
"Perlu bantuan saya Bu?" Ida menawarkan diri.. wanita itu tersenyum melihat gadis itu..
"Nggak usah.. kamu pasti capek seharian beraktivitas.. istirahatlah" katanya lembut.. "Angga mana?"
"Mas Angga masih di..." belum selesai Ida bicara suara bariton memotongnya..
"Aku disini mam!"
Sang ibu tersenyum melihat putra bungsunya yang berjalan mendekatinya..
"Kamu mau makan sayang?"
"Iya mam aku agak lapar.. " Sedikit manja pemuda itu menjawab ibunya.."Kamu.. buatkan aku makanan!!"
Ida yang masih berdiri terkejut dengan perintah pemuda itu.."aku?" gadis itu menunjuk hidungnya sendiri..
"Emangnya disini ada yang lain apa?" suara ketus dari pemuda itu sedikit membuat Ida kesel.. "cepetan!" bentaknya lagi..
"Iya.. iya.." dengan kesal Ida melangkah ke dapur dan membuka kulkas.. lalu mulai membuat makanan untuk bos mudanya itu..
"Angga nggak boleh begitu dong.. kalau mau nyuruh itu yg halus dan biasakan dengan kata tolong!" ibunya memarahi Angga yang ketus sama Ida..
"Biarin aja deh mam.. " sahut Angga cuek
"Kasihan Ida dia juga capek.. entah dah makan apa belum anak itu.. biarama bantu dia" ibu Yulia beranjak dari duduknya tapi di cegah Angga..
"Dah mam.. mama istirahat aja.. biar Ida sendiri yang masak.. mama pasti capek"
Angga menuntun mamanya ke kamarnya dan menyuruhnya masuk..
Dia sendiri berjalan ke meja makan memperhatikan gadis yang sedang sibuk berkutat dengan alat masaknya..
Ida membuat mi Jawa yang mudah dan cepat dengan bahan seadanya.. setelah matang dia sajikan mi itu dalam mangkuk dan meletakkan di depan dokter muda galak itu..
"Ini mas dah matang.. saya permisi dulu"
Ida berjalan mau ke kamar.. tapi tangannya di cegah membuat langkahnya terhenti..
__ADS_1
"Temani aku makan!" pemuda itu menatap Ida yang menoleh kearahnya.."kamu juga belum makan kan?"
"Tumben suaranya Alus" batin Ida dalam hati
Ida hanya mengangguk dan mengambil sisa mi Jawa yang masih ada di wajan.. lalu duduk di depan Angga.
Mereka makan tanpa suara.. hanya suara dentingan sendok dan mangkuk yang terdengar... setelah selesai makan Ida membersihkan semua peralatan.. dilihatnya dokter muda itu masih duduk ditempat semula sambil memainkan ponselnya dan kadang bibirnya terlihat tersenyum..
"maaf mas saya ke kamar dulu?" pamit Ida dan pemuda itu hanya mengangguk..
Setelah membersihkan diri gadis itu merebahkan tubuhnya dan seperti biasa.. diambilnya jam tangan Ilyas dan ditaruh di samping bantalnya..
"malam Yas.. hari ini aku kesel banget sama Angga.. dia tu aneh.. kadang dingin.. kadang galak bikin kesel deh.. tapi kadang juga perhatian.. Yas.. apakah kamu dah tidur sekarang... aku kangen.. kapan lagi kita akan bertemu?"
****
Ilyas yang sekarang masih menjadi koptar dalam tahap pendidikan pertama di Akabri harus tetap melaksanakan kedisiplinan yang tinggi di bawah pengawasan TNI.
Masih harus menjalani beberapa tahun lagi untuk bisa lulus dan menjadi seorang prajurit tangguh di TNI.. masih panjang jalan yang harus ditempuh..
Tapi tidak melunturkan semangatnya yang tetap harus di jalani sampai tercapai cita-citanya dan segera mendapatkan pangkat letnan dua.. akankah dia bermimpi.
Tapi malam ini dia merasa sangat merindukan gadis itu.. sudah hampir seminggu karena letih dia langsung saja tertidur tanpa melihat foto gadis kesayangannya..
"Maaf sayang.. aku seminggu ini sangat sibuk dan terlalu capek sampai tidak melihatmu.. aku sampai lupa kangen sama kamu.. maafkan aku sayang.. apa kabarmu disana???" gumamnya sambil menatap foto gadis itu..
****
Ida terbangun karena suara adzan subuh dan segera melakukan kegiatan rutinnya setiap pagi sebelum berangkat ke kampus..
Setelah menyiapkan sarapan di meja dia bersiap-siap untuk berangkat ke kampus..
setelah pamit pada dokter Ridwan dan ibu Yulia dia menyetater motor matic kesayangannya dan melaju membelah jalanan kota.
Di rumah dokter Ridwan dan keluarga sedang sarapan..
"Sudah hampir sebulan kamu pulang.. gimana pendapatmu tentang Ida? aku lihat kalian makin dekat aja?" Bu Yulia menatap putra bungsunya yang masih asyik makan.
__ADS_1
"Dia baik dan anaknya asyik" jawab Angga santai tanpa menghentikan aksi makannya..
"Cuma itu?" tanya mamanya lagi..
Angga menghentikan makannya dan melihat mamanya yang masih menunggu jawaban darinya..
"maksud mama?" sambil mengernyitkan alis keatas.
"Kamu tidak menyukai dia?" Bu Yulia to the poin membuat Angga tidak mengerti..
Dokter Ridwan masih diam dan terus makan tanpa ikut campur percakapan anak dan ibu itu.
"Ya aku suka sama Ida ma.." jawab Angga singkat mengundang senyum dari mamanya.. "Dah ah.. aku berangkat ke RS dulu ma.. pa.."
Setelah menyalami kedua orangtuanya Angga berjalan keluar rumah.
"Pa.. gimana kalau rencana menjodohkan Angga dan Ida kita percepat saja.. aku ingin segera melihat anak kita menikah dengan gadis yang baik.." Bu Yulia minta pendapat dari dokter Ridwan..
"Ma nggak perlu tergesa-gesa.. biarkan mereka lebih mengenal satu sama lain.."
"Tapi pa.. kalau mereka keduluan punya pacar aku nggak jadi memiliki mantu seorang Ida yang sudah kita kenal bahkan sudah kita anggap seperti putri kita sendiri!!"
"Mama.. ingat..!! rejeki.. jodoh.. hidup dan mati itu Tuhan yang mengatur.. kita hanya bisa berencana.. jadi kalau memang Angga itu berjodoh dengan Ida tanpa kita paksakan mereka bakal bersatu juga" ujar dokter Ridwan santai..
"Tapi pa.. tak ada salahnya kita berusaha menjodohkan mereka.. setelah itu kita serahkan semua pada Alloh.. yang penting kita sudah berusaha.. lagian mereka tinggal dan bekerja sama sudah beberapa bulan dan juga makin akrab kok.." Bu Yulia tetap membujuk suaminya itu..
"Iya.. iya.. nanti kalau mereka dah istirahat kita bicara pada mereka.. pas libur saja biar santai" akhirnya dokter Ridwan nyerah juga pada keinginan sang istri..
****
Saat hari Minggu tiba.. Ida tetap saja bangun pagi meskipun hari ini dia libur kuliah dan juga klinik tutup.. gadis itu tetap mengerjakan tugas rumah seperti biasanya.. apalagi kalau Minggu mbok Tinah juga libur jadi gadis itu tambah pekerjaan rumahnya.. tapi dia tetap bersemangat mengerjakannya.. mengingat kebaikan dari keluarga dokter Ridwan yang telah memberikan tumpangan dan makan yang sangat layak secara gratis padanya..
Setelah semua pekerjaan selesai dengan di bantu Angga yang membersihkan area rumah Ida membuatkan es teh dan juga camilan untuk Angga lalu membawanya ke kebun belakang dimana Angga sedang bersih-bersih..
"Mas istirahat dulu.. aku buatkan minum" seru Ida pada Angga yang masih memangkas rumput.
"Sebentar Da.. nanggung"jawab cowok itu tanpa menoleh.
__ADS_1
Ida meletakkan baki yang dibawanya di atas meja di kebun belakang itu .. meskipun kebun itu tidak luas tapi terlihat indah dengan tanaman hijaunya dan ada bunga juga..