
Udara yang lembab akibat hujan, masih menyisakan dingin yang membuat siapa saja betah di bawah selimut.
Tapi tidak dengan Nadia, ia duduk di ruang keluarga sambil menatap layar televisi yang ia biarkan hidup sejak tadi.
Maya sudah pulang setelah hujan reda tadi sore, tetapi kata-kata Maya masih tertinggal di pikiran Nadia.
kata-kata yang membuat dia hancur, sejak tadi ia berpikir apakah benar Panji tidak mencintainya.
jam sudah menunjukkan pukul 20.50, tetapi ia masih saja duduk termenung sambil menatap layar televisi, sementara pikirannya berkelana entah kemana.
Panji yang baru menyadari kalau Nadia sejak tadi tidak di kamar, akhirnya keluar dan mencari istrinya itu.
"kok di sini?" tanya Panji sambil duduk disebelah istrinya.
Nadia hanya tersenyum dan menatap suaminya itu. keraguan mulai muncul di hatinya.
cukup lama ya memandang wajah Panji, sementara Panji hanya diam, dia tahu apa yang dipikirkan istrinya itu.
"kamu percaya aku atau Maya?"
Panji menggenggam tangan Nadia.
"hmm... entahlah mas, aku bingung dengan semua ini"
jawab nanti aja sambil tertunduk lesu.
"tatap aku Nadia, seharusnya kamu nggak perlu lagi meragukan cinta aku ke kamu, kalau memang aku mau kembali sama Maya dari dulu aku sudah menikahinya, menjadikannya istri kedua ku"
"kamu jangan percaya dengan apa yang dia bilang, atau kamu memang siap aku madu?"
Panji tersenyum saat melihat perubahan ekspresi Nadia.
"aku cuma kasihan sama dia mas, sepertinya dia begitu rapuh setelah kamu tinggalkan"
jawab Nadia pelan sambil menatap wajah Panji.
"kamu kasihan sama dia, tapi kamu nggak kasihan sama aku? kamu tahu kan ceritanya, kalau dia yang dulu ninggalin aku.satu lagi, kamu kasihan sama dia tapi kamu nggak kasihan sama diri kamu, jangan terlalu memikirkan orang lain Nadia sementara kamu masih terluka"
aku memang menikahi seorang malaikat. Panji
"sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. hari ini dia minta kamu buat membujuk aku supaya mau menerima dia, besok kita nggak bakal tahu dia akan minta apa lagi dari kamu, mungkin dia minta kamu pisah sama aku"
Nadia mencerna setiap kata kata yang di lontarkan Panji,
dia memang kasihan dengan Maya, tapi dia juga tidak ingin kehilangan suaminya.
******
Sejak malam kedatangan Karin ke apartemen Bima, sampai saat ini Karin tak lagi memberi kabar.
__ADS_1
Bima pun sempat pergi ke kontrakan Karin, tetapi kata pemilik kontrakan Karin sudah tidak di kontrakan itu lagi.
Bima sempat resah, ia takut suami Karin mengetahui keberadaan Karin dan menjemput nya dengan paksa,
tetapi setelah ia pikir-pikir, biarlah itu menjadi masalah pribadi Karin dan suaminya, ia tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan keluarga mereka.
Siang ini entah apa yang membuat Bima melangkahkan kakinya ke Starbuck yang berada tak jauh dari kantor, biasanya dia akan mengajak Panji untuk sekedar minum kopi ataupun bersantai-santai, tapi hari ini dia memilih untuk pergi sendiri.
Bruukk.
Seseorang perempuanberpakaian pelayan menabrak Bima di depan Starbuck, plastik hitam yang berisi sampah pun berserakan dimana-mana.
"ma...maaf pak,saya tidak sengaja"
perempuan itu menunduk sambil memungut sampah yang berserakan.
Bima pun membantu perempuan itu untuk memungut sampah.
"Terimakasih pak"lanjutnya sambil berlalu dari hadapan Bima.
Bima hanya diam, kemudian masuk dan memesan segelas Frapucinno kesukaan nya.
Frapuccino yaitu kopi yang diblender dengan es, susu, dan sirup buah.
kemudian ia mencari kursi yang ada di pojokan yang jauh dari keramaian.
Dari jauh ia melihat perempuan yang menabrak nya di luar tadi, kali ini perempuan itu tidak lagi memakai baju pelayan.
Ponsel Bima berdering, di layar tertulis nama Panji.
"lu di mana?"
tanya Panji di seberang telepon
"gue lagi di Starbuck yang nggak jauh dari kantor kita, ini gua udah mau balik, kenapa?"
"tumben lu nggak ngajak gue?"
pertanyaan Panji penuh dengan nada curiga
"lagi pengen sendiri aja, udah dulu ya gue mau jalan nih"
Bima memutuskan telepon dari Panji.
Sepanjang jalan Bima melihat kiri dan kanan, berharap bertemu dengan perempuan yang tadi menabraknya.
Entah mengapa Bima merasa tertarik dengan perempuan itu, tapi sayangnya bayang-bayang perempuan itu pun sudah tak terlihat lagi.
Sesampainya di kantor Panji langsung menodong dengan beberapa pertanyaan.Dia merasa ada yang aneh dengan Bima, tidak biasanya Bima pergi sendirian ke Starbuck itu.
__ADS_1
"jujur ama gue, lu ke sana ada janji sama seseorang kan?"
Panji yang sejak tadi menunggu di ruangan Bima sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari sahabatnya itu.
"ngaco lu, gue emang lagi pengen sendiri"
jawab Bima santai sambil duduk di sofa dan menaikkan kakinya ke meja.
"Alah, jujur aja lu, lu sengaja kan nggak ngajakin gue supaya gue nggak ganggu lu"
"ini anak makin lama makin gila ya, lu pikir kalo gue keluar sendirian berarti gue nemuin seseorang gitu?, udah sana ke ruangan lu, gue mau santai sebentar"
Bima melipat kedua tangannya di dada dan memejamkan matanya, tidak perlu menunggu waktu lama suara nafas yang teratur sudah terdengar, itu berarti Bima sudah terlelap dan bermain di alam mimpi.
******
Sudah 1 jam lebih Maya menunggu balasan pesan dari Nadia, iya yakin dia pasti akan membantu nya meyakinkan Panji untuk menerimanya kembali.
gimana Nadia? kamu sudah bicara sama Panji? kalau Panji setuju kamu nggak papa kan kalau harus dimadu?
isi pesan Maya yang ia kirimkan ke Nadia 1 jam yang lalu, tapi belum dibalas oleh Nadia.
drttt drttt
Ponsel Maya bergetar, satu notifikasi WhatsApp masuk ke ponselnya.
Maaf Maya, bagaimana kalau kita bertemu saja besok siang di cafe Xxx.
Balasan pesan dari Nadia yang ditunggu oleh maya sejak tadi.
ok.
Balas Maya singkat.
Maya sudah tidak sabar menunggu besok, ia sangat yakin Nadia berhasil membujuk Panji untuk kembali kepadanya.
Ia sudah mulai menghayal menjadi istri kedua Panji, senyuman sinis keluar dari bibirnya saat memikirkan akan menyingkirkan Nadia setelah ia menjadi istri kedua Panji.
Maya mengambil ponselnya dan menghubungi Angga, entah rencana apa yang akan ia lakukan bersama Angga.
awalnya Angga menolak, tetapi karena bujukan Maya akhirnya ia pun setuju dengan rencana yang akan dilakukan Maya.
******
Panji berkali-kali menatap ponselnya, ia membaca berulang kali pesan yang dikirim oleh Nadia, yaitu pesan yang dikirim oleh Maya untuk Nadia.
Balasan pesan dari Nadia untuk Maya sebenarnya adalah ide dari Panji, Panji ingin melihat sejauh mana Maya akan bertindak.
Ia kesal, kenapa wanita satu itu tidak juga menyerah dengan dirinya.
__ADS_1
Bersambung.