
"Ohh.." sahut Angga singkat..
"Kalau kamu sudah mengenalnya pasti tahu gadis itu begitu gigih untuk masalah pendidikan.. bapak salut padanya" lanjut dokter Ridwan.
"Rencana kamu sekarang bagaimana sayang?" tanya Bu Yulia pada putra bungsunya.
"Untuk sementara Angga mau bantu diklinik papa dulu mam.. sambil mendaftar di RSU ternama" jawab Angga tanpa menghentikan aksi makannya.
"Ide bagus itu nak.. papa setuju!!" ujar dokter Ridwan dengan senyum.. "Mulai nanti siang kamu bantu di klinik.. kebetulan papa ada jadwal operasi di rumah sakit!"
"Siap pa!" seru Angga bersemangat.
"Nanti Ida akan membantumu diruang pemeriksaan.. anak itu sangat teliti dan cekatan.. tak salah papa memilih dia jadi asisten..!" dokter Ridwan merasa bangga dengan anak didiknya itu.
Angga mengangguk mengerti.. ada rasa penasaran pada gadis yang di banggakan oleh orangtuanya itu.. apa benar gadis itu seperti yang dikatakan mereka.. seperti cerita kedua orang tuanya saat dia masih di luar negeri.. menarik juga.. meskipun kesan pertama bertemu dengan gadis itu sangat mengesalkan..
****
Ida hampir saja terlambat mengikuti kuis karena tadi agak macet.. untung saja dia bisa cari jalan tikus dengan motor maticnya.. coba kalau dia naik bus.. bisa jadi ndak bisa ikutan kuis pagi ini dan otomatis nilainya bakal berkurang dari target.. dan itu bisa mempengaruhi beasiswanya..
Ida tidak mau menyusahkan kedua orang tuanya dengan biaya kuliahnya.. meski mungkin mereka mampu.. tapi Ida mau buktikan dia mampu dengan usaha sendiri..
"Alhamdulillah.. untung saja belum telat" rasa syukur Ida terucap begitu pantatnya menempel pada kursinya.
"Tumben banget sih kamu hampir telat Da?" tanya Wenda yang menjadi teman baiknya setelah berkuliah di Akper..
Sedang Alisa sahabatnya memilih untuk bekerja di puskesmas di kampung halamannya. Sedangkan Edo meneruskan ke fakultas kedokteran di universitas ternama di kota ini juga.
"Agak macet Wen.. tadi aku agak kesiangan membuat sarapan gara2 cowok galak itu" jelas Ida setengah berbisik..
"Siapa?" tanya Wenda nggak ngerti.
"Anak dari dokter Ridwan.. tempatku bekerja"
"Oooo.." Wenda mengerti sambil menganggukkan kepalanya."Ganteng nggak?" tanyanya sambil tersenyum menggerakkan kedua alisnya..
" Duh.. Wen.. kamu tu kalau dah ngomong soal cowok semangat banget.. ingat sama Thomas!!" goda Ida kemudian mengingatkan pacar dari sahabatnya itu..
Bibir Wenda manyun mengerucut di goda Ida..
"belajarlah setia sayang..!!" lanjut Ida dengan berbisik.
"Iya.. iya..." jawabnya kesel ..
__ADS_1
Ida hanya tersenyum melihat reaksi dari sahabatnya itu..
****
Sepulang dari kuliah.. Ida menuju rumah lebih dulu.. baru jam 11.30. Gadis itu memberi salam dan di jawab oleh seorang pemuda dari ruang tengah
"assalamualaikum.." sapa Ida sambil melangkah masuk rumah.
"Waallaikum salam" balasan singkat dari ruang tengah.
Ida tahu itu suara Angga yang ada di sana tanpa menoleh kearahnya.. Ida pun terdiam cuek dan terus melangkah ke kamarnya.
Diletakkan tas dan juga bukunya lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.. tubuhnya terasa letih.. tanpa sadar dia memejamkan matanya..
Gadis itu terkejut mendengar alarm dari ponselnya.. sudah jam 12.40. gadis itu segera bangkit dan menuju kamar mandi.. membersihkan diri lalu sholat duhur.. sehabis sholat dia mencuci baju dan membersihkan kamarnya dan bergegas siap-siap untuk ke klinik.
"Mbok.. saya ke klinik dulu" pamit gadis itu pada mbok Tinah yang terlihat sedang di dapur..
"Nggak makan dulu mbak Ida?" mbok Tinah ganti bertanya.. dengan nada medok khas Jawa.
"nanti aja mbok.. tadi baru aja makan di kampus" jelas Ida sambil tersenyum dan melangkah keluar.
****
Ilyas menyeka peluhnya yang membasahi wajahnya.. latihan hari ini begitu melelahkan.. berlari dari pagi memutari kota.. bukan jarak yang pendek.. karena dia berlari hampir 30km.. dengan senjata lengkap dan tas ransel yang di isi entah apa saja dan beratnya hampir 15 kg.. bisa bayangkan betapa berat ransel dan senjata itu??? ..dan bila ada yang tertinggal barisan pasti bakal langsung di tendang oleh sang komandan yang begitu bengis dan keras..
"Minum dulu Yas" suara seseorang yang begitu dia kenal ada di sampingnya menyodorkan air mineral pada pemuda itu..
"Makasih Zak.. " ucap Ilyas singkat
Zaki sama dengan Ilyas meneruskan di AD.. meskipun semula dia cuma ikut-ikutan Ilyas saja tapi sekarang dia bersungguh sungguh ingin lulus juga dan menjadi seorang prajurit TNI yang gagah.. dengan seragam blontengnya..
"Masih saja mikir Ida?"
"Apa aku perlu menjawab?" Ilyas balik bertanya tanpa menoleh..
"Ok.. aku mengerti" ujar Zaki sambil mengangkat kedua tangannya dan tak bertanya lagi melihat expresi sahabat dekatnya itu yang tampak kosong dengan wajah dinginnya.
Memang kharisma seorang Ida tidak akan pernah luntur dari ingatan dan hati seorang Ilyas meskipun lama tidak berjumpa.. tekat dan harapan untuk mewujudkan impiannya selalu menjadi penyemangat dalam dirinya..
hanya demi seorang Ida.
****
__ADS_1
Ida memulai pekerjaannya di klinik mulai mempersiapkan alat-alat untuk pemeriksaan dan juga keperluan dokter Ridwan untuk memeriksa pasien..
Pintu ruang pemeriksaan terbuka dan masuklah seorang pemuda yang cukup tampan dengan kumis tipisnya.. membuat Ida sedikit terkejut..
"lho kok mas Angga?? bapak kemana?" tanya Ida heran..
"Kenapa?" pemuda itu balik bertanya dengan nada dingin "kamu tidak suka aku disini?" pemuda itu langsung duduk di kursi dokter Ridwan..
" Bukan begitu mas.. cuma.." Ida jadi gugup merasa nggak nyaman dengan pertanyaan pemuda itu..
"Papa ada operasi.. jadi hari ini aku yang kerja di klinik.. dan juga aku mau liat kemampuan kamu apa seperti kata papa dan mama yang selalu memuji mu!!" tatapan pemuda itu seakan mengelimidasi Ida yang masih merasa tidak nyaman...
Tapi sudahlah.. mulai sekarang dia harus belajar terbiasa dengan atasan barunya yang terlihat dingin dan ketus itu.
Seorang perawat dari ruang pendaftaran mulai memanggil pasien.. Ida pun mulai memeriksa pasien pertama penuh dengan keramahan dan menekan hatinya yang merasa gugup diperhatikan oleh dokter muda lulusan dari luar negeri itu..
"Dasar cowok galak.. sombong.. huhhh"
Dalam hati sebenarnya dia mengumpat abis dokter muda yang begitu ketus dan dingin itu.. tapi tak berani di keluarkan..
kesibukan memeriksa pasien bisa menekan rasa kesalnya..
Dalam hati Angga mengakui kecekatan dan kepandaian Ida menangani semua pasien. Gadis itu dengan ramah dan sabar melayani semua pasien dari pasien pertama sampai pasien yang terakhir.. pantas saja kedua orangtuanya selalu memujinya.
Dokter muda itu memperlihatkan setiap gerakan gadis di depannya sebelum menyerahkan pasien-pasien itu ke tangannya
untuk diperiksa lebih lanjut... tak sadar ada senyum tipis di ujung bibirnya memperhatikan gadis itu.. selama di luar negeri papanya selalu bercerita tentang gadis itu dan sekarang dia melihat sendiri gadis itu berada di depannya.
Setelah pasien terakhir pergi Ida mulai berkemas dan merapikan ruangan itu.. di kursi dokter muda itu masih memperhatikan gadis itu dengan diam diam.
"Mas nggak mau pulang?" tanya Ida melihat Angga masih duduk santai di kursinya..
"Bentar" jawabnya datar.
"Aku duluan mas" pamit Ida keluar ruangan..
Diluar semua pegawai sudah pulang dan rolling klinik sudah dikunci dari luar oleh pak Mamat satpam klinik itu.. Ida melangkah masuk ke belakang klinik menuju rumah Dokter Ridwan.. segera masuki.. ruang keluarga masih menyala..
"assalamualaikum" sapa gadis itu..
"Waallaikum salam.. dah pulang sayang?" suara seorang wanita dari ruang keluarga menyambut salamnya..
"Sudah buk.. ibuk sendiri kok belum istirahat.. bapak belum pulang ya?" Ida balik bertanya sambil mendekat pada ibu Yulia..
__ADS_1
"Sudah.. bapak istirahat dikamar... ibu masih mengurus rapot anak anak" jawab wanita setengah baya itu yang masih terlihat cantik..
Ibu Yulia seorang guru di SMA negeri favorit di kota itu.. jadi beliau juga sibuk mengurus pekerjaannya