Aku Gak Mau Gendut

Aku Gak Mau Gendut
28 Meminta Izin


__ADS_3

"Mbak Ririn mau masak apa?" tanya Windi.


"Eh, ini mbak mau masak sayur asem sama sambal terasi untuk ibu, juga mau goreng tempe dan ayam. Kamu mau dimasakin sesuatu?"


"Nggak usah mbak, itu aja juga enak kok. Boleh aku bantu?"


"Boleh, kamu bersihkan sayurannya ya! biar mbak yang buat bumbunya."


"Iya Mbak. Emm, Mbak, boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Windi ragu.


"Tanya apa sih Win, kok kayaknya serius gitu?" tanya Ririn sambil tangannya sibuk meracik bumbu.


"Emm, Kalau ada teman aku mau datang ke sini boleh nggak?"


"Teman? Siapa? Memang rumahnya mana kok ke sini?"


"Emm, teman baru sih mbak, dia tinggal di kota ini juga, cuma beda kecamatan."


"Kenal dari mana?"


"Dari FB mbak!"


"Cewek apa cowok?"


"Cowok mbak."


"Kalau cowok lebih baik kamu tanya mas Doni aja dulu, mbak takut salah. Kalau Mbak sih nggak masalah kamu ketemu di rumah, dari pada ketemu di luar."


"Tapi aku takut Mbak!"


"Kenapa takut, memangnya kalian sudah ada hubungan?"


"Belum sih Mbak. Kita mau kenalan dulu biar lebih akrab."


"Ya sudah, nanti Mbak bantu bicara sama mas Doni."


"Terimakasih ya mbak!"


"Iya. Sama-sama. Setelah ini apa rencana kamu? Apa langsung menikah kalau cocok nantinya?" goda Ririn.


"Nggak lah mbak, rencananya aku mau cari kerja dulu."


"Apa kamu nggak pengen kuliah Win?"


"Pengen sih mbak, tapi nggak ada biaya. Kan Rio tahun depan juga lulus, biar dia saja yang kuliah. Kasian ibu dan bapak kalau aku juga kuliah."


"Kamu persis seperti aku Win, jadi aku tau gimana perasaan kamu sekarang." ucap Ririn yang juga rela tidak kuliah, agar dia bisa membatu orangtuanya untuk membiayai adiknya kuliah.


"Iya Mbak, aku ingin membantu ibu dan bapak untuk meringankan beban mereka."


"Kamu anak yang baik Windi, pertahankan sikap baik kamu ini. Mbak cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu."


"Terimakasih ya mbak, sudah lama aku ingin punya teman curhat yang buat aku nyaman. Tapi baru kali ini aku bisa curhat sama mbak Ririn."


"Maaf ya Win kalau selama ini Mbak kurang perhatian sama kamu."


"Nggak apa-apa kok Mbak, aku ngerti kesibukan mbak Ririn. Apa lagi sekarang mas Doni lagi sakit, pasti mbak Ririn lebih sibuk lagi "


"Nggak juga Win, sekarang mas mu sudah bisa mandiri kok."


"Kalau aku tau lebih awal, aku pasti akan cepat kesini untuk bantu Mbak Ririn. Apa lagi aku masih nganggur sejak lulus sekolah."


"Nggak apa-apa, ini semua karena mas Doni yang nggak mau merepotkan keluarga di kampung."


"Padahal kami sama sekali tidak merasa di repot kan loh mbak."

__ADS_1


"Sudahlah semua sudah berlalu. Setelah ini Mbak mau jemput Rinda, kamu mau ikut nggak?"


"Jauh nggak, Mbak?"


"Nggak kok, paling cuma 15 menit sudah sampai."


"Boleh deh, sekalian jalan-jalan."


Setelah selesai memasak Rinda mencari ibunya untuk minta izin.


"Bu, aku mau ikut mbak Ririn jemput Rinda ya!"


"Iya, ikut aja!"


"Ayo mbak, mau berangkat sekarang?"


"Iya, bentar ya. Ibu mau titip sesuatu?" tanya Ririn.


"Nggak Rin."


"Ya sudah kami pergi dulu ya!"


Lalu Ririn dan Windi berangkat menjemput Rinda.


"Kamu mau mampir ke suatu tempat dulu nggak?" tanya Ririn


"Nggak mbak, kita langsung pulang saja. Karena panas banget nih!"


Lalu mereka segera pulang kerena hari sudah mulai siang.


Saat sampai di rumah ternyata sedang ada tamu. Ternyata yang datang adalah Roni, tetangga depan rumah.


"Eh, mbak Ririn sama siapa ini?" tanya Roni.


"Iya Mbak." lalu Windi mengajak Rinda untuk masuk.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Ririn ketus.


"Sayang, jangan gitu dong! Mas Roni berniat baik kok, dia nawarin pekerjaan untuk kamu, tapi aku kurang setuju, kalau kamu kerja anak-anak gimana?"


"Aku juga nggak mungkin ninggalin kamu di rumah sendirian mas."


"Iya Don, kan ibu juga nggak bisa lama-lama di sini."


Windi yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka langsung keluar setelah menggantikan baju Rinda.


"Bu, apa boleh kalau aku kerja disini?" tanya Windi.


"Win, apa kamu serius?" tanya Bu Sumi.


"Iya Bu, sambil bantu-bantu Mbak Ririn. Kasian kalau Mbak Ririn melakukan semua sendiri."


"Mbak nggak apa-apa kok Win, jangan karena Mbak kamu jadi repot."


"Nggak kok Mbak, aku juga sudah lama nyari pekerjaan di kampung, tapi nggak dapat-dapat."


"Ya sudah terserah kamu saja, ibu selalu mendukung apapun keputusan kamu selama itu positif dan tidak merepotkan mas dan mbak mu."


"Baiklah jadi bagaimana?" tanya Roni.


"Maaf mas sebelumnya kerjanya apa ya?" tanya Windi.


"Jadi kasir di swalayan. Jam kerjanya dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam."


"Oke lah, aku mau mas," jawab Windi.

__ADS_1


"Tapi nanti bagaimana ibu pulangnya?" tanya Doni.


"Aku kan pulang dulu Mas untuk ngambil barang-barang aku!" jawab Windi.


"Baiklah kalau begitu." ucap Doni yang sebelumnya khawatir.


"Kira-kira kapan saya harus mulai kerja mas?" tanya Windi.


"Terserah kamu kapan bisanya." jawab Roni


"Mungkin Minggu depan aku baru bisa mas."


"Iya tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi dulu. Nanti kamu hubungi saya kalau sudah siap."


"Iya Mas terimakasih!"


Tak lama Randi datang dengan diantar Riko.


"Nak Riko mampir dulu!"


"Terimakasih Bu, saya langsung pulang saja. Anak dan istri saya pasti sudah menunggu."


"Ya sudah, terimakasih ya, Nak Riko."


"Iya Bu, sama-sama. Saya permisi dulu."


Setelah para tamu sudah pergi, Ririn dan keluarga suaminya makan siang bersama.


"Masakan kamu semakin enak, Rin, ini yang bikin Ibu kangen!"


"Masa sih, Bu? Jadi karena masakan Ririn aja nih?"


"Bukan cuma itu, kamu juga menantu yang sangat baik. Sehingga ibu merasa kamu ini bukan menantu Kbu, tapi sudah seperti anak ibu sendiri. Kamu dengan tulus merawat Doni bagaimanapun keadaanya."


"Itu sudah jadi kewajiban Ririn, Bu. Jadi Ibu nggak usah khawatir lagi!"


"Itulah yang membuat Doni tambah cinta sama istri Doni, Bu!"


"Ya elah, gini banget ya jadi jomblo!"


"Makanya cari pacar!" goda Doni


"Emang boleh aku pacaran, Mas?" tanya Windi


"Boleh, asalkan pacar kamu itu pekerjaannya jelas, latar belakannya jelas, dan benar-benar menyayangi kamu, dan mau melindungi kamu buka malah merusak. Ngerti kan maksud Mas?"


"Iya Mas. Aku juga belum ingin pacaran, aku mau kerja dulu untuk bantu ibu dan bapak."


"Nah, itu lebih baik! Sebaiknya nggak usah pacaran. Kalau memang sudah cocok lebih baik segera menikah!"


"Iya Mas."


Lalu setelah mereka makan siang, Ririn dibantu Windi membereskan meja makan. Ririn merasa terbantu dengan hadirnya Windi saat ini.


"Mbak, lebih baik nggak usah ngomong mas Doni tentang teman aku yang mau datang ya."


"Kenapa?"


"Aku nggak jadi ketemuan sama dia Mbak. Aku mau fokus untuk kerja dulu."


"Baiklah kalau itu mau kamu."


Tak terasa seminggu sudah Bu Sumi dan Windi berkunjung ke rumah Doni dan Ririn. Rencananya Windi akan mengantarkan ibunya pulang dulu, setelah itu dia akan kembali lagi ke kota untuk bekerja.


Bagaimana kisah Windi selanjutnya???

__ADS_1


__ADS_2