Aku Gak Mau Gendut

Aku Gak Mau Gendut
36 Kebenaran


__ADS_3

"Rik, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu," ucap Doni saat mereka akan pulang bekerja.


"Baiklah, kita bicara di taman saja."


Lalu Doni mengikuti Riko dengan motornya menuju taman Kota.


Suasana sore ini lumayan ramai. Ada yang olahraga sore atau hanya jalan-jalan dan menikmati suasana sore hari yang menenangkan.


Lalu Doni dan Riko duduk di bangku taman. Sebenarnya Riko sudah tau apa yang akan di tanyakan oleh sahabatnya itu.


"Kamu pasti sudah tau apa yang terjadi antara aku dan Yuni kan?" tanya Riko langsung pada intinya.


"Iya, aku sedikit tidak percaya kamu melakukan itu."


"Tapi memang begitu kenyataannya kan?"


"Apa yang sebenarnya terjadi sehingga kamu tega meninggalkan Yuni? Apa kamu sudah lupa bagaimana dulu kamu memperjuangkan Yuni?"


"Aku tidak akan pernah melupakan hal itu. Tapi keadaan yang memaksaku untuk melakukannya."


"Ceritakan semuanya agar aku tidak salah paham pada sahabat yang sudah lama aku kenal."


"Ceritanya sangat panjang, bahkan aku bingung harus mulai dari mana."


"Aku akan mendengarkan sampai selesai," ujar Doni.


Riko menerawang jauh, dia mengingat kejadian satu tahun yang lalu.


*Flashback on


Saat Riko akan pulang hari itu, dia sedikit lelah karena pekerjaannya sangat banyak dan semalam dia kira tidur karena anaknya sedang sakit.


Karena kurang fokus Riko hampir saja menabrak mobil di depannya, lalu dia membanting setir ke kiri dan naasnya ada seseorang yang sedang berdiri di pinggir jalan.


Karena jarak yang sudah dekat Riko tidak dapat menghindar dan dia langsung menghantam tubuh pria tersebut. Tubuh pria itu langsung terpental dan kepalanya membentur trotoar dengan kerasnya.


Darah segar mengalir seperti air dari kepala, hidung, dan telinga pria malang itu. Tak lama seorang wanita hamil berteriak histeris memanggil pria tersebut.


Riko yang masih shock hanya terdiam di atas motornya yang hampir saja terguling.


Lalu warga berdatangan, ada juga yang memegang tangan Riko takut Riko akan kabur.


"Tolong selamatkan suamiku, hubungi ambulance sekarang!" teriak wanita itu sambil menangis tersedu-sedu.


Tak lama ambulance datang lalu segera membawa pria itu.


"Kamu harus bertanggungjawab!" Ucap wanita itu menatap Riko tajam.


"Iya."


Lalu Riko menitipkan motornya di bengkel langganannya.


"Mas, titip motor sebentar ya," ucap Riko yang kacau.


"Iya Mas."


Lalu Riko ikut naik dalam mobil ambulance. Dia sangat takut bila ada sesuatu yang buruk terjadi, melihat kondisinya yang sangat mengenaskan.

__ADS_1


Tak lama mereka sampai di rumah sakit. Pasien langsung di tangani dengan cepat. Riko dan istri pria tersebut menunggu di luar dengan gelisah.


"Bila terjadi sesuatu dengan suamiku, kamu harus bertanggung jawab. Aku tidak akan melepaskan mu."


"Iya, saya akan bertanggung jawab. Saya akan lakukan apapun asal jangan melibatkan polisi."


"Kenapa? Kamu takut dipenjara?"


"Saya punya istri dan anak yang masih kecil, tolong kasihanilah dia."


"Lalu bagaimana dengan ku? Kamu tidak lihat kami sedang menanti anak pertama kami?"


"Maaf Mbak, dan Mas nya tolong tenang. Jangan membuat keributan di sini," tegur seorang perawat yang memasuki ruangan.


Lalu keduanya hanya diam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Riko sangat ketakutan bila pria itu tidak dapat tertolong. Apa yang akan terjadi dengan dirinya, dan bagaimana nasib anak dan istrinya.


Sedangkan wanita tadi hanya menangis terisak, dia juga ketakutan bila sampai terjadi sesuatu dengan suaminya.


Tak lama dokter keluar dengan wajah lelah.


"Keluarga pasien?"


"Saya istrinya Dok, bagaimana dengan suami saya?"


"Maaf Bu, kamu sudah berusaha semampu kami. Tapi Tuhan berkehendak lain, Ibu yang sabar ya."


"Tidak, tidak mungkin. Pasti suami saya masih bisa di selamatkan Dok. Coba sekali lagi, pasti dokter tidak melakukannya dengan baik."


"Tidak, suamiku, kami sedang menunggu anak pertama kami setelah beberapa tahun."


"Sabar ya Mbak, saya minta maaf atas kelalaian saya semua jadi seperti ini," ucap Riko.


"Kamu pembunuh, kamu sudah membunuh suamiku! Kamu pembunuh!" teriak wanita itu lalu jatuh pingsan.


Lalu perawat dengan sigap menolong wanita hamil tersebut, lalu membawanya ke dalam ruang rawat.


Riko bingung apa yang harus dia lakukan, dia tidak mungkin memberitahu istrinya karena anaknya juga sedang sakit.


Untuk meminta bantuan Doni juga tidak mungkin, karena dia juga sedang ada masalah.


Saat Riko sedang sibuk berfikir, tiba-tiba ada perawat yang mendatanginya.


"Maaf Pak, apakah tidak ada keluarga yang di tunggu? Kalau tidak ada kami akan segera mengurus jenazahnya."


"Iya urus saja. Untuk kepulangannya nanti tunggu istrinya siuman dulu, karena saya tidak tau rumah mereka."


"Baiklah kami permisi."


Saat jenazah di bawa keluar, Riko hanya terpaku melihatnya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan.


Lalu Riko memutuskan untuk melihat kondisi wanita yang belum dia ketahui siapa namanya dan dimana alamatnya.


Saat sampai di sana ternyata wanita itu sudah siuman, dia menangis histeris dan sedang di tenangkan oleh perawat.


Riko tidak berani mendekat karena takut wanita itu akan semakin emosi bila melihatnya.

__ADS_1


Setelah wanita itu tenang perawat menanyakan dimana keluarganya dan alamat rumahnya.


"Bagaimana Suster?" tanya Riko yang sedang menunggu di luar.


"Saya sudah dapat alamatnya, tapi dia tidak mempunyai keluarga di kota ini. Mereka hanya tinggal bersama beberapa art saja."


"Apa mereka sudah di hubungi?"


"Sudah, Pak. Mereka sedang menuju ke sini. Lalu begitu saya permisi dulu."


"Iya, terimakasih."


Tak lama dua orang paruh baya menghampiri Riko.


"Maaf Mas, apa di dalam ada istri dari korban kecelakaan?"


"Iya, dia ada didalam."


Lalu salah satu dari mereka masuk kedalam dan satu lagi memperhatikan Riko.


"Apa Mas yang bawa mereka ke sini?"


"Iya Bu, nama saya Riko dan saya yang menabrak suaminya. Tapi sungguh saya tidak sengaja, saya juga tidak ingin jadi seperti ini," ucap Riko yang terlihat frustasi.


"Iya, saya mengerti, ini semua sudah takdir. Tapi saya kasian dengan non Rena, dia sedang mengandung dan bulan depan kemungkinan dia melahirkan." ucap art tersebut.


"Lalu saya harus bagaimana Bu? Saya juga punya anak dan istri, kalau saya di penjara bagaimana dengan nasib mereka?"


"Nanti saya bantu bicara sama non Rena. Dia orang yang baik, pasti dia akan mengerti."


"Saya janji akan bertanggungjawab Bu, tapi jangan di penjara."


"Iya Nak Riko tenang saja, pasti akan ada jalan lain."


Lalu art tersebut masuk ke dalam ruang rawat Rena. Riko sedikit lega karena mendapat sedikit harapan.


Setelah satu jam jenazah di bawa pulang ke rumah duka, tentu saja Riko juga ikut. Riko sudah menghubungi Yuni kalau dirinya akan pulang terlambat dengan alasan motornya rusak.


Satu bulan berlalu, tibalah waktunya Rena melahirkan. Rena meminta art menghubungi Riko untuk mendampinginya saat melahirkan.


Sebenarnya selama satu bulan ini Rena merasa nyaman dengan perhatian yang diberikan oleh Riko, meskipun Rena tau kalau Riko sudah punya istri.


Rena sangat ingin memiliki Riko karena Riko lebih tampan dari mendiang suaminya. Jadi Rena akan melakukan segala cara agar dia bisa mendapatkan Riko.


Saat mendapat telpon Riko segera meminta izin untuk pergi ke rumah sakit.


Saat Riko datang Rena sangat bahagia, dan meminta Riko untuk mendampinginya. Riko merasa bingung dengan permintaan Rena.


"Mas, tetaplah di sini. Aku tidak ingin anakku lahir tanpa didampingi sosok seorang ayah."


"Tapi aku bukan ayahnya."


"Tapi kamu sudah membunuh ayahnya, jadi kamu yang harus menggantikan ayahnya." tegas Rena.


"Baiklah," dengan berat hati Riko menuruti kemauan Rena.


Rena tersenyum senang saat Riko tetap berada di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2