
Ida bergegas kedapur dan menyiapkan bahan yang akan dimasak.. dengan cekatan tangan itu mengolah bahan- bahan menjadi masakan yang lezat.. tanpa disadari ternyata Angga memperhatikan dan menungguinya di meja makan..
"Akhirnya jadi juga.." gumamnya dengan tersenyum.. lalu menaruhnya di piring...
Saat berbalik mau menaruhnya di meja makan gadis itu terkejut melihat Angga menungguinya..
"Mas dah disini lama?" tanya Ida gugup..
"Iya.. aku dah lapar.." ujarnya datar
"Temani aku makan" pintanya lagi..
Ida kemudian menyiapkan dua piring buat dia dan Angga.. melayani Angga dengan mengambilkan makanan di piringnya..
Mereka makan dengan suasana hening.. ada rasa gugup di hati Ida setiap berdua dengan Angga.. dia sendiri tidak tahu apa artinya itu.. ada apa dengan hatinya.. tiap kali bersama Angga ada perasaan tak karuan.. apakah itu tanda ada yang lain dihatinya selain Ilyas.. Ida sendiri bingung..
Setelah selesai makan Ida membersihkan meja dan piring.. dilihatnya Angga masih asyik duduk di sana dengan ponselnya dan sesekali tersenyum.. kadang ada rasa penasaran chatting dengan siapa yang membuat cowok itu tersenyum sendiri.. tapi Ida tidak mau ikut campur dengan urusan pribadi atasannya itu.
"Makasih buat hari ini ya mas.. Ida mau istirahat dulu.." kata Ida sambil berdiri di sampingnya..
"Santai aja.. aku juga mau tidur.." Angga berdiri dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.
Direbahkan tubuh Ida dikasur empuknya.. diambilnya jam tangan pemberian Ilyas dan menaruhnya di samping bantalnya..
"Yas.. hari ini aku bahagia bisa melihat keluargaku diantar mas Angga.. Dia orangnya biarpun galak dan nyebelin, dingin.. tapi baik juga.. kadang rasanya ada yang mengisi hatiku saat bersama dengannya.. akupun tidak tahu itu perasaan kagum atau suka.. tapi bukan maksudku untuk menduakan cintamu..
apa mungkin karena jarak kita berjauhan dan tanpa ada hubungan.."
Ida terlelap dalam kegelisahannya..
****
ILYAS..
Seharian sudah bertempur dengan kegiatan di Akabri membuat tubuhnya terlalu letih.. apalagi tahun ini fokus dengan kegiatan fisik sebagai persiapan untuk naik ke tingkat 3..
matanya dah tak bisa diajak kompromi lagi.. dilihatnya Zaki sudah terlelap menuju alam mimpinya yang entah di mana..
Ditatapnya foto Ida dalam dompetnya.. ada kerinduan terpancar dari sinar matanya.. di kecup foto itu dengan mesranya..
"Sayang.. sudah tidurkah kamu malam ini.. aku capek banget.. andaikan kamu di sini pasti capekku hilang.. Yank aku kangen banget sama kamu.. apa kamu juga kangen aku.. apa kamu disana masih menjaga hatimu untukku.. atau sudah ada yang menggantikan aku dihatimu.. perasaanku saat ini tidak tenang Yank.. aku ingin sekali bertemu denganmu.. tapi tak bisa.. aku tidak tahu dimana kamu..."
Setiap malam hanya itu yang selalu dilakukan Ilyas sebelum tidur.. ya.. jadi bucin tiap tidur.. tapi begitu bangun jadi cowok dingin dan tegas...
Tiap kali ada gadis yang menyukai dirinya pun terpaksa harus mengundurkan diri sebelum maju karena sikap dinginnya yang bagai gunung es.. hanya untuk menjaga satu nama di hatinya..
__ADS_1
*****
Pagi tiba.. setelah menyelesaikan tugas buat sarapan Ida mandi dan bersiap mau ke kampus..
Saat keluar kamar keluarga dokter Ridwan sudah duduk bersiap sarapan..
"Ayo nak sarapan dulu" ujar Bu Yulia..
"Iya buk " Ida pun duduk di samping Angga..
"Setelah sarapan jangan pergi dulu kalian ada yang ingin kami bicarakan" dokter Ridwan meminta waktu Ida dan Angga.
"iya pa" jawab Angga singkat sedang Ida hanya mengangguk..
Setelah selesai sarapan dan membersihkan meja dan piring.. Ida bergabung dengan keluarga dokter Ridwan di ruang keluarga.. lalu duduk di sebelah Angga..
"Begini.. ada yang ingin papa dan mama bicarakan" Dokter Ridwan memulai pembicaraan..
Yang lain mendengar dengan penasaran terutama Angga dan Ida..
"Seperti masalah yang penting pa?" tanya Angga penasaran..
"Sebenarnya tidak begitu penting.. tapi karena mamamu mendesak terus jadi papa nggak bisa menunggu lama lagi.."
"Tu kan mamamu nggak sabar.." dokter Ridwan menggoda sang istri dengan senyum
" Begini Angga.. Ida.. kalian sudah besar.. dan juga sudah saling mengenal satu sama lain.. dan beberapa tahun ini papa lihat kalian makin dekat.." dokter Ridwan berhenti mengambil nafas sambil memandang kedua anak muda didepannya itu..
"Jadi maksud mama dan papa ingin menjodohkan kalian berdua.. "
"Apa..!!" seru keduanya kaget..
"Tapi pa.. Angga belum mau menikah.. Angga ingin bekerja dulu.." Angga berusaha menolak dengan halus..
Sedangkan Ida hanya terdiam bingung.. apa yang harus dilakukan.. di satu sisi ada Ilyas dan disisi lainnya tidak mampu menolak keinginan kedua orang yang sudah dianggap sebagai orang tua sendiri.. ingin membalas kebaikan mereka.. tapi juga belum siap untuk meninggalkan Ilyas..
"Tidak usah terburu-buru nak.. kalian diskusikan dulu.. "kata Bu yulia
"Ma.. tapi Angga hanya menganggap Ida sebagai adik saja.. tidak lebih.." Angga masih saja menolak..
"perasaan bisa tumbuh setelah kalian bersama.." Bu Yulia masih saja berusaha.
Sedangkan Ida masih terdiam seribu bahasa tak mampu mengeluarkan suara.. pikiran dan hatinya berperang sendiri.. berkecamuk dengan rasa yang tak karuan.. memilih dua pilihan yang paling sulit dalam hidupnya..
"Tidak harus menjawab sekarang nak.. kalian pikirkan dulu.." ujar dokter Ridwan menahan sang istri yang ngotot..
__ADS_1
"Kita tunggu jawaban kalian!!" ujar Bu Yulia..
Setelah itu mereka bubar dengan kesibukan masing-masing..
Di kampus Ida terlihat lebih diam dari pada biasanya.. membuat Wenda heran..
" Woii.. melamun aja.. ntar Kesambet nenek lampir.." sentak Wenda mengagetkan Ida
"ihh.. Wenda.. kaget tau!" celetuk Ida dengan kesal.
"Salah sendiri ngelamun aja.. ada apa sayangku?" tanya Wenda agak genit..
"Wen.. kalau kamu disuruh memilih.. orang yang kamu cintai atau membalas kebaikan seseorang.. kamu pilih mana?" Ida mulai bertanya pada Wenda tentang kegelisahannya..
"Sulit juga.." kata Wenda sambil memegang dagunya berpikir
"Itulah aku bingung.." kata Ida pelan tak semangat..
"Emangnya apa sih masalahnya.." tanya Wenda lagi
"Dokter Ridwan dan ibu Yulia mau menjodohkan aku dengan mas Angga" jawab Ida pelan..
"Apa!!" teriak Wenda keras sampai Ida membungkam mulutnya..
"Jangan teriak!" bisik Ida geram.. Wenda hanya mengangguk.. lalu Ida melepaskan tangannya dari bibir Wenda.
"maaf.. kaget aku tadi.. Da.. kamu kan tidak punya pacar.. terus kenapa nggak mau dijodohkan sama mas Angga.. kalian serasi deh.. satu dokter satu perawat.. satu ganteng satu cantik.. kalian dah serumah lagi.. ngapain mikir lagi..?"
"Sebenarnya Wen.. selama ini aku menyimpan rahasia.. hanya beberapa orang terdekatku yang tahu.. aku sudah mencintai seseorang sejak aku SMP dulu.. dan kami berdua saling mencintai" Ida akhirnya curhat juga pada Wenda..
"Jadi kamu dah punya pacar?" tanya Wenda makin penasaran..
"Aku dan dia cuma berkomitmen.. kami saling menjaga hati selama kami sanggup.. tanpa ada ikatan yang pasti"
"Haaaaahhhh.." Wenda malah terkejut " Jadi kalian tidak pacaran?"
Ida hanya menggeleng.. bikin Wenda makin merasa aneh..
"Terus dia dimana? kalian selalu berhubungan?"
"Tidak pernah sama sekali kami chatting maupun telfon.. dan akupun tidak tahu dimana dia sekarang.." ungkap Ida lagi yang mampu membuat Wenda bengong kaya sapi ompong..
"Hubungan macam apa itu? ya kalau dia setia disana.. lha kalau dia dah punya pacar atau menikah gimana kamu yang sudah mati-matian berusaha setia sama dia?" ujar Wenda dengan nada khawatir..
"Itu resiko yang harus aku tanggung.. dan kami berjanji tidak akan merasa sakit hati bila melihat diantara kami sudah punya pasangan.. itu komitmennya dari awal.. tapi sebelum aku melihat dan mendengar dia dengan cewek lain aku akan berusaha untuk setia.
__ADS_1