Aku Gak Mau Gendut

Aku Gak Mau Gendut
15 Kebahagiaan


__ADS_3

Setelah melalui malam yang cukup tegang, akhirnya mereka mendengar suara tangisan bayi yang cukup nyaring.


"Alhamdulillah..." ucap seluruh keluarga yang sedang menunggu di luar ruangan.


Keesokan paginya Ririn baru bisa dikunjungi di ruang rawat. Mereka semua bahagia menyambut kelahiran bayi perempuan yang sangat cantik itu.


Randi tak kalah antusias saat diberitahu bahwa adiknya sudah lahir. Randi sudah merengek sejak pagi ingin menyusul ke klinik,karena semalam di tinggal bersama Rena, tantenya.


Sementara di klinik keriuhan terjadi saat bayi perempuan yang baru semalam terlahir itu menangis kencang. Para nenek dan kakeknya merasa kebingungan menenangkan cucu mereka. Sedangkan Ririn masih mandi dengan dibantu Doni.


Setelah Ririn selesai mandi dia segera menyusui putri kecilnya itu. Lalu Doni pulang untuk menjemput putra pertamanya, karena sejak tadi adik iparnya terus menghubungi kalau Randi ingin segera menyusul ke klinik.


"Randi...ayo, katanya mau lihat adik bayi" panggil Doni


"Ayah...kenapa aku gak diajak semalam?" tanya Randi merajuk.


"Maaf sayang semalam mobilnya nggak muat,dan kalau malam anak-anak nggak boleh masuk ke klinik". bohong Doni


"Masa sih yah?"


"Iya sayang, sekarang jadi gak lihat adik kecil?"


"Mau yah,ayo berangkat" seru Randi sangat senang.


Lalu Doni,Randi dan Rena berangkat ke klinik. Sebelumnya Doni membeli sarapan untuk seluruh keluarga.


Saat sampai di klinik Randi segera berlari ke arah ibunya.


"Bu...adik bayi mana? Kok perut ibu sudah kempes?" tanya Randi polos.


"Itu sayang,adik bayi masih tidur" ucap Ririn sambil menunjuk box bayi yang ada di sebelah ranjang.


Lalu Randi segera menghampiri adiknya. Randi terus mengamati adiknya yang sedang tertidur lelap.


"Nek...kok adik Randi masih kecil banget ya?" tanya Randi pada neneknya.


"Iya sayang,kan adik baru saja lahir"


"Kalau kecil begitu aku jadi takut kalau mau gendong adik ,Nek!"


"kalau Randi mau gendong adik,tunggu kalau adik sudah besar ya. Sekarang jangan dulu,nanti adiknya nangis."


"Kapan adik bayinya besar Nek?"


"Nanti sayang,kamu cukup jagain adik saja ya. jangan di gendong dulu,nanti kalau adik pipis kena baju Randi gimana?" nenek Randi sengaja menakutinya karena khawatir kalau Randi akan sembarang menggendong adiknya.


Randi terus saja bertanya kepada neneknya tentang adik bayinya itu. Entahlah anak itu seakan tak pernah lelah untuk berbicara,padahal orang yang diajaknya bicara sampai bingung menjawab pertanyaan anak kecil yang sangat ingin tau itu.


Keesokan harinya Ririn diperbolehkan untuk pulang. Lalu para tetangga datang ke rumah Ririn untuk melihat bayinya. Sudah jadi tradisi saat ada yang baru melahirkan para tetangga datang dengan membawa sabun cuci,sabun bayi,atau baju untuk si bayi.


"Namanya siapa Rin?" tanya Yuni yang baru saja datang.

__ADS_1


"Namanya Rinda Setiawati"


***


Tiga tahun kemudian


"Rinda...makan dulu nak" Ririn udah lelah mengikuti putrinya yang tidak mau diam.


"Kenapa teriak-teriak sayang?" tanya Doni yang baru saja pulang bersama Randi untuk makan siang. Doni sekalian menjemput Randi pulang sekolah


"Aku capek mas dari tadi Rinda gak mau diam, susah banget makannya." keluh Ririn.


"Ya sudah kamu istirahat saja, gak usah dipaksa untuk makan kalau dia gak mau makan."


"Tapi kalau Rinda kurus nanti dikira orang dia gak aku kasih makan." gerutu Ririn.


"Jangan dengar kata orang, yang penting kamu sudah merawat Rinda dengan baik. Kurus gak masalah yang penting sehat sayang" nasehat Doni.


Lalu mereka makan siang bersama,sedangkan Rinda sedang asyik nonton TV. Mungkin dia sudah lelah karena sedari tadi tidak mau diam.


"Bu...tadi kata ibu guru harus beli buku pelajaran baru". kata Randi sambil menyodorkan keras berisi daftar buku yang harus dibeli.


"Iya,nanti tunggu ayah gajian ya"


"Iya Bu"


"Aku berangkat dulunya sayang,nanti aku pulang telat karena harus lembur malam ini" pamit Doni


Lalu Ririn mengunci pintu,dia ingin tidur karena tubuhnya sangat lelah hari ini. Sedangkan Randi tidur siang di kamarnya.


Ririn terbangun saat mendengar suara ketukan pintu.


"Siapa sih,ganggu aja" gerutu Ririn.


Lalu Ririn membuka pintu melihat siapa yang datang.


"Ada apa Bu?" tanya Ririn saat sudah membuka pintu.


"itu mbak anaknya jatuh dari pohon rambutan."


"Hah...siapa Bu? Anak saya lagi tidur kok" jawab Ririn.


"Tapi itu Randi yang jatuh mbak,dia sampai gak bisa berdiri" ucap ibu itu lagi.


"Sebentar ya Bu" lalu Ririn berlari ke kamar anaknya,dan benar saja Randi tidak ada di kamarnya. Dan Ririn baru saja tersadar saat dia membuka pintu tadi pintunya tidak terkunci, padahal dia yakin sebelumnya dia sudah mengunci pintu sebelum tidur.


Lalu Ririn segera berlari keluar.


"Dimana Randi Bu?"


"Di depan rumah Bu Dewi mbak, saya permisi ya mbak saya mau pergi ke sawah."

__ADS_1


"Iya Bu, terimakasih ya".


Lalu Ririn mengunci pintu,tidak mau kecolongan lagi karena anak perempuan nya sedang tidur.


Ririn segera berlari ke rumah yang disebutkan oleh ibu tadi.


"Randi...kamu kenapa nak?"


Ririn terkejut saat melihat Randi menangis di teras rumah seseorang dan ditemani oleh teman-temannya.


"Sakit Bu..." rengek Randi sambil memegang kakinya.


"Kenapa bisa jatuh?"


"Tadi Randi kepleset saat ingin menyelamatkan anak kucing yang kejepit ranting pohon Tante" jelas salah satu temannya.


"Kenapa kamu nekat manjat pohon nak,kan kamu bisa minta tolong orang lain".


"Dari tadi disini sepi Tante,kami sudah menunggu orang lewat tapi gak ada"


"Ya sudah kalian bantuin Tante bawa Randi pulang ya"


"Iya Tante" jawab mereka serempak.


Lalu mereka bersama-sama menggotong Randi,karena tubuhnya yang bongsor hingga membuat Ririn tidak bisa mengangkatnya sendiri.


Bu Rima yang melihat itu langsung berlari ke rumah Ririn untuk mengetahui apa yang terjadi.


Ririn segera membuka pintu dan membawa anaknya masuk.


"Randi kenapa mbak?" tanya Bu Rima.


"Tadi jatuh Bu,katanya sakit tapi gak ada lukanya".


"Mungkin keseleo mbak,coba dipanggilkan tukang urut saja" saran Bu Rima


"Kira-kira dimana ada tukang urut ya Bu?"


"Kalau gak salah di komplek sebelah ada mbak, tapi saya gak begitu tau."


"Aku tau Tante,biar aku yang panggilkan" ucap teman Randi.


"Ya sudah tolong kamu panggilkan tukang urutnya ya nak" ucap Ririn.


"iya Tante" lalu anak itu bergegas pergi bersama anak-anak yang lain.


Sementara Randi terus saja menangis hingga membuat adiknya terbangun. Ririn kewalahan karena kedua anaknya menangis, untung saja ada Bu Rima yang siap membantu.


"Rinda, ayo ikut nenek saja. kasian aak lagi sakit" ucap Bu Rima


Lalu Rinda menurut dan di gendong Bu Rima. Anak-anak Ririn sudah sangat akrab dengan Bu Rima,bahkan mereka sudah menganggap Bu Rima seperti neneknya sendiri. Karena Bu Rima juga sangat menyayangi mereka.

__ADS_1


__ADS_2