
Dua anak manusia itu berjalan beriringan sambil bergandengan tangan menikmati suasana pemandangan candi.. tidak melewatkan sedetikpun untuk menghabiskan waktu yang sangat berharga bagi mereka berdua.
Mereka tak peduli dengan terik matahari yang menyinari area candi.. mereka masih asyik berjalan dan sekali kali Selfi buat kenangan.
"Foto yuk Da.. mumpung ada kesempatan kita berdua seperti ini.. buat kenangan kita besuk kalau kita dewasa"
Ida menanggapi ajakan Ilyas dengan senyum tipis.. mereka berfoto diarea candi dan taman..
" Kirim ke hpku ya Yas..!!" pinta Ida
" Siap.. pastinya" balas Ilyas datar sambil mengirim semua gambar ke hp Ida.
Tak terasa hari makin melangkah ke sore hari... Ida melihat arloji di tangannya.. sudah jam 3 sore.. dia teringat janjinya pada bapaknya kalau tidak akan pulang sore-sore. Dengan berat hati dia akan mengakhiri kebersamaan dengan Ilyas.
"Mmm.. Yas maaf ini sudah hampir sore.. aku harus pulang.. aku janji pada bapak pulangnya tidak sore-sore.. jadi aku harus pulang sekarang.. aku nggak mau ngecewakan kepercayaan orang tuaku.." ujar Ida pelan.
Ada sedikit kekecewaan dihati Ilyas.. sebenarnya dia ingin melihat sunset dengan Ida dari atas candi itu.. tapi dia harus memahami dan menghormati keputusan gadis itu.. karena dia tahu Ida itu berprinsip kuat.. dia tidak mau mengubah pribadi gadis yang dia sayangi hanya karena egonya.. dia berusaha tersenyum meski terpaksa..
"Baiklah.. kita pulang.. ikut aku sebentar" kata Ilyas sambil menggandeng tangan Ida menuruni tangga candi menuju pintu keluar..
Setelah sampai dipelataran candi Ilyas menoleh noleh pada para penjual aksesoris di pelataran candi yang cocok untuk kenang\-kenangan buat Ida.. sampai dia menemukan sesuatu yg cocok dan menghampiri penjual aksesoris itu...
__ADS_1
Dia memilih model yang pas untuk Ida. Sedangkan gadis itu tak mengerti dan berfikir kalau Ilyas memintanya ngasih pendapat untuk membeli jam untuknya.. sampai..
"Coba ini..!"suruh Ilyas menyerahkan jam tangan cewek buat Ida.. gadis itu melihatnya terkejut.
"ini buat aku Yas..?"tanya Ida masih tak percaya.. yang hanya di balas anggukan oleh Ilyas... dengan ragu tapi seneng dalam hati dia menerima jam itu dari tangan Ilyas.
"Lama.. sini biar aku yang makain" diraihnya tangan Ida lalu melepaskan jam yang tadi dipakai gadis itu... dan langsung memakaikan jam yang telah dipilihnya tadi.. setelah merasa cocok.. dia tersenyum... Ida masih diam memperhatikan Ilyas yang sibuk dengan tangannya sambil tersenyum tipis .
"Pas dan cocok ditanganmu.. aku tau kamu suka warna biru.. kuharap setiap kamu melihat ini kamu akan mengingat diriku.. dan bila suatu saat sudah ada cowok yang dekat denganmu.. kamu harus melepaskannya!!" ucap Ilyas datar.
"Kenapa?" Ida mengernyitkan dahinya.
"Karena aku tidak mau kamu mengingatku saat kamu sudah dengan cowok lain.. aku tidak mau jadi duri pada hubunganmu nantinya" kata Ilyas pelan.
"Tapi sebisa mungkin aku akan setia sama kamu Yas.. " janji Ida dalam hati.
"Kita pulang sekarang.. " ajak Ilyas setelah membayar jam itu.. mereka menuju jalan menunggu angkot. Mereka duduk di halte tanpa melepas genggaman tangan.
"Biar aku antar sampai rumahmu ya..?" tawar Ilyas.
"Tidak usah Yas.. rumah kita berlawanan arah.. kita berpisah disini saja"
"Tapi Da.."
" Yas.. kumohon jangan buat aku terlalu berat buat berpisah denganmu" ucap Ida sedih. menunduk.
Ilyas mengerti perasaan gadis disampingnya dan dia tidak mau membuat Ida bersedih.. dia tidak sanggup melihat gadis itu sedih.
__ADS_1
"iya.. aku tak akan mengantarmu.. tapi jangan sedih gitu" pinta Ilyas... lalu dia mengangkat wajah Ida sampai mereka bertatapan.. "Boleh aku minta kenangan untuk terakhir kali?"
"Apa..?" tanya Ida tak mengerti.
Hingga tanpa sadar wajah Ilyas mendekati wajahnya dan..
"cup..."
Terasa sentuhan di pipinya dengan begitu lembut.. refleks tangan Ida mendorong dada Ilyas... ada rasa terkejut.. marah.. tapi juga gugup yang luar biasa sampai dia tak bisa berkata apa-apa selain memegang pipi yang baru dicium oleh Ilyas.. belum pernah ada cowok yang menyentuhnya.. bahkan berani menciumnya.. ingin sekali dia marah.. tapi ini yang menciumnya cowok yang dia sayangi.. jadi membuatnya serba salah..
Ilyas tahu gadis disampingnya itu akan marah dengan apa yang dilakukanya tadi..
dia jadi merasa bersalah..
"Maaf.. tolong jangan marah.. aku mencurinya tanpa ijin darimu.. aku salah" ucap Ilyas penuh dengan penyesalan.
Ida yang mendengar suara Ilyas yang terdengar penuh penyesalan jadi tidak sanggup untuk memarahinya.. dia hanya terdiam masih memegang pipinya tanpa ekspresi.
"Sayang kamu marah.. ?" Ilyas berbisik.
Gadis disampingnya hanya menunduk.
"Yas kamu telah mengambil ciuman pertamaku.. yang akan aku berikan kelak pada suamiku" ujar gadis itu pelan.
"Aku yang nanti akan jadi suamimu.. dan kuharap kamu menjaga yang lain juga untukku sayang" bisik Ilyas lagi dengan nada datar tapi yakin.
Gadis itu menoleh menatap lekat Ilyas.. menatap sorot matanya.. ada keyakinan didalamnya.. tapi Ida tak berani meyakinkan hatinya karena itu masihlah jauh dari pikirannya... mereka terdiam kembali.. sampai angkot yang ditunggunya datang.
Ida berdiri dan melangkahkan kakinya menuju angkot.. sebelum masuk dia menoleh Ilyas yang masih duduk di halte..
"Yas.. makasih untuk hari ini aku tidak akan pernah melupakannya.." terlihat senyum mengembang di bibir gadis itu membuat lega
__ADS_1
cowok yang masih memperhatikannya.. dia melambaikan tangan sampai angkot berjalan menjauh..