
100 hari sudah perceraian Yunna berlalu, Yunna banyak disibukkan dengan perusahaannya juga jadwalnya mengajar.
Saat ini zergan malah sedang pusing memikirkan banyak kontrak yang di putus. Perusahaan Adipati mengalami kerugian milyaran rupiah. Sang mertua pun marah dan meminta zergan menghadap.
"Zergan... Sebenarnya apa sih yang bisa kamu lakukan? Jika kamu tak mampu, kembali saja ke pangkatmu yang dulu." Sentak pak Adipati
"Maaf pah, aku bingung,..aku sudah hubungi Yun's Company untuk melakukan kerjasama namun mereka sudah memiliki kerjasama dengan banyak client sampai dua tahun ke depan dan perusahaan Miller susah dihubungi."
"Coba hubungi sekertaris nya, atau langsung ke Mr Arsen...bukan kah kau kenal?"
"Iya pah, justru itu dia gak menerima telpon ku, mungkin sibuk."
"Ya sudah nanti papah suruh Dimas yang hubungi. Kamu ini ... " Pak Adipati terlihat sangat kesal dan kecewa.
Dimas yang diminta menghungi Arsen pun langsung menghubungi sekertaris nya.
"Pagi.. bisa berbicara dengan sekertaris Mr Arsen?"
"Iya, saya.. Anin sekertaris Mr Arsen...ada yang bisa saya bantu?"
"Oh.. nona Anin, saya pikir pak Andre..sudah ganti ternyata."
"Ya, saya hanya sebentar menggantikan beliau karena istri pak Andre sedang melahirkan."
"Oh.. begitu...emm kalo begitu apa saya dapat membuat janji dengan Mr Arsen?"
"Sepertinya bisa mungkin besok, tapi saya akan hubungi anda setelah saya konfirmasi dengan Mr Arsen...saya takutnya beliau sudah ada acara atau ada halangan yang lain."
"Baik, terimakasih nona Anin, sampaikan saya Dimas dari Adipati company."
"Baik pak, nanti saya hubungi anda di no ..."
"Oh ya... Ini no saya...085xxxx Makasih sekali lagi."
"Sama sama pak. "
Hubungan telepon pun berakhir. Sang sekertaris pun menyampaikan pesan Dimas dan akhirnya mereka bisa bertemu besok pagi.
Dimas saat ini sudah berada di kantor Arsen, menunggu sang pemilik perusahaan yang sedang mengontrol ke bagian produksi. Sekitar 10 menit Dimas menunggu karena memang dia datang lebih awal.
Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat ke ruangan tersebut. Dimas yang sudah menunggu langsung berdiri ketika melihat sang pemilik datang.
"Mr Arsen.. saya Dimas dari Adipati company... Terimakasih sudah memberikan waktu untuk saya." Arsen tersenyum
"Iya pak Dimas, silahkan duduk. Jangan sungkan kita bisa berbicara sambil menikmati minuman dan makanan yang sudah tersedia.."
"Terimakasih, maaf sudah merepotkan."
"Tidak sama sekali, karena bukan saya kok yang buat." Arsen tersenyum lebar
"Anda ini bisa saja .." Dimas tersenyum lalu meminum air mineral untuk membasahi pipinya nya supaya bisa dengan lancar berbicara.
"Maaf, Mr Arsen, saya ..sungguh sangat ingin bekerjasama dengan anda, mesin kami rusak, kami berharap kita dapat menjalin kerjasama."
"Masalah mesin ya? Saya bisa saja bantu.. tapi saya ada sedikit permintaan, namun mungkin yang bisa melakukan hanya ayah anda... Jika pak Adipati mau masalahnya selesai, saya harap pak Adipati datang ke sini besok pukul 11 bagaikan."
"Maaf Mr.. papah saya sudah tidak sibuk mengurus usaha.. mungkin bisa diwakilkan saya atau zergan, dia bisa hadir saat ini "
"Saya hanya ingin berbicara denganmu atau pak Adipati.. jika begitu, tolong sampaikan pesanku baik baik...jika butuh spare part, kami bisa menyediakan karena kami di Jerman sudah membuka pabrik pembuatan mesin pemintal yang sama percis kekuatannya dengan mesin yang kita gunakan. Desainnya lebih bagus juga ... Tapi kami tidak asal menjual, saya akan jual dengan syarat... Saya mau zergan dicopot dari kursi direkturnya. Nola, jangan sampe bekerja di tempat itu lagi" Dimas sungguh terkejut dengan syarat yang diajukan oleh Arsen
"Maaf, memang Mr Arsen ada masalah apa dengan zergan sampai berbuat seperti ini?" Arsen tersenyum lebar
"Kamu pasti tahu Yunna kan?" Dimas mengangguk namun masih bingung, apa hubungannya dengan Yunna.
"Dia adikku... Walaupun adik angkat, tetap saja dia adikku... Zergan telah membuat adikku sakit hati..begitu pula adikmu nola. Mereka sudah menyakiti adikku...apa mungkin ku bantu jika ternyata orang yang akan aku bantu telah menyakiti adikku sendiri?" Dimas terdiam dia menghela napasnya.
"Satu lagi .. tanyakan kepada pak Adipati, darimana beliau bisa mendapatkan mesin pemintal itu? Jika sudah ada jawaban dan keputusannya, baru aku akan berikan yang kalian inginkan."
__ADS_1
Pertemuan dengan arsenpun berakhir, Dimas dilanda kebingungan, dia tahu pasti ayahnya bakal menurunkan posisi itu dari zergan, namun bagaimana dengan Nola? Apa dia akan menerima?
Saat ini Dimas berada di rumah papa Adipati, mereka sedang berunding dengan serius mengenai hasil pertemuannya dengan arsen.
Adipati terlihat marah dia sampai menggebrak meja.
Brak... "Dasar anak tak tahu di untung... Sudah enak bisa berpasangan dengan Rio, dia salah satu pemengang perusahaan besar, single dan Tampan, malah memilih zergan yang telah beristri.. adiknya Arsen lagi... Benar benar sial... " Dimas terlihat bingung
"Jadi bagaimanakah pah, apa yang harus kita lakukan, jika kita ikuti keinginan Arsen, Nola pasti marah.."
"Kita ikuti keinginannya dulu, setelah semua kembali normal, kita bicarakan lagi..ayah sebenarnya lebih memiliki memutuskan hubungan mereka berdua tapi Nola sungguh mencintai zergan. Lama lama kepala papa bisa pecah kalo begini."
"Tapi pah...jika mereka kembali ke posisi semula setelah kembali normal, Arsen pasti murka.. papa tahu kan seperti apa Arsen? Bisa habis kita di ratakan dengan tanah."
"Sudahlah..buat seperti itu saja dulu, turunkan posisi zergan kembali menjadi manager, dan Nola bisa istirahat di rumah.. posisi direktur kamu handle Saja.. kita tidak perlu ada direktur cabang, yang penting tempatkan Yudistira di sana untuk membantu semua pekerjaan. Coba begitu saja "
"Baik pah .." Dimas pamit dan pergi menuju restoran untuk makan siang, dia sungguh kelelahan.
Di sebuah restoran terlihat Yunna sedang makan siang bersama seorang client, di sana tidak lupa juga ada Bayu, Dimas memperhatikan dengan seksama, tambah lama tambah cantik Yunna di matanya. Namun saat ini bukan waktu nya untuk dia mendekat.
Setelah makan siang Dimas bertemu dengan Nola dan menceritakan segalanya kepada Nola, dia murka dan tak dapat menerima apa yang papa nya sampaikan, rasanya tidak adil baginya. Nola lebih memilih membeli kembali mesin pintal itu 2lagi. Sehingga memiliki 4 mesin pemintal.
Dimas paham akan apa yang disampaikan adiknya.. dia berencana seperti itu saja..membeli kembali dua mesin pemintal.
"Dek, zergan ke mana? Kok gak kelihatan?" Nola terlihat bingung.
"Aku gak tahu kak, katanya sih mau ketemu client." Dimas menganggukan kepalanya
Sedangkan di tempat lain.
Tap..tap..tap.. suara langkah terdengar.
"Maaf mba, ada ibu Yunna nya?"
"Oh..iya kebetulan beliau ada di ruangannya."
"Bisa saya bertemu sebentar?"
"Maaf pak, ibu Yunna menunggu di ruangannya. Mari saya antar." Merekapun melangkah menuju ruangan Yunna.
Tok..tok..tok.. pintu diketuk dan terdengar suara menyahut
"Masuk.." pintu di buka lalu dua irang tersebut masuk.
"Maaf Bu, ini pak zergan" Yunna tersenyum
"Makasih ya ren... dan tolong buatkan minum ya.." iren tersenyum sambil sedikit menunduk
"Baik Bu..ibu sekalian mau dibuatkan?" Yunna menggeleng
"Gak usah, minuman saya masih ada kok." Iren pamit dan yunna mempersilahkan zergan duduk.
"Silahkan duduk pak zergan." Zergan terdiam lalu duduk di sofa yang memang tersedia di sana.
"Ada yang bisa saya bantu pak? Jika masih masalah kerja sama seperti nya tidak bisa "
"Yun...Yunna.. bisa kita bicara biasa saja? Jangan terlalu formal."
"Pak zergan datang ke kantor berarti itu urusan serius, dan pasti kita harus bersikap profesional bukan?" Yunna bangkit dari kursi kebesarannya lalu duduk di sofa panjang yang bersebrangan dengan zergan.
"Yun..Yun...please.."
"Silahkan bicara pak zergan.. saya menunggu."
"Baiklah...bisa kau hubungi kak Arsen? Please..aku susah sekali menghubunginya."
"Lewat sekertaris nya saja, bukankah itu masalah kerjaan kan?"
__ADS_1
"Iya tapi selalu sibuk, jadwalnya padat katanya.."
"Berarti kakak tak bisa menghubungi beliau."
***
Saat ini Kenzo sedang melangkah kan kakinya menuju ruangan Yunna, dia ingin memberikan kejutan untuk Yunna, membawa sebuket bunga mawar dan sebuah cincin, Kenzo tak mau menunda nunda waktu lagi, terlalu banyak saingannya yang menginginkan Yunna, dia tak mau kecolongan.
...
...
...
...
Dengan senyum yang selalu terpancar di bibir merah Kenzo dia berjalan. Berdiri tepat di depan lift, membuat dia tak sanggup lagi menunggu, rasanya sangat lama lift ini terbuka... Namun rasa bahagia yang Kenzo rasakan membuat dia tak sampai mengeluarkan umpatan umpatan kasar. Bahkan anak buahnya membuat kesalahan pun dia santai saja karena di pikirannya saat ini hanya Yunna dan yunna, ingin segera melihat bagaimana reaksi terhadap kejutan yang akan diberikan.
***
"Yun, please..bantu aku menghubunginya." Zergan mendekat ke tempat Yunna duduk. Yunna menggeser duduknya, namun zergan terus memepet Yunna.
"Yunn... Jika kamu tak mau membantuku urusan perusahaan, baiklah..tapi bantu aku dengan yang lain." Yunna terlihat bingung dan tak paham dengan apa yang dimaksud oleh zergan.
**
Saat ini Kenzo sudah sampai di tempat iren. Namun iren sedang tak ada di tempat.
"Aku langsung ke ruangannya gitu ya?" Gumam kenzo
"Tapi takut lagi meeting.. atau ada orang penting di ruangannya,...atau aku telpon saya kali ya? Emmm gak...gak boleh..namanya kejutan gak mungkin bilang kan?" Gumam kenzo di depan meja iren.
Tak lama ada Bayu yang lewat.
"Hai..kak...kak Bayu, mau ke ruangan Yunna?" Bayu tersenyum
"Iya..ini ada berkas yang harus di tandatangani." Kenzo tersenyum manis
"Berarti Yunna ada di ruangannya?" Bayu mengangguk dan melirik bunga lalu tersenyum
"Aku ngerti zo... Aku ikut bahagia, tolong bahagia kan adikku ya." Kenzo mengangguk antusias.
"Pasti kak ."
"Kamu masuk aja, Yunna sedang sendiri kok, lagi gak ada meeting atau janji, aku bisa masuk nanti setelah urusan kalian selesai. Dan...jangan lupa kasih kabar gue bro..ok."
"Baik kak..." Bayu melangkah pergi dan kenzo melangkah menuju ruangan Yunna.
***
"Maksud kakak apa?" Tanya Yunna.
"Bantu hati aku yang sudah tak tahan menahan rindu Yun.."
"Kak..please.. jangan dekat dekat kak...kita sudah tidak ada hubungan lagi."
"Kalo begitu, kita mulai lagi.. bagaimana...aku tahu kamu masih cinta kan sama aku?"
"Kak..please..gak lucu.."
"Aku gak lagi melawak sayang." Zergan tambah dekat dan bahkan sekarang badannya menempel pada Yunna."
"Aku masing cinta sama kamu yunn...please balik sama aku...ya sayang." Zergan mengelus rambut dan pipi Yunna, Yunna yang terus menggeserkan badannya akhirnya mentok di ujung sofa. Dia beranjak pergi namun zergan tarik tangannya sehingga Yunna terduduk di pangkuan zergan.
__ADS_1
Cekrek.... "Sayang......" Kenzo yang wajahnya tersenyum berubah 180 derajat saat melihat Yunna yang terduduk di pangkuan zergan.
Mereka berdua menoleh ke arah suara. Terlihat seringai di bibir zergan tatkala Kenzo terlihat marah.