
Keheningan terjadi...tak ada suara diantara mereka, hanya dentingan jam yang terdengar begitu jelasnya.
Mereka melewati malam dengan sunyi... Tak ada percakapan saat makan malam.
Zergan bingung harus bagaimana menghadapi sang istri dan Yunna sudah merasa hancur... Apa bisa pernikahan ini diperbaiki, melihat reaksi zergan tadi rasanya Yunna melihat kesungguhan zergan, namun apa mungkin bisa kembali seperti semula.
Malam ini zergan tidur di kamar tamu. mereka tidur terpisah, seberapa kangennya pun zergan, dia tak mungkin bisa menyentuh istrinya dalam keadaan seperti ini. Dia memang salah...sangat salah... Dia merasa khilaf... Dia masih mencintai Yunna dan rasanya tak sanggup jika harus kehilangan, namun perbuatan nya membuat dia sesak sendiri.
Rasa kesal, rasa tidak puas, dan impian yang terlalu besar membuat dia buta akan nikmat yang sudah dia dapat.
Dia dibutakan dengan obsesi memiliki perusahan sendiri, dia kesal karena kedudukan nya hanya tetap menjadi manager, namun sering pekerjaan Dimas dia yang tangani ketika Dimas pergi cuti jalan jalan dengan pacarnya atau sekarang dengan istrinya. " Jadi siapa di sini yang jadi direktur?" Itu yang selalu dia kesalkan. Padahal Dimas juga tak pernah menyepelekan bantuannya, dia selalu memberikan imbalan yang besar. Dia percaya zergan karena mereka sahabat sedari SMA, jadi Dimas merasa semuanya bukan masalah, toh zergan pintar dan dapat dipercaya.
Tanpa zergan tahu, Dimas sudah berbicara dengan orang tuanya, meminta ijin untuk mengangkat zergan menjadi direktur cabang di salah satu cabang perusahaannya. Sayang, zergan tidak sabaran.
Pagi telah tiba, Yunna selalu melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang istri. Menyiapkan sarapan sudah menjadi rutinitas sehari-hari.
Mereka duduk berhadapan, menikmati masakan yang enak namun terasa hambar. Zergan ingin masalah ini segera disudahi, ingin semua kembali seperti semula.
"Sayang...emmm bisakah kau memaafkan ku? Aku.... Ingin hubungan kita seperti semula .. apa perlu aku berhenti bekerja di sana?" Yunna menyimpan sendok dan menatap suaminya.
" Jawab aku dengan jujur, apa kamu mencintai dia? Apa kamu menikmati setiap moment bersama nya?" Zergan tak mampu menatap balik Yunna
__ADS_1
"Mencintai nya? Aku sendiri tak tahu... Yang pasti dari dulu sampai sekarang aku mencintaimu. Menikmati nya? Ya...mungkin...ada perasaan berbeda ketika dengannya. Dia sangat agresif sehingga terkadang aku merasa sangat diinginkan. NamunĀ aku merasa lebih nyaman denganmu. Mungkin karena kau istriku dan sikapmu membuatku ingin selalu menjagamu dan takut kehilanganmu" Yunna tersenyum
"Jadi kalo dia menjadi istrimu, mungkin kau akan lebih nyaman." Deg... Zergan merasa dua salah dalam menjawab pertanyaan Yunna.
Zergan terdiam sampai suara dering telpon menyadarkan nya.
Drrrt... drrrt
"Bos besar?hemmm Ya... Siapa lagi yang berani menelpon pagi pagi begini kalo bukan dia?" Zergan diam saja tak berani mengangkat handphone nya
"Angkatlah kak... Kau harus menerima telpon nya, mungkin dia ingin tahu keadaan pernikahan kita dan dia menunggu kepastian." Zergan menatap Yunna ragu
Zergan menerima telepon itu dan langsung mendengar ucapan demi ucapan dari Nola. Zergan terdiam dan membulatkan matanya lalu melirik Yunna. Wajahnya menjadi sendu, dia terdiam dan tangannya terlepas dari telinganya. Namun suara Nola terdengar.
"Kak ... Kak.... Hallo... Kak..." Zergan kembali tersadar dan mengangkat kembali tangannya dan ditempelkan di telinganya.
" Iya... Iya ... Aku ngerti. Iya. Kita bicarakan lagi nanti." Zergan mengakhiri percakapan nya. Dia terdiam dan membisu.
"Apa katanya?" Tanya Yunna dan zergan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Yunna.
"Maaf..." Ucap zergan membuat hati Yunna sungguh tidak tenang.
__ADS_1
"Maaf? Maksudmu.... apa?" Ucap Yunna sedikit terjeda
"Nola....ha...mil."
Jeder.... Serasa di sambar petir... Yunna merasa hubungan pernikahan mereka sudah tak dapat diperbaiki lagi... Sudah ada seorang anak yang akan hadir di antara zergan dan Nola. Yang lebih menyesakkan lagi, ada pikiran jika di sini dia lah yang mandul. Yunna tambah sakit dengan kenyataan ini.
" Sayang.... Maafkan aku." Yunna meneteskan air mata nya kembali.
" Ini kan yang kau inginkan, semua impianmu akan terwujud kak, anak... Kau dapatkan dari Nola... Anak yang selama ini kamu inginkan....." Hah.... Yunna menarik napasnya dengan berat.
" Kedudukan pun akan kau dapatkan kak, anak dan harta bisa kamu dapatkan dari Nola... Kamu berhasil.... Akhirnya di sini bukan tentang kita...tapi tentang dirimu sendiri."
"Bukan begitu sayang.... Anak Nola kita ambil saja, kita kembali bersama dan bahagia, bagaimana? Biar aku keluar kerja dan melamar pekerjaan ke tempat lain." Yunna tersenyum sinis " jangan naif kak, apa mungkin Nola akan memberikan anak nya untuk kita? Tak mungkin. Justru anak itu adalah alat dia mengikat mu untuk terus menjadi kan dirimu miliknya." Zergan tertunduk
" Menikah lah kak, pertanggung jawaban perbuatan mu, anak itu butuh ayah." Yunna beranjak dari duduknya dan melangkah.
"Bagaimana dengan hubungan kita sayang? Bagaimana dengan kamu?" Langkah Yunna terhenti.
"Kita bercerai, aku tak mau di madu dan tak perlu mengurusi urusan ku lagi. " Yunna pergi ke kamar dan menghubungi seseorang.
" Assalamualaikum.... Tolong Urus semuanya. Terima kasih." Yunna menutup telponnya dan mengambil tas miliknya lalu beranjak pergi.
__ADS_1