Akhirnya Kau Mencintaiku

Akhirnya Kau Mencintaiku
Kegalauan Nadia


__ADS_3

Pagi ini Panji merasa Nadia berbeda dari biasanya.


Setelah menyiapkan sarapan pagi Nadia langsung masuk ke kamar, tanpa berbicara sedikitpun kepada Panji.


Panji yang merasa ada yang aneh, bergegas menyelesaikan sarapannya dan menyusul Nadia ke kamar.


"kamu kenapa? sakit?"


tanya Panji sambil memegang kening Nadia


"nggak papa "


jawab Nadia singkat


"kamu kok hari ini aneh?"tanya Panji lagi


Nadia hanya diam, Panji yang merasa tidak dihiraukan pun akhirnya keluar kamar dan dan siap-siap berangkat ke kantor.


Sepanjang perjalanan menuju kantor,Panji memikirkan apa kesalahan yang telah ia perbuat sehingga Nadia menjadi aneh seperti itu.


ia pun langsung menepuk jidat, hampir saja ia lupa kalau kemarin siang dia berurusan dengan Maya. perubahan sikap Nadia pasti ada sangkut-pautnya dengan Maya.


Panji pun menelpon Bima, untuk memastikan apakah Nadia mengetahui masalah Maya yang datang ke kantor.


"halo Bim, kemarin lu udah pastiin kalau Nadia nggak tahu masalah Maya datang ke kantor kan?" Tanya Panji sambil menyetir


"udah kok, lagian Nadia nggak ada ngehubungin ke kantor. kenapa emangnya?"


"Nadia hari ini aneh banget loh, jangan-jangan dia tahu kalau semalam gue seharian di rumah sakit jagain Maya"


"hayo lu, seharusnya lu tanya ama Maya, jangan-jangan dia yang ngasih tahu ke Nadia kalau lu semalam di rumah sakit"


Panji akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah, ia takut kalau Nadia salah paham dengan apa yang terjadi.


sesampainya di rumah, Panji langsung menuju ke kamar untuk mencari Nadia.


tetapi Nadia tidak ada di kamar, Panji Panji pun kemudian menuju ke dapur.


"loh mas gak nggak jadi kerja?" Tanya Nadia saat melihat Panji.


"Gak,mas hari ini gak kerja,kamu ikut Mas sebentar"


Panji menarik tangan Nadia dan membawanya ke kamar.


"kenapa sih mas, ada masalah apa?"


tanya Nadia saat sampai di kamar, Nadia merasa aneh dengan sikap Panji.


"gini, mas mau minta maaf, semalam mas udah bohongin kamu, mas gak keluar kota tapi mas ke rumah sakit"


Nadia hanya diam mendengar apa yang dikatakan Panji


"kamu kok diam? apa kamu sudah tahu?"

__ADS_1


tanya Panji heran melihat Nadia hanya diam mendengar apa yang dia katakan.


Nadia hanya tersenyum sambil memberikan ponselnya kepada Panji.


"maksudnya apa?"


"mas lihat sendiri pesan dari Maya"


Panji pun membuka aplikasi WhatsApp yang ada di ponsel Nadia, mimik wajahnya berubah saat membaca pesan dari Maya.


"kamu percaya? ini nggak seperti yang kamu bayangin"


Panji mulai gusar, dia takut istrinya itu salah paham dengan foto yang dikirim oleh Maya.


"kan aku udah pernah bilang mas, aku siap kok dimadu kalau memang kamu enggak bisa lupain Maya"


jawab Maya sambil tersenyum sementara cara di matanya sudah ada bulir-bulir bening yang siap tumpah ke pipinya


"siapa yang mau maduin kamu? aku bisa jelasin semuanya,"


akhirnya Panji menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, mulai dari Maya yang datang ke kantor sampai Maya mengiris pergelangan tangannya.


Nadia terkejut saat tahu Maya begitu nekat melakukan hal itu.


"seharusnya mas jujur sama aku, kenapa mas harus bohong kalau mas ke keluar kota"


"maafin mas ya,seharusnya tidak ada lagi kebohongan diantara kita, sekali lagi mas minta maaf, kamu mau kan maafin mas?"


Nadia pun mengangguk sambil memeluk Panji.


******


Siang ini Maya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, ia dijemput oleh Angga.


Angga pun terkejut saat tahu bahwa Maya masuk rumah sakit akibat mengiris pergelangan tangannya.


"gila lu ya may, gue pikir lu udah ngelupain Panji, ternyata lu masih aja ngejar-ngejar dia"


"berisik lu, gue nggak bakalan nyerah, lihat aja apa yang bakal gue lakuin ke dia atau istrinya, lu mau kan bantuin gue?"


senyum sinis penuh makna tampak dari bibir Maya


"udah lah may,lu ngarepin apalagi dari Panji? lu tahu kan Panji itu siapa? dia bisa melakukan apa aja yang dia mau, iya bisa ngancurin orang dalam satu malam, lu mau hancur?"


Angga menjelaskan panjang lebar, kalau apa yang dilakukan Maya itu semuanya bakal sia-sia.


"gue nggak mau lagi ikut campur masalah lu, gue nggak mau hancur may"


lanjut Angga sambil menyetir mobil.


Maya hanya diam, entah apa yang ia pikirkan


sepanjang jalan ia hanya diam, tidak berbicara sepatah kata pun.

__ADS_1


******


"mumpung mas libur,kamu mau jalan-jalan?"


Panji duduk di meja makan, sambil melihat istrinya yang sedang membantu bik Siti memasak.


"gimana kalau kita ke rumah mama aja mas? udah lama kan kita nggak ke sana?"


Nadia memberi usul.


"boleh, sekalian kita nginep di sana ya"


"oke mas kalau gitu aku masak banyak ya sekalian bawa untuk Mama"


******


Hujan deras turun tepat sebelum Nadia dan Panji berangkat ke rumah mamanya, mereka terpaksa menunda kepergian mereka.


Di luar rumah terdengar suara seseorang memanggil Panji dan Nadia di tengah hujan deras, suara panggilan itu semakin lama semakin keras, setelah mereka keluar tampak Maya sedang berlutut di depan rumah mereka.


entah apa yang dipikirkan oleh Maya, sampai rela berhujan-hujan datang ke rumah Panji dan Nadia.


Nadia yang merasa kasihan pun akhirnya mengajak Maya untuk masuk ke rumah,tubuhnya sudah mulai lemah akibat diterpa hujan deras.


Nadia memberikan handuk untuk Maya, dan meminta Bik Siti membuatkan segelas teh hangat.


"apalagi mau mu Maya?"


tanya Panji dengan dengan wajah yang sangat tidak suka.


"mas...."Nadia melirik ke arah Panji.


"kalau kamu ke sini hanya ingin memohon supaya aku mau menerima kamu kembali, Maaf aku tidak bisa, sampai kapanpun aku tidak akan kembali kepadamu, karena aku sudah memiliki istri maya"


ucapan Panji tegas, sambil berjalan meninggalkan Nadia dan Maya.


Maya hanya diam mendengar apa yang dikatakan oleh Panji, kali ini dia melirik ke arah Nadia, berharap Nadia luluh dengan keadaannya sekarang.


"Nadia kamu mau kan bantuin aku buat bujuk Panji, supaya dia mau kembali ke aku, aku yakin kalau kamu yang minta pasti Panji mau"


Nadia hanya diam mendengar kata-kata Maya, di satu sisi ia kasian melihat keadaan Maya sekarang dan di sisi lain ia mencintai suami nya,pasti sakit jika di madu.


"Nadia...."Panggil Maya saat melihat Nadia termenung.


"eeh,iyee May,aku pikirkan dulu ya May" jawab Maya.


"Apalagi yang harus kamu pikirkan?aku tau kalau Panji tidak mencintai mu Nadia,bukti nya dia semalam seharian menjaga aku di rumah sakit"


Maya memaksa Nadia agar luluh.


Nadia lagi-lagi diam tidak bicara sedikit pun.


Bersambung

__ADS_1


jangan lupa vote dan tips nya ya readers kesayangan,terimakasih sudah membaca novel saya.


apalah aku tanpa kalian♥️♥️


__ADS_2