Aku Gak Mau Gendut

Aku Gak Mau Gendut
45 Pekerjaan Baru


__ADS_3

Pagi hari setelah resmi menjadi istri Roni, Yuni dengan sigap menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Yuni tetap berusaha menjadi seorang istri yang baik walaupun masih merasa canggung dan malu pada Roni.


Saat Roni terbangun dia tidak mendapati Yuni disampingnya segera beranjak bangun. Lalu mencari Yuni ke seluruh ruangan, Roni khawatir kalau Yuni pergi meninggalkannya.


Tapi Roni mencium bau masakan, lalu Roni segera menuju dapur dan benar saja Yuni sedang memasak.


"Mas, kamu sudah bangun? Maaf kalau aku terlalu berisik dan membangunkan mu," ucap Yuni sungkan.


"Tidak apa-apa, aku malah senang karena ada yang memasak untukku," ucap Roni lalu meraih gelas yang ada di samping Yuni.


Yuni jadi malu sendiri karena dia salah paham saat Roni berjalan ke arahnya.


"Mas Roni mau kopi atau teh?" tanya Yuni.


"Kopi saja," jawab Roni. Lalu Roni memperhatikan Yuni yang cekatan dalam melakukan pekerjaan dapur.


Roni merasa senang melihat Yuni yang sibuk ke sana-kemari. Lalu tak lama kopi untuk nya sudah diletakkan di depannya.


"Kopi nya Mas."


"Iya, terimakasih," ucap Roni salah tingkah karena kedapatan memperhatikan Yuni.


"Aku hanya membuat nasi goreng dan telur dadar untuk sarapan, karena tidak ada bahan masakan lainnya di kulkas," ucap Yuni.


"Tidak apa-apa, nanti kamu belanja saja apa yang diperlukan," ucap Roni.


"Mas Roni mau dimasakin apa untuk makan siang?"


"Apa saja, aku tidak pilih-pilih makanan, apa Putri belum bangun?" tanya Roni.


"Belum, mungkin sebentar lagi. Mas, apa aku masih boleh bekerja di swalayan?" tanya Yuni sungkan.


"Boleh, tapi hanya untuk sementara sampai aku dapat pengganti mu."


"Tapi aku masih ingin kerja Mas, apa kalau sudah menikah tidak boleh kerja di sana lagi? Coba Mas Roni ngomong sama bosnya, pasti boleh," ucap Yuni yang tidak tau kalau Roni lah pemilik swalayan tersebut.


"Ya sudah lihat saja nanti. Tapi hari ini kamu libur saja dulu," ucap Roni.


"Kenapa aku harus libur?" tanya Yuni.


"Anggap saja cuti menikah," ucap Roni asal.


"Bicaramu seperti seorang bos saja, apakah bosnya setuju dengan pendapat mu? Oh iya, aku jadi penasaran sama pemilik swalayan itu," ucap Yuni.


"Kenapa kamu penasaran?"

__ADS_1


"Karena selama bekerja di sana aku belum pernah bertemu dengannya," ucap Yuni.


"Orangnya sibuk, jadi belum sempat berkunjung ke sana. Ya sudah aku mau mandi dulu."


Lalu Roni segera meninggalkan Yuni karena tidak tahan ingin tertawa. Bagaimana bila Yuni tau kalau sebenarnya Roni lah pemilik swalayan tempatnya bekerja selama ini.


Setelah selesai mandi, Roni terkejut saat melihat di atas kasur sudah disiapkan baju ganti untuknya.


"Apa Yuni yang melakukan ini? Tentu saja siapa lagi kalau bukan dia," ucap Roni terkekeh geli dengan dirinya sendiri.


Tapi ada rasa hangat yang mengalir di hati Roni. Karena istrinya dulu tidak pernah menyiapkan baju ganti untuknya, masak pun jarang. Meli lebih sering membeli makanan dari pada memasak sendiri.


Lalu Yuni mengajak Roni dan Putri untuk sarapan. Roni merasa mempunyai keluarga yang utuh saat ini. Walaupun Putri bukan anaknya, tapi Roni menyayanginya seperti anaknya sendiri.


Setelah sarapan Roni pamit untuk pergi sebentar, katanya ada pekerjaan mendadak.


Yuni berjalan ke depan untuk membeli sayur pada mang Asep. Ternyata di sana sudah ramai ibu-ibu yang mengelilingi pedangan sayur keliling tersebut, termasuk Ririn.


"Eh, ada pengantin baru. Aku nggak nyangka loh kalau Mbak Yuni yang nikah sama Roni, karena setau aku Roni dekatnya sama Windi," ucap Bu Ima.


Deg, Yuni hanya terdiam mengingat bagaimana dia dan Roni bisa menikah.


"Roni dan Windi cuma dekat karena pekerjaan kok Bu, tidak ada yang spesial," ucap Ririn yang melihat kalau Yuni tidak nyaman dengan pernyataan Bu Ima.


"Oh begitu ya, saya kira mereka ada hubungan. Habisnya pandangannya kayak gimana gitu," ucap yang lain.


"Iya Mbak maaf, kami hanya penasaran saja."


Lalu setelah selesai belanja Yuni langsung pulang ke rumah, begitu juga dengan Ririn.


Yuni merasa sakit hati dengan omongan ibu-ibu tadi. Kenapa baru saja mulai hidup baru, tapi ada saja yang membuatnya tidak nyaman. Memangnya apa urusan mereka.


Dan Yuni baru tersadar akan sesuatu.


"Lalu bagaimana dengan Windi yang terang-terangan di cap sebagai pelakor oleh mantannya mas Roni? Apakah aku juga akan mengalaminya nanti? Pantas saja Windi memilih mundur, tapi malah aku yang kena getahnya," ucap Yuni.


***


Windi yang sudah beberapa hari bekerja di kafe sangat menikmati pekerjaan barunya. Walaupun kadang dia harus bekerja lebih keras daripada di swalayan dulu.


Tak jarang Windi bertemu dengan pelanggan yang sangat cerewet dan menyebalkan. Tapi tidak masalah, yang penting Windi masih bisa bekerja. Yang namanya pekerjaan pasti berat dan ada resikonya.


Windi juga beruntung mendapat teman-teman yang baik juga bos yang baik juga.


"Windi, tolong bawakan minuman untuk mas Rendi ya," ucap Ria, teman kerja Windi.

__ADS_1


"Oke," sahut Windi, lalu membawa minuman yang sudah disiapkan lalu menuju ruangan Rendi, pemilik kafe.


Tok....Tok....Tok...


"Masuk," sahut seseorang dari dalam ruangan.


"Mas, ini minuman pesanan Mas Rendi," ucap Windi meletakkan minuman di atas meja.


"Oh iya, terimakasih ya Win," ucap Rendi.


"Apa ada lagi yang Mas Rendi inginkan?" tanya Windi.


"Tidak ada."


"Kalau begitu saya permisi," ucap Windi sopan.


"Iya," jawab Rendi singkat.


"Kenapa Mas Rendi nggak seperti biasanya ya?" batin Windi.


Belum sempat Windi keluar tiba-tiba ada yang menerobos masuk ke dalam ruangan Rendi.


"Sayang, kenapa kamu putusin aku? Kamu cuma salah faham, aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia," ucap pacar Rendi.


Windi masih mematung di tempat karena sangat terkejut dengan kedatangan pacar Rendi yang tiba-tiba.


"Siapa yang menyuruhmu masuk ke sini?" tanya Rendi menahan geram.


"Aku nggak mau putus dari kamu, aku sangat mencintaimu," ucap perempuan itu hendak memeluk Rendi, tapi dengan sigap Rendi menghindar.


"Mm maaf saya permisi," ucap Windi lalu segera pergi dari ruangan itu.


"Kenapa Win, kayang habis dikejar setan aja?" tanya Ria.


"Nggak apa-apa," jawab Windi.


"Tadi aku lihat pacarnya mas Rendi masuk dengan tergesa-gesa, pasti lagi berantem kan mereka?" tebak Ria.


"Iya, kok kamu tau?" tanya Windi.


"Karena sudah biasa seperti itu. Mas Rendi nya aja yang terlalu baik, udah tau cewek nggak bener masih aja dipertahankan," gerutu Ria.


"Udah, jangan gibah terus," tegur Leo.


Lalu mereka kembali pada pekerjaan masing-masing.

__ADS_1


Saat Windi mengantarkan pesanan pelanggan dia terkejut saat melihat siapa pelanggan yang ada didepannya.


"Windi!"


__ADS_2