Aku, Kamu Dan Dia

Aku, Kamu Dan Dia
Azof Mahendra


__ADS_3

Sisa satu jam yang akan dipakai untuk memeriksa berkas berkas ternyata tak bisa dilakukan, Augus yang baru mengenal Yunna dan menerima no kontak Yunna, sedari tadi menelpon terus dengan alasan mengecek jika no Yunna benar benar aktif. Lucu bukan.


"Maaf ganggu kamu.. aku hanya mau cek no nya benar benar aktif, dan aku akan kembali ke sana jika no mu tidak aktif ibu Yunna."


"Oh God... Can you just call me Yunna? Aku agak aneh aja jika bukan muridku yang menelpon."


" Murid? Memang kamu seorang guru?"


" Ya, tepatnya dosen. Makanya saya tidak pernah menampakkan diri di perusahaan, saya selalu bekerja di balik layar."


"Oh... interesting."


"Ya dan maaf, saya harus bersiap karena akan menghadiri meeting sebentar lagi."


"Oh..ok..ok.. maaf sudah ganggu."


"It's ok."


Telpon akhirnya selesai dan yunna menarik napasnya dengan panjang. Yunna saat ini teringat dengan kenzo, sedang apa dia sekarang. Biasanya sebelum makan siang selalu datang ke kampus untuk mengajak lunch bareng.


Tak lama terdengar lagi suara telpon.


Drrrrt drrrrrttttt...


"Hallo ... Apalagi August?" Suara sepi, hening. Yunna melihat handphone nya dan baru sadar jika yang menelpon bukan Augus " oh my.." batin Yunna dia kaget.


"Siapa Augus?" Terdengar sedikit berbeda dingin tidak lembut tidak, susah diutarakan bagaimana reaksinya saat ini


"Emm maaf.. aku pikir itu client yang tadi pagi meeting denganku.


"Tapi kalian terdengar akrab ya, sudah sampai memanggil nama dan apa tadi 'apalagi' kalian dari tadi telponan ya? Pantas aku telpon dari tadi susah nyambung. Ada yang lagi sibuk ternyata." Kenzo berusaha berbicara dalam nada yang lembut namun kata katanya seperti menyindir atau lebih ke merendahkan diri seperti 'ya..aku mah siapa atuh?'


"Bukan gitu zo... Usia kami memang gak beda jauh dan rasanya agak aneh bagi aku untuk memanggil pak dan dipanggil ibu. Jadi kami memanggil nama saja jika tidak sedang dalam meeting. Dan tadi dia minta no ku, trus dia telpon terus jadi aku agak kesal."


"Oh ... Nelpon terus ya.. seperti nya dia tertarik padamu Miss .."


"Kamu kenapa sih? Nada bicaramu kok aneh ya? Cemburu?"


"Cemburu? Hem... Apa aku punya hak untuk cemburu Miss?"


"Nih bedanya ya, Biasanya kamu panggil aku Miss ku, nadanya juga riang tapi sekarang beda aja agak dingin gitu, cuek... Aku gak suka."


"Ya jujur, aku cemburu dan khawatir, tapi apa hak aku? Aku tak punya hak untuk cemburu kan? Siapa lah aku yang hanya mantan murid mu Miss."


"Kamu cemburu... Ya ampun... Zo... Aku bilang ya... Kami baru kenal jadi gak mungkin ada apa apa dengan kami berdua, walaupun wajahnya emang ganteng sih.."


"Ya ganteng apalagi tuh... Bisa dengan cepat kan kamu tertarik sama dia."


"Zo...tidak semudah itu, dia gak tahu masa lalu aku.. kamu yang sudah tahu dan mau menerima aku apa adanya aja, aku masih belum bisa memperjelas status kita....apalagi dengannya."


"Jika dia tahu dan menerima mu bagaimana? Mau diterima?"


"Zo... Please... Aku sudah bilang akan memberikan kesempatan padamu kan? Artinya kau prioritas ku...ok."


"Prioritas mungkin iya, tapi siapa tahu kamu malah lebih mencintai nya daripada aku... Sungguh aku merasa sedih.."


"Ya ampun zo.... Apa yang bisa aku lakukan supaya membuatmu tenang Hem?"


"Menjadikanku pacarmu yang sah?"


"Oh zo...tunggu abis masa Iddah zo... Aku baru bisa sampaikan bagaimana seterusnya ok..."

__ADS_1


"Ya sudah.."


"Sudah apa?"


"Ya sudah.. aku pergi... Aku mau meeting.."


"Ayolah... Kamu masih marah dan kesal kan padaku? Dan ini waktunya untuk makan siang, kamu harusnya makan bukan?"


"Aku gak mood makan sekarang, seleraku sudah hilang. Aku mau ngopi aja sambil tunggu waktu meeting."


"Zo..." Terdengar Yunna merajuk


"Yunna, aku tutup ya.."


"Zo..ih..zo..kalo gini aku juga jadi gak mood untuk makan siang..." Rajuk Yunna


"Jangan..nanti kamu sakit, biar aku aja."


"Hehehe... Dylan milenial nih ceritanya?"


"Hehe . Udah ah aku mau pergi."


"Zo..."


"Udah yun... Aku pergi ya." Masih dengan nada lembut. Tapi Yunna merasa tidak enak hati.


"Zo...ok ..ok.. tapi dengarkan dulu.. emmm.."


"Apa? ... Cepet..."


"Aku sayang kamu zo.." Tut .Tut...Tut.. telpon Yunna tutup sepihak, Kenzo yang mendengar ucapan Yunna langsung terbengong dan tak lama dia tersenyum..


"Aaaah Yunna...kenapa kamu tutup telponnya, kan aku jadi kangen." Monolog Kenzo


Hati Yunna berdetak kencang.. dia bingung kenapa dengan beraninya mengutarakan perasaannya.


"Aaaahhhhh... Maluuuuu." Tak jauh suara langkah mendekat dan membuka pintu ruangannya.


"Kamu kenapa Yun?"


"Hehe...bunda..."


"Bunda dengar kamu teriak aaaahhhh maluuu...kenapa?" Bunda menatap putri satu-satunya itu dengan intens menelisik apa yang sedang putrinya rasakan.


"Gak apa apa kok bunda." Yunna menstabilkan perasaannya.


"Tapi... sepertinya tidak begitu deh."


"Bunda..udah ah... Kita makan yuk. Tadi kak Bayu udah pesanin makanan, tuh di meja. Abis itu kita sholat dan bersiap meeting. Tapi kalo bunda mau pulang GPP Bun, kan ada kak Bayu juga."


"Bunda ada perlu dulu Yun di kantor. Mau mengumpulkan panitia buat pesta penyambutan mu Sabtu ini. Oh ya.. perusahaan Adipati memberikan undangan, acara Minggu ini. Dan kamu tahu kan itu perusahaan siapa?" Yunna terdiam dan menganggukan kepalanya


"Milik Nola bunda..." Yunna tersenyum kecil


"Kamu gak papa sayang?" Bunda menatap mata coklat Yunna merasakan apa yang Yunna rasakan. Sebagai ibunya dia tahu hal ini tidak mudah.


"Sebaiknya nanti minta kak Bayu aja ya yang menghadiri acara itu." Yunna menggeleng " jangan bunda, biar aku datang .. aku GPP, lagi pula aku CEO perusahaan ini dan aku ingin melihat mereka." Bunda menatap sendu


"Kamu gak papa? Kalo berat lebih baik tidak datang. Untuk apa kamu menyakiti dirimu sendiri sayang?" Yunna tersenyum manis "gak papa bunda.. i am fine, ok. Don't worry." Bunda menghela napasnya


"Baiklah jika itu maubmu, tapi jika kamu berubah pikiran, bilang ke bunda ya."

__ADS_1


"Siap bunda."


Setelah makan siang dan melaksanakan kewajiban, Yunna sudah siap untuk menghadiri meeting berikutnya.


"Sayang, nanti kamu meeting dengan Mahendra Company, dia bergerak di bidang industry juga... Mereka membutuhkan mesin pemintal kita, jadi mereka akan membawa bahannya dan mesinnya kita yang menyediakan."


"Kenapa mesti mesin kita? Kenapa mereka tidak beli mesin sendiri?"


"Kita punya mesin dengan tenaga super cepat Yun, ayahmu dan temannya yang membuat itu di jerman. Ayah dengan sahabatnya yaitu tuan Miller. Dan mereka hanya membuat 5 saja, dua mesin ada di pabrik kita, dua di pabrik milik tuan Miller dan satu di pabrik Adipati."


"Yun, Tuan Azof CEO dari Mahendra Company sudah datang. Ke ruang meeting sekarang ya.."


"Ya udah kamu meeting bunda langsung ke ruang 405 untuk mempersiapkan acara Sabtu."


Yunna dan Bayu berjalan berdampingan, mereka masuk dengan sambil melempar senyum akibat Bayu yang sedang menggoda nya karena tingkah Augus.


Yunna masuk ke ruang meeting lalu mendudukkan dirinya di sebrang pria yang datang atas nama Mahendra.


Mata mereka bertemu, saling menatap dan terkejut... Mereka tersadar akibat suara deheman dari Bayu.


"Khem..khemm bisa kita mulai meeting nya?"


"Oh...i..iya.. saya Kenzo Azof Mahendra... Dari Mahendra Company." Dia mengulurkan tangannya dan bersalaman.


"Ini Yunna Az-Zahra... CEO Yun's Company dan saya sekertaris beliau selama di Bandung."


"Oh... Yunna? Tak sangka..dia CEO Yun's Company selama ini? Trus apa? Sekertaris? Emang gak ada sekertaris cewek apa? " Gumam kenzo.


Meeting berjalan dengan lancar baik Kenzo atau Yunna bisa bersikap profesional. Setelah meeting selesai dan mendapatkan kesepakatan meeting pun mereka akhiri.


Bayu yang sudah tahu dari gelagat kedua orang di depannya merasa harus memberikan kesempatan untuk berdua saja di ruangan itu.


"Baiklah, kesepakatan sudah kita dapatkan, mungkin tuan Azof mau berbincang dulu dengan pimpinan kami jadi kami persilahkan dan kami pamit undur diri."


Semua meninggalkan ruangan meeting dan hanya tersisa mereka berdua.  


Kenzo yang sudah kangen tak bertemu tiga hari, apalagi kejadian tadi di telpon membuat dia tak bisa menahan diri langsung bangkit dan memeluk Yunna dengan erat.


"Kenzo..." Napas mereka berburu dengan cepat.


"Kamu selalu memberikan kejutan Yun, aku tak perduli kau CEO atau bukan aku hanya ingin memelukmu ketika kau bilang sayang padaku, rasa rinduku bertambah besar. Rasanya ingin berlari ke Jakarta dan memeluk mu." Yunna tersenyum malu, wajahnya serasa panas. Jika dia bercermin mungkin sudah terlihat bagai tomat matang.


"Kenzo... Tak ku sangka kau bilang ada urusan di luar kota itu di Bandung."


"Yunna, jangan bicarakan pekerjaan... Aku hanya ingin memelukmu." Kenzo memeluk Yunna dengan erat."


"Tapi... Gimana dengan masa Iddah?" Ucap Kenzo langsung melepaskan pelukannya...namun Yunna sekarang yang memberikan  pelukan mesranya.


"Yunna..." Kenzo kaget dengan perlakuan Yunna.


"Aku tak perduli lagi zo... Yang pasti aku sayang kamu.."Kenzo menatap Yunna lekat.


"Ya lagipula aku sudah tak sanggup lagi menahan diriku Yunna, sudah 6 tahun lebih aku menahan ini semua...rasanya jantungku mau meledak ketika kau bilang sayang. Emmm tapi bukan cinta ya?"


"I love you Kenzo..." Yunna malu.. sungguh malu dan menutup wajahnya dengan dada Kenzo.


Kenzo terbelalak dan merasakan kebahagiaan yang selama ini dia nantikan... Dia angkat dagu Yunna ingin menatap wajah cantik Yunna.


"Yunna.. katakan sekali lagi..aku tidak sedang bermimpi kan?"


"Auwww...sakit Yun.." Yunna tersenyum manis "gak mimpi kan?"

__ADS_1


Mereka saling tertawa dan kedua tangan Kenzo masih melingkar di pinggang Yunna.


Mereka saling bertatapan dan jantung mereka berdegup kencang, pipi dan punggung serasa panas. Menatap bibir Yunna membuat Kenzo tak bisa lagi menahan jiwa lelaki nya...


__ADS_2