Aku, Kamu Dan Dia

Aku, Kamu Dan Dia
Surat pemanggilan


__ADS_3

Seharian Yunna menyibukkan dirinya di kampus, dari pagi sampai petang dia berada di sana walaupun sebenarnya dia sudah selesai mengajar pukul 2 sore.


Dia mengisi waktunya dengan memeriksa pekerjaan mahasiswa nya dan menghabiskan waktu di perpustakaan.


Setelah hari mulai petang, Yunna menaiki motor nya dan sebelum menjalankan motor kesayangan nya itu, dia menyempatkan dirinya untuk menelpon seseorang.


Tut...Tut... Tak lama telpon pun diangkat.


"Malam Bu..."


"Malam pak..."


"Iya ada apa Bu?"


"Saya mau tanya kelanjutannya kira kira bagaimana?"


"Semua sudah beres dan besok suratnya akan datang ke kantor bapak."


"Baik, terimakasih. Di info aja ya pak kapan jadwalnya, biar saya bisa hadir dan saya bisa ijin ke pihak kampus."


"Oh ya siap Bu."


"Terimakasih"


"Sama sama."


Telpon berakhir.. Yunna langsung menjalankan motornya. Ketika sampai di rumah, Yunna sudah melihat mobil suaminya di sana.


"Tumben udah pulang, biasanya jam 9 malem baru nyampe." Gumam Yunna


Yunna masuk dan bergegas ke kamar namun zergan menghentikan nya.


"Yun, sayang... Kamu udah pulang? Makan belum?" Yunna hanya diam saja.

__ADS_1


"Yun, please jangan diamkan aku..." Yunna berbalik dan menatap wajah zergan " kenapa? Makan? Belum... Nanti aja." Jawab singkat Yunna


Zergan beranjak ke kamar mengikuti Yunna.


"Yun, aku... Bingung..." Yunna duduk di pinggir ranjang. " Bingung kenapa?" Ucap Yunna santai


" Aku ... Aku... Di suruh secepatnya menikahi Nola." Deg.... Walaupun itu memang sudah pasti keadaan memaksa seperti itu, namun tetap saja rasanya menyakitkan.


Rasanya yunna sulit sekali menelan ludah nya " ya.... menikah lah, bukan kah itu memang sudah seharusnya? Kaliankan akan punya anak secepatnya." Yunna bangun setelah melepas kaoskaki dan juga menyimpan tasnya. Dia melangkah ke dalam kamar mandi dan menarik napas dalam-dalam mencoba tenang, keadaan seperti ini pasti akan datang lambat laun.


Zergan masih terduduk di sofa kamarnya, dia menunggu Yunna keluar dan saat yunna keluar zergan langsung menoleh ke arah Yunna dan tersenyum.


"Sayang.... Kamu yakin tidak apa apa?" Yunna tersenyum kecil " bukankah aku memang harus siap kak?" Zergan menatap sendu Yunna. " Kamu yakin tak apa aku menikah lagi?" Yunna yang sudah keluar memakai baju tidurnya langsung mengambil alat sholat dan meletakkan sejadah " kakak sudah sholat isya?" Zergan menggeleng


Yunna tersenyum " ambillah wudhu kak, kita sholat bareng." Zergan tersenyum manis dan merasakan kebahagiaan, setelah perang dingin dari kemaren akhirnya hari ini dia bisa melihat sisi lembut Yunna kembali.


Zergan bergegas mengambil wudhu dan memimpin sholat. Setelah mereka selesai Yunna mencium punggung tangan zergan.


"Kak.... Jangan lupakan sholat, dan jangan melakukan hubungan intim dulu sebelum kalian menikah, jika tidak tahan, secepatnya lah kalian menikah. Cukup.. jangan buat dosa lagi." Yunna beranjak dari duduknya.


"Untuk sholat berjamaah kali ini, aku ucapkan terima kasih kak, mungkin ini yang terakhir." Ucap Yunna dengan pelan dan lembut namun kata katanya benar benar menusuk jantung zergan.


"Terakhir? Apa maksudnya?" Gumam zergan.


"Maksud kamu apa Yunna? " Teriak zergan. "Kenapa harus terakhir?" Yunna tersenyum manis " ya karena aku tak akan ada di samping mu lagi kak... Jadi kakak akan sholat dengan Nola, istri kakak. Bukan aku." Zergan masih belum bisa mencerna ucapan Yunna


" Kamu juga kan istri kakak, kakak akan sering pulang walaupun kakak sudah menikahi Nola, Yun." Yunna tersenyum lebar " jangan kakak pikir, karena aku berbicara lembut, aku akan menerima dan tetap menjadi istri kakak setelah kakak menikah. Jangan bergurau kak." Zergan tambah tak mengerti


"Kakak masih belum paham? Sebelum kalian menikah, kita akan bercerai. Jadi jangan berpikir kakak akan memiliki istri dua. " Zergan seketika merasa sakit hati nya


"Maksud kamu Yun, kita bercerai?" Yunna menganggukan kepalanya


"Ya kak, sudah ku bilang aku tak mau di madu, dan Nola sudah hamil, kalian harus secepatnya menikah. Jadi di sini, aku yang harus mundur.. aku ikhlas kak melepaskan mu." Yunna menahan rasa sesaknya. Dia sudah siap... Benar benar siap....

__ADS_1


"Ya... Tapi aku yang tak rela melepas mu Yun... Aku tak mau." Yunna tersenyum kecil " kakak kira Nola mau menjadi istri kedua? Baik aku ataupun dia, tidak ada yang mau di duakan. Aku tak se Sholehah itu kak... Aku tak akan sanggup. Mengetahui kalian bermain di belakangku saja sudah sesak... Itu baru seminggu ini, apalagi seterusnya harus hidup di madu yang entah sampai kapan." Zergan masih terduduk di tempatnya, dia mengusap wajahnya dengan kasar dan menjambak rambutnya sendiri karena merasakan pusing.


"Bukankah ini yang kakak inginkan? Seharusnya kakak sudah memperhitungkan nya..... saat Nola hamil, ini yang akan terjadi."   Yunna naik ke ranjang, menidurkan badan nya menyelimuti sampai ke leher.


Zergan berdiri dan menatap wajah sang istri dari pinggir ranjang dan keluar kamar lalu tidur di kamar tamu.


Zergan saat ini tengah bekerja di dalam ruangannya, karena lelah dia langsung berdiri dan menyenderkan tubuhnya di depan kaca ruangannya sambil melipat kedua tangannya di dada, menikmati pemandangan kota Jakarta yang begitu padat di siang hari.


Tak lama suara ketukan terdengar.


Tok..tok..tok..


"Masuk" suruh zergan.


"Maaf pak ini ada surat." Zergan melirik ke arah Gugun sang OB


"Taruh di meja gun, makasih ya.." Gugun menyimpan surat itu dan pamit pergi.


Zergan berjalan ke meja dan meraih surat tersebut. Di sana dia dapat melihat kop suratnya. 'Pengadilan Agama' deg..zergan seketika merasa lemas. Dia langsung mendudukkan dirinya di kursi.


"Surat pemanggilan sidang cerai" baca zergan dengan lemah dan terbata bata. Tangannya lemas... "Secepat ini kah Yun?" Zergan tertunduk.


Tak lama terdengar suara pintu terbuka dan masuk seorang wanita cantik dengan menggunakan dress yang sangat seksi. Dia melangkah masuk mendekati zergan.


Zergan yang sudah tahu itu adalah Nola, saat Nola melangkah langsung surat itu dia masukan ke dalam laci mejanya.


"Hai sayang...ayo kita makan siang... Kan kamu sudah janji kita makan bareng.   Oh ya... Surat undangan sedang di cetak dan mungkin besok juga akan beres." Zergan hanya tersenyum saja


" Kok diam saja sih? Oh ya... Kamu sudah urus surat cerai kamu kan? Aku gak mau ya kita menikah tapi statusmu belum jelas." Zergan hanya mengangguk saja


" Sayang... Ingat.. aku hamil anak kamu dan kita harus bersama, tenang... Setelah menikah posisi direktur cabang di sini, kamu yang pegang. Aku akan bekerja menjadi sekertaris mu saja. Dan impianmu terpenuhi." Zergan terbayang akan semua impiannya dia tersenyum semua impiannya selama ini akan terwujud, dan dia lebih antusias mendengar ucapan Nola


"Baik zergan... Impianmu akan terwujud, jadi berbahagialah... Toh Yunna tak mungkin jauh darimu...dia sangat mencintaimu. Selama ini dia yang mandul...dan mungkin dia tidak akan menikah lagi. Dan kau bisa merayu dia untuk terus berhubungan di belakang Nola, semua pasti bisa berjalan dengan baik." Ucap batin zergan dan dia tersenyum-senyum.

__ADS_1


__ADS_2