
Wenda menepuk jidatnya sendiri.. bingung dengan hubungan sahabatnya itu yang nggak jelas banget menurut dia..
"Aduuuuuhhhh.. Ida sayang.. saran aku mending kamu terima mas Angga itu saja dari pada nantinya kamu menyesal!!"
"Nggak bisa Wen.. selain aku belum bisa menerima hati lain tadi juga mas Angga hanya menganggap aku ini seperti adik baginya.. tidak lebih.." jelas Ida lagi..
Wenda menghempas nafasnya menyerah..
"Kalau sudah begitu ya sudah.. kalian tolak aja perjodohan itu.. beres.."
"Tidak semudah itu Wen.. aku tak tega bicara begitu sama Bu yulia yang sudah begitu baik selama ini padaku.." Ida berkata dengan sedih..
"Da sholat istikharah aja.. biar punya jalan keluar.. pasti Alloh membantu memecahkan kebingunganmu.." Wenda tiba-tiba teringat cara meminta petunjuk pada Alloh.
"Betul juga Wen.. aku akan sholat istikharah nanti sampai dapat petunjuk.." Akhirnya Ida bisa tersenyum dengan saran dari sahabatnya itu...
*****
Di rumah sakit Angga jadi kurang konsentrasi menjalani kerjanya.. dia masih bingung dengan permintaan kedua orang tuanya untuk menjodohkannya dengan Ida.. dia memang tidak memungkiri kalau gadis itu cantik , baik, pinter.. tapi dia hanya menganggap Ida rekan kerja dan adik saja tidak lebih.. karena dihatinya juga sudah ada yang mengisi.. Elena.. kekasihnya selama kuliah di luar negeri..
Elena.. gadis cantik blasteran Indo-Inggris yang jadi adik kelas di kampusnya.. yang mampu menyihirnya jadi jatuh cinta pada pandangan pertama saat ospek.. dengan susah payah dia bisa mendapatkan hati gadis itu.. dan tahun ini dia berencana melamarnya setelah gadis itu pulang ke Indonesia.. dan sekarang apakah jerih payahnya akan sia-sia kalau dia menerima perjodohan ini...
"Aku harus bicara pada Ida agar menolak perjodohan ini.." gumamnya.. "Aku nggak mungkin menyakiti Elena.. tapi aku juga tidak mau mengecewakan orang tua.. ahhh..."
Angga menjambak rambutnya sendiri.. kesal ldan frustasi perasaannya..
*****
Sore ini klinik di jaga dokter Ridwan sendiri.. sampai sore tiba Angga belum juga pulang.. Ida sudah mulai sibuk dengan pasien-pasien yang datang silih berganti.. hingga waktu tutup.. dan diapun membereskan semua peralatan yang digunakan..
Sesudah mematikan lampu dia pulang lewat pintu belakang.. terlihat ruang keluarga masih terang..tapi tak ada orang.. saat mau mematikan lampu.. tangannya ditahan seseorang..
" Mas Angga..!" dia terkejut
"Ada yang ingin aku bicarakan.. tapi tidak di sini.." ujar Angga datar dengan tatapan mata dinginnya..
"Iya mas.. tapi jangan malam ini.. besuk saja mas.. sekarang aku capek.. besuk aku ada jam kosong" jawab Ida bergetar ditatap seperti itu..
"Ok.. besuk aku ke kampusmu! sekarang tidurlah!" perintah Angga..
Ida hanya mengangguk lalu pergi ke kamarnya..
Masih ada rasa bimbang dihatinya.. dan rasa penasaran apa yang akan dibicarakan Angga besuk.. apakah akan menolak atau malah akan menerima perjodohan ini..
__ADS_1
Setelah bersih-bersih.. Ida merebahkan tubuhnya ditempat tidur.. diambilnya jam tangan Ilyas yang setiap hari setia menemani hari-harinya selama ini.
"Yas.. apa yang harus aku lakukan.. aku dijodohkan sama mas Angga.. apa aku harus menolaknya atau menerimanya.. disatu sisi aku masih mencintaimu Meskipun aku tak tahu dimana kamu sekarang.. di sisi lain aku harus membalas Budi keluarga ini.. hiks.. hiks.. aku bingung Yas.. hiks.. hiks.." dengan tersedu-sedu Ida memeluk jam tangan itu sampai terlelap..
****
Alarm membangunkan Ida dini hari.. Ida segera bergegas ke kamar mandi cuci muka dan mengambil air wudhu.. dia mau sholat istikharah dan tahajud memohon petunjuk pada Alloh..
Setelah selesai sholat hatinya merasa tenang dan damai.. lalu direbahkan lagi tubuhnya.. dan mencoba memejamkan matanya.. saat menjelang waktu subuh.. dia bermimpi bertemu dengan Ilyas..
"Ilyas.." gumam Ida..
"Iya sayang.. aku sangat mencintaimu.. jangan tinggalkan aku.. aku selalu setia menunggumu disini.." Ilyas berbicara begitu romantis seperti biasa saat bersama dirinya..
Tapi tiba-tiba dia merasa ada sebuah tangan yang menariknya menjauhi Ilyas.. dan terlihat Ilyas memanggil manggil namanya terus-menerus.. tapi dia tidak mampu melepaskan diri dari genggaman tangan itu.. sampai tiba-tiba suara adzan subuh membangunkan dirinya dari mimpinya..
"Ilyas.." sentak Ida yang terbangun dari tidurnya..
"Astaghfirullah.. hanya mimpi" gumamnya sambil mengusap mukanya..
Segera dia beranjak dan mengambil air wudhu segara sholat subuh..
Sehabis itu biasa langsung menyiapkan sarapan di dapur.. mau tidak mau dia harus selalu melakukan itu untuk membalas kebaikan dari keluarga dokter Ridwan yang sudah menampungnya dan memberikan kasih sayang seperti keluarga...
"Da aku tunggu di depan.. kita berangkat bareng" Angga memecah kesunyian.. yang membuat Bu yulia tersenyum..
"Tapi nanti pulangnya gimana mas?" tanya Ida kemudian..
"Nanti aku jemput.." jawab Angga singkat..
"Iya mas.."
Setelah selesai membereskan meja dan piring.. Ida bergegas ke kamar mengambil tas dan terus menuju di mana Angga menungguinya..
Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai dipadati kendaraan.. dan akhirnya sampai di depan kampus Ida..
"Jam berapa jam kosongmu..?" tanya Angga saat Ida mau keluar..
"Jam kedua.. sekitar jam 9 mas"
"Baiklah.. aku kerumah sakit dulu mau absen lalu minta ijin.." kata Angga datar.. "Nanti aku jemput kamu"
"Iya mas.."
__ADS_1
Ida keluar dari mobil dan terus menuju kelasnya.. karena pagi ini ada kuis lagi di jam pertama..
Terlihat Wenda berlari masuk ke kelas.. dan langsung duduk di samping Ida dengan nafas ngos-ngosan..
"Kenapa sih Wen.. kayak di kejar anjing aja!" ujar Ida sambil menyodorkan botol minumannya pada Wenda..
Wenda meminumnya dan sedikit jadi tenang.. dia sudah mengatur nafasnya..
"aku cuma takut telat.. Jan sekarang kuis.. untung aja dosen belum masuk.."
Tak berapa lama kemudian dosen masuk setelah mengucapkan salam kuis mulai di kerjakan.. para mahasiswa itu terdiam hening fokus pada kuis..
****
Waktu terus berjalan.. sekarang sudah jam 9.. jam dimana Ida janjian dengan Angga.. karena jam kosong para mahasiswa di kelas itu bubar sendiri-sendiri..
"Mau pulang Wen?" tanya Ida
"Belum.. kita jalan yuk..?" ajak Wenda antusias..
"Maaf.. aku ada janji dengan mas Angga.. lain kali aja ya.. aku duluan!" Ida bergegas keluar kelas menuju jalan raya..
Belum lama dia menunggu di depan gerbang ada sebuah mobil berhenti didepannya.. gadis itu langsung membuka pintu dan masuk kedalam.
"Kita mau kemana mas?" tanya Ida pada sang sopir yang tak lain adalah Angga..
"Nanti kamu juga tahu.. hubungi papa kalau kamu hari ini libur!" ucap Angga datar
"Memang sampai lama ya?" tanya Ida heran.. hanya mau bicara tapi kok seharian..
"Nurut aja.. bilang kamu pergi sama aku!" nada suara Angga agak kesal.. seperti hatinya yang penuh dengan perasaan yang tidak karuan..
"Iya.. iya.. nggak usah marah.." Ida mendengus ikut kesal juga agak di bentak..
"Kalau nggak mau aku marah makanya nurut..!" Angga bernada tinggi lagi..
Ida merasa kesel juga lama-lama.. dah disabarin di hormati.. masih aja galak.. uuuhhhff..
lalu gadis itu mengambil ponselnya dan menghubungi dokter Ridwan sesuai permintaan Angga..
Setelah itu dia lurus menatap kedepan.. tapi setelah sadar dia heran kenapa mobil itu menuju arah keluar kota.. mau kemana Angga mengajak dia.. hanya mau bicara kok sampai sejauh ini.. kan bisa di cafe atau di taman.. la ini keluar kota..
" Lho mas.. ini kok keluar kota..?kita mau kemana?"
__ADS_1