
Siang ini semua agenda berjalan dengan lancar, masalah-masalah yang bermunculan sudah teratasi. Itu arti nya sore ini Panji dan bima sudah bisa pulang.
Keberangkatan masih dua jam lagi, Bima yang merasa bosan hanya duduk di kamar mengajak Panji untuk jalan-jalan sekedar membeli sedikit ole-ole.
"Beli ole-ole untuk siapa? pacar? haha,sejak kapan lu punya pacar?"
sepanjang perjalanan mencari ole-ole Panji tak henti-henti ny menggoda Bima,dia tau sahabat nya ini jomblo bahkan dia pun sudah lupa kapan terakhir Bima memiliki pacar.
Panji berhenti tepat di sebuah toko pakaian muslim serta hijab, hampir 10 menit dia berdiri. Ragu untuk melangkah masuk,Bima yang sudah jauh tampak kebingungan karena Panji tidak ada di belakang nya.
setelah menyusuri jalan yang dia lewati tadi, Bima melihat Panji masih berdiri di depan toko pakaian.
"Lu ngapain? mau beli gamis? lu mau pake gamis nji?atau mau beliin Nadia? cieee suami yang baik, selalu ingat istri, haha"
Sekarang giliran bima menggoda Panji, wajah Panji berubah menjadi merah.
"berisik lu jomblo" Panji berlalu meninggalkan Bima yang masih tertawa puas.
"eeeh tunggu, gak jadi beliin Nadia ole-ole? ayook ah, sini gue temenin milih yang mana cocok buat Nadia"
Panji pun akhirnya mengikuti Bima, meskipun ada rasa malu untuk membelikan Nadia ole-ole, mengingat awal-awal pernikahan dia tidak menerima Nadia di hidup nya.
Bima terlihat antusias sekali saat melihat bermacam-macam bentuk hijab, untuk pertama kali nya dia masuk ke toko pakaian muslim dan hijab selama hidup nya.
Berkali-kali ia menawarkan pilihan nya ke Panji, namun berkali-kali juga di tolak oleh Panji.
"lu apaan sih nji, niat gak sih beliin buat bini lu? yang ini geleng, yang itu geleng. lu kira lagi di diskotik geleng-geleng?
auuu ah, gue mau beli yang ini"
__ADS_1
Bima mengambil beberapa potong hijab yang tadi dia pilihkan untuk Panji.
"ee, lu mau ngasih siapa tu jilbab? Nadia?"
Panji menarik tangan Bima yang menuju kasir untuk membayar.
"PD lu, buat calon bini gue ntar lah"
Panji tersenyum, kemudian mengambil beberapa potong hijab, kemudian mengikuti Bima menuju kasir untuk membayar.
******
Panji tiba di rumah pukul sembilan malam, sebelum pulang mereka menyempatkan untuk makan malam terlebih dahulu, sebenar nya bukan menyempatkan, tapi lebih tepat nya di paksa Bima, dengan alasan dia tidak ingin makan malam sendiri malam ini, bahkan Bima mengancam akan ikut Panji pulang untuk makan malam kalau saja Panji tidak menemani dia makan malam.
"Dasar pemaksaan" Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Panji.
Rumah sepi, beberapa lampu pun sudah di matikan
Selama Panji pergi, Nadia memang di minta oleh Bu Dewi untuk tinggal di rumah nya,dengan Alasan takut Nadia kesepian karena tidak ada Panji.
Panji membuka pintu kamar dengan pelan, lampu kamar sudah mati hanya ada cahaya dari lampu tidur yang di nyalakan Nadia.
Dia melihat Nadia sudah tertidur di bawah selimut, untuk beberapa menit Panji berdiri memandang Nadia, kemudian dia melangkah ke kamar mandi, untuk menyegarkan Badan nya.
Karena mendengar suara air,Nadia pun terbangun dari tidur nya.
Dia terkejut,karena setelah keluar dari kamar mandi tadi dia sudah mematikan air, tapi sekarang kenapa kran air menyala.
pikiran aneh nya berlari kemana-mana, rasa takut mulai menghantui nya.
__ADS_1
Dia bangun dari tempat tidur, dan menghidupkan semua lampu yang ada di kamar.
Nadia sudah menuju pintu untuk keluar, tapi pintu kamar mandi terbuka.
Nadia semakin terkejut melihat pemandangan di depan nya.
Panji keluar dengan handuk yang hanya melilit di pinggang nya.
Nadia mengucek-ngucek mata nya, memastikan di depan nya ini benar-benar Panji.
Panji tergelak melihat tingakah Nadia.
Nadia yang sadar itu memang Panji,langsung memalingkan wajah nya.
"Mas kok disini? " tanya nya dengan wajah yang masih melihat ke arah lain
"ini kan kamar ku, suka-suka aku dong"Panji membuka lemari mencari Baju dan celana nya.
"duduk sini" Panji sudah duduk di sofa sambil menepuk tempat duduk di sebelah nya.
Nadia yang melihat Panji sudah memakai baju langsung melangkah ke arah Panji.
"Ini buat kamu" sambil melempar tas berisi kado ke arah Nadia.
Nadia meraih tas yang di lempar Panji tadi, dia tersenyum.
"terimakasih mas"
Panji hanya mengangguk dengan wajah datar nya.
__ADS_1
Bersambung