Aku Gak Mau Gendut

Aku Gak Mau Gendut
46 Ternyata


__ADS_3

"Windi!"


"Mas Roni!"


"Kalian saling kenal?" tanya teman Roni penasaran.


"Iya, dia em dia tetanggaku," ucap Roni gugup.


"Silahkan," ucap Windi setelah menghidangkan pesanan dua pria tersebut. Lalu Windi segera pergi.


"Beneran cuma tetangga? Kok kalian sama-sama aneh begitu?" tanya teman Roni.


"Iya, dia tetanggaku. Sudah nggak usah dibahas, kita masih harus membahas masalah pekerjaan," ucap Roni mengalihkan pembicaraan.


Windi yang masih belum siap bertemu dengan Roni jadi gugup dan gelisah, karena masih ada cinta yang tersimpan di hati Windi untuk Roni. Begitu juga sebaliknya, Roni jadi tidak fokus membahas pekerjaan dengan temannya itu.


"Win, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Ria.


"Nggak kok, aku cuma sedikit lelah," ucap Windi.


***


Yuni yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di dapur mendengar suara ketukan pintu. Dengan segera dia mencuci tangan dan melihat siapa yang datang.


"Maaf Mbak, cari siapa ya?" tanya Yuni pada seorang perempuan yang bertamu ke rumahnya, eh rumah suaminya.


"Oh, jadi ini pengganti ku. tidak sepadan dengan ku," ucap perempuan itu sinis.


"Maaf, maksudnya apa ya?" tanya Yuni bingung.


"Aku Meli, mantan istrinya mas Roni. Aku cuma mau lihat seperti apa istri mas Roni yang baru. Ternyata hanya seperti ini," ucap Meli yang melihat penampilan Yuni yang sangat kampungan menurutnya.


"Seperti ini bagaimana maksudmu?" tanya Yuni yang tidak terima direndahkan.


"Ck, tidak perlu aku jelaskan. Yang jelas kalian memang cocok, mas Roni yang kere dan kamu yang kampungan," cela Meli.

__ADS_1


"Dasar tidak sopan, kalau kamu kesini cuma mau menghina lebih baik kamu pergi!" usir Meli.


"Baiklah, aku juga sudah tidak betah lama-lama disini. Gerah!" ucap Meli.


Tapi belum sempat Meli melangkah pergi, terlihat Roni memasuki halaman. Roni terkejut melihat mantan istrinya berdiri angkuh di teras rumahnya.


"Untuk apa kamu kesini?" tanya Roni sinis.


"Aku hanya mau melihat istri barumu, ternyata seleramu jadi seperti ini Mas?" tanya Meli dengan sombongnya.


"Bukan urusanmu, sekarang pergi dari sini!"


"Aku memang akan pergi, tidak betah aku berada di lingkungan seperti ini," ucap Meli lalu pergi begitu saja.


"Kamu tidak apa-apa? Apa dia mengatakan sesuatu yang menyinggungmu?" tanya Roni pada Yuni.


"Aku tidak apa-apa, aku bukan anak kecil seperti Windi yang akan diam saja kalau dihina," jawab Yuni. Lalu dia pergi ke dapur untuk menyelesaikan masakannya.


Roni bukannya marah tapi malah tersenyum mendengar ucapan Yuni.


Lalu Roni duduk di ruang tengah, ada Putri yang sedang asik menonton televisi di sana, hingga tidak mengetahui kedatangan Roni.


"Nonton apa sih? Seru banget kayaknya?" sapa Roni pada anak tirinya.


"Ayah! Sejak kapan ayah pulang?" tanya Putri sambil berlari memeluk Roni.


Bocah perempuan yang baru menginjak usia 5 tahun itu merasa senang memiliki ayah lagi. Karena sejak Riko menikah lagi, dia sama sekali tidak pernah mengunjungi Putri.


Tak lama Yuni muncul dari arah dapur dan menghampiri anak dan suaminya. Yuni merasa sangat bahagia melihat kedekatan Putri dan ayah sambungnya.


Yuni jadi bimbang dengan rencananya yang akan minta pisah setelah dipastikan dia tidak hamil.


"Ayo makan dulu, nanti ngobrol lagi," ajak Yuni.


"Baiklah ayo makan dulu, ayah sudah lapar ini," ucap Roni.

__ADS_1


Lalu ketiganya berjalan ke meja makan. Roni tersenyum melihat beberapa menu rumahan kesukaannya.


Tapi saat akan mengambil nasi, Yuni merebut piring Roni dan mengambilkan nasi untuknya. Roni yang tidak pernah diperlakukan seperti itu menjadi sangat tersanjung.


"Mau pakai apa Mas? Mas!" panggil Yuni lagi saat melihat Roni hanya diam saja dan melihatnya.


"Em, apa saja. Aku suka semua masakannya," ucap Roni gugup.


"Silahkan Mas," ucap Yuni sambil meletakkan piring berisi makanan lengkap di depan Roni.


"Terimakasih," ucap Roni.


Lalu mereka makan dengan diam dan hanya fokus dengan makanan masing-masing. Sesekali Yuni mengajarkan Putri untuk makan dengan benar.


***


Keesokan harinya Roni berangkat bekerja, begitu juga Yuni yang kembali bekerja di swalayan. Sedangkan Putri sudah dititipkan ke rumah tetangga Yuni di rumah lama.


Roni segera berkutat dengan berkas-berkas yang bertumpuk di meja kerjanya. Baru dua hari dia libur tapi pekerjaan sudah menggunung.


Di tengah kesibukannya ada suara ketukan pintu yang mengganggu konsentrasinya.


"Maaf Pak, ada tamu untuk anda," ucap sekertaris Roni.


"Siapa?"


"Katanya bapak sudah mengenalnya."


Kening Roni berkerut, dia heran karena sepertinya dia tidak punya janji dengan siapapun.


"Suruh dia masuk," ucap Roni.


Tak lama sosok yang sangat Roni kenali memasuki ruang kerjanya. Sang tamu masih sibuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan Roni. Sedangkan Roni hanya diam saja memperhatikan tamunya tersebut.


"Ada perlu apa anda datang kemari?"

__ADS_1


__ADS_2