
Setelah merasa sudah puas dengan hasil pangkasan pada tanaman dikebun.. Angga istirahat mencuci tangan terlebih dahulu dan mendekati Ida yang sudah membuatkan minuman untuk dirinya.. lalu duduk disebelah gadis itu.. tangannya meraih segelas es teh di bangku kecil di samping kebun.. lalu meminumnya.. terasa segar di tenggorokan..
"Nggak ada acara hari ini?" tanya Angga datar..
"Nggak mas.. tapi sebenarnya pengen pulang kangen ibu bapak dan adikku.. tapi besuk masuk kuliah.. capek.." Ida berkata sambil terus menatap kedepan..
"Ya udah.. siap-siaplah!" perintah Angga
"Mau kemana mas?"
"Katanya mau pulang.. aku anterin!" jawab Angga singkat.. tapi Ida masih aja bengong tidak percaya dengan perkataan Angga..
"kok malah bengong.. mau tidak??" seru Angga menyadarkan Ida..
"Ehh.. ya.. mau-mau mas!" seru Ida agak terkejut..
"cepetan mumpung baru jam 9.. aku mandi dulu" kata Angga seraya berjalan kedalam rumah..
"iya mas ."
Ida segera bergegas membereskan gelas dan piring.. lalu masuk kedalam kamar dan bersiap siap untuk pulang.. bahagia rasa hati gadis itu akan bertemu keluarga setelah hampir dua bulan tidak pulang.. karena kesibukan dikampus dan di klinik..
Setelah siap Ida mencari ibu Yulia dan dokter Ridwan yang ada di ruang keluarga.. disana beliau berdua sedang asyik menikmati cemilan sambil nonton tv..
"Buk.. pak.. Ida pamit mau pulang ya.. udah kangen sama rumah" pamit Ida begitu berada di samping kedua orang yang begitu dihormatinya..
"Lho katanya kemarin nggak mau pulang.. capek di jalan" timpal Bu Yulia heran
"Iya buk.. kalau nyetir motor sendiri bolak balik capek.. tapi ada yang mau nganterin jadi nggak begitu capek" kilah Ida menjelaskan sambil tersenyum
"Kamu mau bareng temen pulangnya?" tanya Bu Yulia lagi..
Belum sempat Ida menjawab ada suara bariton dari arah belakang mereka
"Aku yang anter mam"
Mereka serempak menoleh.. terlihat Angga sudah rapi , ganteng dan gagah dengan pakai t-shirt putih dengan kemeja biru tua dan celana jeans panjang.. Ida sebagai cewek normal kagum melihatnya meskipun hanya dalam hati.. begitu juga Angga yang melihat Ida dengan t-shirt warna biru muda dan jilbab senada dengan jeans panjang.. kayak kompak ya dua orang itu..hhhh
Ibu Yulia tersenyum lalu berdiri dari duduknya..
"Bagus deh.. sekalian kalian jalan-jalan mumpung libur.. lagian kamu selama pulang nggak pernah ajak Ida pergi.."
"Ma.. kasih Ida uang saku.. gajinya 2 bulan belum di minta" ujar dokter Ridwan.
"Iya pa.., bentar sayang" ibu Yulia pergi kedalam kamar.
Memang Ida tidak selalu meminta gajinya tiap bulan.. hanya pas ada keperluan dan kehabisan uang saja dia minta.. lumayan gajinya bekerja di klinik sebulan sampai 3jt.. bisa buat bayar semesteran dan buat transport.. sebagian di tabung..
Bu Yulia keluar dengan amplop coklat ditangannya.. lalu menyodorkan amplop itu pada Ida..
__ADS_1
"Sayang.. ini gajimu dua bulan.. dan ini tolong nanti beli oleh-oleh buat adikmu ya.." kata Bu Yulia sambil memberikan beberapa lembar uang limapuluhan..
"Aduh Bu.. nggak usah.. pakai uang saya aja" Ida berusaha menolak uang dari Bu Yulia..
"Ra ilok..(nggak boleh) kalau nolak niat baik orang itu sayang" paksa Bu Yulia..
"Udah Da.. terima saja dari ibumu itu.. nanti dia ngambek lhoo.." ujar dokter Ridwan datar..
"Udah terima aja uang mama.. keburu siang nih..! mau jadi pergi nggak" kata Angga kesel
"Iya mas.." dengan terpaksa Ida menerima uang pemberian Bu Yulia yang akhirnya tersenyum puas.. "makasih buk.. pak?"
"Sama sama sayang" jawab Bu Yulia dengan senyuman..
Setelah menyalami bu Yulia dan dokter Ridwan keduanya keluar rumah menuju garasi mobil..
"Pa.. akhirnya mereka makin dekat" ujar Bu Yulia dengan nada yang gembira..
"Ya syukur deh ma.." dokter Ridwan menjawab istrinya datar
"Kok papa biasa saja sih.. papa nggak seneng?" Bu Yulia agak sewot melihat expresi suaminya yang datar datar saja menanggapinya..
"papa seneng kok" ujar dokter Ridwan dengan senyum karena sudah melihat wajah sang istri yang cemberut sambil memeluknya
"Tapi ingat ma.. jangan terlalu berharap.. berdoa saja"
"Amin.. tapi kalau memang Allah berkata lain jangan kecewa ya ma.."
"iya pa.. "
*****
Di dalam mobil mereka berdua saling diam.. Angga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.. membelah jalan di tengah kota menuju jalan keluar kota.. tak ada percakapan di antara mereka.. Ida sibuk dengan hatinya yang penuh dengan pertanyaan.. "kok Angga mau nganterin dia pulang? tumben.."
"Mas mampir beli oleh-oleh buat Revan ya?"
"Revan? siapa dia?" Angga bertanya dengan nada datar.
"Revan adikku mas"
"Ohh.. ok.. depan ada market kita mampir sana saja"
"Iya mas.."
Angga memarkirkan mobilnya didepan market.. lalu mereka keluar mobil dan masuk buat belanja.. Ida membeli jajanan kesukaan Revan dan minuman buat di mobil.. Angga mengikuti Ida dibelakang membawakan keranjang belanja.. merasa sudah cukup mereka pergi ke kasir..
Kasir menghitung semua belanjaan dan mengatakan nominalnya..
"154ribu mbak.."
__ADS_1
"Ok mbak" Ida mengambil dompetnya.. belum sempat mengeluarkan uang..
Angga menyodorkan kartu kredit ke kasir..
"Pakai ini saja mbak.."
"Nggak usah mas.. tadi ibu dah ngasih uang buat jajan" Ida berusaha menolak pembayaran Angga..
"Dah biarin aja.. dan kamu diem!" perintah Angga pada Ida yang mau membantah lagi..
"Silahkan password-nya mas.." kata mbak kasir itu sambil menyodorkan mesin link
Angga mengetik password.. setelah selesai mereka kembali masuk mobil dan mulai melanjutkan perjalanan..
"Makasih ya mas belanjaannya.. ini minum buat mas.." kata Ida seraya menyodorkan botol minuman pada Angga..
"Sudah santai aja.." jawab Angga sambil menerima minuman dari tangan Ida sambil terus menyetir..
Setelah sekitar satu jam perjalanan mereka sampai kerumah Ida.. mobil berhenti di depan rumah Ida.. dari dalam rumah ibunya heran melihat ada mobil mewah masuk ke halaman.. kan biasanya hanya mobil pick up yang masuk ke rumahnya..
"Siapa ya.." ibunya Ida keluar rumah menyambut tamu yang datang.. lalu senyumnya merekah melihat putrinya turun dari mobil.. lalu dilihatnya juga seorang pemuda ganteng bersamanya..
"Ibuuuu... Ida kangen!!" seru Ida seraya menghambur ke pelukan sang ibu..
Ibunya menyambut kedatangannya dengan bahagia.."Anak gadis ibu pulang juga.."
balas sang ibu sambil mengecup kening putrinya..
"Dia siapa.. tidak dikenalkan sama ibu..?"
"Oh iya.. buk dia mas Angga putra dokter Ridwan yang baru 3 bulan pulang dari luar negeri.." Ida melepaskan pelukannya dan mengenalkan Angga pada ibunya..
"Angga Bu.." Angga mencium punggung tangan ibunya Ida dengan sopan..
"Mari masuk nak.. begini keadaan rumah kami.. berantakan.." ibu Ida mengajak masuk mereka berdua.. "Disini santai aja.. anggep rumah sendiri.. biarpun nggak sebagus rumah nak Angga"
"Sama saja buk.. yang penting itu nyamannya" ujar Angga sambil tersenyum..
"Biar ibu buatkan minum dulu.. istirahatlah"
"Makasih Bu.. malah ngrepoti" kata Angga sungkan
Ida dan ibunya masuk kedapur membuat minuman.. tak berapa lama kemudian Ida kembali membawa dua gelas teh manis panas.. dan ternyata bapaknya dan adiknya sudah duduk bersama Angga..
"Eh bapak dan Revan sudah pulang?" Ida meletakkan gelas di meja lalu mencium punggung tangan bapaknya.. dan mencium pipi adiknya..
"Bagaimana kabarmu nduk?" tanya bapak..
"Alhamdulillah seperti yang bapak lihat.. seger buger.." jawab Ida sambil tersenyum..
__ADS_1