
Setelah meyakinkan Panji kalau ia tidak akan melakukan hal-hal aneh,akhirnya Bima di perbolehkan pulang oleh Panji.
Panji yang terlalu over sudah seperti emak-emak yang khawatir dengan anak gadis nya.
"iya iya,ya Allah Nji,belum puas juga kasih nasehat ke gue?" protes Bima saat Panji masih saja mengoceh bahkan sampai pintu mobil nya.
"gue kan cuma ngingetin Bim,gue takut lu khilaf,lu bawa kabur dah tu bini orang" Panji membela diri.
"udah sana masuk lu,kasian Nadia dari tadi lu anggurin" Mobil Bima pun meninggalkan pekarangan rumah Panji dan Nadia.
Jika aku bukan jalan mu
ku berhenti mengharapkan mu
jika aku memang tercipta untuk mu
ku kan memiliki mu
Tap,tap
Bima memukul tape audio mobil nya.
lagu Afgan yang di putar seakan-akan menggambarkan kisah cinta nya yang sekarang.
Dilema,satu kata yang tepat untuk Bima,di satu sisi ia sangat ingin membantu Karin dan di sisi lain ia tidak ingin di cap sebagai perebut istri orang,meskipun kenyataan nya ia masih mencintai Karin.
Tak butuh waktu lama Bima sudah berada di depan pintu Apartmen nya,saat masuk ia terkejut melihat lampu Apartmen nya hidup. karena seingat nya ia mematikan semua lampu sebelum pergi kerumah Panji.
"Karin???kok kamu bisa masuk?"
"Maaf Bim aku lancang,pin kamu dimana-mana selalu sama,tanggal lahir mu"
"Ada perlu apa kamu kesini Rin?ini udah jam 8 malam"
Bima melirik ke jam dinding yang sudah mulai usang,ia memang tidak pernah mengganti jam dinding sejak pindah ke Apartmen ini.
"Gimana Bim?kamu mau kan bawa aku pergi dari sini?aku takut suami ku tau kalau aku tinggal di kontrakan itu,aku gak mau kembali dengan dia Bim,please Bim"
__ADS_1
Karin memohon,kali ini ia sudah mendekati Bima dan berlutut di hadapan Bima.
"Rin,kamu ngapain?bangun,ayo bangun"
Bima memapah tubuh rapuh milik Karin.
Karin dulu adalah seorang gadis yang ceria,menebar senyum dimana-mana,dia ramah dan banyak teman nya.
Semenjak ia di jodohkan oleh kedua orang tua nya,hidup ny berubah 180 derjat.
ia tak lagi bebas berteman,jangan kan untuk bertemu teman-teman nya,untuk bertemu orang tua nya saja ia di larang.
Suami nya betul-betul mengekang hidup nya,entah bagaimana ia bisa kabur dari cengkaman lelaki tua yang ia sebut suami itu.
"Maaf Rin,bukan nya aku gak mau nolongin kamu,tapi sekarang ini status mu masih istri orang lain.Aku gak mau di tuduh melarikan istri orang lain Rin,sekali lagi aku minta maaf"
" Bim,please...."
"Gini,malam ini kamu boleh tidur disini,besok kita pikir lagi bagaimana solusi terbaik nya ya,kamu boleh tidur di kamar aku biar aku tidur di sofa"
******
Nadia sudah berbaring di kamar sejak tadi sambil memainkan ponsel nya,slide demi slide ia melihat foto pernikahan nya dulu,pernikahan yang selalu di damba-damba kan setiap pasangan yang saling mencintai,tapu tidak dengan Panji dan Nadia.
Pernikahan karena di jodohkan itu bukan lah suatu hal yang mudah,apalagi salah satu ada yang membenci seperti Panji yang membenci Nadia dulu.Ia pun tak menyangka Panji bisa berubah mencintai nya seperti sekarang ini.
Ceklek,pintu kamar terbuka
"Mas,Bima gimana?"
Tanya Nadia sambil meletakkan ponsel nya di nakas.
"Gimana apa nya?" Panji pura-pura tidak tau arah pembicaraan Nadia.
"Itu,mantan pacar nya" jawab Nadia pelan
"Jadi kamu nguping ya?sejak kapan kamu nguping?gak boleh lo diam-diam nguping pembicaraan orang lain"
__ADS_1
Panji mendekati Nadia,ia mencondongkan badan nya ke arah istri nya dan membuat Nadia terbaring di kasur.
"aa....aku...."
Belum selesai Nadia bicara,Panji sudah mengunci mulut nya dengan ciuman.
Ciuman berubah semakin panas,Nadia menerima setiap sentuhan Panji,dari bibir ke leher dan berakhir ke dada milik Nadia.
Nadia menikmati dan membalas apa yang di lakukan Panji,malam panjang baru di mulai.
bulan madu ala-ala Nadia yang kurang menarik bagi Panji,akhirnya terbalas kan malam ini.
******
Bima membuka pintu kamar,di lihat nya Karin sudah terlelep,cukup lama ia memandang wajah yang penuh memar itu.
Ia menyesal kenapa dulu tidak memperjuangkan cinta mereka saat orang tua Karin menentang hubungan mereka.
Perlahan tangan Bima mulai menyusuri luka lebam di wajah Karin.Hati nya mulai terusik,niat untuk membawa Karin pergi kini datang lagi.
Karin yang merasa wajah nya ada yang menyentuh pun terbangun,ia tersenyum dengan senyuman yang sangat rapuh.
"Bim,kok gak tidur?"
Karin berusaha bangun tapi di tahan oleh Bima.
"kamu tidur aja ya,aku tadi cuma mastiin kamu tidur dengan nyenyak aja kok"
Bima berdiri dan ingin melangkah,tapi di tahan oleh Karin.
"kamu tidur di sini aja ya" sambil menepuk tempat tidur di sebelah ia berbaring.
"Please,kali ini aja Bim,aku cuma pengen dekat kamu" lanjut Karin.
Bima pun menuruti keinginan Karin,mereka tidur saling berhadapan,sambil menggenggam erat tangan masing-masing.
Bersambung
__ADS_1