
Jatuh cinta memang bisa merubah seseorang.
seseorang bisa melakukan apa saja demi orang yang dia cintai,anak-anak jaman sekarang menyebut nya dengan istilah "Bucin>Budak Cinta" haha.
Sama hal nya dengan Panji, pagi ini dia datang ke kantor dengan wajah penuh dengan kebahagian.
Bunga yang dulu sempat layu kini kembali mekar.
Setiap karyawan yang menyapa nya pun di balas nya dengan senyuman ramah.
"weesss,Pak Direktur seperti nya pagi ini sedang bahagia" Bima muncul tiba-tiba di ruangan Panji.
"Ada kabar bahagia apa nih?"tanya Bima sambil duduk di sofa.
"Keluar lu Bim, jangan ngerusak mood gue" Panji menjawab dengan sinis.
ponsel Panji berdering, senyum di bibir nya muncul saat melihat Nama si penelpon.
"Hallo"
"Hallo mas, hari ini aku boleh izin keluar gak?
Ternyata Nadia yang menelpon, dia meminta izin untuk keluar dengan alasan ingin bertemu teman nya. Panji sebenarnya merasa curiga dengan siapa Nadia bertemu, tapi karena tidak ingin mengekang Nadia, akhirnya ia pun meberikan izin.
"pulang sebelum aku sampai kerumah"
"baik mas, terimakasih"
__ADS_1
Nadia pun memutuskan Panggilan nya,sementara Panji masih duduk termenung memandangi ponsel nya yang tergeletak di meja.
"Waah, mood Direktur kita bisa berubah dalam sekejap ya, baru datang senyum-senyum, pas gue datang langsung manyun, liat ponsel berdering senyum-senyum lagi nah sekarang udah matiin telpon eeh manyun lagi"
Bima berdiri menghampiri Panji yang masih diam di kursi nya.
"Panji, njiiiiiii" Bima berteriak di telinga Panji, membuat Panji bangun dari duduk nya dan kepala nya terhantuk di dagu Bima.
"auuuuu" ringis Bima
"Apa Bim? berisik"
Panji melangkahkan kaki nya menuju jendela yang ada di ruangan kantor nya, sementara Bima masih meringis kesakitan akibat ulah Panji.
******
Di sebuah cafe, tampak seorang wanita cantik duduk sambil sesekali memandangi jam yang melingkar di tangan indah nya. Tak lama kemudian seseorang yang di tunggu nya datang, ia pun segera berdiri sambil menunjukkan wajah yang ramah sekaligus sedih.
Ternyata seseorang yang di tunggu wanita tadi adalah Nadia.
"gak papa kok, belum lama" jawab Maya.
ya, Nadia hari ini bertemu dengan Maya, tadi pagi dia mendapat telpon dari nomor yang tidak dia kenal, setelah di angkat ternyata itu Maya.
Maya tau kalau Nadia tidak mengetahui kalau dia adalah mantan kekasih Panji,dia meminta untuk tidak memberitahu Panji kalau dia mengajak Nadia bertemu, kesempatan ini dia gunakan untuk menghasut Nadia agar menjauhi Panji.
"ehmm, Nadia sebenar nya ada yang ingin aku beritahu ke kamu"
__ADS_1
kamu pasti sudah tau kan kalau aku dan Panji pernah menjalin hubungan? "
Nadia yang mendengar nya terkejut, dia sama sekali tidak mengetahui masa lalu suami nya, berbanding terbalik dengan Panji yang sudah mengetahui seluk beluk kehidupan Nadia.
"atau kamu belum tau? dari ekspresi mu,pasti kamu belum tau kan? maaf ya Nadia aku gak bermaksud untuk membuat mu terkejut" lanjut Maya sambil memasang wajah penuh bersalah
"ee, enggak kok, gak papa.
jadi sebenarnya apa yang ingin kamu kata kan may?" Nadia bertanya karena dia penasaran, apa sebenarnya yang di inginkan wanita di depan nya ini.
"Panji dan aku putus karena pernikahan kalian, dia terpaksa menikahi mu karena di paksa mamanya, kamu juga terpaksa kan Nad? "
Maya meraih tangan Nadia, wajah nya memelas berharap Nadia mengerti apa yang dia inginkan.
Namun Nadia yang polos ini belum mengerti kemana arah pembicaraan Maya.
"Aku mohon Nadia, kamu mau kan melepaskan Panji? Panji tidak mungkin menceraikan mu, tapi jika kamu yang meminta dia pasti mau Nad"
Nadia tersentak, dia melepaskan genggaman tangan Maya, ada bulir-bulir bening yang siap tumpah, namun sekuat tenaga di tahan nya.
"Nadia.... " kembali berakting dengan wajah memelas dan air mata yang sudah tumpah di pipi
"Akan aku pikirkan, aku butuh waktu" jawab Nadia sambil berdiri dan meninggalkan Maya.
Maya tersenyum penuh kemenangan, di hapus nya air mata palsu yang di paksa keluar dari mata nya itu.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkan Panji, maka tidak ada satu orang pun yang boleh memiliki nya"
__ADS_1
Maya berdiri, Dari bibir ny keluar senyum penuh kelicikan
Bersambung