
Setelah sholat dan makan siang, Nadia berangkat menuju cafe xxx, tempat dimana ia sudah berjanji bertemu dengan Maya.
perasaan gugup mulai menghantui Nadia,sepanjang perjalanan dia memikirkan kata-kata yang tidak akan menyinggung perasaan maya nanti.
Panji yang awalnya tidak ingin pergi ke cafe xxx akhirnya memutuskan untuk diam diam pergi ke sana, ia hawatir Maya akan mencelakai istrinya itu.
ia tahu betul sifat Maya,Maya tidak akan pernah bisa menerima sesuatu yang benar-benar ia inginkan tetapi tidak dikabulkan oleh seseorang.
Sesampainya di cafe xxx, Nadia belum melihat adanya Maya di sana.
seorang pelayan menghampiri Nadia, kemudian membawa Nadia ke meja yang sudah dipesan oleh Maya.
Hampir 30 menit Nadia menunggu, tetapi Maya tak kunjung datang, Panji yang sejak tadi memperhatikan Nadia dari jauh akhirnya memutuskan untuk menghampiri Nadia.
tetapi baru saja Panji melangkah, datang seorang lelaki ke meja Nadia,langkah kaki Panji pun terhenti ia pun kembali duduk dan memperhatikan apa yang dilakukan lelaki itu dan Nadia.
Sementara Nadia terkejut saat melihat Angga duduk di hadapannya,dari tadi ia menunggu kedatangan Maya tetapi yang datang bukannya Maya melainkan Angga.
"Angga, kamu Angga kan?"
tanya Nadia bingung
"iya aku Angga, kamu sudah lama menunggu?
"aku nggak nungguin kamu, tapi aku lagi nungguin Maya"
jawab Nadia dengan wajah penuh kebingungan, iya tidak merasa membuat janji dengan Angga.
Angga tersenyum.
"aku ke sini untuk menjemput kamu, Maya minta aku untuk membawa kamu ke rumahnya karena Maya lagi nggak enak badan makanya nggak bisa datang ke sini"
jawab Angga dengan tersenyum
"lo,bukannya Maya bisa hubungin aku dan kasih tahu kalau kita nggak bisa ketemu hari ini"
"udahlah, mumpung kamu sudah di sini mending kita ke rumah Maya"
Angga mulai tidak sabar melihat Nadia.
"tapi kalau ke rumahnya Maya aku nggak bisa, aku harus ijin suami ku dulu"
Tolak Nadia saat Angga memaksanya agar ke rumah Maya.
"Allah nggak perlu izin izin, kayak anak kecil aja"
kali ini Angga sudah memegang pergelangan tangan Nadia, iya sudah tak sabar dengan sikap Nadia.
"lepaskan tangan istriku"
entah sejak kapan Panji berada di belakang Angga, Angga yang melihat kedatangan Panji pun akhirnya melepaskan tangannya Nadia.
"kamu sampaikan ke Maya, Jangan pernah berurusan dengan aku atau istriku lagi atau aku bakal ngehancurin dia sampai jadi debu"
"satu lagi,sampaikan ke Maya kalau Nadia menolak untuk membujuk aku supaya aku mau kembali ke dia"
Panji memegang tangan Nadia dan mengajak Nadia keluar dari kafe itu, sementara Angga hanya diam melihat kepergian Panji dan Nadia.
******
__ADS_1
"maafin mas ya, karena udah ngasih ide konyol supaya kamu bertemu dengan Maya di cafe itu"
"mas kok bisa di cafe itu? bukannya mas semalam bilang mau memantau dari ponsel?"
Tanya Nadia setelah masuk ke mobil
"firasat mas nggak baik, tuh kan benar Maya pasti merencanakan sesuatu"
jawab Panji sambil menyetir mobil.
Sementara di rumahnya Maya berteriak histeris saat mendengar kabar kalau Angga gagal membawa Nadia dari cafe itu.
"udahlh May nyerah aja , lu nggak bakalan kembali lagi sama Panji"
kata Angga saat tiba di rumah Maya
"apa lu bilang, nyerah?hahahahha"
suara tawa Maya menggelegar di ruangan itu, setelah puas tertawa ia pun menangis.
mentalnya seakan tergoncang oleh sebab itu ia sering mengkonsumsi obat penenang.
Angga yang sudah mulai muak dengan Maya akhirnya pergi meninggalkan Maya sendiri.
iya tidak ingin lagi berurusan dengan Maya ataupun Panji.
******
Lagi-lagi siang ini Bima melangkahkan kakinya ke Starbuck tempat ia bertemu dengan perempuan yang menabraknya kemarin.
berharap hari ini dia bertemu kembali dengan perempuan itu.
Hampir setengah jam Bima belum juga melihat perempuan yang ia cari.
sampai jam makan siang berakhir, Bima tidak juga melihat perempuan itu.
Saat keluar Bima melihat seorang perempuan sedang dimarahi oleh atasannya, karena penasaran Bima pun mendekati mereka.
setelah diperhatikan perempuan yang pernah dimarahi itu adalah perempuan yang sedang Bima cari.
"ada apa ini?"
tanya Bima saat tiba di dekat mereka.
"Maaf pak, kalau bapak terganggu dengan keributan yang kita buat, sekali lagi kita minta maaf"
wanita yang berusia sekitar 45 tahun itu menunduk sambil meminta maaf kepada Bima.
kemudian wanita itu pergi meninggalkan perempuan yang tadi dia marahi.
"kamu nggak papa?"
tanya Bima ke perempuan itu
perempuan itu hanya menggelengkan kepala sambil mengelap bulir-bulir bening yang tumpah ke pipinya.
"kamu nangis?"
Bima lagi
__ADS_1
suara tangis perempuan itu semakin besar, membuat orang yang disekitarnya melihat ke arah Bima dan perempuan itu.
"sttt, kamu kenapa? duduk dulu disini"
mereka pun duduk di kursi yang ada di situ, perempuan itu pun menceritakan apa yang telah terjadi.
Namanya nya Cindy, iya bekerja paruh waktu di Starbuck ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, sementara ia kuliah siang dan mengambil jurusan kesenian.
Pagi ini ia terlambat masuk kerja karena harus mengurus adiknya yang masih kecil, sementara ibunya sedang sakit.
sudah sering kali ia terlambat, dan hari ini begitu fatal karena pekerjaan hari ini banyak sekali.
Bima yang mendengarkan cerita Cindy hanya diam tanpa mengomentari.
itulah penyebab Cindy harus terburu-buru melakukan pekerjaannya karena setiap siang jam 1 ia harus ke kampus.
ini merupakan semester terakhir Cindy, dia berharap kuliahnya cepat selesai kemudian mencari kerja untuk menghidupi keluarganya.
cindy merupakan tulang punggung keluarga, ayahnya sudah meninggal 2 tahun yang lalu dia harus menghidupi ibu dan dua adiknya yang masih kecil.
ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga, tapi karena sering sakit-sakitan akhirnya ibunya pun dipecat oleh majikan nya.
Bima memberikan kartu namanya kepada Cindy, ia berharap bisa membantu Cindy.
awalnya Cindy menolak tetapi setelah Bima meyakinkan kan kalau ia bukanlah orang jahat akhirnya Cindy mau menerima kartu nama itu.
karena jam makan siang sudah berakhir, Bima pun pamit kepada Cindy untuk kembali ke kantor.
Cindy hanya tersenyum, senyuman yang sangat manis di mata Bima.
******
Suasana hati Bima sangat baik hari ini, dia melemparkan senyum kepada semua karyawan yang menyapanya.
"nggak kering gigi lu senyum kaya gitu terus?
Tegur Panji saat bertemu di lift
"lu kemana? 2 hari ini lu enggak pernah makan siang bareng gue?"
lanjut Panji, sementara Bima hanya tersenyum-senyum.
"wooyyyy,kesambet lu?"
teriak Panji di telinga Bima
Bima hanya menggosok telinganya yang sedikit berdengung akibat teriakan Panji.
"Berisiik lu Nji,ganggu aja"
jawab Bima sambil mendorong tubuh Panji karena terlalu menempel ke tubuh nya.
"roman-romannya gue tahu nih, ni orang kalau nggak jatuh cinta pasti dapat duit segepok, ya kan?ngaku aja lu"
"Berisik Nji,tebak aja sampai bener"
Bima meninggalkan Panji yang masih berada di dalam lift.
Bersambung.
__ADS_1