya salut sama kamu Git, top cer bener langsung gas aja" Ilyas menggoda sambil melirik istri Sigit yang perutnya besar.
Sigit hanya tertawa renyah..
"Kamu kapan nusulnya Yas? ntar kalau punya anak kita jodohkan..ha..ha.." Sigit masih tertawa renyah.. Ilyas hanya senyum menanggapi.
__ADS_1