
Yunna pergi ke RS setelah bertemu dengan Zayn di kantornya. Yunna merasa dia butuh bertemu sang kakak, walaupun dia masih akan merahasiakan keadaan pernikahan nya.
Yunna melangkah dengan tenang, tak terlihat raut wajah sedih ataupun putus asa... Dia merasa saat ini dia harus tegar, bukan cuma demi dirinya tapi demi sang bunda yang sangat dia cintai.
Yunna sebelumnya sudah menghubungi Jihan dan tepat makan siang dia sampai di RS sehingga mereka bisa santai di kantin sambil makan dan ngobrol.
"Hai kak... Sudah pesan makan?" Jihan menganggukan kepalanya " sudah, sebentar lagi juga Dateng pesanannya." Yunna duduk di depan Jihan.
"Kak... Emmm aku pengen tanya deh, kak sillia ada gak? Kalo pengen Konsul bisa gak?" Jihan mengeryitkan dahinya "tumben kamu yang nanyain duluan. Ada apa?" Yunna tersenyum kecil
"Kalo mau tes kesuburan bisa? Aku mau tanya tanya dulu aja sih..." Jihan menganggukan kepalanya " kamu yakin pengen tes kesuburan?" Yunna menganggukan lagi.
"Ya mungkin, walaupun belum tentu Sekarang sih, aku butuh memberanikan diri dulu." Wajah Yunna begitu sendu
"Kakak tahu, kamu pasti ragu dan takut kan? Tapi ingat, yang di tes itu bukan cuma istri, tapi suami juga. Kalian harus datang bersama dan dites juga bersama, yang buat anak itu kan berdua, jadi jangan pernah menjudge istri yang mandul, mungkin suaminya, Keduanya atau keduanya subur, tidak ada masalah hanya Tuhan belum kasih aja... Bisa jadi ini sebagai ujian dan Tuhan ingin tahu, apa kah pasangan itu kuat atau tidak? Atau kah jadi selingkuh dan menjadikan anak sebagai alasan, kan kita tidak tahu."
Deg.... Sangat menusuk hati... Tepat sasaran. Apa yang diucapkan Jihan memang benar seperti itu adanya. Bukan jaminan kalo tidak punya anak pasti istrinya yang tak becus atau mandul.
"Iya kak, Yunna tahu .. namun Yunna cuma pengen Konsul aja, tapi tidak sekarang. Santai aja kak..." Jihan Tersenyum.
"Tapi pernikahan kalian tak ada masalah kan? Soalnya aku kayak pernah liat gitu zergan sama cewek siapa itu... emmm ... Katanya sih atasannya. Mereka lagi meeting gitu di restoran. Kita juga lagi makan bertiga, kakak, Naomi juga sillia. Cuma aneh gitu mereka kayak dekat banget, kayak bukan sama atasan."
"Itu Nola kak, mereka sudah sangat dekat, zergan dan bang Dimas kakak Nola itu sahabatan. Mereka udah kenal saat SMA." Yunna tersenyum dan Jihan ber oh ria saja
"Iya ...saking dekat nya sampe saling himpit." Gumam Yunna yang teringat kembali lukanya.
__ADS_1
Mereka banyak berbicara sambil sekali kali tertawa karena jihan membicarakan tingkah Adi sang suami yang selalu konyol.
Tak terasa waktu istirahat Jihan telah habis dan yunna pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
Saat tiba di rumah, Yunna dapat melihat mobil zergan, malas rasanya pulang jika ada dia, namun Yunna sudah lelah dan ingin terlentang di atas kasur nya.
Ketika Yunna masuk, zergan tengah duduk di kasur dan fokus ke laptop nya. Merasa ada orang yang memasuki kamar, zergan langsung menoleh kan wajahnya ke arah pintu.
Yunna masuk lalu membuka lemari baju, bawa baju ganti dan handuk. Zergan tak henti hentinya memperhatikan Yunna.
"Kemana saja kamu? Aku cari ke kampus kamu tak ada." Yunna hanya diam dan melangkah ke dalam kamar mandi.
"Tunggu ..kita perlu bicara." Yunna Tak memperdulikan ucapan zergan dan zergan pun sedih karena Yunna tidak menggubris nya.
Zergan harus bersabar. Dia menahan amarahnya dan duduk terdiam memperhatikan pintu kamar mandi.
Yunna berjalan hendak keluar kamar namun dihentikan oleh zergan.
"Stop...kamu mau ke mana?" Yunna berhenti. " Aku mau tidur, capek." Jawab Yunna jutek.
"Ini kamarmu, kenapa keluar? emang Mau tidur di mana?" Ucap zergan lembut.
" Kamar sebelah." Jawab Yunna singkat, dia malas sekali berbicara dengan cowok itu.
" Tidurlah di sini sayang...." Zergan mendekat dan memeluk Yunna dari belakang dan yunna melepaskan pelukan zergan. " Hentikan." Zergan terpaksa harus sabar
__ADS_1
"Sayang...aku kangen banget." Tangan zergan mengelus pipi Yunna namun dihempaskan dan itu membuat zergan marah sekali " Yunna, aku ini suamimu, kau harus memberikan hakku." Yunna tersenyum lebar
"Ahahaha... Hak kamu bilang? Hahaha... Ya benar, kamu berhak mendapatkan nya tapi kenapa aku lupa ya kalo aku masih punya suami. Oh ya... Aku kan sudah dilupakan, tapi kenapa kamu tak minta sama istri barumu. Ya .. walaupun belum nikah tapikan kalian sudah sering tidur bareng.. se-ti-ap ha-ri."
Zergan langsung memasang wajah sendu... " Sayang .. please maafkan aku..." Yunna tersenyum manis
"Baiklah, kakak akan aku maafkan" sontak muncul senyuman di wajah zergan. Dia terlihat bahagia.
" tapi ijinkan dulu aku tidur dengan laki laki lain. Bagaimana? Salah satu Mahasiswa atau temanku Nathan juga boleh." Zergan langsung melotot mendengar ucapan Yunna
"Maksud kamu apa Hem?" Yunna kembali tersenyum " kamu bilang aku harus memaafkan mu kan? Sekarang aku tanya, apa kamu akan menerima ku kembali jika aku telah tidur dengan laki laki lain? Tak perlu setiap hari seperti yang kalian lakukan, hanya sekali saja, ijinkan aku sekali saja, bagaimana?" Zergan diam menahan amarahnya.
Yunna tersenyum manis. " Tak bisa kan? Haha...wajahmu saja sudah merah begitu menahan marah.... Kau bayangkan betapa sakitnya aku ketika tahu suamiku tidur dengan wanita lain, dan itu..... sahabat ku sendiri... Bisa kau bayangkan? Dan ... Setiap hari mereka bercinta, hampir tiga bulan kalian melakukan nya setiap hari."
"Tiga bulan berarti 90 hari... Kalian hampir 90 kali melakukannya, belum hari hari sebelumnya.... Kalo tak salah dengar sudah 6 bulan yang lalu bukan? Dan apalagi jika menginap.... Mungkin seharian di hari Sabtu bisa 3x kalian melakukan nya, oh...omo Hebatnya kaliaaaan, mengalahkan pengantin baru.... Jadi mungkin sudah 100 kali an kalian lakukan itu..."
"Hentikan Yunna... hentikan...sudah cukup." Teriak Zergan
" Cukup kamu bilang? Huh? Cukup kamu bilang? Bisa kau pikirkan semua itu? Betapa sakitnya aku, hiks..hiks... Mengetahui kalian bermain di belakangku? Hiks..hiks... Dan aku masih memberikan kesempatan kepada mu ... Namun apa? KAU... Lebih memilih dia di saat aku memberikan kesempatan itu...." Teriak Yunna dengan berderai air mata. Zergan menatap sendu.
" Ya... Saat kita ke pantai... Saat itu aku sudah tahu dan pada saat itu aku sedang memberikan kesempatan kepada mu, kak.... Tapi apa? Kau tahu sendiri apa selanjutnya yang terjadi....kau malah akan bercinta dengannya.... Ketika kita baru pulang dari pantai..." Zergan terduduk di lantai dan menunduk
"Aku sudah tahu kak.... Ketika aku pergi ke rumah bunda, saat itu aku baru tahu.... Sekarang kau bayangkan, betapa sakitnya namun aku masih memberikan kesempatan itu... Dan kau sia-sia kan." Yunna berbicara dengan pelan pelan, menekankan setiap katanya untuk zergan dengar dengan seksama.
" Sekarang kita balikkan, aku di posisi kakak, aku bercinta dengan liar, mendesah bahkan bukan sekali tapi seratus kali... Bahkan mendapatkan uang? Menurutmu aku apa?lalu Uangnya ku bagi dengan suamiku tercinta, membeli rumah...oh ya... Rumah mewah juga. Karena terbongkar dengan gampangnya ku minta kau menerima ku? Bagaimana? Apa mungkin cukup satu hari kau terima aku? Atau kau akan langsung mencekikku dan menendang ku lalu menceraikan ku, kak? JAWAB." Zergan menangis dengan keras
__ADS_1
"Maaf...maaf ..maaaf..." Zergan terlihat lemah, dia tak sanggup mengangkat kepalanya.
"Apakah cukup hanya dengan kata maaf, kak?" Yunna duduk di sisi tempat tidur dan menyenderkan kepalanya ke dinding.