
"Tapi Bu Ida nggak bisa ijin.. sebentar lagi Ida ada tugas mendampingi dokter Ervan operasi.. Bu bisa kasih hpnya ke Ilyas?"
Bu Nuraini menyerahkan hp pada Ilyas..
"Hallo Yas.. ngapain kamu kerumah?"
Ilyas tersenyum sendiri..
"Aku mau melamar mu Yank?" katanya singkat..
"Yas kamu nggak malu manggil aku sayang didepan orang tuaku?" Ida tanya dengan nada ketus.
"Nggak.. kenapa malu? kamu mau kan aku lamar? bapak dan ibu menyerahkan jawaban padamu?" Ilyas langsung aja to the points..
" Yas.. apa begitu caranya ngelamar cewek lewat hp? nggak ada romantis sama sekali!" gerutu Ida di seberang sana..
"Makanya pulang!" ketus Ilyas.
"Nggak bisa Yas.. sebentar lagi aku ada operasi harus mendampingi dokter Ervan" jelas Ida.
"Dokter Ervan? kok sepertinya kamu akrab banget?" Ilyas seperti tidak suka.
"Diakan atasanku Yas.. ! nggak mungkin aku menolaknya.. ini tugas!"
Ada rasa cemburu dihati Ilyas mendengar Ida lebih memilih tugas dengan dokter atasannya.. dia langsung mematikan hp dan menyerahkan pada ibu Nuraini.
"Ini Bu hpnya.. karena sudah sore saya mau minta pamit undur diri.. "
Ilyas segera beranjak dari duduknya lalu menyalami orang tua Ida tanpa kata lagi.. hatinya kesal sekali karena Ida lebih memilih tugasnya dari pada dirinya yang sedang minta restu kepada orang tua Ida.
Orang tua Ida hanya diam tak bertanya lagi.. mereka sudah melihat reaksi wajah Ilyas yang terlihat kecewa..
"Yang sabar nak.. Ida memang keras kepala.. apapun yang dia anggap benar sudah tidak bisa lagi digoyahkan" pak Ilham menepuk bahu Ilyas..
Ilyas hanya mengangguk dan tersenyum lalu menyalami tangan keduanya.. April yang dari tadi hanya diam menonton, mengantarkan Ilyas sampai di dekat motornya.
"Yas.. kamu marah?" tanya April.
"Buat apa aku marah pril.. tugasnya lebih penting, aku hanya sedikit kecewa" ujar Ilyas sambil memakai helmnya.. "Aku pulang dulu!"
Ilyas menyetater motornya..
"Yas.. Ida kerja di RS tentara.. temui dia!" ujar April "Dan ini no hpnya"
April menyerahkan selembar kertas berisi no.hp Ida.. Ilyas menerima lalu menyimpan di sakunya.. April tahu Ilyas tidak punya no hp Ida.. karena Ida nggak mau berkomunikasi dengan Ilyas.. Ida orangnya keras kepala.. karena dia pikir kalau sering berkomunikasi mereka akan terlalu terikat dan bila salah satu tidak setia itu akan menimbulkan sakit hati dan hubungan mereka akan renggang.
__ADS_1
"Makasih pril.. nanti aku coba kesana mencarinya"
Ilyas melajukan motornya pelan, hatinya memang kecewa pada Ida.. kenapa disaat dia melamarnya malah dia tidak peduli sama sekali, padahal itu momen yang paling dinanti oleh Ilyas untuk bisa lebih dekat dan terikat dengan kekasih hatinya.. tadinya dia pikir kalau itu akan membuat Ida terkejut dan bahagia.. tapi ternyata malah sebaliknya.
****
Di rumah sakit.. Ida merasakan Ilyas marah karena tiba-tiba saja mematikan hpnya.. rasa bahagia yang tadi dirasakannya berubah jadi kekhawatiran.. Ida kenal betul tabiat Ilyas kalau marah hanya akan diam dan terasa begitu dingin.. Ida sebenarnya ingin berlari pulang dan memeluknya tapi atasannya tadi sudah memberi tugas dan tak bisa di gantikan karena Ida sekarang jadi asisten dokter Ervan setiap kali ada operasi.. dan dokter Ervan sudah merasa cocok dengan Ida karena kecekatannya.
"Suster Ida setengah jam lagi operasi dimulai.. persiapkan semuanya!" ujar suara tiba-tiba yang membuatnya kaget dan lamunannya buyar..
"Oh.. iya Dok!" Ida gugup karena terkejut.
"Kok kaget? kenapa melamun?" tanya dokter Ervan menyelidik.
"Oh .. nggak apa-apa dok!" jawab Ida singkat lalu memohon ijin untuk menyiapkan peralatan di ruang operasi.
Dibantu seorang temannya bernama suster Novi.. mereka menyiapkan ruang operasi.. ini operasi besar. Ada seorang pria yang kecelakaan dan kakinya patah dan harus dioperasi untuk memasang platina..
"Dokter Ervan sepertinya suka sama kamu Da!" kata Novi sambil tersenyum.
"Nggak mungkin.. hubungan kami hanya sebatas rekan kerja.. jangan bikin gosip!" bisik ida.
"Dia kan masih lajang.. kamu juga kan?" tanya Novi.
"Apanya yang nggak enak?" suara bariton itu membuat kedua gadis itu kaget terutama ida.
Mereka menoleh dan melihat orang yang mereka bicarakan sedang melangkah mendekati keduanya.. Ida jadi gugup takut khawatir dokter Ervan mendengar obrolan mereka berdua.
"Nggak ada dok.. ini tadi Novi ngomongin makanan di kantin" Ida menyenggol tangan Novi yang hanya tersenyum..
"Iya Dok.. tadi Ida pengen bakso tapi katanya nggak enak kalau di kantin" Novi ikut berbohong seperti Ida.
"Oo begitu.. kalau gitu nanti setelah operasi sukses kalian saya traktir bakso di tempat langganan saya.. rasanya enak sekali bikin ketagihan" janji dokter Ervan.
"Asyik.." seru kedua gadis itu hampir serempak.
Waktu telah berlalu beberapa jam.. operasi berjalan dengan lancar dan pasien sudah di kembalikan ke ruang rawat. Ada rasa lega yang dirasakan tim medis dengan kesuksesan operasi itu.
Setelah membereskan peralatan Ida dan Novi membersihkan diri lalu bergegas kembali ke tempatnya.
"Alhamdulillah.. selesai juga ya Nov?" Ida merasa lega.
"Saatnya menagih janji dokter Ervan bebs" Novi berkata dengan semangat.
"Oalah NOV.. kamu sendiri aja ya!" kata Ida datar.
__ADS_1
"Kok gitu.. masa aku pergi cuma berdua sama dokter Ervan .. malu lah" rajuk Novi.
Terlihat dokter Ervan berjalan mendekati mereka berdua dan berhenti di depan mereka.
"Gimana jadi nggak kita makan bakso.. aku yang traktir" tawar dokter Ervan.
"Jadi dong dok!" sahut Novi bersemangat.
"Maaf dok.. saya nggak bisa mau pulang saja!" tolak Ida halus dengan senyum..
terlihat ada kecewa di wajah dokter Ervan..
"Kenapa nggak jadi suster Ida?" tanya dokter Ervan kecewa.
Padahal aslinya dokter Ervan ingin mengajak Ida makan berdua tapi karena takut di tolak terpaksa dia juga mengajak Novi agar Ida mau diajak makan.. sejak pertama bertemu dengan Ida.. Ervan sudah menaruh hati.. tapi karena Ida seperti menjaga jarak jadinya Ervan agak menahan diri dan ingin mendekati secara perlahan.
"Ah Ida.. ayolah.. laper ini" rengek Novi
"Ayolah Da.. ini sebagai ucapan terima kasih buat kalian karena sudah membantu operasi tadi" bujuk Ervan..
"Tapi.." Ida masih mencoba untuk menolak..
Tapi keburu tangannya di tarik Ervan dan Novi.. jadi mau nggak mau akhirnya nurut aja.
Mereka berjalan keluar dari rumah sakit menuju parkiran.. menuju dimana mobil Ervan terparkir.
Saat mereka akan masuk ternyata ada mata yang mengawasinya.. terdengar suara hp Ida berdering dari nomer yang tidak diketahui.
Ida ijin mengangkat telfon dulu dan agak menjauh dari mereka.
"Hallo.. assalamualaikum" sapa Ida
"Waallaikum salam.. sudah selesai operasinya?" suara datar dan dingin dari seberang membuat Ida kaget..
"Ilyas.." suara Ida tertahan
"Ternyata dokternya ganteng.. pantesan sudah tidak peduli padaku" meskipun dingin dan pelan tapi mampu membuat hati Ida kaget setengah mati
"Bukan begitu Yas.. tadi aku baru keluar dari tulang operasi.. eh darimana kamu tahu kalau dokternya ganteng..?" Ida celingukan mencari sosok Ilyas di sekitarnya.. tapi suasana yang gelap membuatnya kurang cepat melihatnya.
"Sudahlah nggak perlu mencariku.. silahkan bersenang-senang" telfon di matikan.
"Yas.. tunggu.. kamu salah paham" teriak Ida meskipun telfon sudah mati.
Tak jauh dari Ida berdiri terdengar suara motor di stater.. Ida langsung menoleh dan terlihat sosok gagah ada di atas motor itu.. Ida begitu mengenal sosok itu.. sebelum motor jauh Ida berlari mendekatinya dan menghadang agar dia nggak pergi.
__ADS_1