
Setelah acara selesai dan semua sudah beres, semua bubar dan pamit pulang.
"Rin, aku pulang ya," pamit Yuni tak bersemangat seperti biasanya.
Biasanya Yuni adalah perempuan yang ceria dan suka bercanda. Tapi entah mengapa hari ini dia terlihat berbeda.
"Iya, terimakasih ya atas bantuannya."
Setelah Yuni pulang, Ririn mendekati suaminya.
"Mas, apa yang terjadi dengan Yuni dan Riko ya?"
"Entahlah, aku juga tidak tau."
"Apa Mas tidak melihat sesuatu yang aneh dengan Riko?"
"Tidak, dia biasa saja sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah."
"Tapi kenapa sepertinya Yuni sangat tertekan dan sedih?"
"Sudahlah, mungkin mereka hanya beda pendapat atau ada keinginan Yuni yang tidak dipenuhi oleh Riko."
"Tidak mungkin, Mas. Aku kenal seperti apa Yuni. Dia tidak mungkin seperti itu bila tidak ada masalah yang sangat serius."
"Kenapa kamu tidak tanya langsung saja?"
"Baiklah, setelah ini aku mau ke rumah Yuni ya, Mas."
"Iya, tapi jangan ikut campur terlalu jauh bila mereka memang ada masalah."
"Iya Mas!"
Tak lama Windi mendekati mereka.
"Mas, aku mau antar anak-anak ya," pamit Windi.
"Iya, lalu kamu pulangnya nanti gimana? Apa mau Mas jemput?"
"Nggak usah Mas, aku menginap saja. Besok aku pulang."
"Win, kamu jangan terlalu dekat dengan Roni ya."
"Iya, Mas. Aku juga nggak mau kena masalah kerena mas Roni."
"Syukurlah kalau kamu mengerti. Roni punya masalah yang cukup rumit, kalau bisa hindari dia."
"Iya, Mas. Ya sudah aku pamit ya!"
"Ya sudah, kalian hati-hati ya."
Lalu mereka segera pamit karena taksi yang dipesan Windi sudah datang.
"Win, kalian mau pulang?" tanya Roni.
"Iya Mas."
"Kenapa buru-buru? Aku kira kalian akan menginap."
"Nggak Mas, kami duluan ya!"
"Iya, hati-hati."
"Roni! Bisa bicara sebentar?" panggil Doni.
"Iya, ada apa?"
"Maaf sebelumnya, kamu jangan tersinggung ya. Sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan Windi, karena sudah banyak tetangga yang membicarakan kedekatan kalian. Aku harap kamu mengerti maksudku."
"Iya tidak apa-apa, aku minta maaf kalau kamu jadi terganggu dengan ini. Sebenarnya aku tidak ada niat seperti yang mereka katakan. Tapi karena namaku sudah jelek di mata mereka, apapun yang aku lakukan akan terlihat salah."
__ADS_1
"Aku mengerti perasaanmu, sekarang tidak usah dengarkan kata mereka, dan semoga kamu bisa bersatu dengan orang yang kamu cintai."
"Ck, sayangnya aku belum beruntung dalam urusan cinta."
"Kenapa? Katanya kamu akan berjuang."
"Tidak ada yang harus di perjuangkan. Aku sudah hancur, ternyata selama ini aku sudah dibodohi oleh perempuan yang sangat aku cintai."
"Apa maksudmu?"
"Anak yang aku kira putriku, ternyata bukan. Aku hanya dimanfaatkan atas nama cinta."
"Berarti dia bukan jodohmu, untung saja kamu tau dari sekarang."
"Iya, sepertinya Tuhan masih baik padaku. Eh, kenapa aku jadi curhat ya?" ujar Roni.
"Tidak apa-apa, memang kadang kita sebagai laki-laki juga butuh didengarkan."
"Ya sudah aku pergi dulu ya, aku masih ada pekerjaan."
"Iya."
Setelah Roni pergi, Ririn mendekati Doni.
"Kenapa lama sekali sih, Mas?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku mau pergi ke rumah Yuni ya, Mas."
"Iya, tapi jangan lama-lama. Anak-anak dimana?"
"Iya, mereka sedang nonton tv. Aku pergi dulu ya Mas,"
"Iya, hati-hati dan cepat kembali."
"Idih, kenapa jadi lebay gitu sih?"
Saat sampai di rumah Yuni, rumahnya terlihat sepi.
"Apa mereka pergi ya?"
Lalu Ririn mencoba mengetuk pintu. Setelah beberapa saat Yuni membuka pintu dengan wajah yang sembab. Matanya memerah khas seperti orang habis menangis.
"Kamu kenapa Yuni?" tanya Ririn dan Yuni langsung memeluknya.
"Mas Riko Rin, dia menghianati aku."
"Ayo masuk dulu, nggak enak kalau di lihat orang."
Lalu Ririn me menuntun Yuni masuk ke dalam rumah. Lalu mereka duduk di ruang tamu.
"Apa yang terjadi Yun? Coba ceritakan padaku?"
"Mas Riko selingkuh Rin."
"Apa sudah ada buktinya? Atau kamu hanya menduganya saja?"
"Mas Riko sudah mengakuinya Rin, dan sejak semalam dia tidak pulang."
"Bagaimana bisa Yun?"
"Awalnya aku curiga saat mas Riko sering pulang malam. Tapi dia bilang dia lembur, tapi aku tidak langsung percaya. Jadi aku bertanya sama mbak Rita, karena waktu itu mas Doni tidak bekerja,"
*Flash back on
"Mbak Rita, apa mas Edo ada di rumah?" tanya Yuni saat menghubungi Rita.
"Ada Yun, memang kenapa?"
__ADS_1
"Coba tolong tanyakan sama mas Edo ya mbak, apa benar mas Riko sedang lembur sekarang?"
"Kamu tanyakan langsung saja ya Yun, ini mas Edo ada di dekatku."
"Iya Mbak."
"Iya ada apa Yun?" tanya Edo setelah istrinya memberikan ponselnya.
"Mas, aku mau tanya. Apa mas Riko sekarang lagi lembur?"
"Enggak Yun, di kantor tidak pernah ada lembur kok. Bahkan Riko selalu pulang lebih dulu."
"Tapi mas Riko sering pulang telat Mas, bahkan kadang sampai malam. Dan saat aku tanya katanya lembur."
"Maaf Yun, kalau masalah itu aku tidak tau. Tapi kalau di kantor memang tidak ada lembur. Atau mungkin dia ada pekerjaan di tempat lain."
"Ya sudah Mas, maaf ya aku ganggu waktu istirahat mas Edo."
"Iya tidak apa-apa."
Lalu penggilan dimatikan. Yuni semakin curiga pada suaminya, karena Yuni sering mencium parfum lain di baju suaminya.
"Apa yang kamu lakukan Mas?" gumam Yuni.
Keesokan harinya Yuni memutuskan untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Yuni berencana ke kantor Riko sebelum jam pulang kerja. Dia menitipkan anaknya di rumah tetangga. Dan juga meminjam motor tetangganya itu dengan alasan membeli obat
Yuni memakai jaket,masker, dan kaca mata hitam agar tidak ada yang mengenalinya. Sesampainya di depan kantor Riko, Yuni segera mencari tempat yang tidak begitu terlihat.
Saat Yuni melihat Riko keluar dari gerbang kantor, Yuni segera menghidupkan mesin motor dan mengikuti Riko.
"Kemana kamu mas? Ini bukan jalan ke rumah kita," gumam Yuni.
Lalu Riko berbelok ke komplek perumahan yang tidak jauh dari komplek perumahan tempat tinggal mereka.
Riko berhenti di depan rumah yang terlihat lebih bagus dari rumahnya saat ini.
Yuni terus mengamati dari jauh, tak lama keluar seorang perempuan yang mungkin seumuran dengan Riko berjalan menghampiri Riko yang masih berada di atas motornya.
Mereka cipika-cipiki dan terlihat begitu dekat. Karena tak tahan lagi akhirnya Yuni menghampiri mereka.
"Mas Riko! Sedang apa kamu di sini? Siapa dia?" teriak Yuni.
"Yuni, kenapa kamu disini?" tanya Riko yang terkejut.
"Siapa dia Sayang?" tanya perempuan yang sedang memegang pundak Riko.
"Dia, em, dia istriku," jawab Riko lirih.
"Kenapa kamu memanggil suamiku seperti itu?"
"Kenapa? Ya karena dia kekasihku. sebaiknya kamu relakan dia, karena sudah pasti dia akan lebih memilihku."
"Apa maksudnya, Mas? Apa arti semua ini?"
"Kamu pulanglah Yun, aku masih ada urusan. Nanti aku jelaskan."
"Sayang, katanya kamu mau menginap? Tomi pasti sangat senang kalau kamu menginap," rengek perempuan itu dengan tidak tau malunya.
"Mas! Tega kamu melakukan ini padaku."
"Yuni, mengertilah nanti akan aku jelaskan semuanya."
"Ayo sayang, Tomi pasti sudah menunggu kita."
"Yuni, maafkan aku aku harus pergi.
Lalu dengan teganya Riko meninggalkan Yuni yang menangis di pinggir jalan.
__ADS_1
"Tega kamu mas."