
Setelah berpisah dari Yuni, kini Riko sudah menjadi Manager di perusahaan milik Rena, istri barunya. Walau posisinya masih dibawah sang istri tapi saat ini kehidupan Riko sudah jauh berbeda.
Penilaian Riko pun juga berbeda, sekarang Riko terlihat berwibawa dengan jas mahalnya. Siapapun pasti akan terkejut melihat penampilan Riko yang jauh berbeda.
Sore ini Riko mengantarkan istri barunya belanja di sebuah swalayan. Mereka juga membawa anaknya yang berumur satu tahun.
Yuni yang melihat mantan suaminya bersama istri barunya segera berbalik arah untuk menghindari Riko.
"Mas Riko, itukah kehidupan yang kamu inginkan? Hidup mewah dengan wanita cantik dan seorang anak yang bukan darah dagingmu? Sedangkan kamu meninggalkan anakmu sendiri?" gumam Yuni menahan tangis.
Dan tanpa sengaja Rena menyenggol lengan Yuni yang sedang membawa beberapa makanan ringan.
"Eh, maaf ya Mbak, saya tidak sengaja," ucap Rena.
"Iya tidak apa-apa," ucap Yuni menunduk sambil mengambil barang yang terjatuh dilantai.
"Biar saya bantu," ucap Rena.
"Tidak usah Mbak," jawab Yuni.
"Sayang, apa masih lama? Ini Tomi menangis," panggil Riko yang tidak menyadari keberadaan Yuni.
"Iya sebentar," lalu Rena meninggalkan Yuni.
Tanpa sadar air mata Yuni menetes dengan sendirinya. Hatinya tentu saja sakit mendengar panggilan yang selama ini ditujukan padanya, kini panggilan itu bukan untuknya lagi.
__ADS_1
"Kenapa kamu tega padaku mas?" ucap Yuni dengan berlinang air mata.
Untung saja saat itu swalayan tidak begitu ramai. Setelah bisa mengendalikan emosinya Yuni melanjutkan pekerjaannya, dan karena hari sudah sore dia akan segera pulang.
Di tempat lain Roni terlihat begitu kacau di ruang kerjanya. Selain mempunyai swalayan Roni juga mempunyai kantor kecil-kecilan yang dia rintis sendiri.
"Apa yang terjadi padamu Windi? Kenapa kamu berubah, aku tau kamu sebenarnya juga punya perasaan padaku," gumam Roni.
Tak lama terdengar ketukan pintu dan Roni mempersilahkan masuk.
"Ada apa Tio?" tanya Roni pada asistennya.
"Begini bos, tadi siang Wulan datang kesini dan mencari mu."
"Bagaimana bisa dia tau aku ada disini?" tanya Roni heran, karena selama ini tidak ada yang tau kalau Roni mempunyai usaha sendiri.
"Astaga, apa semua wanita hanya akan membuat hidupku menderita saja?" gerutu Roni.
"Tidak begitu juga bos, mungkin memang belum waktunya kamu menemukan wanita yang terbaik untukmu."
"Entahlah, aku mulai lelah memikirkan wanita," ucap Roni yang terlihat patah semangat.
"Jangan karena patah hati kamu jadi belok ya!"
"Ih, amit-amit. Biar begini aku masih punya iman kali," ucap Roni bergidik ngeri mendengar perkataan Tio.
__ADS_1
"Syukur deh kalau begitu."
Lalu mereka berdua melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Sedangkan Ririn tetap dengan kesehariannya dan tetap melakukan program diet sehatnya.
Setelah total tiga bulan melakukan menerapkan pola makan sehat dan rajin olahraga diantaranya senam, Ririn mulai mendekati berat badan ideal yang dia inginkan.
Berat memang untuk merubah pola makan, dan pola hidup, tapi kalau ada niat pasti akan ada jalan.
Begitupun Ririn, walau banyak godaan yang datang dari suami dan anak-anaknya tapi Ririn berusaha konsisten untuk merubah pola makan. Tapi satu Minggu sekali Ririn akan makan makanan yang dia sukai diantaranya mie instan, atau gorengan.
***
Hari ini Windi mengajak Yuni untuk berangkat lebih pagi untuk mengajari Yuni memegang kasir.
Windi sudah benar-benar ingin menjauh dari Roni. Tanpa sepengetahuan siapapun Windi sudah memasukkan surat lamaran di beberapa kafe dan restoran di kota ini.
Pagi ini Roni juga tidak ke swalayan tersebut untuk menenangkan dirinya karena penolakan Windi kemarin. Jadi Windi lebih leluasa untuk mengajari Yuni.
"Ternyata nggak begitu sulit ya Win," ucap Yuni.
"Iya Mbak, kalau Mbak mau belajar pasti bisa. Yang penting teliti dan hati-hati."
"Ya sudah aku mau lanjut ke pekerjaan aku dulu ya," pamit Yuni.
__ADS_1
"Iya Mbak Yuni, nanti saat jam istirahat kita lanjut lagi. Aku yakin Mbak Yuni sebentar lagi akan lancar kok," ucap Windi merasa lega karena tidak sulit mengajari Yuni, karena memang Yuni orangnya cerdas dan mudah tanggap.
"Mudah-mudahan aku segera diterima kerja di tempat lain, jadi aku bisa langsung keluar dari sini," gumam Windi dalam hati.