
Gadis itu hanya menutup wajahnya menahan agar tidak menangis keras..
Dia sama sekali tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Ilyas kembali dalam keadaan seperti ini.. tak disangka Ilyas ada di akademi ini.. haruskah dia senang atau bersedih bisa bertemu dengan Ilyas lagi..
Ya.. ada rasa senang dihatinya bisa kembali bertemu dengan orang yang dicintainya.. tapi sedih juga kenapa dengan keadaan dia kecelakaan....
Ternyata tanpa disadari Ida.. saat berlari menuju lapangan dengan barisannya..tadi tanpa disengaja Ilyas melihat Ida turun dari mobil dengan seorang pria yang membuat pikirannya jadi tidak karuan antara kesal cemburu dan marah.. hingga membuat konsentrasinya hilang dan akibatnya dia terjatuh dari ketinggian 7 meteran dan kepalanya terbentur papan panjat..
Meskipun lama tak bertemu dan hanya melihat dari jauh.. Ilyas mampu mengenali kekasih hatinya yang selama ini dia rindukan..
Dan itu tidak akan pernah salah.
Beberapa saat kemudian pintu ruang perawatan terbuka.. Angga keluar dari ruangan itu.. Ida yang melihatnya langsung berdiri dan menghabur kearah Angga..
"Mas bagaimana Ilyas.. mas.. sekarang dia sadar belum.. mas.. cepetan bilang.. hiks.. hiks!!" Ida mengguncang lengan Angga yang heran melihat gadis itu penuh dengan air mata..
"Tenang dulu!" sentak Angga tapi tak mampu membuat gadis itu terdiam dari tangisnya.
Angga memapah Ida duduk kembali..
"Kamu kenapa nangisi dia? kamu kenal sama cowok itu.. ?" Angga mulai bertanya saat melihat Ida mulai tenang..
Ida hanya mengangguk dan masih menangis..
"siapa dia Da?" Angga bertanya menyelidik
"Jangan bilang dia pacar kamu!!" Suara Angga terdengar tegas.. membuat Ida menatap wajah Angga..
"Karena cowok itu kamu menolak perjodohan kita?" tanya Angga lagi.. membuat Zaki yang mendengar jadi terkejut..
"Apa.. perjodohan..!!!" teriak Zaki menghampiri Ida.. "Da.. kamu tahu tidak kalau Ilyas itu jadi gila karena kamu.. dia mau melakukan semua ini menjadi taruna.. menjadi tentara.. dengan perjuangan yang tidak biasa.. semua dia lakukan demi kamu.. padahal dia dulu pengen jadi atlit.. tapi semua dia korbankan demi dirimu yang ingin punya pendamping seorang TNI.. apa kamu tega ninggalin dia.
haaahhh!!!" Zaki ngomel dengan kesal..
Tangis Ida semakin menjadi tak kala mendengar cerita Zaki..
"Tidak Zak.. tidak..!" suara Ida bergetar dan hanya mampu menggelengkan kepalanya..
Dia tak sangka Ilyas berkorban begitu besar untuk dirinya..
"Kamu nggak perlu teriak seperti itu pada Ida!' sentak Angga pada Zaki.. "Kamu siapa ikut campur urusan kami?"
"Aku.. aku sahabat dari cowok yang begitu mencintai Ida.. anda paham tuan.. jadi urusan sahabatku urusanku juga.." Zaki membalas dengan nada tinggi..
__ADS_1
Suasana makin tegang karena Angga dan Zaki beradu mulut.. membuat Ida merasa frustasi..
"Sudah cukup.. kumohon berhenti hiks.. hiks.." Ida berteriak dalam tangisnya.. membuat kedua pemuda itu terdiam seketika.
Pintu kembali terbuka.. terlihat Dokter Elena keluar dari dalam ruang perawatan.. dan heran melihat suasana begitu tegang dan Ida menangis.. lalu menghampiri Ida dan Angga..
"Ada apa ini? kenapa kalian bertengkar disini?"
"Dokter.. gimana Ilyas?" tanya Ida tak sabar..
"Oh.. dia sudah mendingan.. hanya belum sadar" terang dokter Elena "Kamu kenal dia?"
tanyanya sambil memandang Ida yang masih sesenggukan..
Ida hanya mengangguk..
"Dia cowok yang membuat Ida menolak perjodohan kami" ucap Angga datar..
"Ohh.. begitu.. kamu cemburu?" ucap dokter Elena menggodanya..
"Ya enggaklah.. kamu mau aku kemanain" Angga menjawab godaan dokter Elena dengan senyum..
"Kalian malah bermesraan Sich!!" sentak Ida kesal "Kalian tidak melihat aku masih menangis" rajuk Ida..
"Sudah jangan nangis lagi" Angga menenangkan Ida sambil merangkul bahunya.. "cowok kamu baik-baik saja!"
"Kamu boleh masuk melihatnya" ucap Elena kemudian..
"Boleh?" Ida memandang Elena dan Angga bergantian..
Keduanya mengangguk bersama..
"Tapi hapus dulu air matanya" Angga menyuruh Ida membersihkan wajahnya..
"Kalau mau ketemu pacar itu yang cantik"
"iya.. iya.. boleh masuk sekarang dok?" tanya Ida pada Elena..
Elena mengangguk.. Ida bergegas masuk ke dalam ruang perawatan.. didalam ruangan itu tergeletak sesosok cowok masih dengan seragam belang-belang terlihat masih menutup matanya.. ada perban membungkuk dahinya dan infus di tangannya..
Ida mendekat pelan-pelan.. ditatapnya wajah pucat yang masih terpejam itu.. kembali ada bening yang keluar dari sudut matanya..
"Yas.." suaranya bergetar sambil diusapnya pipi cowok itu..
__ADS_1
"Bangun Yas.. aku disini.. apa kamu tidak kangen sama aku.. kumohon bangunlah Yas.."
Tak ada reaksi sedikitpun.. Ilyas masih saja diam dengan mata terpejam.. Ida menggenggam tangan cowok yang begitu di cintainya itu..
"Maafin aku Yas.. demi aku kamu berkorban sampai sejauh ini.. kamu harus memendam cita-citamu hanya untukku.. aku terlalu egois.. maafin aku Yas.. kumohon bangunlah.."
Tangis Ida pecah lagi.. di sandarkan kepalanya di atas lengan kokoh Ilyas..
Karena capek menangis gadis itu tertidur di samping tempat tidur dimana Ilyas tergeletak..
Angga yang melihat dari pintu tak tega.. tapi juga tak bisa mengusiknya.. jadi di biarkan saja Ida masih bersama dengan cowoknya itu.. sedangkan Zaki dan teman-temannya sudah kembali ketempat latihan..
Elena mendekati Angga yang bersandar di pintu sambil memperhatikan Ida yang duduk tertidur di samping ranjang pasien..
"Baru kali ini aku melihat dia menangis sesedih itu.. begitu berharganya cowok itu untuk dirinya.." gumam Angga..
Ada rasa iri dihati Angga pada sosok Ilyas yang mampu membuat seorang Ida yang begitu tegar dan gigih bisa menangis sedemikian rupa..
"Kamu cemburu melihat mereka sedekat itu?" tanya Elena yang berdiri di depannya..
"Ya.. aku memang cemburu tapi bukan dengan cowok itu.. aku cemburu dengan kedekatan mereka.. cinta mereka yang begitu besar.. Apa cinta kita bisa sebesar itu?" Angga menatap mata Elena lekat..
"Apa kamu meragukan cintaku?" Elena balik bertanya
"Bukan begitu.. tapi lihat mereka sudah berpisah lama tapi tetap bisa menjaga kesetiaan tanpa ada kontak sama sekali.. tidak tahu pasti dimana mereka berada.. dan hanya Tuhan yang selalu mempertemukan mereka.. beruntung kita meskipun berjauhan tapi tetap saja bisa berhubungan.. "
Elena mulai paham maksud dari kekasihnya itu.. digenggam tangan Angga dan bersandar di di bahunya memperhatikan Ida dan Ilyas yang sama sama terpejam..
"Biarkan Ida menunggunya sampai sadar" ucap Elena yang di balas anggukan oleh Angga..
"Kita tunggu mereka di kantin saja.. sekalian membelikan makan buat Ida" ujar Angga menggandeng tangan Elena..
"lha kalau nanti sadar gimana.. aku harus memantau perkembangannya" Elena mencoba menahan Angga..
"Ida pasti tahu apa yang harus dilakukan.. dia seorang perawat handal.. dia kerja diklinik kami.. dia perawat kesayangan papa"
"Ooohhh" hanya itu yang keluar dari mulut Elena.. dan terus mengikuti langkah Angga
Mereka meninggalkan ruang perawatan pergi mencari makan sambil memberi waktu untuk Ida bersama dengan orang yang dicintainya.. begitu juga dengan mereka yang ingin berduaan setelah lama tak jumpa..
Elena baru setengah tahun kembali dan langsung bekerja di klinik Akabri karena pamannya seorang TNI yang bekerja di akademi itu jadi mudah baginya untuk masuk ke situ.. karena kebetulan dokter yang bekerja disana baru saja pensiun jadi sangat kebetulan sekali..
Hampir satu jam Ida tertidur di samping ranjang dimana Ilyas terbaring.. belum juga ada tanda-tanda Ilyas tersadar.. Ida sedikit khawatir..
__ADS_1
"Kenapa belum sadar juga Yas.." Ida berkata dengan lirih..