Akhirnya Kau Mencintaiku

Akhirnya Kau Mencintaiku
Bertemu lagi


__ADS_3

Sepagi ini Cindy sudah terlihat sangat sibuk,jam 4 subuh dia sudah harus bangun, di mulai dengan memasak, mencuci piring dan mencuci baju jika sudah menumpuk.


pekerjaan itu semua sudah di lakukannya 1 tahun belakangan, semenjak ibunya sakit-sakitan.


Pagi ia harus bekerja paruh waktu di Starbuck, siang kuliah sampai sore dan malam lanjut kerja paruh waktu di salah satu toko pakaian di mall dan selesai jam 10 malam.


Semua itu ia lakukan sebagai tulang punggung keluarga, adik nya masih berumur 7 dan 5 tahun.


Uang hasil kerja paruh waktu nya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari,itu pun ia sisih kan sedikit untuk tugas-tugas kuliah yang terkadang mendadak. sementara untuk biaya kuliah ia mendapatkan beasiswa.


Cindy setengah berlari menuju halte, lagi-lagi pagi ini adik nya Doni yang masih berusia 5 tahun berulah,setiap pagi ada saja kelakuannya yang membuat Cindy harus berulang kali berganti baju.


Doni memang sangat dekat dengan Cindy, setiap kali Cindy ingin pergi bekerja ia selalu melarang.


"mbak gak usah kerja, biar Doni aja yang kerja"


kata-kata andalan Doni saat Cindy sudah mulai bersiap-siap berangkat bekerja.


Jam masih menunjukkan pukul 7 lebih 25 menit, masih cukup waktu Cindy untuk sedikit bersantai,karena jam kerja nya di mulai pukul 8 pagi.


Cindy memukul-mukul layar ponsel nya yang sedikit bergetar akibat keseringan terjatuh, ponsel butut yang di belinya setelah menyisihkan uang selama kurang lebih 5 bulan. untuk membeli ponsel second pun ia harus menabung dahulu.


Ia teringat kartu nama yang di berikan Bima 2 hari yang lalu, iseng-iseng ia pun mencoba mengirimkan pesan melalui aplikasi whatsapp.


"selamat pagi pak" isi pesan yang di kirim Cindy.


satu menit, dua menit sampai lima menit centrang 2 masih bewarna hitam.


Cindy pun memasukkan ponsel nya ke dalam tas.


Bus yang di tunggu Cindy pun datang, ia naik dengan terburu-buru,hari ini ia harus mendapatkan kursi karena biasa nya ia harus berdiri sambil bergelantugan .


"Akhirnya, aku bisa duduk hari ini"


Belum lama ia menikmati duduk nya, naik seorang ibu hamil dengan usia kandungan yang mungkin sudah 8 bulan, tidak ada yang mau mengalah dan memberikan tempat duduk untuk ibu hamil itu, akhirnya Cindy yang mengalah,dan kembali berdiri seperti hari-hari biasa nya.


"Terimakasih tante, semoga cepat dapat jodoh biar tante nya gak susah-susah naik bus dan berdiri"


Kata ibu hamil itu sambil mengelus-elus perut nya, seolah-olah sedang berbicara kepada anak yang ada di perut nya itu, Cindy hanya tersenyum dan memgAamiini dalam hati.


******


Meeting dengan klien hari ini cukup menguras tenaga dan emosi, baru kali ini Panji dan Bima bertemu dengan klien yang super duper cerewet, ini itu salah semua nya harus mengikut aturan yang ia buat.


Berkali-kali Bima menatap foto profil whatsapp yang mengirimi ia pesan pagi ini, foto yang di ambil dari belakang, tidak terlihat wajah yang empunya akun whatsapp tersebut.


Ia pun mengabaikan pesan yang di kirim nomor yang tidak di ketahui itu.


Jam makan siang hampir tiba, Panji sudah keluar dan memakai jas nya, siang ini ia ada janji makan siang di rumah mama nya.


Nadia sudah sejak pagi berangkat kerumah mama, jadi Panji tidak perlu pulang kerumah mereka untuk menjemput istrinya itu.

__ADS_1


Bima yang mendapat pesan singkat dari Nadia bahwa hari ini ada makan siang bersama dirumah mama pun akhirnya tancap gas,ia sengaja tidak memberi tahu Panji bahwa ia akan ikut makan siang bersama.


Sesampainya di rumah,Panji terkejut melihat Bima yang sudah dengan santainya duduk di meja makan, ia harus singgah di toko buah terlebih dahulu sebelum kerumah mamanya.


"lho, sejak kapan lu disini? terus lu tau darimana kita ada makan siang bersama? "pertanyaan beruntun keluar dari mulut Panji.


"penting ya gue tau darimana? yang penting itu makan, ya kan tante, Nadia? "


Panji hanya mengernyitkan alis nya, melihat kelakuan Bima.


"makan aja lu nomer satu.lu duduk sebelah sana,ini tempat gue, noh bini gue di sebelah gue" Panji mendorong Bima yang duduk di sebelah Nadia


"aa elah Nji, duduk sebelah Nadia aja gak boleh"


"jomblo lu, udah duduk aja disana, kalau bisa di pojokan"


Panji tertawa melihat ekspresi Bima yang terlihat kesal.


"Tega lu ya, emang nya gue kucing, tunggu aja gue dapat pasangan"


Bima makan tanpa menghiraukan ocehan Panji


******


Kebiasaan Bima kalau sehabis makan ia harus ngemil makanan ringan, entah di mulai sejak kapan kebiasaan aneh Bima itu.


Kebanyakaan orang selesai makan akan merasa kenyang tp tidak dengan Bima.


"Woy, gak berangkat lu?"


Tegur Bima, sambil memperbaiki sepatu nya


"Duluan aja sana lu, masih mau nonton sama ngemil"


Bima menjawab tanpa melihat ke arah Panji.


ia masih asik dengan cemilannya sambil tertawa-tawa melihat acara televisi yang ia tonton.


"Waah songong ni anak,disni Bos nya siapa?"


Panji pun akhirnya ikut duduk disamping Bima.


"Hari ini gue bos nya, hahah tu liat lucu haha"


Bima tertawa sambil menunjuk ke acara yang ia tonton.


Drrt drrt


Ponsel Bima bergetar, 1 notifikasi Wa dari nomor yang tadi pagi mengirimi ia pesan.


"selamat siang pak"

__ADS_1


Lagi-lagi Bima mengabaikannya, ia menganggap spam, biasanya kalau penting orang itu pasti akan langsung menelpon.


******


Cindy yang merasa di abaikan pun akhirnya menhapus nomor Bima yang sudah ia simpan.


Ia merasa Bima membohonginya, padahal ia berharap Bima bisa memberikan ia kerja setelah ia Wisuda nanti.


Ia pun mencoba melakukan pendekatan terlebih dahulu, tapi nyatanya Bima malah mengabaikannya.


Kegiatan rutin Cindy sehabis Maghrib,ia kembali bekerja di toko pakaian di salah satu mall disana.


Dalam sehari ia hanya istirhat 2 jam, itu pun ia gunakan untuk mengurus adik-adik nya, kecuali hari sabtu dan minggu, dari siang sampai ke maghrib ia punya banyak waktu karena libur kuliah.


Terkadang sabtu dan minggu ia gunakan untuk mengajar anak-anak les demi rupiah,yang penting halal kata Cindy.


******


Bima yang awal nya tidak mau ikut berjalan-jalan ke mall, akhirnya memilih untuk ikut karena Panji memaksa, Panji tidak ingin sendirian menjadi pembawa barang-barang yang di beli mama dan istrinya nanti.


"kamu mau itu nak?" Tanya Bu dewi saat melihat gantungan gamis-gamis mewah disalah satu toko ternama di Mall itu.


Nadia tersenyum sambil memandang ke arah suami nya, seakan-akan meminta izin ke Panji. Panji hanya mengangguk,tanda setuju.


Mereka pun masuk dan langsung memilih beberapa gamis.


Setelah selesai, mereka kembali berjalan-jalan melihat apa yang menarik untuk beli.


Nadia melihat setelan rok dan tunik disalah satu toko baju,ia tertarik dan mengajak Bu Dewi untuk masuk ke toko itu.


Sementara Bima dan Panji hanya mengekor.


Datang seseorang yang bekerja di toko itu, dengan ramah ia melayani Nadia dan Bu Dewi.


Bima yang melihat pelayan itu dari belakang merasa tidak asing lagi, ia mengeluarkan pnselnya dan melihat foto profil nomor yang tadi mengirimi ia pesan.


Sama, kata itu terlintas di benak Bima,ia pun mendekati Nadia dan bu Dewi, saat pelayan itu berbalik badan ia terkejut melihat Bima ada disitu.


"Ba... bapak?" ucap nya sambil terbata


"kamu kenal Bim?" Tanya Nadia


Bima hanya mengangguk.


"Dia Cindy, kenalanku"


Bima mengenalkan Cindy ke Nadia dan bu Dewi tak lupa juga ke Panji.


Panji hanya menatap Bima sambil menaikkan sebelah alis nya.


"apa lu?" teriak bima tanpa suara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2