
Walaupun Yunna meminta diturunkan di jalan, namun zergan tidak akan melakukan nya. Sebagai suami mana dia tega melakukan itu, lalu setelah menurunkan Yunna di rumah, zergan menatap Yunna dan memohon untuk dapat mengerti keadaannya.
" Sayang...maaf ya...jika bukan karena pekerjaan, aku tak mungkin melakukan ini..... Bos besar...ya...dia minta menyelesaikan kesalahan di laporan karena .... Karena besok kita harus ke perusahaan AKK, jadi... Mohon pengertiannya ya." Yunna hanya terdiam membisu. Dia bergumam dalam hati " cukup kak...cukup...tambah kakak berbicara, tambah sakit hati ini."
"Yunna, please..." Yunna berusaha tegar namun air mata itu akan lolos sehingga yunna berbalik memunggungi zergan. " Pergilah kak... Pergi jika itu keinginanmu."
"Itu bukan keinginan ku sayang, jika bisa aku ingin di dekat mu."
" Kalau begitu, masuklah ke rumah."
" Maaf...tapi ini kerjaan aku..." Yunna kembali membalikkan badannya dan menatap zergan " jika itu keputusan akhir dan kau memilih dia, pergilah. " Zergan melihat keanehan dari ucapan dan tatapan Yunna.
" Baiklah...aku pergi sayang...aku usahakan secepatnya pulang." Zergan mengecup dahi Yunna dan masuk ke mobil melesatkan nya menuju apartemen Nola.
Ketika zergan baru saja pergi dia sudah memesan ojek online nya sedari tadi dan sudah chat jika dia harus menunggu di bawah pohon dan jangan mendekat sebelum dipanggil.
Yunna langsung memanggil bang ojol dan memakai kan helm nya lalu pergi menyusul sang suami.
Sampai lah mereka di depan apartemen Nola, di sana mobil zergan baru masuk ke parkiran. Yunna turun dan memberi kan beberapa lembar uang ke Abang ojol itu lalu melangkah masuk ke apartemen.
Yunna berjalan dengan gontai tanpa melihat ke kanan kiri .. dia sudah tidak perduli lagi...rasanya ingin berteriak.
Setelah sampai di depan apartemen Nola, badannya bergetar ketika mendengar percakapan keduanya.
"Sayang...jangan marah dong... Ayolah...masa gitu aja marah..."
"Bagaimana aku tidak marah? Kamu cuti seharian bersama dia dan dia up load semua photo kemesraan kalian. Bagaimana aku tidak cemburu."
"Dia kan istriku...kasian sudah hampir tiga bulan kami sangat jarang bersama...aku ingin sedikit membahagiakan nya."
" Kak.. ayo lah .... Kita menikah. Hemm. Aku tak sanggup berjauhan dan membagimu dengannya."
"Sayang .. dari awal aku sudah bilang...dan kamu setuju jika aku tetap menikah dengannya, dan kamu menerima itu asalkan kita bersama."
"Tapi itu dulu... Setelah enam bulan ini, membuatku tak bisa lagi sayang... Aku membayangkan kalian bercinta, dan itu menyakitiku. Makanya mulai saat itu aku meminta mu untuk setiap hari menghabiskan waktu dengan ku. Supaya kau hanya berada di sisiku kak."
__ADS_1
" Nanti aku pikirkan masalah itu ya... Sekarang apa yang kau inginkan"
"Aku ingin kau menghangatkan tubuh ku, ayo sayang...aku rindu tidak melihat mu di kantor..." Hening..tak ada ucapan lagi yang ada hanya decapan dan lenguhan kecil terdengar oleh Yunna.
Ketika Nola berbicara menyuruh menutup pintu pada zergan, Yunna yang sudah tak dapat menahan lagi, lalu dia dorong pintu apartemen nya dan brak...pintu terbuka, terlihat mereka masih dalam keadaan saling berpelukan dan wajah zergan yang asalnya berada di leher Nola langsung menoleh ke arah pintu.
Kaget bukan main dan wajah nya memerah... langsung dilepaskan pelukan itu dan mencoba mendekat ke arah Yunna.
"Stop...jangan mendekat.... " Langkah zergan terhenti "Ini pekerjaan yang kau lakukan kak? Membereskan laporan dengan bos besar?" Mata Yunna mulai berkaca kaca
"Yunna sayang....bukan begitu..kau salah paham...tadi Nola hampir terjatuh jadi kakak tolong." Ucap zergan terburu buru memberikan penjelasan badan hanya di balas senyuman pahit oleh Yunna.
"Kak...kalo mau bohong, lihat lihat dulu. " Zergan bingung dengan ucapan Yunna. " Maksudnya kakak bohong?" Tanya zergan dengan terbata bata
" Jadi menolong Nola bisa bikin mulutmu nempel di leher dan meninggalkan bekas ya kak." Zergan terbelalak dengan penuturan Yunna dan dia langsung melirik ke leher Nola, benar saja di situ sudah ada dua bekasnya tadi.
Nola yang kepergok malah santai dan tersenyum lalu duduk di pinggir ranjang.
"Kenapa kalian melakukan ini di belakang ku?" Tanya Yunna.
"Karena kami saling mencintai, tentu saja. Pertanyaan mu itu sungguh bodoh. Dasar bocah." Ucap Nola dan Yunna langsung merasa marah.
" Kenapa kamu lakukan ini Nola?" Yunna menatap tajam
" Karena aku mencintai... sangat mencintai kak zergan. Dia cinta pertama ku, sejak SMA. Lalu apa salahnya jika aku merebut nya darimu?"
"Kenapa... Kenapa tidak dari dulu kalian bersama, kenapa kamu menikahiku zergan... kenapa bukan dia hiks.. hiks" teriak Yunna sambil menunjuk Nola
" Sayang... please...kita bicarakan semuanya di rumah ya... please." Bujuk zergan.
"Kak ..kita sudah ketahuan, kita juga saling suka dan menikmati kebersamaan kita, jadi... cepat ceraikan saja dia kak." Zergan menatap Nola dengan kesal
"Diam Nola, ini rumah tangga ku. Sebaiknya kamu diam saja." Zergan menarik tangan Yunna dan membawanya keluar dari apartemen Nola, memasukkan Yunna ke dalam mobil dan melajukan nya ke rumah milik mereka.
" Turun..." Pinta zergan namun Yunna terdiam, rasanya dia lelah. Menahan emosi juga meluapkan emosi yang selama ini dia pendam telah menghabiskan begitu banyak energi.
__ADS_1
Saat ini, rasanya Yunna ingin tidur dan mengunci diri di kamar... Tak mau bertemu atau berinteraksi dengan siapa pun
Melihat Yunna tak bergerak membuat zergan membukakan pintu dan menggendong Yunna masuk ke rumah.
"Aaaaaa.. lepas ********.... brengsek... lepas....hiks..hiks .." Yunna diturunkan di depan pintu dan zergan mengeluarkan kunci dan membukanya.
Ditariknya tangan Yunna langsung di bawa ke kamar setelah mengunci pintu rumah nya.
Yunna duduk di sisi ranjang masih dengan tangisannya. Sesak dadanya.. rasanya dia ingin berteriak. Dua merasa kuat sebelum semuanya terbongkar, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis, namun kenyataannya lain...dia tak bisa menahannya.
"Ceritakan kak...maksud kakak apa? Aku banyak salahkah terhadap kakak? Apa alasan nya kakak berbuat seperti ini kepada ku?" Zergan terduduk di bawah kaki Yunna dan menatap wajah Yunna dari bawah.
"Maaf.... Kakak melakukan ini karena kakak ingin seorang anak dan kedudukan." Yunna menangis kembali...
"Jadi maksud kakak...kakak ingin punya anak dari Nola? Hiks .hiks... Kak..anak itu titipan Tuhan.. jika Tuhan kasih pasti akan dikasih, jika belum kita bisa mengadopsi atau terus menunggu."
"Apa sekarang dia sudah hamil? Lebih cepat dariku....sudah berapa lama kalian bersama Hem?" Zergan tertunduk tak sanggup menatap wajah Yunna
"Walaupun aku tak punya anak dari Nola, aku tak apa sayang .. aku hanya membutuhkan uang dan kedudukan. Awalnya dia menggodaku, lalu dia mengiming-imingi aku uang..... Aku ingin buka perusahaan sendiri, tabunganku sekarang lumayan banyak, kita bisa menikmati nya....sedikit lagi sayang....tapi kau sudah mengacaukan nya."
"Apa kamu bilang? Mengacaukan nya? Trus mau mu apa? Aku terima dan diam saja setelah beberapa lama aku tahu Hem?"
"Sebaiknya kita bercerai saja kak...."
" Tidak aku tidak mau... Aku mencintaimu sayang.... Bagaimana jika kita tetap bersama, setelah kebutuhan kita cukup, aku akan tinggalkan dia."
" Maksudmu apa? Aku biarkan kalian terus berbuat dosa... Berzina setiap hari? Dan aku menangis terus setiap hari karena suami ku tengah bercinta dengan wanita lain, iya?" Bentak Yunna
" Yunna, please...ini semua demi kita...."
" Bukan demi kita.... Aku tak meminta harta yang melimpah kak.... Dengan hidup bersama mu itu sudah cukup bagiku... Hasil kerja kita juga cukup untuk kita berdua. Tabunganku juga cukup untuk membesarkan dua anak. Tak ada yang aku inginkan selain hidup bahagia denganmu kak. " Zergan terdiam
"Jika Nola hamil, dia juga gak akan membiarkan kita bersama, pada akhirnya kakak bukan memikirkan kita, tapi memikirkan diri kakak sendiri." Lanjut Yunna dengan lembut dan wajah sendu. Rasanya lelah ..sangat lelah... Yunna membaringkan tubuhnya di atas kasur.
" Pergilah kak...aku butuh sendiri.." zergan pun bangun dari duduknya dan beranjak ke luar kamar setelah menutup pintu kamar.
__ADS_1
Dia termenung dengan segala keadaan saat ini. Dia membaringkan tubuhnya di sofa depan televisi.
Suara telpon berdering, dia melirik ke arah handphone yang berada di atas meja, terlihat nama bos besar di sana namun zergan tak mengangkat nya. Dia biarkan saja dan menggantinya dengan silent. Dia menutup matanya, rasanya dia juga lelah...